Berlabuh Di Pulau Waja

Kapal dagang keluarga Masiak, sudah mulai menyisiri laut utara pulau Waja, sang nahkoda yaitu Mangkuto harus berlabuh di pelabuhan Gungca, yang adalah pelabuhan terdekat dengan Kerajaan Jhamapati.

Pelabuhan Gungca merupakan akses perniagaan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang, baik untuk memuat ataupun membongkar barang-barang dagangan.

Selain itu, pelabuhan Gungca juga berfungsi sebagai tempat istirahat para pedagang. Banyak pengusaha kapal dan pedagang yang tinggal di sekitar pelabuhan.

Di pelabuhan Gungca ayah Bahri Masiak juga mempunyai lapak rempah-rempah yang cukup besar serta gudang penyimpanan rempah-rempah yang biasanya digunakan untuk menyimpan pesanan dari Kerajaan Jhamapati atau kerajaan-kerajaan kecil lainnya di pulau Waja.

Proses pengambilan pesanan biasanya memerlukan waktu agak lama kadang sehari, terkadang bahkan berminggu-minggu.

Kerajaan Jhamapati biasanya memesan rempah-rempah yang tidak banyak didapati tumbuh di pulau Waja.

Setiap kapal dagang yang berlabuh di Gungca diwajibkan melapor pada prajurit  pasukan Ghayankbara dan akan ditanya keperluan dan maksud berlabuh di Gungca.

Ayah Jaka Satya adalah punggawa pasukan elit Ghayankbara, nama ayah Jaka Satya adalah Prawira Satya Dirja.

Dia ditugaskan untuk mengawasi dan mengatur ketertiban para pedagang atau perantau dari luar pulau Waja, mereka diwajibkan juga membayar beberapa keping perunggu untuk mendapatkan surat ijin usaha, kunjungan atau menetap di pelabuhan Gungca.

Besarnya uang yang di tetapkan pun tergantung kepentingan atau keperluan mereka berada di pelabuhan Gungca.

Untuk sekedar kunjungan hanya di haruskan membayar setengah keping perunggu, menetap selama tujuh hari tujuh malam wajib membayar dua keping perunggu, dan lima keping perunggu jika punya urusan usaha semacam berdagang barang maupun jasa.

Prajurit pasukan Ghayankbara juga tidak mengenakan baju zirah, karena harus melakukan gerakan yang cepat dan senyap

Pasukan Ghayankbara juga menggunakan telik sandi (mata-mata), infantri, dan pengawalan.

Pasukan Ghayankbara yang dipimpin seorang patih bernama Jagam Daha pernah bertugas menjaga Raja Gajayanare yang tengah dalam persembunyiannya dari pasukan Tiku Ra di Desa Bedendar.

Pada saat pemberontakan tersebut, Tiku Ra mengadakan sayembara bahwa siapa saja yang dapat menunjukan dimana Gajayanare berada akan diberi hadiah satu pundi berisi kepingan emas.

Saat itu, Jagam Daha memberi amanat untuk ditaati dan dijalankan oleh anggota Pasukan Ghayankbara yang dipimpinnya,

Yaitu: satu Pasukan Ghayankbara harus memiliki sikap setia dan patuh kepada raja, karena raja merupakan penjelmaan Dewa di dunia. Sehingga perkataan raja sama dengan perintah Dewa yang harus dipatuhi.

Dua Pasukan Ghayankbara  memilih tindakan untuk selalu melenyapkan musuh. Hal ini karena saat itu terdapat pasukan lawan yang ingin merebut tahta dan mengganggu ketentraman kerajaan.

Tiga, Pasukan Ghayankbara memiliki tekad mempertahankan kerajaan mengingat saat itu Jagam Daha harus merebut kembali Kerajaan Jhamapati dari Tiku Ra yang telah menduduki takhta dengan cara licik.

Dan empat Pasukan Ghayankbara memiliki sikap yang muncul dari hati nurani yang iklas tanpa pamrih, tidak terikat sesuatu atau hadiah.

" Nah Bahri mari kita turun ke lapak kita," kata Mangkuto pada Bahri setelah selesai menyandarkan kapalnya.

Bahri yang tadinya ikut membantu pekerjanya membongkar muatan kapal menghentikan aktifitasnya dan ikut menemani pamannya turun untuk melihat lapak ayahnya yang baru beberapa bulan dibuka.

"Dulu ayahmu pernah berjasa membantu raja Jhamapati ketika beliau mengalami pemberontakan, beliau mengungsi dari istana dan ayahmu yang adalah pengguna batu bintang itu menolong dia membuat istana sementara dengan menggunakan kekuatan batu bintangnya yang sekarang kamu pakai itu."

Mangkuto bercerita tentang lapak yang ada di pelabuhan Gungca itu.

"Ayahmu yang seorang pedagang itu meminta ijin Raja Gajayanare untuk mendirikan lapak di sini, itu sudah lama tapi lapak itu baru bisa dibangun bulan bulan ini,"sambungnya.

"Wah besar juga ya paman," Bahri memberi penilaian yang tepat setelah melihat lapak itu.

"Dan di belakang lapak itu gudang penyimpanan rempah-rempah kita yang khusus untuk menyimpan pesanan banyak Kerajaan di pulau Waja ini," jawab Mangkuto.

"Baiklah ikuti paman sekarang kita harus mengurus surat-surat perijinan di bangunan yang besar itu." Sambung Mangkuto sambil menunjuk bangunan panjang dan besar bergaya rumah adat Waja yaitu Gojlo.

Mereka berdua akhirnya beranjak dan berjalan kembali bermaksud untuk melapor dan meminta semacam Surat Perijinan Usaha dan Menetap.

Mereka mendatangi semacam pendopo yang dijaga dua Prajurit Ghayankbara. Di bangunan pendopo inilah Punggawa Prawira Satya Dirja bertugas memberi perijinan menuliskan di atas kertas lontar dan diberi cap Kerajaan Jhamapati.

Sekedar pengetahuan di jaman itu mereka sudah mengenal pembuatan kertas dari daun lontar.

Proses pengolahan daun lontar menjadi kertas relatif panjang. Prosesnya bisa memakan waktu hingga beberapa hari. Proses dimulai dengan merendam daun lontar kering ke dalam air panas. perendaman daun lontar dicampur dengan sejumlah rempah dan bahan lainnya.

Sekian lama direndam, daun lontar dijemur lagi hingga menjadi keras seperti selembar kayu.

Daun lontar yang mengeras itu lalu digosok dengan batu sampai halus dan mengkilap.

"Silahkan duduk Tuan Mangkuto saya lihat anda bersama putra anda?" tanya Prawira setelah mempersilahkan keduanya duduk, dia sudah lama mengenal keluarga Masiak yang terkenal itu namun belum mengetahui tentang Bahri yang hanya keponakan Mangkuto.

Sambil menyerahkan surat ijin usaha yang sudah dia persiapkan jauh hari.

"Bagaimana kabar Tuan sekalian?" tanyanya lagi berbasa basi.

"Terima kasih kami baik-baik saja, oh iya ini bukan putra saya, namanya Bahri Masiak putra kakak saya," jawab Mangkuto sambil menerima gulungan kertas perijinan berniaga.

"Oh maafkan kekeliruan saya jadi tuan muda ini putra dari Tuan Masiak, apakah dia akan menetap di lapak Tuan Masiak?" sambil meminta maaf, Prawira bertanya lebih lanjut.

"Benar sekali, maklumlah sudah tradisi keluarga kami meneruskan usaha dagang, untuk itu mohon juga untuk dibuatkan surat ijin menetap selama empat belas hari empat belas malam."

"Oh begitu baiklah," jawab Prawira sambil membuka laci mejanya yang kedua. Untuk beberapa saudagar terkenal seperti keluarga Masiak dia sudah mempersiapkan segala jenis surat perijinan hanya tinggal membubuhkan tanggal yang berlaku serta cap Kerajaan Jhamapati.

Melihat Bahri, Prawira teringat akan putranya sendiri yang tidak berminat menjadi prajurit istana.

Namun dia tak pernah memaksanya baginya kebahagiaan anak dan istrinya itu lebih penting.

Namun begitu mendengar perkataan Mangkuto dia memahami dan memakluminya.

Lain ladang lain belalang pikirnya. Dan itu bukan urusannya. Dia pun memberikan surat perijinan menetap di Kerajaan Jhamapati.

"Ini surat yang Anda butuhkan semuanya keseluruhan empat keping perunggu untuk surat tinggal menetap dan lima keping perunggu untuk ijin berniaga." Prawira menerangkan biaya kedua surat perijinan itu.

"Sembilan keping perunggu keseluruhannya," lanjutnya.

Peraturan semacam ini sebenarnya sudah disepakati oleh kelima raja besar di Nasutaran.

Mereka akan melakukan pertemuan bersama di kota gaib Janasaran. Kota gaib itu hanya bisa dikunjungi para raja yang didampingi pengguna batu bintang saja.

Pertemuan para raja yang membahas berbagai hal untuk keharmonisan negeri Nasutaran.

Mangkuto pun mengambil sembilan keping perunggu di kantung uangnya dan menyerahkannya pada Prawira.

Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!