Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya

Nenek Kaayat, lantas memandang Mawinei.

"Mawinei sudah saatnya kamu melihat dunia luar sertai dan jaga Tuan Putri Tihu." Nenek Kaayat mengingat-ingat masa mudanya dulu sambil tersenyum manis.

"Pengguna batu bintang memang dibebani tanggung jawab yang besar, dulu nenek dan empat pengguna batu bintang lainnya juga saling membantu melawan pengguna batu bintang kegelapan. Kalian harus bisa bekerja sama jangan memikirkan diri sendir." Nenek Kaayat masih memandang Mawinei dan teringat masa lalunya.

"Tapi Nek, siapa nanti yang akan menjaga Nenek dan Qeva?" tanya Mawinei pada neneknya

"Jangan khawatir, Nenek akan meminta Panglima Burung untuk mengawasi dan membantu kita, Nenek akan buatkan dia satu kamar lagi di atas kamarmu," sambil menengok Qeva yang terlihat kurang nyaman. Qeva menundukkan kepalanya, dia merasa sedih jika harus ditinggalkan kakaknya.

Nenek Kaayat mengelus kepala Qeva

"Qeva jangan bersedih kakakmu punya tugas yang harus dijalankan demi kedamaian  negeri Nasutaran." sambil mengelus kepala Qeva dia berusaha Menenangkannya.

"Tapi Nek..." Qeva tak melanjutkan ucapannya.

"Ada apa Adik kecil, apa kau mengkhawatirkan Kakakmu ini? " Mawinei menyahut.

"Apa kamu lupa Kakak pernah memberi pelajaran pada lima orang pencuri kayu hutan?" Mawinei melanjutkan ucapannya sambil melingkarkan lengannya di bahu Qeva.

"Kakak hati-hati ya, sebab lawan Kakak nantinya kan, juga pengguna batu bintang yang jahat..." ternyata sejauh itu yang dicemaskan Qeva.

"Ingat saling melengkapi dan membuat rencana yang matang dahulu jika kalian berpapasan dengan pengguna batu hitam kegelapan dan memaksa kalian membela diri. " kata Nenek Kaayat memberi petunjuk.

Kemudian Nenek Kaayat memandang Andiek dan bertanya padanya.

"Bagaimana kau bisa mendapatkan batu bintang biru beningmu itu, Nak? "

"Ceritanya panjang, Nek.. " jawab Andiek.

Tapi dia tetap melanjutkan ceritanya.

"Waktu itu di kampung kami mengadakan perayaan ritual selamatan karena panen tiram yang melimpah.

Berbagai permainan dilakukan seperti sepak raga, balap perahu thecalonca dan mencari kerang Mokua Nek.. " cerita Andiek.

Nenek Kaayat, Mawinei dan Qeva mendengarkan cerita Andiek dengan penuh perhatian. Meskipun beberapa istilah tidak mereka pahami tapi mereka tetap diam dan mendengarkan Andiek.

Tihu yang sudah mengetahui asal mula Andiek mendapat batu bintangnya ikut mendengarkan tanpa mau memotong cerita Andiek, dia berharap Labosi yang menemaninya bertualang, namun begitu dia juga kagum pada kepandaian dan keberanian Andiek.

"Nah waktu Andiek ikut lomba mencari kerang Mokua nek... " Andiek sudah mulai ke arah penting yang di nanti.

Putri Tihu mengingat kejadian di Sahengidalaut. Dia juga merinding dengan pengalaman Andiek waktu itu. Untung saja dia selamat.

"Kaki Andiek terjerat ganggang Lulota Nek..ganggang Lulota itu punya semacam cairan lekat karena itulah cara mereka mencari makan menjerat mangsanya sampai mati di serap.. "

"Oh jadi ganggang itu mirip tanaman telep ujung yang juga suka menjebak serangga?" Mawinei tak tahan untuk tidak menimpali.

"Lalu apa yang terjadi ?" tanya Qeva merinding.

"Waktu itu tak hanya satu ganggang yang melekat di kakiku ketika aku meronta ganggang lainnya ikut terlekat di tubuhku..." Andiek menahan nafas karena kejadian yang dialami seperti dongeng kakek Dato' Lamaraeng.

"Aku kesulitan melepaskan diri ganggang Lulota itu... Nafasku hampir habis di bawah laut... Sampai kesadaranku hampir hilang namun ajaib ... saat aku membuka mata ada putri Duyong yang membantuku memotong ganggang Lulota yang melilit sekujur tubuhku dengan tombaknya dan saat itu aku seperti bisa bernafas di dalam air seperti mereka..." Andiek meneruskan ceritanya.

"Putri Duyong itu ternyata memberiku kalung ini sambil tersenyum dan menganggukan kepalanya" Dia juga bisa berbicara seperti bahasa kita tapi tidak melalui mulutnya melainkan melalui pikirannya".Andiek berhenti sejenak sambil memegang kalung batu bintangnya yang dililitkan semacam serat kuat dari akar bahar.

Qeva akhirnya bertanya tak bisa menahan keingin tahunnya, "Apa itu putri Duyong?"

"Oh, iya putri Duyong itu bangsa bawah laut.. Setengah badan mereka seperti ikan dan sebagian tubuh atas mereka seperti badan kita hanya saja di jari jemari mereka punya selaput" Andiek menjelaskan dan teringat cerita Dato' Lamaraeng.

"Oh lain tempat lain pula wujudnya" Nenek Kaayat menggumam.

"Maksud Nenek ?" Putri Tihu penasaran.

"Kalau di Walesisu ada putri Duyong di Lamakintan ada bangsa Peri Bunga", jelas Nenek Kaayat.

"Peri Bunga????" Putri Tihu dan Andiek serentak bersamaan berseru menjadi tertarik cerita Nenek Kaayat.  Tapi justru Qeva yang mencoba menerangkan.

"Iya, mereka berukuran sangat kecil mungkin hanya sebesar kunang-kunang mereka juga punya sayap bening dipunggungnya, mirip sayap capung dan di malam hari tubuh mereka juga bercahaya seperti kunang-kunang... tapi..." Qeva menghentikan ucapannya dan memandang neneknya.

Nenek Kaayat tersenyum manis sambil meneruskan keterangan Qeva perihal peri bunga.

"Tapi biarpun sekecil kunang-kunang mereka itu makhluk ajaib yang bisa mengancam nyawa manusia,"sambung Nenek Kaayat.

"Eh, lanjutkan dulu kejadian waktu kau diberi kalung berbatu bintang biru bening yang kau kenakan pemberian dari putri Duyong itu... " Mawinei kembali mengingatkan Andiek untuk melanjutkan ceritanya.

"Yah seperti pengguna batu bintang lainnya putri Duyong itu memberitahu padaku lewat pikirannya bahwa kekuatan batu bintang yang aku pakai ini bisa mengendalikan air, coba lihat," lanjutnya sambil menunjuk air minum di depannya. Dia berkonsentrasi melihat air itu dan seketika air yang berada di cangkir kayu itu melayang seperti bulatan gundu.

"Wow... Hebat sekali!" Qeva terpukau dengan kekuatan istimewa Andiek.

Tak hanya itu Andiek juga mengubah bentuk air yang tadinya bulat menjadi meruncing seperti jarum dan...

Wuut!

Andiek meluncurkan air itu sangat cepat dengan pikirannya. Dan air itu menancap ke dinding kayu yang akhirnya kembali mencair.

"Seperti kak Mawinei memotong kayu dengan tebasan anginnya!" seru Qeva bersemangat.

"Dan aku juga bisa bernafas normal di dalam air selama memakai batu bintangku ini," lanjut Andiek.

"Nah Nek, tolong beritahu kami tentang bangsa peri bunga itu," cepat-cepat Tihu mengingatkan nenek Kaayat.

"Benar Nek, aku juga baru tahu ada yang namanya bangsa peri bunga," Andiek menambahkan.

"Hmmm...seperti kita manusia yang punya raja dan Kerajaan begitu juga peri bunga hanya saja pemimpin mereka adalah ratu bukan raja." Nenek Kaayat pun melanjutkan ceritanya.

"Apakah mereka berbahaya, Nek? " tanya Andiek.

Nenek Kaayat kembali tersenyum manis dan berucap "Apakah kita juga berbahaya bagi mereka?" Ucapannya itu membuat masing-masing anak merenungkannya.

Dan mereka pun memahami maksud Nenek Kaayat.

"Apakah mereka berbicara seperti bangsa Duyong, Nek?" tanya Andiek lagi.

"Oh oh oh... tidak.. mereka bisa berbicara lisan seperti kita hanya saja karena ukuran mereka yang sangat kecil itu kalau sedang berbicara mereka terdengar seperti kepakan sayap lebah sangat kurang jelas, bagi Nenek, sih." sambil mengangkat kedua alisnya.

" Jadi nenek sudah berjumpa dan bercakap-cakap dengan mereka?", giliran putri Tihu yang bertanya

" Ya tentu saja kami kan penjaga rimba Lamakintan," jawab Nenek Kaayat.

Bahkan Qeva dan Mawinei pun pernah mengunjungi kerajaan kecil mereka, " jawab Nenek Kaayat. Tihu dan Andiek memandang Mawinei dan Qeva bergantian.

" Aku ingin sekali melihat mereka bisakah kalian mengantarku ke tempat peri bunga itu? " Tihu memohon Mawinei dan Qeva.

Episodes
1 Batu Bintang & Perantau
2 Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3 Resi Sundek & Jaka Satya
4 Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5 Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6 Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7 Penjaga Rimba
8 Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9 Keramahan Suku Kaday
10 Berlabuh Di Pulau Waja
11 Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12 Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13 Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14 Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15 Cinta Pandangan Pertama
16 Selamat Bergabung Bahri Masiak
17 Seniman Bertopeng
18 Pertarungan Singkat
19 Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20 Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21 Menangkap Penyusup
22 Perjalanan Hidup Tiku Ra
23 Insiden Kecil Di Pemandian
24 Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25 Rencana Menuju Rembuba
26 Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27 Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28 Nasib Akhir Ular Raksasa
29 Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30 Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31 Menyelusuri Gua Para Gumblin
32 Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33 Tentang Zeve
34 Kekacauan Dalam Gua Besar
35 Penerus Kaisiepo
36 Selamat Malam Nasutaran
37 Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38 Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39 Penerus Resi Sundek
40 Penginapan Teratai Merah
41 Berpisah Sementara
42 Suminem & Sri Setyoningrum
43 Yu Cikrak dan Persiapannya
44 Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45 Logam Melawan Jumlah
46 Bocah Pengendali Serangga
47 Pengamatan
48 Singgah di Penginapan Teratai Merah
49 Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50 Minuman Jahe Gula Merah
51 Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52 Chen Chien Lung Vs Zivu
53 Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54 Zivu Yang Malang
55 Suromenggolo Gandrung
56 Dompu & Keluhannya
57 Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58 Buaya Raksasa Muara Tobari
59 Kunjungan Kaisiepo
60 Buaya Muara Tobari Tamat
61 Simbol Mantra
62 Benda Terbang Asing (BETA)
63 Pelajaran Untuk Yakomina
64 Firasat Nenek Kaayat
65 Percakapan Zavo & Mitranya
66 Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67 Percakapan Nerkhuzogh
68 Miko & Miki
69 Rencana Jaka Satya
70 Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71 Gumblin Di Hutan Citora?
72 Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73 Rencana Dompu
74 Yu Ginah Menyadap
75 Belajar Memanah Matoa
76 Rahasia Sang Pencipta Semesta
77 Takdir
78 Godaan
79 Belajar Senjata Bumerang
80 Pencuri Hutan Yang Misterius
81 Sampai Di Nubiri
82 Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83 Misi Penyelamatan Nubiri
84 Sura, Tejo Dan Kirman
85 Sundang VS Kalaripayattu
86 Genjoru, Sogutse & Kizuka
87 Kerinduan Suromenggolo
88 Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89 Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90 Dilema Sri Setyoningrum
91 Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92 Terengah-engah
93 Sri Setyoningrum Berdenyut
94 3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95 Meringkus Ni Sesari
96 Dilema Suromenggolo
97 Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98 Zeve & Zavo (1)
99 Informasi Panglima Burung
100 Telepati Nenek Kaayat
101 Dompu Beraksi
102 Sura Berpindah Jaman
103 Zeve & Zavo (2)
104 Musyawarah Mufakat
105 Belajar Kapal Cakram
106 Identitas Batu Bintang
107 Sukarelawan Ras Nubiri
108 Sri Setyoningrum Bertarung
109 Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110 Protokol Kapal Induk Nasutaran
111 "Mohon Perhatiannya!"
112 Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113 Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114 Nerkhuzogh Tujuh Warna
115 Zeve & Zavo Pulang Kampung
116 Kampung Halaman
117 Dompu Meloloskan Diri
118 Kisah Pilu Suromenggolo
119 Kapal Induk Musuh Menyerang
120 Invasion Of Liz-ert
121 Gorgonzola
122 Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123 Gorgonzola Memburu
124 Panglima Burung...
125 Panglima Burung...
126 Keluarga "Z"
127 Kota Gaib Negeri Siggrin
128 Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129 Berjuang Bersama
130 Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131 Flashback;Meeting Room Deck-02
132 Panglima Kumbang
133 Pertarungan Bahri Masiak
134 Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135 Kejutan Gorgonzola
136 Benua Kangguru
137 Yu Ginah Tewas (1 )
138 Yu Ginah Tewas (2)
139 Gorgonzola Lolos Lagi
140 Kemenangan Sementara
141 Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142 Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143 Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144 Kunjungan Predotar Neptonu
145 Point Of View Dompu
146 Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147 Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148 Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149 Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150 Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151 Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152 Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya
Episodes

Updated 152 Episodes

1
Batu Bintang & Perantau
2
Tentang Nasutaran & Awal Petualangan Putri Tihu
3
Resi Sundek & Jaka Satya
4
Anak Laut & Legenda Putri Duyong
5
Batu Bintang Ungu & Kenangan Manis
6
Generasi Lama Pengguna Batu Bintang
7
Penjaga Rimba
8
Nenek Kaayat, Mawinei Aray & Qeva Aray
9
Keramahan Suku Kaday
10
Berlabuh Di Pulau Waja
11
Andiek Wakkawaru & Batu Bintangnya
12
Rencana Jahat & Batu Bintang Jaka Satya
13
Batu Bintang Jingga & Panggilan Raja
14
Kaisiepo, Kuari, & Reptil Ganas
15
Cinta Pandangan Pertama
16
Selamat Bergabung Bahri Masiak
17
Seniman Bertopeng
18
Pertarungan Singkat
19
Menumpas Reptil Ganas;Awal Perdamaian
20
Pertemuan Di Kota Gaib Janasaran
21
Menangkap Penyusup
22
Perjalanan Hidup Tiku Ra
23
Insiden Kecil Di Pemandian
24
Harimau Segan & Burung Yang Sakit
25
Rencana Menuju Rembuba
26
Yu Ginah Dikejar Ular Raksasa
27
Yu Ginah Kembali Dikejar Ular Raksasa
28
Nasib Akhir Ular Raksasa
29
Rencana Di Balik Layar & Naik Gajah
30
Raguda, Gumblin & Yu Ginah
31
Menyelusuri Gua Para Gumblin
32
Kakak Adik, Bersua Untuk Berlaga
33
Tentang Zeve
34
Kekacauan Dalam Gua Besar
35
Penerus Kaisiepo
36
Selamat Malam Nasutaran
37
Rencana Baru Nilam Sekar Sari
38
Yakomina, Jeko, Joki & Kuari
39
Penerus Resi Sundek
40
Penginapan Teratai Merah
41
Berpisah Sementara
42
Suminem & Sri Setyoningrum
43
Yu Cikrak dan Persiapannya
44
Deden Sobarna Vs Wong Fei Gong
45
Logam Melawan Jumlah
46
Bocah Pengendali Serangga
47
Pengamatan
48
Singgah di Penginapan Teratai Merah
49
Batu Tujuh Warna & Pemandian Air Panas Teratai Merah
50
Minuman Jahe Gula Merah
51
Suromenggolo & Sri Setyoningrum
52
Chen Chien Lung Vs Zivu
53
Intermezzo Pengenalan Karakter (1)
54
Zivu Yang Malang
55
Suromenggolo Gandrung
56
Dompu & Keluhannya
57
Perjanjian Kaayat dengan Ratu Lily
58
Buaya Raksasa Muara Tobari
59
Kunjungan Kaisiepo
60
Buaya Muara Tobari Tamat
61
Simbol Mantra
62
Benda Terbang Asing (BETA)
63
Pelajaran Untuk Yakomina
64
Firasat Nenek Kaayat
65
Percakapan Zavo & Mitranya
66
Mengunjungi Rumah Jaka Satya
67
Percakapan Nerkhuzogh
68
Miko & Miki
69
Rencana Jaka Satya
70
Hikmat Yang Bertambah-Tambah
71
Gumblin Di Hutan Citora?
72
Ketemu Kau, Tisna Biyantara
73
Rencana Dompu
74
Yu Ginah Menyadap
75
Belajar Memanah Matoa
76
Rahasia Sang Pencipta Semesta
77
Takdir
78
Godaan
79
Belajar Senjata Bumerang
80
Pencuri Hutan Yang Misterius
81
Sampai Di Nubiri
82
Pencuri Dari Negeri Matahari Terbit
83
Misi Penyelamatan Nubiri
84
Sura, Tejo Dan Kirman
85
Sundang VS Kalaripayattu
86
Genjoru, Sogutse & Kizuka
87
Kerinduan Suromenggolo
88
Nubiri Selamat ; Niat Genjoru
89
Rencana Genjoru & Kesibukan Andiek serta Labosi
90
Dilema Sri Setyoningrum
91
Intermezzo Pengenalan Karakter (2)
92
Terengah-engah
93
Sri Setyoningrum Berdenyut
94
3 Kantung Emas ; Sebuah Kapal Induk
95
Meringkus Ni Sesari
96
Dilema Suromenggolo
97
Melihat Pulau Pa'apu Dari Angkasa
98
Zeve & Zavo (1)
99
Informasi Panglima Burung
100
Telepati Nenek Kaayat
101
Dompu Beraksi
102
Sura Berpindah Jaman
103
Zeve & Zavo (2)
104
Musyawarah Mufakat
105
Belajar Kapal Cakram
106
Identitas Batu Bintang
107
Sukarelawan Ras Nubiri
108
Sri Setyoningrum Bertarung
109
Pertimbangan Ratu Aduyugayi
110
Protokol Kapal Induk Nasutaran
111
"Mohon Perhatiannya!"
112
Genjoru Kibigama Mendapat Ijin
113
Yu Ginah Terlempar Ke Masa Depan
114
Nerkhuzogh Tujuh Warna
115
Zeve & Zavo Pulang Kampung
116
Kampung Halaman
117
Dompu Meloloskan Diri
118
Kisah Pilu Suromenggolo
119
Kapal Induk Musuh Menyerang
120
Invasion Of Liz-ert
121
Gorgonzola
122
Kebakaran Kecil Di Tengah Hutan
123
Gorgonzola Memburu
124
Panglima Burung...
125
Panglima Burung...
126
Keluarga "Z"
127
Kota Gaib Negeri Siggrin
128
Gorgonzola mengincar Bahri Masiak
129
Berjuang Bersama
130
Intermezzo Pengenalan Karakter (3)
131
Flashback;Meeting Room Deck-02
132
Panglima Kumbang
133
Pertarungan Bahri Masiak
134
Shugyosa; Kibigama Genjoru!
135
Kejutan Gorgonzola
136
Benua Kangguru
137
Yu Ginah Tewas (1 )
138
Yu Ginah Tewas (2)
139
Gorgonzola Lolos Lagi
140
Kemenangan Sementara
141
Ratu Nerkhuzogh 7 Warna
142
Nerkhuzogh Memperkenalkan Diri
143
Suromenggolo & Sri Setyoningrum Mantenan
144
Kunjungan Predotar Neptonu
145
Point Of View Dompu
146
Bersiap Menuju Kota Gaib Siggrin
147
Uywa Uñjöræ Mulai Menjelajah ; Trio Z Masuk Kota Gaib Siggrin
148
Nicolas Dan Ramah Tamahnya
149
Malam Pertama Suromenggolo Dan Sri Setyoningrum
150
Nenek Kaayat & Panglima Burung Bertarung Bersama
151
Masalah Baru di Sekolah Sihir Hardword
152
Pencarian Resi Sundek di Jagat Raya

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!