Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas

Di sebuah hutan di Pa'apu yang biasa disebut hutan Suwar, terlihat seorang kakek yang bertubuh kecil memacu burung Kasuari dengan sangat cepat.

Raut wajah kakek itu terlihat panik dan cemas. Dan terlihat beberapa hasta di belakangnya beberapa reptil yang kelaparan mengejar sambil berlari menggunakan kedua kakinya yang penuh cakar-cakar tajam.

Kejadian sebelumnya:

Kakek itu bernama Kaisiepo seorang pengguna batu bintang putih penjaga wilayah hutan Suwar.

Dia merasa ketakutan karena baru kali ini dia melihat sejenis kadal yang bisa berdiri dengan bentuk kedua kaki depan bagaikan lengan tangan sedangkan kaki belakang serupa dengan kaki burung Kasuari dengan ekor panjangnya menjulur kebelakang.

Tadinya ia mengira itu seekor kangguru ketika melihatnya dari jauh. Namun setelah dari jarak yang dekat dia sangat terkejut melihat reptil-reptil itu sedang mengepung seekor Kasuari yang sedikit lebih besar ukurannya dari para reptil buas itu.

Dan itu bukan kangguru!

"Hah binatang apa itu?" batinnya dalam hati sewaktu dia mengendap dan mengintip di balik semak-semak.

Burung Kasuari itu juga tampak marah bersiap-siap melawan empat reptil yang mencoba memakannya.

Kakek Kaisiepo tidak yakin burung itu akan selamat dari keroyokan reptil-reptil buas itu, tanpa pikir panjang dia membidikan busur panahnya ke salah satu reptil itu di balik semak tempat ia bersembunyi.

Wuuuttt..!

Anak panah melesat cepat mengenai salah satu kepala reptil itu yang akhirnya terkapar di tanah.

Tiga reptil lainnya terkejut melihat salah satu temannya ambruk seketika. Seakan menyadari ada pengganggu yang turut campur perburuan mereka.

Mereka mencari-cari pengganggu mereka dan menengok ke sana kemari dengan leher panjangnya, sementara burung Kasuari yang melihat anak panah kakek Kaisiepo itu terlihat senang karena dia merasa bantuan telah datang di pihaknya.

" Wuuuutt..!!! " anak panah kedua juga tepat mengenai jantung reptil yang kedua dan jatuh lunglai ke tanah.

Dua reptil lainnya meraung-raung seperti memanggil-manggil temannya yang lain.

Ketika kakek Kaisiepo hendak membidik kembali salah satu dari dua reptil yang tersisa tiba-tiba...

Tepat di sampingnya tersembul kepala reptil yang lain yang mengendus-endus di tempat kakek itu bersembunyi.

Sontak kakek itu langsung menembakan anak panah dari busurnya dengan sangat cepat di susul raungan kematian reptil itu.

Dua reptil lainnya mendengar raungan itu dan berlari menuju arah kakek Kaisiepo bersembunyi. Seolah girang menemukan mangsa baru yang telah menghabisi rekan-rekannya.

Menyadari hal itu kakek Kaisiepo pun segera memanjat pohon di dekatnya sebelum reptil-reptil itu menerkamnya.

Reptil-reptil itu akhirnya melihat kakek Kaisiepo yang sudah memanjat dan berdiri di dahan pohon yang cukup tinggi.

Dua reptil itu mendesis dan sesekali meraung ke arah kakek itu sambil meloncat ingin meraih si kakek dengan leher dan rahang panjang mereka.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu kakek Kaisiepo segera membidikkan kembali anak panahnya dengan gesit. Ke arah rahang-rahang yang menganga hendak menyantapnya itu.

"Wuuuttt... Wuuuttt !!! " sekali gerakan dua anak panah di luncurkan dengan sudut berbeda. Satu tepat menembus leher reptil itu namun sayang anak panah yang lain hanya menggores badan reptil sebelahnya.

Tinggal satu reptil tersisa yang hanya mendesis bergerak mundur karena menyadari dia hanya sendirian dan tiba-tiba...

"Braaakk...!!! " dari arah belakang reptil itu burung Kasuari yang berbalas budi itu menubruknya dengan cakar kakinya yang tak kalah tajam, merobek-robek punggung reptil itu, mematuk kepala reptil itu dengan garang.

Sebelum reptil itu jatuh ke tanah dia sempat meraung-raung dengan nada yang berbeda seperti memanggil kawannya yang lain untuk menolongnya.

Kakek Kaisiepo pun turun dari pohon buah merah sambil memandang reptil-reptil naas itu.

" Kuari binatang apa ini?" Kakek Kaisiepo itu bertanya pada burung kasuari yang tampak juga terheran melihat reptil yang menyerangnya itu.

Kasuari itu menjawabnya ", mana aku tahu, seumur-umur baru kulihat makhluk sebuas ini". ( dengan suara seperti ayam yang berkokok  )

Kakek Kaisiepo adalah pengguna batu bintang berwarna putih yang bisa membuatnya bercakap-cakap dengan para burung.

Hampir mirip dengan Dato' Lamaraeng hanya saja bukan burung yang bisa diajaknya bercakap-cakap tapi makhluk laut saja yang bisa berkomunikasi dengannya.

" Ini sangat berbahaya andaikan kadal kadal yang bisa berdiri ini memasuki pemukiman manusia," Kakek Kaisiepo bergumam.

" Aku rasa kita harus segera meninggalkan tempat ini," Kuari burung Kasuari itu berkokok nyaring.

" Kadal ini sepertinya cerdas bisa memanggil kawan-kawannya kita harus memusnahkan mereka kalau tidak seisi hutan pasti habis diburunya," dengan tombak batu bintang putihnya kakek itu memotong leher reptil aneh itu.

Berniat menunjukkan pada Kepala suku Tanusen dan kepala suku Tamas. Dengan maksud membantunya menumpas reptil aneh yang sangat ganas itu.

" Cepat naik ke punggungku Kaisiepo aku mendengar banyak sekali gemerisik ranting dan daun kering di belakang kita mereka datang dalam jumlah banyak lagi cepat kita kabur dari sini," Kuari berkokok dengan cemas.

" Baiklah!" Kakek Kaisiepo pun mengikat kepala reptil yang dipotongnya itu dan disandarkan pada punggungnya setelah naik di punggung Kuari.

Kuari pun berlari terbirit-birit ketika melihat salah satu reptil mendadak muncul dan mengendus dua rekannya yang tewas tak jauh dari pohon tempat kakek Kaisiepo menewaskan dua reptil lainnya.

" Ayo Kuari, reptil itu mulai memanggil gerombolannya.." Kakek Kaisiepo berseru ketakutan.

Keduanya sama-sama panik melihat binatang ganas yang baru pertama kali mereka lihat itu.

Tentu saja karena reptil-reptil itu sejatinya hidup jauh di jaman yang berbeda, jaman sebelum ada sejarah di mana manusia membangun peradaban.

Satu kadal yang bisa berlari cepat itu mulai mengejar Kuari sambil berkoar-koar mengundang kawan-kawannya.

"Groaarrgroarrgroarr...!! "

Kaisiepo melihat ke belakang betapa ngerinya dia begitu banyak kawanan reptil itu yang mulai bermunculan mengejar mereka.

Dia mencoba menghitung gerombolan kadal-kadal ganas itu. Ada sekitar sepuluh reptil yang memburu mereka.

Kuari yang mengenal seluk beluk hutan Suwar itu dengan baik, berlari berbelok arah dia ingin menghambat laju reptil itu,  tepat di depannya terdapat semak-semak rimbun Kaskado.

Dia melompat sangat tinggi karena dia tahu ada pohon tumbang di balik semak Kaskado itu.

" Kuari kenapa kau malah berbelok arah !!" Kakek Kaisiepo berteriak kesal mengira Kuari ingin bermain adu cepat dengan reptil yang mengejar mereka.

" Diam dan lihatlah di belakangmu itu"Kuari tak kalah nyaring berkukuruyuk penuh semangat dan ketakutan bercampur jadi satu.

Baginya berlari adalah hal yang sangat digemarinya dan baginya menghajar reptil-reptil berbahaya itu adalah sudah menjadi tugasnya.

Kakek Kaisiepo pun menengok ke belakang melihat beberapa reptil itu tersandung kayu yang melintang yang tertutup semak-semak Kaskado yang rimbun sambil tertawa. Reptil-reptil yang tersandung itu terjatuh karena kehilangan keseimbangan tubuhnya dan malah tak sengaja justru terinjak-injak oleh kaki kawan-kawannya yang penuh cakar.

Kuari juga puas bisa memberi pelajaran pada reptil-reptil itu. Berikutnya Kuari melaju berbelok ke kiri dengan cepat menuju rerimbunan tanaman palem berbentuk kipas sekali lagi dia mempercepat laju larinya dan melompat seperti semula.

Beberapa reptil mulai menyadari tipuan Kuari, ada yang berlari mengitari tanaman palem kipas itu menghindar di sisi kiri dan kanannya.

Namun naas rekan mereka yang di belakang belum menyadari rencana Kuari... Menerjang tanaman palem kipas itu dan terjebak di lumpur hidup kakinya terjerumus dalam lumpur yang membuatnya terpuruk, reptil dibelakangnya sekali lagi dengan tak sengaja justru menginjaknya hingga makin terbenam semakin dalam di lumpur hidup itu karena tak bisa menghentikan laju larinya yang begitu cepat.

Reptil yang sudah terbenam itu mencoba meronta membebaskan diri dari lumpur hidup itu tapi justru semakin terbenam lagi semakin dalam menyisakan kepalanya yang perlahan juga semakin turun dalam lumpur mematikan itu.

Kawanan reptil itu sudah berkurang menjadi tujuh ekor, tapi mereka tak menyerah memburu Kuari dan Kaisiepo yang bagi mereka adalah santapan yang layak untuk ditangkap.

Kadal-kadal ganas itu semakin dekat mengejar Kuari, Kuari merasa sangat keheranan dengan kecepatan mereka yang mampu sedikit menandinginya. Kemudian Kuari berlari berbelok ke arah kanan dia bermaksud mendekati kawasan tempat burung gagak berkumpul.

Sambil berkokok nyaring dia meminta bantuan burung-burung gagak yang berkaok riuh ramai ..

" Bantu kami menghalangi mereka untuk sementara", Kuari berkokok pada pemimpin burung gagak sambil melaju terbirit-birit.

Gerombolan burung gagak itu tadinya juga terkejut melihat makhluk aneh yang berlari cepat mengejar Kuari penuh cakar dan gigi yang tajam.

Tapi bagi burung gagak itu, Kuari adalah raja hutan Suwar. Mereka harus tetap membantunya.

Burung-burung gagak yang berjumlah puluhan itu berhamburan terbang dan menukik tajam ke arah reptil itu dari berbagai arah mencoba menghambat laju lari mereka. Tak banyak membantu karena reptil-reptil ganas itu tetap tertuju pada Kuari dan Kaisiepo yang telah mengurangi rekan-rekannya.

Reptil-reptil itu tak menggubris burung-burung gagak yang mematuki dan mencakar mereka.

Akhirnya Kuari memilih jalur sabana rumput Kebar yang lebat dan tinggi.

" Bagus Kuari dengan begini kita bisa sedikit tak terpantau mereka," kakek Kaisiepo seolah paham rencana Kuari.

" Diamlah aku benar-benar merasa lelah berpacu dengan mereka," Kuari pun menyusup dalam lebatnya rumput Kebar setinggi lima belas hasta itu. Dia melambatkan larinya kemudian menyelinap ke bagian paling tengah di pusat sabana rumput Kebar itu dan duduk bak mengerami telur, namun dia hanya ingin beristirahat sebentar.

Reptil-reptil ganas itu tidak langsung menerobos rumput lebat yang tinggi itu mereka waspada karena tahu Kuari lebih mengenal wilayah itu daripada mereka.

Mereka kemudian hanya mengendus-endus bau darah yang tercecer dari kepala rekan mereka yang kini ada di punggung Kaisiepo. Menyelusuri dan mulai memasuki lebatnya rumput Kebar dengan waspada. Kali ini permainan petak umpet yang menjadi rencana Kuari.

Setelah cukup beristirahat Kuari pun kembali berdiri dan melangkah dengan hati-hati menghindari suara gemerisik yang mencurigakan.

" Kuari jangan berlama-lama di sini." Kaisiepo berbisik pada Kuari. Kuari tak menjawabnya dia tahu betul arah keluar yang harus dilaluinya dari sabana rumput Kebar yang lebat itu.

Sambil mengendap-endap pelan kesana kemari cukup lama akhirnya mereka pun lebih dulu keluar dari sabana rumput Kebar itu. Saat itu juga Kuari langsung memacu lari secepat-cepatnya.

Kakek Kaisiepo melihat ke belakang, dia belum melihat satupun reptil itu berhasil keluar dari lebatnya rumput Kebar itu. Tapi dia bisa melihat rimbunan rumput Kebar yang bergerak-gerak berputar-putar di tengah sabana itu. Para reptil itu kebingungan mencari arah keluar.

Jarak mereka semakin jauh dari para reptil ganas itu, sampai satu reptil melongok keluar dari lebatnya rumput Kebar itu dan melihat Kuari yang terbirit-birit lari semakin menjauh.

Satu reptil itu berkoar koar memanggil teman-temannya di belakang. Dan akhirnya kepala-kepala reptil itu bermunculan dari rimbunan rumput Kebar dan mulai mengejar Kuari lagi.

" Celaka! Mereka mulai mengejar kita lagi Kuari.. " Kakek Kaisiepo berseru pada Kuari.

Satu tujuan terakhir di benak Kuari untuk menghambat pengejaran para reptil itu.

Terpopuler

Comments

Guns

Guns

seru!

2024-08-18

0

lihat semua
Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!