Selamat Bergabung Bahri Masiak

Tak lama Putri Tihu pun datang memasuki lapak Bahri, dia mencari-cari Andiek dan Mawinei.

Dia melihat Andiek sedang becakap-cakap dengan pria paruh baya yang adalah paman Bahri dan melihat Mawinei ditemani pemuda tinggi besar berjalan-jalan melihat berbagai rempah-rempah di tiap keranjang.

Dia sendiri sudah selesai berbelanja dan menaruhnya di kamarnya melalui "pintu pintas" kekuatan batu ungunya.

"Selamat datang di lapak kami..Tuan Putri Tihu Suebu," Mangkuto menyambut Putri Tihu. Dia sudah mendengar semuanya dari Andiek dan membungkuk hormat pada Tihu.

"Paman, janganlah bersikap terlalu resmi seperti itu, biasa saja," jawab Tihu yang menduga Andiek lah  yang memberitahu tentang dirinya.

"Ah, tidak-tidak mari silahkan duduk dulu," Mangkuto menyilakan Tihu duduk di bangku yg disediakan untuk menunggu pembeli.

Terdapat meja kecil di tempat tunggu itu.

"Sebentar Tuan putri.. "

"Bahri !!! Cepat kemari!" seru Mangkuto pada Bahri.

Bahri pun tergopoh-gopoh menghadap pamannya.

"Ya, Paman ada apa?!" sambil melihat seorang gadis manis bermahkota bulan sabit duduk di ruang tunggu.

"Buatkan teh tarik untuk tiga tamu kita ini," kata Mangkuto.

"Baik, Paman," jawab Bahri, yang kemudian bergegas ke dapur.

Lalu Mangkuto memanggil Mawinei dan Andiek untuk duduk bersama Tihu. Kedua anak itu pun menghampiri Tihu dan duduk bersamanya.

"Bagaimana kalian tahu disini ada pengguna batu bintang?" tanya Mangkuto.

"Sebelumnya aku menyuruh batu bintang unguku ini Paman, untuk mencari pengguna batu bintang yang bersedia membantuku menyelesaikan masalah di Pa'apu," Tihu menjelaskan.

"Tapi kami kesini karena Nenek Mawinei menginginkan beberapa rempah-rempah yang susah dicari di tempatnya," sambung Tihu.

"Paman bilang di sini ada pengguna batu bintang?" tanya Tihu bersemangat.

"Apakah Paman orangnya," tanya Tihu kembali.

"Ya, aku juga pengguna batu bintang tapi sepertinya yang kau cari bukan aku melainkan. .." belum sempat Mangkuto menyelesaikan ucapannya.

"Mari. Nikmati teh tarik hangat," Bahri datang membawa nampan dengan teko dan lima cangkir terbuat dari keramik buatan negeri Cani.

Dengan cekatan Bahri memperlihatkan teknik penyajian teh tarik yang membuat Tihu, Mawinei, dan Andiek terpana.

Teh yang bercampur susu dengan dibubuhi rempah cengkeh, kayu manis, jahe, sedikit garam, dan manisnya gula kelapa.

Disajikan Bahri dari teko ke cangkir dengan cara meninggikan tuangannya sehingga dalam cangkir terjadi busa susu yang melimpah.

Aroma teh susu bercampur rempah itu sungguh harum menggoda ketiga anak itu untuk mencicipi nya.

Mangkuto terlihat puas dengan kemampuan Bahri yang membuat dan menyajikan teh tarik itu kemudian bertepuk tangan setelah Bahri menyelesaikan penyajian minuman itu.

Tihu, Mawinei dan Andiek pun turut memberi apresiasi mereka dengan ikut bertepuk tangan.

"Hebat sekali cara menyajikan teh ini," kata Tihu.

"Tapi bagaimana dengan rasanya," Mawinei penasaran.

"Oh, mari, mari, silahkan diminum kalian pasti suka rasanya," Mangkuto mempersilahkan ketiganya mencicipi teh tarik itu.

Andiek meminum lebih dulu dan tersenyum-senyum kenikmatan. Serasa dirinya tamu mewah ketika merasakan minuman tersebut.

Tihu segera menanyakan resep minuman itu pada Mangkuto, dia ingin sekali orang tuanya mencicipi berbagai jenis minuman yang menurutnya baru dia rasakan.

Mawinei dengan mudah menebak rempah-rempah yang menjadi campuran minuman itu, menurutnya akan lebih nikmat lagi jika ditambahkan sedikit kapulaga dan itu jadi mengingatkan pesanan neneknya.

"Oh, iya aku hampir lupa pesanan nenek yaitu kapulaga," kata Mawinei.

"Nantilah, kita nikmati dulu minuman ini ," kata Mangkuto.

"Pengguna bintang yang kalian cari adalah dia, keponakanku yang bernama Bahri Masiak ini," kata Mangkuto sambil menunjuk Bahri.

"Apakah nenekmu bernama Kaayat? " tanya Mangkuto pada Mawinei.

"Benar paman, darimana paman tahu," tanya Mawinei.

"Yah pertama dari baju yang kau kenakan, dan kedua dia adalah ahli rempah-rempah, dulu kami berlima juga bertualang bersama tapi tidak senyaman kalian seperti sekarang ini." Mangkuto mulai berkisah.

"Dulu, seperti yang sudah kalian dengar dari Nenek Kaayat dan Dato' Lamaraeng kami pengguna bintang generasi lama saling bahu membahu menghadapi berbagai kekacauan yang dibuat pengguna batu bintang kegelapan."

"Semua perbuatan mereka bisa kami atasi dengan kerjasama kami berlima, aku yang paling muda di antaranya," sambil memandang Andiek.

"Nenekmu satu-satunya wanita yang sangat berjasa bagi kami semua, tanpa kemampuan shaman dari Nenek Kaayat mungkin kami semua sudah mati keracunan."

"Nenekmu ahli dalam hal membuat penawar racun," lanjut Mangkuto sambil memandang Mawinei dan tersenyum.

Masih tersimpan dalam ingatannya mengajari nenek Mawinei berbalas pantun, dan dia sungguh terharu tradisinya itu dia wariskan pada cucu-cucunya baginya itu sungguh luar biasa.

Seandainya tidak diselamatkan nenek Mawinei pada saat itu, mungkin saat ini dia tak bisa lagi melihat generasi baru pengguna batu bintang.

Mawinei yang mendengar kisah Mangkuto juga semakin bangga dengan neneknya yang ternyata lebih hebat dari apa yang selama ini dia pandang.

"Bahri, Paman pikir kamu harus ikut dengan mereka, mereka membutuhkan kekuatanmu," kata Mangkuto kepada Bahri.

"Tapi Paman bagaimana dengan lapak kita bukankah Apak ingin Bahri yang menjalankan berdagang di lapak ini? " jawab Bahri, meskipun di dalam hatinya juga riang gembira bisa menemani gadis yang dipilih hatinya.

"Tentang hal itu nanti biarlah aku yang menjelaskan pada ayahmu, dan aku yakin ayahmu tak akan keberatan apalagi kau punya tugas yang lebih penting dari sekedar berjualan rempah-rempah," Mangkuto menenangkan Bahri.

"Apakah ini semua berkaitan dengan desas-desus yang aku dengar di pasar ini?" tanya Bahri pada pamannya.

"Desas-desus apa itu?" Mangkuto ingin tahu.

"Tadi ada dua prajurit bicara tentang ular sebesar pohon kayu medang di lereng gunung Rembuba, rasanya mustahil jika sekejap dijumpai ular sebesar itu tidak sejak dari dulu, bukan?" jelas Bahri.

"Hah!!! Sebesar pohon medang ular macam apa itu ?" Mawinei yang paham tentang berbagai pohon ikut terkejut.

"Memang sebesar apa pohon medang itu ?" tanya Andiek.

"Bayangkan jika sebelas orang dewasa merentangkan tangannya mengelilingi dan memeluk sebuah batang pohon, nah!Sebesar itulah pohon medang." Mawinei memberi gambaran sederhana pada Andiek untuk dibayangkan.

"Waaaa.. ular raksasa itu namanya!" Bayangan ular itu digambarkan Andiek dengan lugas tapi memang tepat adanya.

"Sepertinya mereka kembali melakukan ambisi yang dulu sempat kami gagalkan," gumam Mangkuto.

"Tapi Paman apakah desas-desus itu sungguh nyata?" tanya Bahri kembali.

"Jangan heran, kekuatan batu bintang kegelapan juga sungguh mengerikan, musuh kami dulu ada yang punya kekuatan membuat gerbang sinar yang bisa mengeluarkan binatang-binatang berukuran besar," Mangkuto kembali teringat masa lalunya.

"Andiek kau pernah mendengar legenda ikan naga Thecalonca?" tanya Mangkuto kepada Andiek.

"Pernah paman, kakek Dato' pernah bercerita tentang ikan thecalonca itu," jawab Andiek.

"Itu bukan hanya legenda itu nyata dan itu ulah si pengguna batu bintang kegelapan."

"Kalau saja tidak ada Dato' Lamaraeng, ikan itu sungguh ancaman bagi perairan negeri Nasutaran, syukurlah Dato' Lamaraeng bisa berbicara dengan ikan itu melalui batu bintang biru keabuan yang dia miliki."

"Dan ikan itu pun mau mendengarkan Dato' Lamaraeng dan justru menjaga pulau Walesisu, itu dia buktikan ketika negeri atas angin tepat di utara Walesisu hendak menyerang kerajaan Wasuwa, ikan besar itu memporak porandakan armada laut mereka dan hingga sekarang mereka akan berpikir seratus kali jika hendak mencoba menyerang kembali," Mangkuto mengakhiri ceritanya yang panjang itu.

...Bahri Masiak...

Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!