Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran

Raja Gajayanare dan Resi Sundek, menuju ruangan khusus dimana di dalam ruangan tersebut tercium aroma dupa dan wewangian bunga yang ditempatkan di tepi ruangan yang berbentuk lingkaran. Kemudian mereka berdua menuju pusat ruangan tersebut.

Resi Sundek mengucapkan mantra yang cukup panjang setelah itu lantai ruangan itu menyala membentuk pola lingkaran dan muncul tanda benda benda langit lainnya.

Dan keduanyapun menghilang seketika dari ruangan itu. Ruangan itu adalah akses menuju kota gaib Janasaran.

Di setiap kerajaan utama di Nasutaran memang sudah disepakati untuk membuat akses menuju kota gaib Janasaran yang hanya bisa dilakukan oleh keturunan raja dan pengguna batu bintang saja.

"Mari Baginda Raja Gajayanare, silahkan menuju ruang pertemuan," mereka disambut pegawai istana Janasaran dan langsung membimbing mereka ke ruang pertemuan para raja/ratu besar Nasutaran.

Pintu yang sangat besar berwarna merah dan tinggi terbuka, terlihat meja yang sangat besar berbentuk lingkaran di bagian belakang ada bangku-bangku yang juga melingkar dengan susunan dari bawah ke atas.

Tak disangka ternyata perwakilan dari Kerajaan Waja tiba paling pertama, Raja Gajayanare dan Resi Sundek pun duduk di tempat mereka.

Tak lama kemudian pintu besar dari sisi yang berbeda dengan warna biru juga terbuka, dengan anggun seorang ratu ditemani seorang kakek dan seorang pemuda juga muncul, mereka adalah Ratu Aduyugayi, Dato' Lamaraeng dan Labosi perwakilan dari Walesisu tiba.

Beberapa saat kemudian pintu berwarna hijau juga terbuka ternyata perwakilan dari Lamakintan yaitu Raja Dunggaku, Nenek Kaayat dan si kecil Qeva.

Hampir bersamaan pintu besar berwarna kuning juga terbuka terlihat Raja Hadranindra dan pengguna batu bintang yang masih agak muda bernama Piliang. Perwakilan dari Maresuta.

Tinggal satu pintu yang berwarna ungu perwakilan Pa'apu.

Mereka berempat harus menunggu beberapa lama.

"Apakah Raja Suebu sudah menerima pesan kita untuk datang ke sini? " tanya Gajayanare pada Sundek.

"Sudah Baginda, bahkan mereka sudah mengirim pesan kembali, " jawab Resi Sundek.

"Baiklah sambil menunggu aku ingin memperkenalkan pada kalian penerus shaman kerajaan Ikatu, ini Qeva cucuku. Batu bintangku memilih anak ini sebagai pemilik berikutnya." Nenek Kaayat berdiri sambil memperkenalkan Qeva pada yang lainnya.

" Kaayat dia masih terlalu muda untuk menjadi seorang shaman apakah akan baik-baik saja nantinya." Raja Gajayanare berpendapat.

"Oh jangan khawatir Baginda ingatannya sangat bagus semua resep, ramuan, jejampian, dan mantra mantra sudah aku percayakan padanya dan dia bisa mengingatnya dengan baik semuanya itu." Nenek Kaayat tersenyum manis dan memuji-muji cucunya itu.

"Kalau begitu aku juga akan memperkenalkan pada kalian penerus ku perkenalkan namanya Labosi," Dato Lamaraeng pun turut memperkenalkan pemuda itu. Labosi sungguh berharap kedatangan putri Tihu ditempat itu dia ingin tahu reaksinya.

"Lamaraeng kau tampak masih terlihat kuat dan sehat," Kaayat berkomentar sambil mengedipkan sebelah matanya bercanda dengan senyum manisnya.

"Aray, aray kau pun masih cantik seperti dulu, " Lamaraeng terkekeh.

Pintu besar berwarna ungu masih belum terbuka tapi tiba-tiba Gerbang Pintas Ungu lah yang seketika muncul, perwakilan dari Pa'apu sudah datang.

Raja Suebu dan Kakek Kaisiepo disusul putri Tihu, Mawinei, Jaka, Bahri, dan Andiek.

Rombongan dari Pa'apu begitu gaduh karena anak-anak itu kegirangan berkesempatan mengunjungi kota Gaib Janasaran.

Membuat pegawai istana Janasaran sedikit menegur mereka.

"Harap tenang semuanya ini pertemuan para Raja dan Ratu besar," pegawai istana Janasaran yang bertelinga lancip itu dengan tegas memberi peringatan.

Rombongan yang tadinya penuh suara tawa itu kini terdiam meskipun Andiek masih terdengar tawa girangnya.

"Kakaaak!!" Qeva berseru memanggil kakaknya tapi cepat-cepat menutup mulutnya dia takut ditegur pegawai istana Janasaran yang menurutnya terlihat sangat galak.

Mawinei bergegas menuju tempat dimana Qeva duduk, tak lupa dia memberi hormat pada Raja Dunggaku terlebih dahulu.

"Hei kak Labosi kenapa juga ada di sini?" Andiek terheran-heran. Dia pun menghampiri Labosi yang duduk di belakang Ratu Aduyugayi dan Dato' Lamaraeng.

"Diakah yang kau maksud pengguna batu bintang generasi baru itu?" tanya Ratu Aduyugayi kepada Lamaraeng.

"Benar Ratu, dialah anak itu, Andiek kau lupa siapa yang duduk dengan kakek di sini?" jawab Lamaraeng sambil menegur Andiek.

Andiek baru tersadar dan buru-buru bersujud pada ratunya,"Ampuni hamba, Ratu."

"Bangunlah Nak kau membuat kami bangga, di usia semuda itu kau sama seperti dia." Ratu Aduyugayi menunjuk ke arah Qeva yang sedang sibuk berbisik-bisik dengan kakaknya.

Jaka Satya begitu senang melihat gurunya berada di sana, diapun berjalan menuju tempat Raja dan gurunya duduk. "Hormat hamba Baginda," Jaka membungkuk memberi hormat lalu duduk dibelakang Resi Sundek.

"Wajahmu mengingatkanku pada Punggawa Prawira apakah kau putranya?" tanya Gajayanare.

"Benar Baginda hamba memang putra punggawa Prawira Satya Dirja," jawab Jaka Satya masih dalam posisi membungkuk.

"Dia adalah murid hamba Paduka," Resi Sundek menimpali.

Sementara itu putri Tihu terkaget-kaget melihat pemuda idamannya Labosi duduk disebelah Andiek, jangan-jangan dia seperti Qeva dipilih oleh batu bintang Kakek Lamaraeng, pikir putri Tihu.

Hatinya menjadi ceria ingin rasanya dia mengajak Labosi bertualang bersama, namun masalah di Pa'apu sudah terselesaikan.

Raja Suebu menjelaskan keterlambatan mereka pada pemimpin kerajaan yang lain mulai soal perburuan reptil ganas hingga bukit emas yang telah dibagi dua oleh Bahri Masiak atas permintaan putrinya.

Mereka bahkan mengadakan pesta bersama merayakan keberhasilan perburuan mereka.

Serta pesta atas adilnya kepemilikan bukit emas di wilayah mereka masing-masing.

Bahri Masiak yang menuju Raja Hadranindra, memberi hormat pada Rajanya.

"Salam hormat Baginda," katanya

Sang Raja hanya mengangguk pelan sambil tersenyum.

Bahri tidak mengenali pengguna bintang yang bersama rajanya itu, setahu dia dulu bukan dia. Namun dia tak berpikir jauh.

Lain halnya dengan Resi Sundek dia merasa aneh dengan pengguna batu bintang yang bersama Raja Hadranindra itu, Resi Sundek pun melakukan pembicaraan secara telepati kepada Kaayat agar tak didengar siapapun.

"Kaayat kau mengenal orang yang bersama Raja Hadranindra itu?"

"Tidak Sundek, sepertinya dia orang baru, tapi kalau bocah di belakangnya itu aku tahu, itu pasti keluarga Mangkuto Masiak," jawab Nenek Kaayat.

Tok.. Tok.. Tok..!

Terdengar suara palu diketok di atas meja yang dipegang Raja Dunggaku.

"Baiklah Hadirin yang terhormat,

Selamat siang.

Pada acara yang berbahagia ini, izinkan saya memberikan kata sambutan.

Kami sangat senang dan terhormat dapat menyambut saudara-saudari semua di acara resmi ini.

Acara pada hari ini merupakan momen yang penting bagi kami, di mana kita dapat berkumpul dan berbagi pemikiran, ide, serta pengalaman yang berharga.

Dalam kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah turut serta dalam menyelenggarakan acara ini.

Tanpa kerja sama dan dukungan dari saudara-saudari semua, acara ini tidak akan dapat berjalan dengan lancar.

Mari kita manfaatkan waktu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Mari kita berdiskusi, berinteraksi, dan memperluas jaringan hubungan kita di acara ini.

Sekali lagi, kami ucapkan selamat datang dan terima kasih atas kehadiran saudara-saudari semua di acara ini. Selamat mengikuti rangkaian acara yang telah disiapkan.

Terima kasih."

Raja Dunggaku membuka pertemuan itu dengan kata sambutannya.

...Kota Gaib Janasaran...

Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!