..."Itu hadiah sayang, Valerie mendapatkannya sebagai hadiah" Sahut Veronica, memotong ucapan Evelyn yang belum selesai....
..."Hadiah?" Tanya Evelyn....
..."Ya, itu hadiah dari calon suaminya. Itu sebabnya Valerie tak bisa memberikan sepatu itu padamu baik secara gratis atau pun harus menjualnya"...
...****************...
"Kakak tidak bersiap-siap?" Tanya Evelyn begitu memasuki kamar kakaknya, mendapati kakaknya itu masih bermain ponsel di tempat tidur.
"Bersiap untuk apa?" Valerie yang masih sibuk dengan ponselnya akhirnya menoleh ke arah Evelyn yang sibuk memeriksa isi lemari pakaiannya. Jika tidak ada baju yang di inginkan di kamarnya, adiknya itu memang selalu berlari ke kamar Valerie dan mencari pakaian yang sesuai dengan keinginannya.
"Kita makan siang bersama hari ini, sekalian aku ingin mengenalkan pacarku dan aku juga ingin kenal dengan calon suamimu"
Ahh...benar juga, Valerie sempat melupakan hal itu.
"Omong-omong kakak jangan kaget, umurku dan pacarku terpaut cukup jauh, dia tujuh mmm...entah delapan tahun lebih tua dariku. Tapi aku tidak peduli, umur itu hanya sebuah angka, lagi pula kami saling mencintai"
"Mm....ya ya" Sahut Valerie acuh, Valerie tidak ambil pusing dengan urusan percintaan adik nya, tidak masalah selama dia bahagia dan adiknya mencintainya begitu pun sebaliknya. Sang pria mencintainya dan menyayanginya dengan tulus.
"Kenapa mau memakai punyaku? Bukankah pakaianmu lebih banyak dan bagus-bagus"
"Ya memang benar punyaku lebih banyak, tapi aku lebih suka punyamu, kak. Pakaian di lemari kakak semuanya rancangan Mommy yang batal di luncurkan, kenapa coba di batalkan? Padahal semuanya bagus-bagus, jika aku yang merancangnya, mungkin aku a—"
"Jangan berpikir kau akan meluncurkannya dan mengklaim itu rancanganmu!"
"Tidak akan! Aku tidak akan melakukan hal rendahan macam itu" Evelyn melirik Valerie dengan kesal.
Sedangkan Valerie yang mendapat tatapan kesal dari sang adik malah tertawa, dia turun dari tempat tidurnya lalu menepuk-nepuk puncak kepala Evelyn pelan.
"Hanya bercanda, hanya bercanda. Jangan di anggap serius, ya ampun" Valerie baru berhenti tertawa setelah melihat Evelyn keluar dari kamarnya dengan membawa baju yang di pilih secara asal dan sepatu high heels yang Valerie pakai beberapa hari yang lalu.
"Hei!!! Evelyn Hillbert!! Kau mau memakai itu!!" Valerie langsung mengejar Evelyn begitu menyadari high heels itu tidak ada di tempat seharusnya.
"Itu satu-satunya milikku dan kau ingin memakainya??" Valerie mengetuk pintu kamar adiknya dengan keras, dia semakin kesal saat tidak mendapat jawaban dari pemilik kamar.
"HEI!!! KEMBALIKAN!! EVELYN HILLBERT!!! AKU AKAN MERUSAK PINTU KAMARMU KALAU KAU BERANI MEMAKAI SEPATU ITU!!!" Setelah berteriak-teriak Valerie jadi lelah. Lantas dia berusaha mengatur napasnya yang tak beraturan.
"Ya ampun ada apa ini? Kenapa berteriak-teriak?" Veronica segera naik ke lantai atas setelah mendengar teriakan Valerie.
"Mom! Evelyn mengambil sepatuku, mom tahu kan sepatu itu milikku satu-satunya dan Evelyn Hillbert ingin memakainya untuk berkencan dengan pacarnya hari ini"
Veronica tertawa begitu mendengar cerita Valerie. Sampai segitunya Valerie sayang pada sepatu itu sampai-sampai dia tidak ingin meminjamkannya pada sang adik.
"Ahh... mommy!! Ini tidak lucu!!" Valerie memekik kesal.
"Eve buka pintunya sayang. Kembalikan sepatunya pada kakakmu" Pada akhirnya Verobica yang memutuskan bicara karena dia tidak ingin melihat putri sulungnya menghancurkan pintu.
"Mom aku hanya meminjamnya sebentar" Akhirnya Evelyn membuka pintu kamarnya, dia menampakkan sedikit wajahnya di balik pintu tanpa berniat memberikan sepatu itu pada Valerie.
"Ohh ayolah, kalian bukan anak-anak lagi sekarang" Valerie menggeleng heran.
"Iya kak jangan pelit" Sahut Evelyn tanpa beban, dia melupakan fakta bahwa sang kakak sering sekali meminjamkan barangnya padanya.
"What?? Kalau selama ini aku pelit, aku tidak akan pernah memperbolehkan mu memakai baju milikku satu pun"
"Eve"
"Mommy...ini sepatu yang ingin aku beli tahun lalu, karena ini edisi terbatas aku tidak bisa mendapatkannya karena kehabisan. Lalu tiba-tiba aku melihatnya ada di kamar kak Erie, ternyata kakak ku yang membelinya? lalu aku berpikir. Kalau mau, aku bisa meminjamnya sekali atau dua kali atau memintanya untuk memberikan sepatu ini padaku karena seingat ku kakak tidak suka sepatu jenis ini"
"Kalau kakak tidak mau aku memintanya secara gratis, aku bisa membayarnya. Berapa yang kakak mau? Aku akan membayarnya berapa pun harganya"
Valerie mendengus kesal, Membelinya? Ahh....yang benar saja! Itu barang langka dan Evelyn berharap Valerie mau menjualnya? Valerie suka sesuatu yang dia miliki, ternyata tidak di miliki oleh orang lain, atau bisa juga sedikit orang yang memiliki benda yang sama seperti yang dia punya.
"Itu tidak berharga, kembalikan!" Ucap Valerie.
"Lihat, bahkan kakak tidak menganggapnya berharga"
Veronica lantas tersenyum, dia mengerti maksud Valerie. Ada maksud lain dari ucapan Valerie tadi, yang jelas bukan itu maksud sebenarnya. Dia bukan menganggap barang itu tak berharga, namun saking berharganya, Valerie tidak tahu harus menilai berapa harga dari benda itu. Ahhh...manis sekali, Veronica malah merasa gemas sendiri.
Veronica tahu betul seperti apa putri sulungnya, dia bukan tipe orang yang terang-terangan menunjukkan sesuatu yang dia rasakan. Berbanding terbalik dengan sang adik, yang selalu terang-terangan dalam menunjukkan suatu hal.
Yah...terkadang tipe seperti itu sering kali membuat orang lain bingung.
"Eve kembalikan sepatunya pada kakak mu"
"Tapi mom—"
"Kembalikan sayang" Ucap Veronica lembut, dia mencoba membujuk putri keduanya dengan halus.
"Aku hanya mau memakainya se—"
"Evelyn" Jessica kembali menyela.
Evelyn membuka pintu kamarnya dengan lebar, dia membiarkan ibu serta kakaknya masuk ke dalam kamarnya. Mereka bertiga berjalan menuju tempat tidur kemudian mereka duduk di pinggiran ranjang.
"Ahhh....kalian ini, sudah dewasa tapi masih saja bertingkah kekanakan" Veronica mengambil pakaian yang tadi Evelyn ambil di kamar Valerie.
"Kalian tahu kenapa mom batal meluncurkan pakaian ini?" Veronica menatap putrinya secara bergantian.
"Jangan bilang karena modelnya kurang bagus, mom"
"Tentu saja bukan karena itu" Veronica tertawa pelan. "Kalian tidak tahu alasan sebenarnya?"
Valerie dan Evelyn menggeleng lemah. Mereka juga tidak tahu.
"Saat merancangnya...mom memikirkan Valerie atau Evelyn yang memakainya, aku rasa akan bagus jika putriku yang memakainya. Lalu setelah bajunya selesai, mom menyuruh Valerie mencobanya dan saat itu mom berpikir mom tidak rela melihat pakaian yang mom buat secara khusus nantinya di pakai juga oleh orang lain. Itu cukup egois bukan? namun itu alasan sebenarnya, alasan kenapa mom ingin menjadi Desainer, merancang pakaian bagus untuk kedua putri cantikku"
Valerie dan Evelyn di buat bungkam selama beberapa saat.
"Tapi kenapa mom hanya membuat satu saja? Lalu bagaimana denganku?" Evelyn cemberut.
"maaf sayang, mom tidak sempat membuatnya lagi. Nanti mom buatkan juga persis seperti punya kakak mu"
Evelyn mengangguk pelan meskipun dia masih kesal.
"By the way mana sepatunya?" Tanya Veronica.
Evelyn mengembalikkan sepatu itu pada Valerie Kemudian Valerie pun menerimanya dengan senang hati.
"Omong-omong siapa yang membelinya? kakak tidak mungkin, jangan bilang mom yang membel—"
"Itu hadiah sayang, Valerie mendapatkannya sebagai hadiah" Sahut Veronica, memotong ucapan Evelyn yang belum selesai.
"Hadiah?" Tanya Evelyn.
"Ya, itu hadiah dari calon suaminya. Itu sebabnya Valerie tak bisa memberikan sepatu itu padamu baik secara gratis atau pun harus menjualnya"
"Ahh... kakak beruntung sekali, seandainya calon suamiku juga begitu nanti. Dia pasti pria baik, kan mommy?"
"Tentu saja, dia pria yang baik. Sopan, ramah dan murah hati. Bahkan dia memberikan hiasan rambut berlian senilai dua karat untuk Valerie"
"What???" Evelyn terlonjak kaget. "Tunjukkan padaku, aku ingin melihatnya"
"Sudahlah, bukankah kau harus berkencan dengan pacarmu sekarang? Pergilah, mungkin dia sedang menunggumu sekarang" Valerie bangkit kemudian berjalan meninggalkan kamar Evelyn.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments