Cinta Pandangan Pertama

Bahri Masiak sedang sibuk merapikan keranjang-keranjang besar berisi rempah-rempah di lapaknya.

Pamannya, Mangkuto sedang duduk sambil menghitung laba menggunakan sempoa, sesekali dia melihat keponakannya yang sedang sibuk itu.

Pasar Gungca yang berada dekat pelabuhan Gungca itu sangat ramai hari ini.

Pasar atau masyarakat Waja menyebutnya pekan di Gungca itu terdiri dari berbagai jenis lapak yang menjual berbagai jenis kebutuhan banyak orang.

Ada  lapak yang menjual sayur dan buah-buahan, menjual kain, menjual berbagai jenis kerajinan gerabah,  ada lapak yang menjual daging dan ikan.

Di pasar itu juga ada beberapa kedai makan dan penginapan. Interaksi antara pedagang dan pembeli, pedagang dengan sesama pedagang atau pembeli dengan pembeli terkadang membawa dan menggiring pembicaraan yang  tidak berkaitan dengan transaksi mereka.

Kabar tentang penyerangan yang akan dilakukan negeri atas angin ( negeri di luar Nasutaran) , kasak- kusuk skandal bangsawan, atau hal-hal tak masuk akal terkadang didengarnya.

Seperti pagi tadi dia sempat mendengar  dua orang prajurit istana yang hendak membeli cengkeh dan kayu manis.

Mereka bercakap-cakap tentang seekor ular sebesar batang pohon kayu medang yang memangsa dan meresahkan penduduk di lereng gunung Rembuba.

Bahri yang tahu betul ukuran pohon Medang membayangkan betapa mengerikannya ular yang mereka bicarakan, tapi apakah yang mereka bicarakan itu memang nyata?

Bahri merasa itu tak masuk akal meskipun dia pernah melihat ular dengan ukuran sebesar batang pohon kelapa tapi jika di bandingkan dengan ukuran pohon kayu medang tentulah sangat berbeda jauh ukurannya.

Selain desas-desus ular besar itu dia juga mendengar tentang kesaksian seseorang yang melihat buaya raksasa di Lamakintan, yang dia dengar katanya buaya itu sebesar seekor gajah.

"Ah, entahlah apa semua itu hanya karangan seseorang yang hanya membual dan ingin meresahkan banyak orang ?" batinnya.

Tak lama kemudian seorang pembeli datang dan melihat-lihat cengkeh di lapaknya.

"Mari nona silahkan dilihat-lihat itu cengkeh terbaik asli daerah Maga di pulau Maresuta wilayah barat..." Bahri mencoba menawarkan dan mempromosikan dagangannya.

Bahri memperhatikan gadis itu dengan seksama , dan melihatnya menggenggam cengkeh di keranjang dan menghidunya untuk mengetahui keharuman cengkeh itu.

"Hemm, harum sekali," komentar gadis itu.

Bahri melihat penampilan gadis itu lain dari penampilan gadis Waja pada umumnya, atau bisa jadi dia bukan dari Waja pikirnya lagi setelah melihat pakaian yang dikenakan gadis itu.

Dan ketika pandangan mata mereka beradu...

Ada desir dalam sanubari Bahri, dia ingin mengenal lebih dalam dengan nya.

"Cantik sekali.." isi batin Bahri mendahului mulutnya yang masih melongo.

"Permisi berapa harga satu batok untuk cengkeh ini?" Tanya gadis itu malu-malu, kedua pipinya bersemu merah oleh karena tatapan pedagang muda nan tampan itu.

Batok kelapa adalah satuan ukuran berat di masa itu.

Bahri masih belum merespon pertanyaan itu ketika... Andiek berseru padanya, "Hey! Jangan melamun saja melihat gadis cantik!"

Bahri melihat bocil menyembul di balik punggung gadis cantik yang memakai jubah dan seraung berhiaskan bulu burung enggang.

" lEh...emmm..ummm iya ada apa tadi? " Bahri gelagapan dibuatnya pipinya pun ikut merona.

"Aku bilang berapa harga cengkeh ini satu batoknya?" tanya Mawinei kembali. Dalam hatinya Mawinei juga terpesona pedagang muda di depannya itu.

"Tinggi, besar, tampan dan masih muda tapi sudah pandai berniaga di lapak yang besar seperti ini dan sorot pandangannya yang begitu menentramkan itu, pasti dia pekerja keras yang tangguh ah.... andaikan," ternyata pandangan pertama mereka saling bersambut,

Mawinei tersenyum riang di hatinya. Dia belum pernah merasakan hal seperti yang dirasakan hatinya bagaikan terkena kejutan kecil namun kuat seketika.

"Oh, iya, satu batok cengkeh jenis yang ini kami beri harga tiga ketip," jawab Bahri Masiak kikuk.

"Kalau begitu berikan dua batok cengkeh ya," pinta Mawinei.

"Ada lagi yang nona inginkan," tanya Bahri sambil mengambil dua batok cengkeh dan dimasukkannya dalam tas kecil terbuat dari anyaman daun pandan.

"Sebentar, boleh lihat-lihat dulu kan? " jawab Mawinei serba salah. Pesanan neneknya harus dicarinya lagi dia malu untuk bertanya pada Bahri dan sebenarnya dia ingin berlama sebentar di lapak itu sambil menunggu putri Tihu yang sedang berbelanja di lapak samping dan juga dia ingin lebih dekat dengan pemuda yang mulai menarik hatinya itu.

Sambil melihat-lihat berbagai keranjang besar kecil yang berisi aneka rempah-rempah itu dia berjalan dan disertai Bahri Masiak di sampingnya.

"Eh, jangan dekat-dekat!" Andiek yang melihat bahasa tubuh mereka menggoda dan menyeruak di antara Bahri dan Mawinei.

"Eh, ini Adik kamu, ya?" Bahri membuka obrolan.

"Anggap saja iya." Mawinei menjawab tenang meski hatinya tersenyum melihat kepolosan hati Andiek yang sepertinya tahu perasaan mereka berdua.

"Kok, dianggap? Maksudnya? " tanya Bahri lagi sambil melihat Andiek dan baju yang dikenakannya tampak seperti kontras dengan pakaian Mawinei.

"Nemu dia di jalan ya?" kembali bertanya sekaligus meledek Andiek.

"Hihihi...iya betul," Mawinei tak tahan tersenyum mendengarnya.

"Ah, Kak Mawinei bisa saja, yuk! sudahan belanjanya lalu pulang," Andiek kesal dikerjain muda mudi yang umurnya jauh di atasnya itu.

"Mmm... ada buah pinang tidak?!" Mawinei mencari pesanan neneknya yang suka memakai pinang dalam sirihnya.

"Ada mari sini!" Bahri mendahului Mawinei dan Andiek sambil menunjuk satu keranjang yg berada sedikit di ujung ruangan lapak  itu.

"Berapa harga pinang ini per batoknya?" tanya Mawinei

"Hanya satu ketip satu batoknya," jawab Bahri. Sekedar informasi tentang pinang, Pohon ini merupakan salah satu tanaman dengan nilai ekonomi dan potensi yang cukup tinggi.

Tanaman yang memiliki batang lurus dan ramping ini memiliki banyak sekali manfaat dan umum dikenal sebagai tanaman obat.

Pemanfaatan tanaman pinang selain untuk dijual keluar negeri Nasutaran seperti ke Kok Tiong ( nama lain negeri Cani) dan beberapa negeri Atas Angin lainnya, di beberapa daerah Maresuta dan Lamakintan dimanfaatkan untuk acara seremonial seperti ramuan sirih pinang untuk upacara adat.

"Tolong dua batok pinangnya," Mawinei

"Maaf boleh aku bertanya?" akhirnya Bahri mencoba memberanikan diri

"Ya, tentu saja," jawab Mawinei sedikit menengadah karena tinggi badan Bahri Masiak yang bediri terlalu dekat dengannya, mengharuskan dia mengangkat wajahnya.

Kemudian Bahri berpikir sejenak dan...

"Bawa kurma di punggung unta, Kurma setumpuk tidaklah ringan; Jumpa pertama langsung cinta, Semoga tak bertepuk sebelah tangan."

Dia meyakinkan perasaan dirinya dengan berpantun.

Mawinei tersenyum malu tapi dia juga kagum masih ada pemuda yang pandai berpantun, mengingatkannya pada neneknya yang sering mengajari adiknya berpantun saat menggunakan batu bintang hijau lumut nya.

Padahal tanpa berpantun pun kekuatan batu bintang neneknya itu tetap bisa menumbuhkan tanaman atau pohon yang dia inginkan.

Tentu saja Mawinei juga bisa berpantun dia pun menjawab Bahri.

"Pucuk di awan melambai mesra, Akar berjumpa di perut bumi; Bertemu kita tanpa suara, Adakah cinta mulai bersemi?"

Sambil menunduk Mawinei menjawab dengan malu-malu. Mereka berdua tidak menyadari di belakang mereka ada Andiek  yang menggandeng tangan  Mangkuto.

Dan pantun baru terdengar :

"Ehem-ehem..."

"Rembulan malam terlihat cerah, Sampan tersesat kehilangan arah."

"Tetap semangat jangan menyerah, Kerjakan tugas dengan gairah."

Mangkuto membuyarkan suasana yang romantis itu sambil tersenyum, sementara Andiek tergelak-gelak.

Bahri dan Mawinei tersadar dari dunia yang serasa milik mereka berdua saja.

Bahri buru-buru mengambil tas anyaman pandan yang telah diisi dua batok pinang. dan memberikan pada Mawinei.

Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!