Suara gamelan para seniman bertopeng itu semakin cepat, para penonton mulai terpaku seperti terhipnotis gamelan yang bertubi-tubi mengisi telinga mereka hingga... tatapan mata mereka tak berkedip.
Jaka mencoba mantra pengunci agar orang-orang yang mendengar suara gamelan itu tidak terpengaruh pesan tersembunyi yang diperintahkan gadis bertopeng itu.
Dia berhasil satu dua orang seperti terkesiap mereka bergegas menjauh dari kerumunan penonton lain yang masih terhipnotis.
Pria bertopeng terlihat mendekati penari bertopeng dan berbisik-bisik padanya.
"Sepertinya ada yang menganggu rencana kita", bisik pria bertopeng merah
"Tenang saja tetap mainkan musiknya hanya beberapa yang terbebas, sebagian besar masih berkerumun di sini artinya si pengganggu masih berilmu rendah." Penari bertopeng balik berbisik sambil tetap menari.
"Sebentar lagi kekacauan akan terjadi di sini jadi bersiaplah," sambung si penari bertopeng.
Tak lama kemudian seorang penonton menghantam orang di sampingnya, kejadian itu menular pada penonton lainnya hingga kerumunan itu semakin riuh dengan baku hantam yang hebat, tak luput Jaka pun menjadi sasaran tanpa alasan.
Karena memang itulah yang telah diperintahkan gadis bertopeng dengan hipnotis gamelannya.
Tapi Jaka mampu bertahan, berkelit, dan menjauhi kerumunan itu dan mata nya tetap tertuju pada para seniman bertopeng yang masih saja menari meski di sekeliling mereka orang-orang saling berkelahi karena pengaruh hipnotis para seniman bertopeng itu.
"Apa maksud semua ini?" Jaka Satya kebingungan dengan rencana mereka.
Ternyata beberapa orang yang lepas dari hipnotis musik gamelan itu langsung melapor pada punggawa Prawira, ayah Jaka.
Ayah Jaka pun segera mengerahkan para prajurit Ghayankbara untuk segera menertibkan kericuhan di pasar Gungca.
Jaka kemudian berinisiatif menggunakan keris batu bintang merahnya.
Dia arahkan keris itu pada penari bertopeng dan berseru dalam hatinya, "Serang dia!"
Kemudian keris itu pun memancarkan sinar dan muncul nyala api yang meluncur ke arah penari bertopeng itu.
Penari bertopeng menyadari hal itu namun dengan menggunakan selendangnya dia menghalau nyala api dengan sekali sentakan.
"Ah, itu dia rupanya si pengganggu kita," penari bertopeng itu menunjukkan jarinya ke arah Jaka pada teman-temannya.
Si topeng merah dan si penunggang kuda Pinglum menengok kearah Jaka yang telah melakukan serangan keduanya... Pada si topeng merah dan si penunggang kuda pinglum.
Wuuuggg !...Wuuuggg!
Masih terlalu lamban, si topeng merah menggunakan cemetinya berhasil memukul bola api Jaka dengan sangat mudah.
Sedang si penunggang kuda pinglum mencoba mengusir bola api itu dengan kuda anyaman bambu nya, malangnya api itu justru menempel dan membakar kuda pinglumnya.
"Wadaw panas.. panas..," teriak si penunggang kuda pinglum sambil membuang kuda-kudaannya itu.
Jaka kemudian mengarahkan serangannya pada gamelan yang masih dimainkan, sontak para pemain itu kalang kabut tapi anehnya...
Para pemain itu seperti menghilang menjadi kepulan asap " Pofff.. Pofff... Pofff..pofff... Pofff... Pofff," keenam pemain gamelan itu menghilang tinggal tiga orang yang harus Jaka bereskan.
"Kurang ajar!" Si topeng merah yang berbadan besar marah-marah tak jelas.
"Dia pandai juga sekarang sudah tak ada suara gamelan lagi," dia mengusir semua djin yang aku suruh memainkan gamelan itu." dan itulah kenapa dia marah-marah.
Akibatnya semua penonton yang tadi baku hantam tanpa kesadaran kini mereka ambruk, jatuh lunglai kelelahan dan pingsan.
"Heh bocah, berani sekali kau mencoba menggagalkan rencana kami." Teriak si topeng merah.
"Mungkin sebaiknya kau aku kirim ke masa dimana belum ada manusia." jawab si topeng hidung panjang.
Dan dengan sekali jentik sebuah lingkaran sinar yang terang muncul tepat di bawah tubuh Jaka, itu adalah pintu pintas waktu.
Kekuatan itu hampir mirip dengan kekuatan putri Tihu yaitu sama-sama menciptakan gerbang pintas hanya saja gerbang pintas si topeng hidung panjang ini hanya menuju waktu yang berbeda baik masa lalu ataupun masa depan.
Jaka yang waspada cepat-cepat melompat mundur menjauhi gerbang pintas waktu milik si topeng hidung panjang. Dan meluncurkan bola api ke arahnya.
"Gesit juga dia," pikir si topeng panjang sambil ikut menghindari bola api yang dilontarkan Jaka padanya.
Si topeng merah melecutkan cambuknya ke tanah tiga kali
Cetarr cetarr cetarr...!
Tiba-tiba...muncul kepulan asap yang membesar membentuk sosok raksasa bertaring dengan kulit berwarna hijau.
Jaka terkesiap melihat sosok astral berukuran setinggi bangunan pendopo.
"Hahaha... Hajar dia jangan kasih ampun," perintah si topeng merah pada makhluk raksasa hijau itu.
Raksasa berwarna hijau itu lamban bergerak setiap kali hendak memukul Jaka dengan gada nya yang besar itu, Jaka dengan mudah menghindarinya.
Serangan raksasa itu dengan mudah dibacanya. Kini dia tahu apa saja kekuatan jahat mereka.
Si penari mampu mempengaruhi pikiran seseorang, topeng hidung panjang bisa mengirim seseorang ke masa yang berbeda, dan si topeng merah adalah penguasa makhluk-makhluk astral.
"Tangkap dia Buto Ijo!" Si topeng merah kesal, raksasa hijaunya tak bisa memberi serangan telak pada Jaka.
Si topeng hidung panjang kembali menjentikkan jarinya memunculkan gerbang pintas di samping Jaka, mencoba menggertaknya.
Jaka yang tak siap dengan kemunculan gerbang pintas yang bersinar keabu-abuan itu menjadi mati langkah dan akhirnya tertangkap genggaman si Raksasa Buto Ijo milik si topeng merah.
Keris batu bintang merah Jaka bereaksi hendak menolong pemiliknya. Keris itu menyala terang bahkan nyalanya menyeliputi tubuh Jaka, membuat perisai tubuh yang berbentuk nyala api.
Tapi sayang raksasa itu terlalu besar merasakan nyala api di tubuh Jaka dan malah hendak memakannya dia membuka mulutnya lebar-lebar.
"Ya makan saja bocah itu!" seru si topeng merah. Dan saat raksasa itu melemparkan Jaka ke mulutnya, tiba tiba muncul gerbang pintas cahaya berwarna ungu tepat di depan mulut raksasa itu.
Jaka pasrah dia memejamkan matanya dan menembus Gerbang Pintas dan..
Seseorang menangkap tubuhnya yang keluar dari gerbang pintas itu di sisi yang berbeda tempat.
Bahri Masiak menangkap tubuh Jaka dengan selamat.
"Hiya, kawan jangan berjuang sendirian kami siap membantumu juga," kata Bahri sambil menurunkan Jaka.
"Kami juga pengguna batu bintang," jawab Tihu sambil tersenyum.
"Kalian?"Jaka bertanya-tanya. Tapi dia mengesampingkan keingintahuan-nya dan kembali melihat tiga penjahat yang sibuk bertarung dengan Mawinei dan Andiek.
"Hati-hati dengan si hidung panjang dia bisa menjebakmu ke masa yang berbeda." Jaka mencoba memperingatkan mereka berdua dan kembali maju untuk bertarung tak memberi kesempatan si topeng hidung panjang melakukan aksi apapun.
Sambil melemparkan bola-bola apinya kembali pada si topeng merah dan topeng hidung panjang.
Andiek mengendalikan bulatan air yang cukup besar memburu si penari bertopeng, penari bertopeng menyibak-sibakkan air itu dengan selendangnya yang terlihat semakin memanjang.
Mawinei yang berada di atas udara lebih tinggi dari Buto Ijo itu, berusaha membuat pusaran angin dengan ukuran lebih besar dari raksasa itu.
Akibatnya pusaran angin itu juga membuat ketiga seniman bertopeng itu ikut melayang berputar-putar.
Si topeng hidung panjang membuka pintu pintas waktu agar mereka bertiga segera pergi dari tempat itu.
"Awas! Kalian kami akan kembali lagi..!" teriak si topeng merah. Akhirnya mereka pun meloloskan diri melalui gerbang pintu waktu bersamaan dengan itu...
POFFF..! Buto Ijo pun menghilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments