Anak Laut & Legenda Putri Duyong

Di sebuah kepulauan kecil  yang masih merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Wasuwa, nampak perkampungan nelayan yang terlihat riuh.

Kepulauan kecil yang sering disebut Sahengidalaut  itu menjadi banyak persinggahan nelayan dari pulau utamanya yaitu Walesisu.

Sahengidalaut terdiri dari tiga pulau kecil yang saling berhadapan sehingga membentuk semacam cincin  dengan tiga celah atau selat kecil yang merupakan akses menuju laut lepas dan di pesisir bagian dalam kepulauan itu terdapat perkampungan nelayan. 

Tampak di pantai beberapa pemuda sedang melakukan permainan sepak raga. Hari ini mereka sedang merayakan panen mutiara.

Setiap musim panen tiram pasti akan diikuti selamatan dan perayaan dengan berbagai pertandingan ataupun perlombaan.

Seperti lomba balap perahu Thecalonca ( perahu panjang dengan ujung haluan yang diukir bagai kepala ikan legenda Thecalonca ) , berburu kerang Mokua dan permainan sepak raga.

Permainan sepak raga yang dalam permainan ini, setiap pemain harus menunjukkan kemahiran dalam penanganan bola, pemain memainkan bola rotan dengan semua anggota badan kecuali dengan tangan seperti kaki, paha, dada, bahu, kepala, dan harus memastikan bahwa bola tidak jatuh ke tanah.

Arena lapangan sepanjang tiga hasta dan lebar dua hasta di tiap tiga pemain itu dibatasi semacam jaring berbahan kulit kayu yang dijalin.

Masing-masing terdiri dari tiga pemain meskipun di beberapa wilayah ada yang terdiri dari empat atau lima pemain. Tapi di Sahengidalaut mereka lebih suka hanya dengan tiga pemain saja.

Tak jauh dari keramaian itu di sebuah beranda seorang Tetua kampung yang sudah lanjut usianya duduk dikerumuni banyak anak kecil yang antusias mendengarkan dongeng legendanya.

Kakek yang bernama Dato' Lamaraeng adalah salah satu dari tiga tetua di kampung nelayan itu.

"Alkisah di Teluk Nobe tinggal sepasang suami istri dan seorang anak laki-laki nya yang bernama Guya yang sudah beranjak dewasa, suatu hari ayah Guya mengajaknya melaut untuk menjaring ikan seperti yang selalu dia lakukan setiap harinya..." Sang Kakek memulai ceritanya.

"Dan seperti biasa dia juga menyuruh Guya untuk turun menyelam ke dasar laut  mencari beberapa kerang Mokua ," lanjutnya sambil meminum air tehnya.

"Guya, cukup tiga Mokua saja yang kau cari  pesan ayah Guya dan Guya pun menganggukkan kepalanya lalu bergegas menceburkan diri ke dasar laut yang bening itu sehingga ayahnya masih bisa melihatnya dari atas sampannya... "

Tiba-tiba seorang anak mengacungkan tangannya dan berseru.

"Kek, kenapa hanya tiga kerang Mokua saja yang diminta ayah Guya itu?"

Kakek itu berhenti sejenak dan mengernyitkan dahinya ke bawah, merasa terpotong ceritanya lalu dia pun menjawabnya,

"Karena mereka hanya hidup bertiga, semua nelayan Teluk Nobe tidak mau serakah, hanya ambil secukupnya saja, itulah alasannya kenapa hanya tiga Mokua yang diambil, kau tahu sendiri kan Mokua itu sebesar apa ukurannya? "

"Oh begituuuu.." sambil memanyunkan bibirnya anak itu kembali melipat tangannya dan menunggu Sang kakek melanjutkan kisahnya.

"Nah, sampai dimana tadi.. "

"Oh iya, lalu Guya pun menyelam menyusuri dasar laut dan dengan mudah menemukan satu kerang Mokua, maka diambilnya lah kerang itu dan dia menuju ke atas dan diberikan pada ayahnya, juga dia harus mengambil udara baru untuk penyelaman selanjutnya... " Kakek itu menghentikan sejenak bicaranya sambil mengernyitkan dahinya ke bawah kembali.

Karena seorang nenek melintas keluar dari dalam rumah membawa sebakul kacang tanah rebus yang masih panas dan dia taruh di depan kerumunan anak-anak kecil itu untuk dinikmati.

"Ayo Cucu...Cucu... mumpung masih panas kacang rebusnya," ujar sang nenek yang adalah istri Dato' Lamaraeng. .

Anak-anak itu pun berebut mengambil kacang rebus hangat di genggaman tangan mereka serta mulai mengupas dan mengudap sambil memperhatikan Kakek Dato' yang hendak melanjutkan cerita.

Istrinya kembali masuk ke dalam berniat mengambil kendi untuk disuguhkan pada anak-anak itu.

"Eh sampai di mana tadi... Oh iya lalu ayah Guya meminta dia mengambil hanya tiga kerang Mokua saja... " lanjut kakek itu namun terhenti lagi ketika anak yang tadi mengacungkan tangan kembali berseru.

"Bukan itu Kek, tadi Guya sudah sempat mengambil satu kerang Mokua dan sudah dia berikan pada si ayah," anak itu yang bernama Andiek Wakkawaru meralat ucapan kakek Dato' .

"Eh, iya betul, betul, betul... dan Guya pun menyelam kembali menjelajah dasar laut memeriksa di antara terumbu karang dan akhirnya dia pun menemukan kerang Mokua yang kedua sekali lagi dia harus naik ke atas untuk menghirup udara segar dan memberikan kerang itu pada ayahnya. " Kakek Dato' kembali minum teh nya yang mulai dingin.

"Dan akhirnya dia kembali menuju dasar laut mencari kerang Mokua yang  ketiga,  kembali dia memeriksa tiap bagian di terumbu karang yang beraneka warna itu dan tiba-tiba.... "

Kakek itu berhenti sejenak menunggu reaksi anak-anak yang berhenti mengudap kacang rebus mereka, sambil terkekeh dalam hatinya melihat seorang anak yang melongo ketika mendengar kata tiba-tiba.

"Tiba-tiba... " lanjutnya namun dia sejenak diam kembali. 

"Ini airnya Cucu...Cucu kalian pasti haus juga kan? " Sang Nenek lagi-lagi melintas sambil membawa dua kendi air putih, membuat suaminya berhenti melanjutkan ceritanya.

"Tiba-tiba."

THAAAKKK!!!

Sambil mengetuk tongkatnya keras ke lantai dan dia pun kembali terkekeh dalam hati karena anak-anak itu tersentak kaget.

"Tiba-tiba Guya merasa ada sekelebat bayangan bergerak cepat dibelakangnya..."

Sambil terkekeh dia menunjuk seorang anak. Sekali lagi ceritanya terpotong.

"Labussa, kau tutup dulu mulutmu yang menganga itu bisa-bisa lalat masuk ke dalamnya Keh..Keh..Keh," Sang Kakek tergelak tak bisa menahan tawanya.

Anak yang bernama Labussa itu pun tersipu malu tersadar dari imajinasi liarnya dan mengatupkan bibirnya kembali.

Semua anak tertuju pada Labussa dan ikut tertawa. Membuat merah padam raut wajah Labussa karena malu.

Kembali Andiek Wakkawaru mengangkat tangannya berusaha mengingatkannya dan berseru,

"Ayo, Kek lanjutkan ceritanya, bayangan apa yang ada di belakang Guya itu Kek.. "

Anak-anak lainpun kembali penasaran dengan kelanjutan cerita Dato' Lamaraeng dan menanti sang kakek meneruskan ceritanya yang selalu terputus itu.

Sambil memperbaiki duduknya Kakek Dato' pun berdeham..sambil berusaha membuat suasana kembali menegangkan,

"Erhm.. erhm... Ya Labussa pun  terkejut melihat sesosok bayangan dibelakangnya..e..e..eh kok jadi Labussa sih.."  Karena hal lucu sebelumnya kakek Dato' sampai salah menyebut nama tokoh dalam dongengnya.

Kali ini giliran anak-anak itu tertawa tergelak-gelak.

"Hahahahaha!" Semua tertawa termasuk Labussa yang berusaha kembali berimajinasi dan malah membayangkan dirinya yang menjadi Guya.

" Guya Kek... Guya...! ". sekali lagi Andiek Wakkawaru berseru mengingatkan.

" Iya, Guya, maksud Kakek dan terima kasih selalu diingatkan ya," kemudian dia melanjutkan lagi ceritanya.

"Nah, ternyata di belakang Guya berdiri putri Duyong, putri Duyong itu penghuni kerajaan bawah laut paling dalam tidak seperti kita, bangsa Duyong itu separuh tubuh bawahnya seperti badan ikan bersisik kemilau kehijauan dan tubuh atasnya seperti badan kita dengan dua tangan yang di antara jari jemarinya berselaput, seperti... seperti... ada yang tahu?" Kakek Dato' ingin tahu bayangan mereka menggambarkan bangsa Duyong itu.

Ramai anak anak itu menjawab pertanyaan kakek Dato'

"Seperti kaki belakang Katak ya Kek..!" sahut Labussa

"Seperti kaki bebek pastinya," anak disamping Labussa membayangkan bentuk telapak tangan orang Duyong sambil mengetuk-ketuk dahinya.

"Seperti sirip ikan betik kah?" Andiek Wakkawaru ikut menjawab.

"Keh.. Keh.. Keh.. kalian anak-anak pandai ...ya semua benar memang seperti itu kurang lebih bentuknya coba lihat jari kakek dan bayangkan jika antara jari kakek ini ada selaputnya, " Kakek Dato' kemudian memberi gambaran dengan tangannya sendiri sambil terkekeh.

Dan ketika Kakek Dato' akan kembali melanjutkan ceritanya, mendadak dari kejauhan terdengar teriakan para pemain sepak raga ke arah bocah-bocah yang sedang asyik mendengarkan dongeng Kakek Dato'.

"Andiek, Labussa, Isogi, Tenri, Labolong, Dalle! Masuk lapangan sepak raga giliran kalian bermain di sini... Ayo lekas kemari!!" Teriak seorang pemuda yang bernama Labosi.

"Yaaaahhhh padahal lagi seru-serunya dengar cerita Kakek Dato'," Andiek Wakkawaru dan teman-temannya serasa kecewa

"Jangan khawatir Cu' nanti kan bisa Kakek sambung kembali, Kakek juga pegal duduk terus di sini ayo main sepak raga sana, kakek juga ingin lihat sampai dimana kepandaian kalian bermain sepak raga," Sang kakek mencoba menghibur anak-anak itu.

Dia beranjak berdiri dari kursinya dan anak-anak itupun bangkit dari tempatnya sesudah membersihkan tempat itu dari kulit kacang yang bertebaran di alas tikar rotan beranda Kakek Dato'.

Dan bersama-sama mereka pun berjalan menuju arena sepak raga. Dan tanpa disadari semua penduduk pulau itu di sebuah sudut terpencil pesisir luar kampung itu seberkas sinar berbentuk Gerbang Sinar mendadak muncul dan keluar seorang putri duyong eh maaf putri Tihu yang manis jelita itu dari sisi berlawanan.

Dengan anggun dia berjalan menyusuri pantai mencari jalan setapak menuju kampung Kakek Dato' Lamaraeng. Sambil terpukau keindahan alam Sahengidalaut yang begitu memukau dan sangat menawan hatinya.

Apakah misinya akan tercapai? Ataukah justru gagal mencari orang yang diperkirakannya? Tunggu Bab selanjutnya yaaaa....?!

...Dato' Lamaraeng...

Terpopuler

Comments

Guns

Guns

unik

2024-08-18

1

✿🅼🅴🅳🆄🆂🅰✿

✿🅼🅴🅳🆄🆂🅰✿

hadir thorrr/Smile/

2024-08-05

2

lihat semua
Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!