Kuari lalu cepat-cepat menuju tebing dengan jurang pemisah yang sangat dalam, dia sudah terbiasa melompati jurang itu sedari mudanya.
"Hup !" Dia melompati jurang yang lumayan jauh jaraknya itu dengan mudahnya.
Sementara reptil-reptil ganas ada yang mencoba melompat, tapi dia gagal dan malah terperosok jatuh ke bawah, sudah dipastikan nasibnya tak mungkin selamat.
Reptil-reptil lainnya hanya meraung-raung penuh amarah. Ada yang berancang-ancang melompat namun ragu ketika melihat rekannya yang telah jatuh jauh di bawah tidak menunjukkan tanda kehidupan.
Kakek Kaisiepo mengambil anak panah yang tersisa lalu mencoba membidik salah satu reptil ganas itu.
Tapi reptil itu kemudian mundur dan berlari menjauh kembali menuju hutan Suwar.
"Ayo Kuari kita menuju kampung Tanusen dulu," kata Kaisiepo.
"Baiklah!" Kuari berkotek.
Merekapun melanjutkan perjalanan menuju kampung Tanusen. Setelah melewati padang rumput sampailah mereka di depan gerbang kampung Tanusen.
Belum juga mendekati gerbang beberapa anak panah dilepaskan oleh penjaga gerbang di menara pengawas.
Sebagai peringatan untuk tidak memasuki kampung itu.
"Hei...kita punya masalah lebih penting dari sekedar berebut emas!" teriak Kakek Kaisiepo.
"Lihat ini!" Kakek Kaisiepo pun melempar potongan kepala reptil ganas di depan mereka.
Tiba-tiba gerbang kampung itu terbuka dan ketua suku Tanusen, berjalan menuju Kaisiepo yang masih berada di punggung Kuari.
"Binatang apakah ini," sambil berjongkok ketua suku Tanusen itu memeriksa potongan kepala reptil itu.
"Aku juga baru kali ini melihat kadal yang mengerikan itu, dia hanya punya satu tujuan memakan semua yang ada di hutan Suwar, bayangkan jika dia menghabiskan rusa-rusa di hutan Suwar. Kalian akan makan apa nantinya." Kaisiepo bernarasi.
"Untuk itulah aku membutuhkan bantuan kalian guna menghabisi kadal mengerikan ini di hutan Suwar," lanjutnya.
"Pilihlah sepuluh Ksatria terbaikmu dan ikutlah denganku menuju hutan Suwar, aku juga akan meminta bantuan ketua suku Tamas mengirimkan Ksatria terbaik mereka."
Kaisiepo mengambil lagi potongan kepala reptil itu dan meloncat naik ke punggung Kuari kembali.
"Tunggu aku di padang rumput di balik bukit itu kita memulai perjalanan bersama dari sana!" teriaknya sambil melaju menuju kampung Tamas.
Ucapan Kaisiepo itu bagai membuka kesadaran baru bagi Reu sang kepala suku Tanusen.
Selama ini mereka hanya memperebutkan hal yang sebenarnya tidak begitu mempengaruhi kehidupan mereka, justru keberadaan kadal ganas yang baru ditemukan Kaisiepo itulah yang sangat membahayakan kelangsungan hidup rakyatnya.
Ketua suku Tamas ketika melihat bukti yang dibawa Kaisiepo juga terlihat terkejut melihat jenis binatang yang asing baginya dengan rahang yang dipenuhi gigi-gigi tajam.
"Oh pengguna batu bintang Kaisiepo apa yang bisa aku bantu dengan adanya binatang buas seperti ini," kata Maruna ketua suku Tamas.
"Kumpulkan sepuluh Ksatria terbaikmu dan ikuti aku, kita akan berjuang bersama-sama membasmi binatang ganas ini dengan suku Tanusen," jawab Kaisiepo.
"Lupakan permusuhan kalian, sekarang saatnya membuktikan siapa yang terbaik membasmi binatang ganas ini," Kaisiepo berusaha memberi motivasi tersendiri.
"Bayangkan jika binatang-binatang itu menyerang anak istri kita ketika sedang mencari kayu bakar di hutan Suwar, bayangkan jika sudah tidak ada rusa di hutan Suwar, tentu kita akan menjadi sasaran mereka berikutnya bukan?"
"Mereka ini kadal yang bisa berdiri bagai kangguru, dan mampu berlari cepat bak kasuari, mereka sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup kita." Kaisiepo menyadarkan Maruna sang ketua suku Tamas.
"Baiklah, oh Kakek bijak, aku akan segera mengumpulkan sepuluh orang terbaikku," tanpa ragu Maruna pun menyetujui ucapan Kaisiepo.
Akhirnya setelah memilih orang-orang terbaiknya berangkatlah mereka mengikuti Kaisiepo.
Menuju padang rumput di mana suku Tanusen telah menanti mereka. Ketua suku Tanusen, Reu dan ketua suku Tamas, Maruna saling berjabat tangan penuh semangat mereka akan saling membuktikan siapa yang terbaik dalam perburuan kadal ganas di hutan Suwar.
Akhirnya rombongan itu bergerak menuju hutan Suwar. Masing-masing suku berhenti sejenak di depan hutan Suwar dan masing- masing dari mereka mengutus satu pencari jejak, guna menyelusuri, melacak dan memastikan semua aman.
Kini mereka memasuki temaram nya hutan Suwar yang rimbun dan lebat.
Kuari juga waspada, seekor burung cendrawasih terbang dan hinggap di pundak Kaisiepo.
Seolah tahu apa yang akan mereka buru burung cendrawasih itu memberitahu Kaisiepo di mana sarang kadal kadal ganas itu.
"Sarang mereka ada di dekat sungai kecil di pusat hutan ini, tempat itu tadinya tempat kami membangun sarang," Cendrawasih itu berkicau pada Kaisiepo.
Mendapat informasi dari burung cendrawasih itu Kaisiepo pun memberitahu kedua ketua suku untuk mengatur strategi.
Mereka pun dengan berhati-hati bergerak, beberapa orang memilih bergerak di atas pohon, mereka mengitari dan mengelilingi sarang reptil ganas yang sedang berpesta pora memakan rusa.
Kadal-kadal ganas itu masih belum menyadari situasi yang mengancam hidup mereka.
Ada sekitar tiga puluh ekor kadal ganas. Namun bagi Kaisiepo jumlah bukanlah masalah karena dia sendiri mampu menumbangkan empat reptil itu dengan anak panahnya.
Akhirnya Kuari berkokok nyaring memberi tanda dimulainya penyerbuan. Dan anak-anak panah pun dilepaskan dari busurnya mengarah ke para reptil itu.
Beberapa reptil yang sudah tidak asing dengan anak panah yang menancap di tubuh rekan mereka langsung berlarian ke sana ke mari demi menghindari penyerangnya.
Tapi naas, tempat itu sudah dikepung para ahli busur panah yang sudah sangat terkenal kemahirannya. Satu demi satu reptil-reptil ganas itu berjatuhan ambruk ke tanah.
Ketua suku Tanusen, Reu menyibak semak-semak dan menemukan banyak sekali butiran telur kadal-kadal ganas itu. Ketika ia hendak menghancurkan telur-telur itu dengan tombaknya.
Tanpa disadarinya seekor kadal ganas yang tersembunyi dari semak-semak sudah memasang gerakan hendak menerkamnya, kadal itu melompat ke arah Reu yang belum menyadarinya, namun tiba-tiba...
Dasss!!
Sebuah tombak terlihat mendorong tubuh reptil itu jatuh menjauhi Reu. Ternyata ketua suku Tamas, Maruna yang telah menyelamatkannya.
"Jangan lengah Reu, mereka ini kadal yang licik." kata Maruna kepada Reu.
"Benar!" sambil membidikan busur panah ke arah Maruna tepatnya di belakang Maruna ketika seekor kadal berlari ke arah punggung Maruna.
Wuuutt! ..
Kadal ganas yang hendak menerkam Maruna pun jatuh tak bergerak lagi.
Mereka saling bertatapan penuh harga diri dan bangga dengan kehormatan masing -masing karena telah saling menyelamatkan.
Tak ada hutang budi semua sudah impas. Mereka kini menyadari kekeliruan masing-masing, egoisme yang dikedepankan hanya memakan korban masing-masing pihak.
Kaisiepo melihat kedua kepala suku itu tersenyum karena akan ada kemungkinan konflik mereka akan terselesaikan.
Sementara itu di sebuah bukit yang berkilauan Tihu Suebu, Jaka Satya, Bahri Masiak, Mawinei Aray dan Andiek Wakkawaru muncul dari gerbang pintas bercahaya ungu.
Mereka hendak mencoba menyelesaikan konflik antara Tanusen dan Tamas. Para pengintai dari kedua suku itu mengenali putri Tihu mereka memberanikan diri menemui putri Tihu.
"Salam hormat kami Putri Tihu!"
" Salam sejahtera bagi kalian," Putri Tihu menjawab mereka. Dia merasa heran kedua suku itu tidak berselisih seperti biasa nya.
Kedua orang pengintai itu akhirnya menjelaskan semuanya bahwa ketua suku mereka saling bekerja sama menumpas reptil reptil ganas.
Tihu pun bertanya kepada mereka berdua.
"Sebenarnya apa masalah utama kalian selama ini?"
"Apakah memperebutkan bukit yang penuh emas ini? "
Kedua orang itu saling berpandangan mereka merasa konyol dengan perselisihan mereka selama ini, sebab jauh sebelumnya mereka tak pernah kekurangan berbagi emas dibukit itu.
"Baiklah, aku akan memberikan setengah bukit ini pada Tanusen dan setengahnya lagi untuk Tamas agar kalian tak lagi merasa dicurangi satu sama lain."
Putri Tihu berkata demikian sambil memandang Bahri Masiak. Bahri Masiak memahami maksud putri Tihu.
"Baiklah aku rasa kita harus membagi bukit ini dengan adil untuk kedua suku." Bahri angkat bicara.
Kemudian dengan menggunakan cincin batu bintangnya yang berwarna coklat, Bahri mengarahkan telapak tangannya ke bawah.
Seketika bumi terasa bergetar, bukit emas itu pun perlahan bergerak terbelah menjadi dua bagian.
Kedua pengintai itu takjub dan terpana melihat bukit yang selama ini mereka perebutkan itu kini masing-masing menjadi milik wilayah mereka secara jelas. Mereka sangat gembira sekali.
"Terima kasih Putri Tihu," tak lupa mereka pun berterimakasih pada Tihu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments