RUMAH?!

"Kita beneran di sini." Kata Roni.

"Semoga tidak terjadi apa-apa." Kata Vina yang disambut oleh anggukan dari Roni.

Mereka sama-sama memiliki perasaan aneh pada rumah ini. Tapi, mereka berusaha untuk berpikir positif tentang rumah tersebut. Apalagi mereka hanya akan menginap beberapa hari di rumah itu. Mereka berdoa semoga tidak ada kejadian aneh. Seperti pada di desa Garuda beberapa hari yang lalu. Mereka tak ingin hal itu muncul kembali di rumah dan desa ini.

"Ayo masuk!" Kata Yuna kepada kedua temannya yang masih berdiri diambang pintu.

"Iya." Kata Vina yang segera berlari masuk ke dalam rumah diikuti oleh Roni.

Rumah itu sekitar berumur puluhan tahun dengan cat putih gading pada setiap dindingnya. Gentengnya berwarna coklat tua dengan lumut yang tertempel setiap sisinya. Saat mereka masuk ke dalam, tak ada yang istimewa dari tempat ini. Barang-barang berbuat dari kayu jati yang memiliki usia lama. Bahkan usia barang-barang dirumah ini terlihat baik-baik saja. Seakan sudah dirawat dengan baik.

Tak ada goresan atau kikisan gigitan dari tikus. Seakan mereka sangat dijaga dengan baik-baik saja oleh penunggu dari rumah ini yang merupakan saudara almarhum pemiliknya. Ilham dan Bayu yang memegangi kunci mulai membuka setiap pintu rumah ini. Sementara Yuna sudah menghilang menuju kamarnya yang dekat dengan dapur. Malam ini dia sudah berencana untuk tertidur bersama Vina. Namun, gadis berambut sebahu itu menuju dapur untuk menyalakan lampu.

Sementara para pria mulai memasang tikar di ruang tengah. Mereka berencana untuk tidur bersama di ruang tamu malam ini. Karena, jika kamar hanya ada dua di rumah ini. Satu kamar untuk para gadis dan satu kamar lagi digunakan untuk menaruh barang-barang mereka. Vina yang berada di dapur, tengah memperhatikan apa yang ada di dapur. Kompor yang sudah tidak dinyalakan, serta lemari es yang mulai bisa dinyalakan.

Malam ini, mereka harus membeli jika untuk makan. Untung saja dekat dengan rumah ini ada warung seblak dan rujak. Cukup jauh lagi adalah warung mie ayam, dan kata warga setiap sore ada penjual bakso yang biasanya lewat. Meskipun begitu, mereka harus bisa menghemat uang selama tiga hari di sini.

"Kenapa, Vin?" Tanya Bayu yang tiba-tiba muncul di dapur. Gadis berambut pendek itu sontak menoleh ke arah pria yang masuk ke dapur.

"Kompornya gak bisa dinyalakan. Kita gak bisa masak selama di sini." Jawab gadis itu.

"Kita beli aja, Vin."

"Kalau masak kan kita bisa hemat, Bay."

Bayu mengangguk, "tapi kalau gak ada kompor kamu mau masak pakai apa?"

Gadis berambut sebahu tersebut terdiam. Ia juga menyetujui ucapan Bayu. Dia mengangguk sebagai tanda setuju dengan ucapan ketua tim Traveler. Belum istirahat, mereka berenam mulai membersihkan rumah tersebut. Vina dan Yuna membersihkan area depan. Sementara para pria mulai membersihkan area dalam rumah.

Malam harinya, mereka makan malam bersama di ruang tengah. Bayu membeli beberapa bungkus sate dan nasi goreng. Ilham membeli beberapa bungkus cilok dan botol air mineral untuk anggota tim traveler. Mereka makan sembari mengobrol tentang rencana esok hari. Mereka merencanakan untuk sesuatu tempat yang tak jauh dari desa ini.

"Ke sana? Pagi?" Tanya Dava yang paling merasa males bangun pagi.

"Karena kita mandinya giliran, harus bangun pagi." Jawab Bayu sembari mengambil satu tusuk sate.

Dava mengangguk mendengar jawaban dari sang ketua tim Traveler. Meskipun ia merasa malas untuk bangun pagi, dia harus melaksanakan aturan bangun pagi agar bisa bergantian mandi. Yuna yang mandi paling lama diminta mandi terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Kamar mandi di rumah ini hanya satu saja. Jadi, mereka harus bergantian untuk bisa mandi sebelum bersiap berangkat ke lokasi yang sudah di jadwalkan.

"Ngomong-ngomong, kamu gak bilang ke pemilik rumah ini kalau kita orang traveler?" Tanya Dava sebelum meminum air mineralnya.

"Gak, kenapa?" Jawab Bayu sedang santai.

"Takut fitnah apa-apa terus di grebek. Kita kan anak baik-baik. Ya kan?"

"Tenang aja. Vina dan Bayu udah pura-pura jadi orang tua kita." Jawab Ilham yang seketika membuat Bayu terbatuk-batuk.

"Aku? Sejak kapan?" Tanya pria dengan kaos hitam dan sarung putih.

"Aku yang bilang kok. Seenggaknya wajah kita empat kayak anak SMP." Ucap Ilham.

"Wajah Vina gak tua loh, Ham!" Kata Bayu yang berpikir mustahil orang-orang akan mengira Vina adalah Ibu dengan 4 anak.

Ilham seketika menoleh ke arah Vina dan memperhatikan wajah gadis berambut sebahu tersebut. Meskipun usianya sudah 25 tahun, tapi wajahnya masih seperti anak SMP yang sangat imut. Yang ditatap hanya fokus menghabiskan nasi gorengnya dan tidak peduli dengan sekitarnya.

"Bener juga. Tapi, pada percaya nih. Gimana dong?" Tanya Ilham yang sengaja ingin menggoda Bayu.

Ketua tim traveler hanya bisa menghela nafasnya. Disisi lain perasaannya mengatakan ia suka dijodohin dengan Vina. Liriknya gadis berambut sebahu tersebut yang juga menoleh ke arahnya. Seketika wajah Bayu memerah dan pura-pura untuk menghabiskan nasi gorengnya dengan beberapa cilok. Ilham dan Roni yang mengetahuinya, mulai tersenyum. Mereka seakan mengetahui apa yang terjadi pada Bayu.

"Apa?" Tanya Vina yang menyadari Roni dan Ilham sedang tersenyum sendiri.

"Gak kok." Jawab Roni. Sementara Ilham menyetujui ucapan Roni.

"Ngomongin apa sih?" Tanya Vina yang masih penasaran.

"Ngomongin soal-" Yuna yang ingin menjawab, mulutnya ditutup oleh Dava.

"Apa sih?"

"Gak ada. Ngomong soal besok. Iya soal besok." Jawab Dava sembari melepas tangannya dari mulut Yuna. Sementara gadis itu ingin menampar wajah Dava.

"Bau sambel tau." Ucap gadis berambut panjang tersebut.

"Maaf." Jawab Dava.

Jam mulai menunjukkan pukul 10 malam. Yuna dan Vina kembali ke kamar mereka. Sementara para pria mulai merebahkan diri di tikar rumah tamu. Saat tengah malam, Roni terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya yang mulas. Pria muda itu mulai berjalan menuju kamar mandi yang dekat dengan dapur. Saat dia keluar dari kamar mandi, dia merasa ada sesuatu yang aneh di dapur itu. Ia memperhatikan sekitar dapur. Tak ada yang aneh. Hanya bayangan dari gudang yang berada di kamar dapur.

"Apa sih?" Ucapnya sembari memperhatikan bayangan di gudang itu.

Ia merencanakan untuk menoleh ke gudang itu, namun saat masuk ke gudang tak ada apapun disana. Hanya barang-barang rumah ini yang ada di sana. Roni hanya bisa menghela nafas sembari kembali ke ruang tamu. Ia mulai merasa lelah setelah seharian berada di jalanan. Apalagi besok ia juga harus ke tempat yang sudah direncanakan oleh Bayu dan Ilham.

"Darimana?" Tanya Ilham yang belum tidur karena masih mengerjakan pekerjaan di laptopnya.

"WC. Nih video kemarin? Widiiih keren." Kata Roni sembari duduk di sebelah Ilham.

"Sekeren editanmu gak sih?"

"Yoi! Eh?"

Ilham menoleh ke arah Roni. Temannya itu tampak menatap ke arah jendela yang sepenuhnya tidak ditutup dengan gorden.

"Kenapa?" Tanya Ilham.

"Eh? Itu, ada orang di sana. Cewek lagi." Kata Roni.

Mendengar itu, Ilham langsung menoleh ke arah jendela. Ia tidak melihat apapun di sana. Sementara Roni tampak sangat penasaran dengan sosok yang ia katakan. Ia pun berdiri dan mulai membuka pintu depan. Tapi, saat ia membuka pintu rumah, tak ada apapun di depan rumah. Bahkan sosok perempuan yang ia katakan juga tidak ada disana.

"Udah tutup lagi pintunya." Kata Ilham yang segera dilaksanakan oleh Roni.

"Mending tidur, Ron. Besok kita harus bangun pagi." Kata Ilham.

Roni mengangguk. Setelah ia mengunci pintu rumah, pria itu langsung merebahkan diri sebelah Bayu. Sementara Ilham mulai mematikan laptopnya sebelum tidur di sebelah Dava. Perasaan Roni mulai tidak enak. Ia merasa ada seseorang yang memperhatikan mereka saat ini. Namun, seperti yang ia lihat, tidak siapapun dirumah ini selain mereka.

Meskipun Ilham tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Roni. Tapi, ia bisa mengetahui yang dikatakan oleh Roni. Sosok seorang perempuan yang dikatakan Roni ada kemungkinan adalah roh dari perempuan memiliki rumah ini. Perempuan yang dihantui oleh penunggu pohon beringin serta dibunuh seorang begal. Namun, Ilham tidak ingin berpikir buruk tentang ucapan Roni. Ia memejamkan matanya agar besok bisa bangun pagi seperti yang diperintahkan oleh Bayu.

Sementara Roni, meskipun ia memejamkan matanya. Ia merasa ada sesuatu yang sedang memperhatikan dia dari jendela. Saat ia membuka mata dan menoleh ke jendela. Tak ada apapun di sana.

"Perasaanku aja kali ya?" Ucapnya sembari memejamkan matanya untuk segera tidur.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!