DESA GARUDA

Desa Garuda dikenal dengan penduduknya yang ramah. Berlokasi di daerah Jombang, Jawa Timur. Seorang gadis berambut sebahu tengah melihat ke arah jendela mobil. Orang-orang disana terlihat sedang melakukan aktivitas pekerjaan harian mereka. Mencangkul ladang, berjualan sayur mayur, ikan dan bahan masak lainnya. 90% orang yang tinggal di tempat ini adalah petani dan nelayan.

Meskipun luas wilayah mereka hanya cukup untuk 50 keluarga, mereka hidup dengan damai. Anak-anak berlarian ke sana kemari, bermain bersama, serta belajar bersama di sebuah gubuk pinggir jalan dekat dengan toko. Mata gadis berambut sebahu itu dibuat takjub dengan desa tersebut.

"Kita bakal ke penginapan, kan?" Tanya Roni yang baru saja terbangun dari tidurnya. Ia mengusap-usap matanya dengan perlahan sebelum melihat ke arah jendela mobil.

"Iya, bentar lagi sampai kok. Kita akan istirahat di sana. Besok kita akan berkeliling desa ini sekaligus ke pantai." Jawab Ilham yang masih fokus dengan ponselnya.

Mobil berwarna hitam tersebut berhenti di sebuah rumah bertingkat dua. Atapnya terbuat dari tanah liat berwarna kecoklatan. Dindingnya terbuat dari kayu jati pilihan yang membuatnya tetap bertahan hingga puluhan tahun. Halaman depan rumah tersebut memiliki taman yang sangat indah dipenuhi dengan bunga-bunga mawar biru. Pohon apel berjejeran di sudut pagar. Terlihat sangat hijau dan asri.

Bayu mulai mengendarai mobilnya memasuki area parkir rumah penginapan. Begitu mereka berhenti, satu persatu anggota tim mulai keluar dari mobil dengan tas ransel dipunggung mereka.

"Sini aku bantu bawa." Ucap Bayu saat melihat tas Vina yang sepertinya sangat berat. Pria tersebut berusaha membawa tas milik Vina. Seperti yang ia duga, tas ransel milik Vina sangat berat. Gadis berambut sebahu itu menoleh dan menggelengkan kepalanya.

"Aku bisa kok." Jawab gadis itu sembari membawa tas dipunggungnya.

Melihat hal tersebut membuat Bayu membelalakkan kedua matanya. Seolah ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Vina dengan tubuh kecilnya membawa tas ransel berat tersebut tanpa beban sama sekali. Dia berpikir apa yang sudah dimakan oleh Vina hingga badannya tidak membesar? Sejak dulu, gadis itu selalu makan banyak. Bahkan bisa dibilang porsi kuli. Tapi, tubuh gadis itu juga tidak melebar bahkan hingga usianya yang 23 tahun.

"Dia strong woman tanpa seorang pangeran." Cetus Ilham yang berada di belakang Bayu.

"Kedepannya dia bakal butuh aku, kan? Iya, kan?" Tanya Bayu yang mulai panik. Ia tak ingin gadis yang disukainya seperti tidak membutuhkan seorang pria dalam hidupnya.

"Who knows." Jawab Ilham sembari mengangkat kedua bahunya. Bayi mulai manyun.

"Mending kita temui Pak Seno deh. Dia pemilik penginapan ini. Sebelumnya aku udah chat orangnya dan beliau bilang akan menunggu kita di depan rumah." Lanjut si wakil ketua tim.

Sang ketua tim hanya bisa mengangguk dan mengikuti saran dari wakilnya. Ia mengikuti ke empat temannya yang sudah berjalan lebih dulu menuju rumah penginapan. Roni masih berusaha mengumpulkan nyawanya sembari berjalan. Dava mulai merekam aktivitas mereka saat memasuki pagar rumah tersebut. Vina mengambil foto rumah penginapan tersebut melalui ponselnya. Sementara Yuna berjalan di sebelah Vina yang sibuk memotret pemandangan luar rumah penginapan.

Ilham berjalan terlebih dahulu diikuti oleh Bayu. Mereka melihat seorang pria yang sedang duduk di teras rumahnya dengan secangkir kopi. Pria yang kemungkinan berusia 60 tahun, beliau tampak sangat menikmati kopi tersebut. Di sebelah pria tua itu ada seorang wanita dengan rambut yang sudah setengah memutih. Wanita tua tersebut adalah istri dari pemilik rumah penginapan.

Beliau melihat enam orang anak muda berjalan menuju rumahnya. Orang tua itu tersenyum dan menyapa mereka setelah sudah tiba di terasnya. Ia mempersilahkan mereka duduk. Sementara sang istri masuk ke dalam rumah untuk menyiapkan hidangan kepada sang tamu.

"Terima kasih kalian sudah datang berkunjung. Sudah lama kami tidak menerima tamu." Ucap Mbah Seno, pemilik rumah penginapan.

"Kami yang harusnya berterima kasih karena Mbah Seno sudah bersedia menerima kami menginap di sini." Kata Bayu.

"Hahaha santai saja, le. Lagipula, kalian ke sini hanya untuk berkeliling Jawa. Kalian sudah darimana saja?" Tanya Mbah Seno. Istrinya keluar dari rumah dan membawa beberapa camilan serta minuman. Lalu, meletakkannya di meja. Mbah Seno mempersilahkan tamu-tamunya untuk menikmati hidangan yang disajikan.

"Kami baru datang ke sini saja, Mbah. Karena, ini rekomendasi dari atasan langsung. Makanya kami ke sini. Kami diminta mengambil beberapa pengalaman saat kami di sini. Saya harap, Mbah Seno sekeluarga tidak keberatan." Kata Ilham.

Mbah Seno terkekeh, "ora opo-opo, le. Mbah malah seneng kalau kalian mau menginap disini. Kalian disini berapa hari?"

"Sekitar 3 harian, Mbah." Jawab Bayu.

"3 hari? Cepat sekali. Ndak seminggu pisan, le?"

Bayu tersenyum, "kami maunya sih gitu, Mbah. Tapi, kita harus nurut sama atasan."

Mbah Seno mengangguk. Beberapa saat kemudian setelah mereka mengobrol. Mereka dibawa ke kamar masing-masing. Kamar pertama milik Ilham, sebelah kanannya adalah kamar Dava, sebelahnya lagi adalah kamar Vina. Semenjak didepan pintu kamar Ilham, adalah kamar Roni. Sebelah kirinya adalah kamar Bayu dan sebelah lagi adalah milik Yuna. Setelah Mbah Seno pamit, mereka berbincang sebentar sebelum masuk ke dalam kamar.

"Kita istirahat untuk hari ini. Besok pagi jam 8 kita berkumpul di ruang makan. Mengerti?" Kata Bayu.

"Iya deh." Jawab Roni sembari membuka pintu kamarnya.

"Kita keliling deket sini gak apa-apa, kan?" Tanya Yuna.

Bayu mengangguk, "boleh kok. Asal jangan jauh-jauh. Ini masih jam 3 sore. Pastiin kalau ada yang keluar dari penginapan, seenggaknya jam 5 udah balik ke sini."

"Oke, Pak Ketua!" Jawab Dava.

Bayu mengangguk dan membuka pintu kamarnya. Kamar berukuran 6 meter dengan tempat tidur di tengah ruangan. Bayu merasa ruangan ini sangat tradisional dan sederhana. Semua terbuat dari kayu dengan ukiran bunga atau semacamnya.

"Berasa dirumah nenek." Ucapnya sembari meletakkan ransel di dalam lemari.

Setelah itu, Bayu mencoba berkeliling isi kamarnya. Ada kamar mandi, ruang nyuci dan tempat untuk menjemur pakaian. Tak banyak tempat penginapan dengan ruang mencuci baju seperti ini. Bayu merasa sangat nyaman saat berada di tempat ini. Dibukanya jendela kamar dan terlihat pedesaan yang membentang luas.

Burung-burung berterbangan di sekitar pohon apel penginapan. Terlihat anak-anak yang berada di luar pagar penginapan tengah berlarian ke sana kemari. Salah satu diantara mereka membawa sebuah bola di tangannya. Bayu tersenyum saat melihat pemandangan seperti ini. Ia sudah lama tinggal di kota selama bekerja. Ini mengingatkan dirinya tentang tempat tinggal neneknya. Ia sering berkunjung di desa tempat tinggal neneknya, sehingga ia bisa merasakan pedesaan.

"Jadi kangen nenek." Ucapnya dengan pelan.

Sementara itu di kamar Vina, gadis berambut sebahu itu merasa bosan. Ia berniat untuk keluar dari kamarnya. Begitu ia keluar, Yuna juga keluar dari kamarnya.

"Eh Vina. Bosan?" Tanya Yuna. Vina mengangguk.

"Jalan-jalan mau? Aku sekalian mau ke toko sih." Kata Yuna.

"Boleh deh. Sekalian nyari jajan."

Kedua gadis itu berjalan keluar dari area penginapan. Mereka menuju sebuah toko kelontong yang tak jauh dari penginapan. Di depan toko kelontong tersebut, ada beberapa anak yang berusia 10 tahunan tengah bermain bersama. Anak-anak perempuan bermain masak-masakan. Sementara beberapa anak laki-laki bermain egrang yang terbuat dari bambu dan kayu. Mereka tampak bahagia bermain bersama.

Vina dan Yuna masuk ke dalam toko kelontong. Ada beberapa makanan ringan yang berjejeran di rak toko tersebut. Minuman dingin dan panas juga dijual di sana. Tak hanya itu, mereka menyediakan berbagai perlengkapan masak dan sekolah. Seolah toko tersebut sangatlah lengkap. Dengan begitu warga di desa itu tidak akan kesulitan ke kota hanya untuk membeli alat masak serta perlengkapan sekolah. Karena, desa tersebut letaknya cukup jauh dari perkotaan. Membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai ke kota.

"Wah es krim!" Kata Vina dengan mata berbinar.

"Mau!" Yuna ikutan mengambil es krim.

"Bawain yang lain sekalian, Vin." Ucap Yuna yang disambut anggukan penuh semangat dari Vina.

Vina mengambil dua es krim coklat, dia es krim kacang hijau, serta satu es krim rasa kacang merah. Sementara Yuna mengambil satu es krim talas. Saat Vina berniat membayarnya, Yuna mengambil beberapa barang yang ia butuhkan.

"Aku tunggu diluar ya!" Kata Vina dengan sekantong es krim.

"Oke, Vin!"

Gadis berambut sebahu itu akhirnya menuju keluar toko. Tiba-tiba ia mendengar suara sekumpulan ibu-ibu yang berada di rumah sebelahan dengan toko kelontong. Mereka tampak membicarakan sesuatu yang buruk.

"Eh masa? Anak Bu Tarni hamil? Sama siapa?! Kan dia gak pernah punya pacar."

"Iya bisa aja dong. Dia kan anak SMA. Bisa saja saat dia nyimpan sesuatu yang gak kita ketahui."

"Udah berapa bulan?"

"Kayaknya sih baru mau ke 4 bulan ini."

"Hamil gede ya? Pantesan. Si cowok Dateng ke rumah gak?"

"Gak. Kayaknya si cowok gak tanggung jawab, Bu."

"Kasihan betul."

Vina tetap berdiri di tempatnya. Meskipun ia menghadap ke depan, ia masih bisa mendengar suara ibu-ibu tersebut. Beberapa saat kemudian mereka membicarakan orang lain dengan kasus yang sama. Vina teringat dengan berita yang ada di desa ini melalui internet. Kasus pemerkosaan dan hamil diluar nikah semakin meningkat.

Beberapa dari mereka mengatakan bahwa tidak pernah melakukan hubungan intim bersama kekasihnya. Serta diantara mereka mengatakan tidak pernah memiliki pacar dan tak pernah pula melakukan hubungan haram tersebut. Begitu ditanya dengan kasus pemerkosaan, desa mereka hidup dengan aman dan damai. Tidak ada kasus pemerkosaan sekalipun di desa itu. Namun, kenapa banyak sekali kasus ini?

"Ada yang gak beres disini." Ucap Vina dengan pelan.

"Vina!!!" Panggil Yuna yang baru saja keluar dari toko kelontong dengan satu kantong belanjaan.

"Ayo balik!" Ajak Yuna yang disambut anggukan dari Vina.

Mereka berdua berjalan menuju rumah penginapan.

"Yuna." Panggil Vina.

"Ya, Vin?"

"Aku tadi denger ibu-ibu lagi ngomongin anak orang yang hamil di luar nikah. Ini ngingetin aku sama gosip yang pernah aku baca di internet."

"Gosip tentang?"

"Kasus pemerkosaan dan hamil diluar nikah." Jawab Vina.

"Setauku desa ini aman-aman aja deh. Kok ada ya kasus macam itu?"

"Nah makanya itu, kebanyakan diantara anak remaja itu gak punya pacar atau gak pernah melakukan hubungan intim tersebut." Kata Vina.

"Bisa aja mereka punya rahasia yang gak  orang lain ketahui, kan?" Tanya Yuna.

"Benar. Tapi, kata ibu-ibu tadi banyak anak cewek yang hamil diluar nikah tanpa pasangan. Entah karena cowoknya gak mau tanggung jawab atau gimana? Who knows."

Yuna mengangguk. Ada beberapa alasan tentang kenapa Yuna dan Vina mendapatkan kata hati-hati dari ketua Tim. Vina hanya mengetahui kasus di desa ini. Sementara Bayu, entah apa dia lebih mengetahui desa ini atau tidak. Sementara Ilham tak mengetahui tentang desa ini selain pemandangan yang indah untuk mereka kunjungi.

....

Malam harinya, Yuna terbaring di kamarnya. Merasa bosan, ia pun berniat ke kamar Vina. Namun, saat keluar dari kamar. Gadis berambut hitam panjang itu justru bertemu Mbah Seno, pemilik rumah penginapan tersebut. Mbah Seno memperhatikan penampilan Yuna. Celana pendek sepaha, serta baju tanpa lengan yang ketat.

"Nduk, lek nek tempat liyo seng uduk asale samean, tulong dijaga cara berpakaiannya. Ojo lali, jaga sikap." Ucap beliau dalam bahasa Jawa.

Yuna terdiam saat melihat pria tua itu pergi begitu saja. Ia tak paham apa yang dikatakan oleh Mbah Seno. Kata 'tolong dijaga cara berpakaiannya' terus memutar di kepala Yuna.

"Kenapa sih? Perasaan pakaianku biasa aja." Kata Yuna dengan pelan. Ia pun mengetuk pintu kamar Vina sebelum gadis itu mempersilahkan dirinya untuk masuk.

Gadis berambut panjang itu merebahkan diri di kasur Vina. Sementara Vina dengan menyisir rambutnya.

"Mbah Seno aneh."

"Kenapa sih?" Tanya Vina dengan lembut.

"Masa dia bilang ke aku untuk jaga cara berpakaianku. Emang aku aneh?"

Vina menoleh ke arah Yuna. Mendapati bagaimana cara berpakaian gadis itu. Ia terdiam sejenak untuk menyusun kata yang tepat agar tidak menyinggung hati temannya.

"Dia bilang apa?" Tanya Vina.

"Gak tau. Bahasa Jawa gitu loh. Yang aku tangkep cuman kata tolong dijaga cara berpakaiannya." Jawab Yuna.

Vina mengangguk. "Maaf nih, Yun. Tapi, cara berpakaian kamu terlalu ketat. Mungkin Mbah Seno gak mau kamu jadi korban kasus pemerkosaan."

"Ha? Ya ampun, Vin. Siapa sih yang mau melakukan pemerkosaan? Lagian kamar juga akan kita kunci." Jawab Yuna.

"Iya aku tau, tapi tolong dong. Kita di tempat lain loh. Di tempat asal kita, kita diminta jaga sikap, kan? Apalagi di tempat orang lain. Kita pendatang baru loh."

"Ya terus? Masa kita diminta buat nurutin aturan mereka?"

"Namanya juga rumah orang, Na. Sana balik ke kamarmu. Pakai baju yang longgar dan panjang. Ngerti?" Kata Vina yang disambut anggukan Yuna.

Gadis berambut panjang itu kembali ke kamarnya. Lalu mengunci pintu dan merebahkannya badan di atas tempat tidur.

"Males ah. Enak gini kalau tidur." Ucapnya dengan enggan.

Terpopuler

Comments

Levi Ackerman

Levi Ackerman

Terpesona

2024-07-26

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!