"Kita pulang sekarang?" Tanya Dava yang baru keluar dari rumah sewaan. Bayu yang mendengar suara pria tersebut mulai menganggukkan kepalanya.
Bayu dan Ilham mengembalikan kunci rumah serta mengucapkan rasa terima kasih karena pemilik rumah sudah mengizinkan mereka untuk tinggal beberapa hari ini. Meskipun ada beberapa kejadian yang membuat mereka lebih lelah daripada mengerjakan pekerjaan. Namun, Vina tetap merasa tidak nyaman karena sosok pria yang membunuh dua gadis pemilik ini terus menakutinya.
Jika dia menjadi roh dua gadis tersebut. Tentu dia juga tidak akan tenang. Apalagi mereka meninggal dunia dengan keadaan yang tragis. Siapa yang ingin meninggal dunia dengan kepala terpisah dari tubuh atau bagian tubuh yang dicincang? Siapa yang ingin mati dengan keadaan organ keluar dari tubuh? Tidak ada. Kasus ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Akan tetapi polisi juga tidak menemukan siapa pelakunya. Bahkan kasus ini ditutup begitu saja. Dalam artikel, mereka berkata bahwa "bisa saja pelakunya sudah berganti nama dan penampilan yang berbeda. Akan sulit mencarinya." Kalau mereka berhasil menemukan pelakunya, pasti yang mereka tangkap hanya seorang yang mirip dengan pelaku. Bukan pelaku yang asli. Sial.
Gadis berambut pendek itu duduk di dalam mobil sembari menunggu teman-temannya. Sejak semalam, Vina tidak bisa tidur dikarenakan cerita mengenai roh dua gadis tersebut. Begitu jelas penampakan tubuh mereka terpotong, darah yang mengalir dan cincangan daging manusia. Mata mereka yang di congkel dengan pisau, serta organ tubuh yang keluar dari tubuh. Vina berusaha melupakan semua kejadian tersebut.
Vina menoleh ke arah jendela mobil. Gadis tersebut bisa mendengar suara obloran dari Dava, Roni dan Yuna. Seperti biasa mereka mengobrol tentang pekerjaan yang sudah selesai. Yuna memberi pujian serta kritikan hasil video dan foto dari Roni dan Dava. Mereka tak kecewa saat mendengar kritikan cukup pedas yang menusuk hati. Tanpa Yuna, mereka tidak bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa adanya kritikan dan saran. Meski terkadang kritikan Yuna cukup pedas. Dava terkadang lebih suka mendapatkan kritikan dari Vina karena menenangkan dan mudah dipahami.
"Vina." Panggil Roni yang baru saja masuk ke dalam mobil. Pria tersebut tersenyum dan mulai duduk di belakang gadis yang memakai jaket berwarna hitam polos.
"Iya?" Dengan segera Vina menoleh ke arah belakang, dia berusaha untuk melupakan apapun mengenai mimpinya.
"Kita akan berangkat sekarang. Kamu gak apa-apa?" Tanyanya saat melihat wajah Vina yang seperti kurang tidur.
"Iya..."
Roni memberikan bantal leher miliknya kepada Vina. Meskipun baunya membuatnya tidak nyaman, tapi Vina sangat menghargai perbuatan baik dari Roni. Sementara Roni tiba-tiba disadarkan bisa saja Bayu akan terus menatapnya dengan tatapan tajam akibat perbuatannya ini. Roni berpikir, "apa salahnya? Lagi pula, aku hanya berbuat baik."
Dan benar saja, Bayu menyadari bantal berbentuk lingkaran tersebut di leher Vina. Sontak dia menatap Roni yang sudah gugup dan bingung harus berbuat apa. Saat melihat wajah Vina yang merasa nyaman dalam tidurnya, membuat hati Bayu tenang. Pria dengan kaos hitam itu tersenyum melihat wanita pujaan hatinya tidur dengan tenang.
Roni melirik ke arah wajah Bayu yang tersenyum membuatnya lega dalam sekejap. Pria dengan kaos biru itu mulai menghela nafas dan duduk dengan santai. Begitu mereka akan berangkat, ada suara dari dalam masjid yang tidak jauh dari tempat mereka. Suara mengenai pengumuman dari kematian seseorang. Dengan nama yang pernah mereka ketahui. Dimana nama itu berasal dari seseorang yang ditunjuk Vina sebagai pembunuh dua roh gadis pemilik rumah sewa.
"Dimas? Itu cowok yang dateng kemarin, kan?" Tanya Dava.
Bayu hanya mengangguk menanggapi pertanyaan dari Dava. Pria itu dituduh Vina melakukan pembunuhan terhadap dua gadis pemilik rumah yang mereka tinggali. Tentu saja tanpa bukti, mereka tidak bisa melakukan apapun. Apalagi Vina bersikeras ingin membawa Dimas untuk meminta keadilan atas Abila dan Dewi. Melihat gadis itu masih tertidur, ada perasaan khawatir mengenai kondisi Vina yang sering melihat makhluk halus. Bahkan gadis itu bisa menyentuh mereka dan melihat masa lalu dadi roh.
"Kita ke rumah Dimas. Sekarang." Kata Bayu.
"Ziarah? Bawa bunga juga gak?" Tanya Dava yang menyahut dari belakang.
"Kita cuman akan melihat kondisi pria itu." Jawab Bayu.
"Bay, serius?" Kini giliran Roni yang kurang yakin dengan ucapan Bayu.
Pria itu hanya mengangguk. Wajah tampan dengan kulit kuning langsat tampak serius dalam ingin melihat keadaan Dimas di kediamannya. Ilham mulai menjalankan mobil menuju rumah pria yang dikabarkan meninggal dunia. Begitu sampai di sebuah rumah dengan cat warna merah, bendera kuning tergantung di pilar bangunan. Tak banyak orang yang memasuki rumah. Tampak di depan rumah itu, ada sebuah mobil polisi yang berhenti.
Para anggota tim traveler mulai turun dari mobil. Kecuali Yuna yang menemani Vina di dalam mobil. Vina masih nyenyak bersender di bahu Yuna. Jujur saja itu membuat Bayu cemburu. Tapi dia lekas menyadari bahwa tidak mungkin dia bisa mendapatkan momen tersebut.
"Assalamu'alaikum... " Ucap Ilham yang seketika dijawab oleh orang-orang di dalam rumah tersebut.
Tiga anggota polisi keluar dari sebuah kamar dengan membawa buntalan kain dengan bercak darah di sekitarnya. Bayu segera menghampiri tiga polisi tersebut.
"Maaf, kami harus segera mengurus jenazah ini." Ucap salah satu polisi.
"Maaf... Bisa saya lihat kondisi beliau?"
"Tapi kami tidak bisa melakukannya." Jawab salah satu seorang polisi.
"Kenapa tidak bisa? Bukankah kalian bisa menerima sogokan dari pelaku? Kenapa kami tidak bisa melihat kondisi dari beliau?" Kata Dava yang sontak mendapatkan cubitan di pinggangnya dari Roni.
"Ngawur." Kata Roni.
"Maaf, Pak." Kata Ilham atas perbuatan temannya ini.
Ketiga polisi itu menoleh dan menatap satu sama lain. Akhirnya mereka setuju menunjukkan kondisi kematian dari Dimas. Apa yang ditunjukkan oleh ketiga polisi itu membuat mata Bayu terbuka lebar. Dava hampir dibuat muntah jika tidak segera Roni bawa keluar dari rumah itu.
"Weh bahan baru nih buat cerpen horor." Kata Ilham.
Tak ada bekasan tusukan pada tubuh Dimas. Lehernya putus membuat kepala terpisah dari tubuhnya. Potongannya halus. Seolah seperti tebasan dengan pedang. Sementara kaki dan tangannya yang terpisah, ada bekasan rantai yang pada kaki dan tangannya. Seolah mereka dililit oleh rantai dan ditarik dengan paksa hingga putus.
Bayu merasa bisa saja ini bukan perbuatan manusia. Manusia tak mungkin bisa menarik rantai untuk bisa memutuskan kaki dan tangan. Salah satu polisi mengatakan tak ada bukti apapun di rumah ini. Seperti yang biasa mereka janjikan, tapi entah apakah segera ditutup jika tak ada hasil apapun. Mereka berkata akan segera menemukan pelaku dair pembunuh Dimas.
Jika Vina bangun dari tidurnya, Vina pasti akan menganggap ini adalah perbuatan Abila dan Dewi. Firasat Bayu sendiri mengatakan bahwa ini semua adalah perasaan dendam dua roh gadis tersebut. Bayu, Ilham dan Roni mulai membantu mengurus jenazah. Dava tak bisa diajak kembali karena dia hampir saja pingsan. Sementara Yuna dan Vina, Bayu tak tega membuat dua gadis itu membantu mereka.
Pemakaman selesai lebih cepat, mereka mulai melanjutkan perjalanan. Ada perasaan lega dan bertanya-tanya pada diri Bayu. Dirinya bingung haruskah dia memberitahu Vina mengenai ini semua? Atau tidak? Jika tidak diberitahu, Vina pasti akan merasa tidak tenang. Dia kembali melirik gadis itu dari kaca mobil, wajah manis gadis yang tertidur itu membuat jantungnya berdebar-debar dengan hebat.
"Apa kita harus beritahu Vina? Jika tidak, takutku dia akan merasa tidak tenang." Tanya Bayu kepada wakil ketuanya.
"Kupikir iya. Emang ada apa?"
"Ceritanya... Cukup panjang." Jawab Bayu. Ilham terdiam dan mulai fokus menyetir mobil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments