Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray

Putri Tihu dan Andiek Wakkawaru berjalan melangkahi jalan setapak di tengah hutan yang ditumbuhi banyak pohon besar di kiri kanan setapak itu.

"Wah, besar sekali pohon-pohon di hutan ini," Andiek terkagum-kagum melihat pepohonan yang besar dan menjulang tinggi.

 "Kau tahu, ada di mana kita? " tanya putri Tihu, yang masih sedikit kecewa kenapa bukan Labosi yang dipilih batu bintang malahan bocah yang masih kecil.

"Tidak tahu kak, karena aku belum pernah melihat hutan yang dipenuhi pohon besar dan tinggi seperti ini.." jawab Andiek sambil menatap puncak-puncak pohon besar itu.

"Kita sekarang sepertinya ada di wilayah kerajaan Ikatu, kita di pulau terbesar di Nasutaran, pulau Lamakintan." Dia sering mendengar cerita ayahnya tentang pulau Lamakintan yang banyak ditumbuhi pepohonan besar.

Kemudian mereka mendengar suara musik yang semakin terdengar jelas seiring langkah mereka memasuki hutan lebih dalam.

"Wah, ada yang bermain alat musik, kau dengar juga, kan. Andiek? " tanya Tihu

"Ya, aku juga mendengarnya," sambil menelangkupkan tangannya di telinga memusatkan pendengarannya.

Namun tak lama mereka membicarakan musik itu, suasana menjadi hening bahkan suara burung yang tadinya ramai berkicau pun seakan bungkam.

"Kenapa jadi sunyi, ya?" Andiek Wakkawaru penasaran dengan suasana di hutan itu.

Putri Tihu juga tertegun dengan suasana hutan yang menjadi sunyi senyap.

Tak lama kemudian kedua anak itu merasakan udara yang mengalir sepoi-sepoi bertambah kuat dan semakin kencang dan semakin membuat mereka terdorong ke belakang.

Putri Tihu bahkan sampai jatuh terduduk. Sedang Andiek beringsut ke samping memeluk sebatang pohon erat-erat.

Kemudian angin pun mereda, Tihu yang masih terduduk bangkit berdiri, dia tahu angin yang baru saja menerpa mereka bukan angin biasa.

"Mungkinkah ini ulah pengguna batu bintang dengan kekuatan menguasai angin, "batin Tihu.

"Andiek ! waspada kedatangan kita tidak diharapkan," sedikit berbisik Tihu memberi peringatan kepada Andiek.

"Iya kak, pasti dia di tempat tersembunyi sambil mengamati kita," jawab Andiek yang juga menyadari keanehan angin tadi.

"Siapa kalian!" tiba-tiba tampak seorang gadis seumuran putri Tihu berdiri di batang pohon yang cukup tinggi berseru pada Tihu dan Andiek.

"Apakah kalian diijinkan memasuki hutan ini?" sambung gadis itu.

Gadis itu berpakaian seperti yang dikenakan nenek Kaayat dan Qeva tapi dia memakai semacam jubah dengan ujung-ujung yang dibentuk bagai sayap burung enggang.

Mendengar nada ketus gadis itu putri Tihu pun merasa bersalah, saat di Sahengidalaut dia hanya memberi perintah pada batu bintang ungunya untuk dituntun hanya menemukan pengguna batu bintang berikutnya.

"Maafkan kami yang tanpa ijin memasuki hutan ini, tapi maukah kau mengantar kami ke kampung terdekat? " Tihu berusaha bersabar dan bersikap tenang.

"Apakah kalian pengguna batu bintang?" Gadis itu bertanya dengan tegas.

"Dan untuk apa kalian kemari?" lanjut gadis itu.

Putri Tihu senang dia bertanya tentang batu bintang dan bisa menduga jika gadis itulah yang mungkin akan menjadi teman seperjalanan dalam petualangannya.

"Ya kami pengguna batu bintang namaku Tihu aku dari Luhamua dan ini Andiek Wakkawaru dari Sahengidalaut."

"Dan kau sepertinya juga pengguna batu bintang," sambil berdiri melipat kedua tangannya.

"Kalaupun aku pengguna batu bintang apa urusanmu," jawab gadis itu sambil duduk di batang pohon dan menyilangkan kakinya.

"Aku mencari pengguna batu bintang untuk menemaniku menyelesaikan masalah yang ada di wilayah kerajaan ku." jawab Tihu.

"Masalah kerajaan ? Apakah kau anak seorang bangsawan?" jawab gadis itu.

Tihu mengangguk dan sebelum dia menjawab kembali dia melihat seorang nenek dan anak kecil berjalan di setapak menuju arahnya. Nenek itu melihat gadis yang duduk di batang pohon itu dan berteriak kepadanya.

"Mawinei !! turun kau dari situ, sungguh tidak sopan kau berbicara pada tamu istimewa kita," Nenek Kaayat berteriak pada gadis yg bernama Mawinei itu.

"Mereka bukan tamu Nek, mereka penyusup dan  aku telah memberi pelajaran pada mereka!" teriak Mawinei pada neneknya.

"Turun! atau Nenek yang akan memaksamu turun dari pohon itu," Nenek Kaayat sedikit gusar pada cucunya itu yang adalah kakak Qeva.

Mawinei pun melompat dari dahan pohon yang sangat tinggi itu tanpa rasa takut sedikitpun, jubahnya mengembang bagai sayap burung enggang, daun-daun kering mengitarinya seolah dia dilingkupi pusaran angin yang berputar.

Dia sangat menghormati neneknya meskipun kadang dia juga melanggar ucapan atau nasehat neneknya.

Wush,wush wush...

Dia melompat turun dengan ringannya tepat di samping neneknya.

Qeva berdiri di balik punggung neneknya antara takut dan malu-malu sambil mengintip ke arah Tihu dan Andiek.

"Sering Nenek ingatkan jangan ceroboh dalam bertindak," sambil menunjuk telunjuknya pada Mawinei, Nenek Kaayat memarahinya.

"Ya Nek, aku minta maaf," menundukkan badannya sambil memutar bola matanya, merasa bosan sering diberi nasehat.

"Kau minta maaf pada mereka bukan pada Nenek," sambil menunjuk Tihu dan Andiek, sang nenek dengan pelan mendorong punggung Mawinei ke depan untuk meminta maaf.

"Uh Nenek, baiklah," Mawinei pun menyadari kesalahannya meskipun terlambat. Dia berjalan menuju Tihu dan Andiek, berhenti dan menundukkan badannya.

"Aku minta maaf telah mencoba mencederai kalian," dengan rasa sesal yang tulus Mawinei pun meminta maaf pada Tihu dan Andiek dan kembali menegakkan tubuhnya yang agak sedikit lebih tinggi dari Putri Tihu meskipun usia mereka sebaya.

" Ah, sudahlah, aku juga bersalah tidak mendatangi tetua adat terlebih dahulu, batu bintang unguku ini aku perintahkan mencari seseorang yang menggunakan batu bintang itulah sebabnya kita berada di tengah hutan." Putri Tihu juga meminta maaf pada Mawinei.

Kemudian Nenek Kaayat mendekat dengan Qeva yang masih ada di balik punggungnya sambil mengintip Andiek.

"Salam hormat kami Putri Tihu," sang Nenek sedikit membungkukkan badannya pada Tihu.

"Salam hormat sejahtera juga Nek, Nenek mengenaliku???" Putri Tihu heran karena dia merasa belum pernah menjumpai Nenek Kaayat.

"Khikhikhi... Kau masih kecil sewaktu ayah dan ibumu hadir dalam pertemuan raja-raja besar Nasutaran, pertemuan di kota gaib Janasaran di tengah laut Nasutaran," jawab Nenek Kaayat sambil terkekeh.

Lalu Nenek Kaayat melihat Andiek ia melihat Andiek dari ujung kaki hingga ujung paparongnya ( ikat kepala berbentuk segitiga). Dan kembali tersenyum.

"Dan, kamu anak muda, apakah kau cucu Dato' Lamaraeng?" Nenek Kaayat menebak-nebak karena baju yang dipakai Andiek mengingatkannya pada Dato' Lamaraeng sewaktu mereka masih muda.

"Bukan Nek, kok Nenek kenal Kakek Dato' juga? " Andiek bertanya ingin tahu.

Nenek Kaayat tersenyum manis pada Andiek namun tak berniat menjawabnya.

"Lebih baik kita ke rumah Nenek, tidak baik berbicara di tengah jalan. Di rumah nanti Nenek akan jawab semua keingin tahuan kalian, Mari Putri Tihu," Nenek Kaayat mengalihkan pembicaraannya dan mengundang mereka menuju rumahnya.

Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!