Jaka Satya sudah selesai mengukir kerisnya dengan motif lidah-lidah api. Dia juga memperlihatkan keris batu bintang merah itu pada keluarganya.
Kedua orangtua Jaka sangat bangga dengannya meskipun dia tidak mengikuti jejak ayahnya tapi dia mampu membuat karya yang indah apalagi keris itu mengandung kesaktian yang hebat.
Kakak perempuan Jaka yaitu Sri Setyoningrum juga terkagum-kagum dengan keris yang diukir Jaka Satya. Dia tak menyangka adiknya itu punya bakat seni yang bagus.
Dia sendiri adalah seorang penari istana yang terkadang harus berpentas dengan teman-temannya di depan Raja Gajayanare.
Sebagai putra punggawa Jaka juga harus mengikuti olah kanuragan bersama anak-anak punggawa atau anak-anak prajurit lainnya yang biasanya dilakukan di alun-alun depan istana.
Mereka diajari beladiri baik menyerang maupun bertahan dengan tangan kosong ataupun menggunakan senjata.
Sundang adalah nama seni beladiri kerajaan Jhamapati, sundang mengkombinasikan teknik pertarungan dimana seorang prajurit bisa menggunakan teknik patahan yang dikombinasikan dengan beberapa senjata, seperti pedang dan keris di kedua tangan sebagai alat bertarung.
Sundang terdiri dari beberapa unsur mulai dari pertahanan, penyerangan, penaklukan, penyusupan, dan perlindungan.
Meskipun Jaka tidak akan mencalonkan diri menjadi prajurit tapi semua putra pegawai yang bekerja dengan istana diwajibkan mengikuti pelatihan beladiri ini untuk bekal mempertahankan diri.
Suatu hari Ibu Jaka menyuruhnya mengantar bekal makanan kepada ayahnya di Pendapa Pasar Gungca, hari ini dia lupa membawa bekalnya.
"Jaka tolong antarkan bekal ini pada Ayahmu, pagi tadi dia tergesa-gesa berangkat ke tempat kerjanya," pesan ibu Jaka yang bernama Suminem itu.
"Baik, Bu," jawab Jaka singkat.
Jarak rumah mereka dengan pasar Gungca juga tak terlalu jauh, kesempatan itu digunakan Jaka melatih ilmu kanuragan meringankan tubuhnya.
Dengan berlari, sambil meringankan tubuhnya dia pun sampai dengan cepat di tempat ayahnya bekerja.
"Ayah, ini bekal makan siang yang lupa Ayah bawa, Ibu yang menyuruhku mengantar bekal ini untuk Ayah. " Jaka menyerahkan bekal itu pada ayahnya.
"Oh iya Ayah lupa tadi karena buru-buru kesini," jawab ayahnya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya ayah Jaka.
"Eyang Resi masih belum kembali dari istana ayah, sementara semua pesanan tombak sebanyak seribu batang sudah kami selesaikan."
"Paman Sura menyuruh kita libur sementara waktu sambil menunggu kalau ada pesanan baru datang," Jaka menjelaskan.
"Oh, begitu. Apa kau ada kegiatan lain di hari senggangmu ini??" tanya ayahnya lagi.
"Tidak ada Ayah, tapi rasanya aku ingin melihat-lihat isi pasar Gungca siapa tahu ada yang akan aku beli." jawab Jaka.
"Baiklah kalau begitu, Ayah juga masih sibuk dengan pekerjaan Ayah saat ini dan kau boleh melanjutkan kemana engkau mau pergi, tapi berhati-hatilah selalu." Ayah Jaka berpesan padanya.
Meskipun dia percaya pada kemampuan Jaka saat ini tapi dia tetap was-was karena apapun bisa saja terjadi.
"Baiklah, Ayah aku pergi dulu ya, Yah." pamit Jaka kemudian.
"Ya dan terima kasih atas bekalnya." seru ayahnya ketika Jaka sudah melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya keluar dari pendapa yang besar itu.
Sementara itu di pasar Gungca serombongan seniman jalanan mulai berbenah dan mempersiapkan pertunjukan yang akan mereka pertontonkan pada semua pengunjung pasar tersebut.
Terdiri dari enam orang pemain gamelan, seorang wanita penari yang bertopeng, seorang laki-laki tinggi gemuk yang juga menggunakan topeng berwajah menyeramkan yang diberi warna merah.
Dan seorang laki-laki kurus kecil yang menunggangi kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan memakai topeng berhidung panjang.
Akhirnya mereka memulai pertunjukan itu.
Bunyi gamelan Kendang , Slompret, Kenong, Gong, Angklung , dan Ketipung.
Dimainkan dengan nyaringnya memancing penasaran pengunjung pasar Gungca.
Namun belum lama gamelan itu dimainkan, seorang prajurit Ghayankbara memberi tanda untuk berhenti sejenak.
"Apakah kalian sudah mendapat surat ijin usaha jasa hiburan di sini?" tanya prajurit itu.
Sesaat suasana terdiam terasa. Namun seorang penari bertopeng bergerak mendatangi prajurit itu dan terlihat membisikkan sesuatu ke telinga prajurit Ghayankbara tersebut.
Sang prajurit terlihat berubah raut mukanya untuk sesaat, kemudian dia langsung mengijinkan mereka untuk melanjutkan pertunjukan itu.
"Baiklah-silahkan-melanjutkan- pertunjukan-kalian-kembali," kata prajurit itu terbata-bata sambil berbalik pergi entah kemana.
Musik pun kembali dimainkan dengan nyaring lebih nyaring dari sebelumnya.
Jaka menyaksikan kejadian itu dari awal dan merasa curiga, karena dia tahu semua yang mencari uang di pasar Gungca apapun usahanya memang harus mencari ijin terlebih dahulu pada ayahnya.
Namun dia tetap melanjutkan melihat pertunjukan itu.
Ning nang ning gung.. Ning nong ning... Ning nang ning gung ..ning nong ning..
Penari wanita bertopeng mulai menari melenggak lenggokan tubuh dan pinggulnya ke sana kemari diselingi sentakan selendang yang dia ikat di pinggangnya.
Sambil menari wanita bertopeng itu juga menyanyi..
"Jamuran ya ge-ge thok, Jamur apa ya ge-ge thok Jamur gajih mbejijeh sa ara-ara, Semprat semprit jamur apa..."
Sedang pria gemuk bertopeng merah terlihat menyentuhkan gagang cemeti nya ke atas kepala pria bertopeng yang menunggangi kuda anyaman bambu, yang biasa disebut kuda pinglum.
Terlihat pria yang menunggangi kuda pinglum itu seperti kesetanan berguling-guling dengan kuda pinglumnya di atas tanah terkadang menggelepar namun kemudian bangkit dan mengikuti irama gamelan yang semakin terasa menghipnotisnya... dan juga semua orang yang melihat pertunjukan tersebut.
Jaka Satya mulai merasakan pengaruh irama gamelan yang hendak menguasai pikirannya itu namun untunglah latihan meditasi gurunya , juga mantra-mantra yang diajarkan Sura mampu membuatnya bertahan, tapi tidak bagi sebagian penonton di pasar itu.
Meski begitu dia masih menunggu dan melanjutkan memperhatikan para seniman itu beraksi.
Sang penari wanita berteriak
"Beri kami tepuk tangan saudara sekalian!" sambil menggoyangkan tubuh dan pinggulnya.
Para penonton serentak riuh bertepuk tangan bersamaan tapi tidak dengan Jaka, dia tahu ada yang tidak beres dengan kelompok seniman ini. Apalagi mereka tidak menampakkan wajah mereka yang mereka sembunyikan di balik topeng.
Kemudian pria bertopeng warna merah membawa tampah dari anyaman bambu dan mulai berkeliling meminta rasa kasihan dan penghargaan akan pertunjukan mereka itu.
Sebagian penonton itu memberikan beberapa kepingan ketip, ada juga yang memberikan kepingan perak dilemparkan ke dalam tampah bambu itu.
Pertunjukan masih belum selesai pemain kuda pinglum kini diberi buah kelapa oleh pria bertopeng merah.
Penunggang kuda pinglum itu menyobek-sobek kulit kelapa itu dengan menggunakan gigi-giginya seolah itu bukan masalah sukar baginya.
Dan setelah terlihat hanya tempurung kelapa saja terlihat pria penunggang kuda pinglum itu menusukkan telunjuknya ke tempurung kelapa yang keras itu.
Tempurung kelapa itu akhirnya berlubang dengan sekali tusukan jari telunjuknya, penonton bersorak terkagum-kagum, Jaka juga mengakui betapa kuatnya jari telunjuk penunggang kuda pinglum itu.
Musik gamelan yang bertalu-talu nyaring semakin bertambah cepat iramanya, membuat para penonton menahan nafas dibuat penasaran akan pertunjukan selanjutnya.
Ning nang ning gung... Ning nong ning
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments