Sementara itu di temaramnya hutan rimba yang dipenuhi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi.
Terlihat seorang nenek dan cucunya yang masih kecil, nenek itu memakai ikat kepala yang dihiasi bulu burung enggang yang bercorak hitam dan putih serasi dengan ornamen bajunya yang juga berwarna putih dengan dasar warna berwarna hitam begitu pula cucunya yang masih berusia sepuluh tahun.
Nenek itu memegang sebuah tongkat yang panjangnya lebih tinggi dari kepalanya dan di ujung atas tongkatnya itu terpasang batu kristal berwarna hijau lumut.
Dia berjalan bersama cucunya dan berhenti sejenak ketika dia melihat banyak bekas pepohonan besar yang ditebang.
" Nah, Cucuku Qeva, kau lihat tunggul-tunggul sisa pohon yang telah ditebang itu?" sambil tersenyum manis nenek yang bernama Kaayat itu berujar pada cucunya yang bernama Qeva.
"Ya Nek.. kenapa dengan tunggul-tunggul itu? " tanya Qeva.
"Baik, sekarang perhatikan dan ingat baik-baik yang akan nenek ajarkan padamu," ucap Nenek Kaayat.
Sambil kedua tangannya mengulurkan tongkatnya ke arah tunggul-tunggul pohon di depan mereka nenek itu berkata,
"Nenek tua sukar diantar...Sering memberi sebuah tikar...Tanam pohon di sekitar.. Lingkungan asri...hijau pun mekar".
Selesai dengan ucapannya itu batu hijau yang ada di ujung tongkatnya bersinar gemerlap dan saat itu juga terdengar suara berkeriyut pada tunggul-tunggul pohon yang mulai tumbuh tunas yang semakin membesar dan tumbuh tinggi.
Tunggul pepohonan itu semakin dan semakin bertumbuh naik menjulang tinggi hingga menjadi pohon seutuhnya baik batang, tangkai, ranting dan daun-daunnya semua berkembang seperti sedia kala.
"Nah, apa kau masih ingat yang Nenek ucapkan tadi? " tanya sang nenek.
"Mmm... Mmm... sebentar Nek aku ingat-ingat dulu", agak ragu Qeva menanggapi pertanyaan neneknya sambil menempelkan telunjuk di dahinya.
"Aku rasa aku ingat Nek.. " jawab Qeva.
Pemandangan yang dia lihat itu bukan untuk yang pertama kalinya karena sejak umur lima tahun dia selalu diajak neneknya itu ke dalam hutan untuk melakukan hal sebelumnya.
"Baiklah, mungkin sekarang saatnya kau juga mencobanya," Nenek Kaayat menyerahkan tongkat panjangnya itu pada Qeva.
"Tapi Nek..bagaimana kalau aku gagal?" jawab Qeva sambil menerima tongkat nenek Kaayat.
" Khi..khi..khi, Qeva setiap malam Nenek selalu di beri penglihatan bahwa kamulah yang akan menggantikan tugas Nenek pada akhirnya," sang nenek memberi semangat pada cucunya dengan terkikih.
"Batu bintang hijau ini memilihmu Qeva seolah mengerti Nenek akan pergi jauh dari dunia ini," tuturnya kembali sambil mengelus pipi Qeva dengan punggung tangannya.
"Tidak...!!"
"Nenek jangan pergi dari Qeva, jangan tinggalkan Qeva, Nek!" Qeva menjatuhkan tongkat yang dipegangnya dan memeluk pinggang Nenek Kaayat sambil tersedu-sedu.
Memeluknya erat-erat seolah tak ingin kehilangan nenek tersayangnya.
Nenek Kaayat kembali tersenyum namun dengan hati yang penuh haru. Dia juga sangat menyayangi cucu kecilnya itu.
Namun baginya perjalanan hidup harus terus berlanjut meskipun itu di dunia yang berbeda, itulah kenapa dia menurunkan semua ilmu dan pengetahuan yang dia punya pada Qeva.
"Qeva, jangan bersedih semua manusia pasti mengalami perjalanan baru di dunia lain.. "
"Kita ini seperti ulat yang hanya makan hingga menjadi kepompong lalu... terbang bebas sebagai kupu-kupu yang indah warnanya". lanjutnya.
Nenek Kaayat adalah seorang Shaman dari Kerajaan Ikatu, kerajaan terbesar di pulau Lamakintan. yang dipimpin Raja Dunggaku.
Sebagai pengguna batu bintang hijau dengan keistimewaan menumbuhkan berbagai tanaman dari yang terkecil sampai yang terbesar, dia diberi tugas untuk menumbuhkan kembali pepohonan yang telah ditebang.
Raja Dunggaku menyadari jikalau hutan semakin jarang pohon maka kehidupan negeri Nasutaran akan mengalami ketidak seimbangan dan bahkan bencana.
Dia juga menitahkan para penebang kayu di seluruh kerajaan kecil yang ada di Lamakintan untuk melakukan penghijauan kembali begitu mereka selesai menebang pohon.
Qeva mulai berhenti bersedih, ketika membayangkan neneknya menjadi kupu-kupu yang indah.
Sayup-sayup terdengar suara musik yang memantul-mantulkan nadanya dari kejauhan.
"Dengar, suara musik itu Qeva.. kau tahu kan jikalau nenek sudah meninggalkanmu kau masih tidak sendirian karena akan ada dia yang selalu menjagamu". sambil menyentil ujung hidung Qeva yang sudah mulai tenang.
"Tapi Nek, dia tak pernah turun dari pepohonan," kata Qeva sambil memanyunkan bibirnya.
"Khi.. Khi.. Khi.. meski begitu dia tetap mengawasi kita biar pun dari kejauhan," sambil memungut tongkatnya Nenek Kaayat kembali menyerahkan pada Qeva.
"Nah, ayo coba yang Nenek lakukan tadi" sambungnya.
Qeva memegang tongkat itu dan mengangguk.
"Nek, kalau Nenek jadi kupu-kupu yang indah jangan lupa selalu bersama Qeva ya,Nek.." Qeva membayangkan betapa senangnya ditemani kupu-kupu indah setiap waktu.
Bayangan bocah cilik itu membuat neneknya tersenyum dan memakluminya.
"Tentu saja Nenek tak akan lupa denganmu Qeva," jawab Nenek Kaayat sambil menepuk bahu Qeva dengan lembut.
"Nah, sekarang kau coba yang Nenek lakukan tadi," lanjutnya.
"Baik, Nek... "
"Nenek tua sukar diantar...Sering memberi sebuah tikar...Tanam pohon di sekitar.. Lingkungan asri...hijau pun mekar," Qeva menirukan ucapan neneknya sambil menunjuk satu tunggul yang disisakan nenek Kaayat.
Tak terjadi apa-apa, namun setelah beberapa saat batu kristal di tongkat yang dipegangnya bercahaya kemilau semburat hijau memancar, tunggul pohon itu pun berkeriyut menumbuhkan tunas baru dan semakin tumbuh besar menjulang tinggi menjadi pohon baru yang megah.
"Hebat Qeva.. Hebat... Batu bintang hijau benar-benar menginginkan bersamamu juga," Sang nenek memuji cucunya sambil menciumi pipinya tanda memberi ucapan selamat sekaligus tanda sayangnya.
"Baiklah hari ini sudah cukup, mari kita kembali ke rumah, Nenek sangat bangga padamu Qeva, Nenek sungguh sangat gembira hari ini," ucapnya sambil meraih tongkatnya dari tangan Qeva.
Qeva sendiri merasa takjub dengan yang telah dia lakukan dan dia lihat... Meski sering melihat neneknya sering melakukan hal yang sama. Tapi dia benar-benar merasa heran kenapa batu bintang itu memilihnya.
"Nek..?"
"Hmmm, ya ada apa? " jawab neneknya sambil menggandeng tangan Qeva berjalan pulang.
"Kenapa batu bintang hijau ini mau memberikan kesaktiannya pada Qeva," tanya Qeva penasaran.
"Dia tahu hati kamu yang baik Qeva selain itu Nenek juga percaya padamu."
"Yang Nenek khawatirkan ada beberapa batu bintang yang merubah penggunanya jadi jahat."
"Maksud Nenek?" tanya Qeva tak mengerti.
"Kejahatan dan kebaikan akan selalu ada di dunia ini Qeva...kejahatan akan selalu mengejar kebaikan dan berusaha menghancurkannya," jelas Nenek Kaayat.
Tiba-tiba suasana menjadi senyap, suara musik yang sedari tadi mengalun pun sudah berhenti.
Mendadak angin berderu dengan hebatnya, sekelebat bayangan terlihat berasal dari atas mendahului Nenek Kaayat dan Qeva, diikuti angin yang mereda.
"Ah, anak itu tak bisakah dia menggunakan kakinya untuk berjalan atau sepertinya dia menjumpai sesuatu yang berbahaya?" Nenek Kaayat bersungut-sungut dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments
Lan Yumi
Aku jadi pengen kesana lagi karena settingan tempatnya tergambar dengan sangat baik.
2024-07-28
2