"VINA!!!" Bayu langsung berlari ke dalam kamar dua gadis itu. Di sana hanya ada Yuna yang terbangun dan bingung.
"Mana Vina?" Tanyanya.
"Aku bangun-bangun gak lihat dia." Jawab Yuna.
"Apa dia pergi keluar? Tapi, ini udah larut loh." Lanjutnya.
"Sial." Kata Bayu yang geram.
"Kita cari dia sekarang!" Kata Bayu yang langsung pergi mencari Vina.
Teman-temannya yang lain juga ikut mencari hilangnya gadis tersebut. Yuna pergi bersama Roni dan Dava ke arah lain. Sementara Ilham bersama Bayu, mereka berdua berlari ke arah Utara. Bayu benar-benar dalam kekhawatiran, wajah pria itu menggambarkan perasaannya dengan harapan bisa bertemu gadis tersebut segera. Ia ingin Vina bisa ditemukan dengan keadaan aman.
Ilham yang berada di belakangnya, ikutan berlari mengikuti arah Bayu. Dia juga khawatir. Namun, Bayu lebih khawatir lagi. Saat mereka berada di perempatan desa yang menjadi tanda batas pedesaan dengan ladang padi, Bayu mulai bingung harus ke arah mana. Ilham mengatakan akan pergi ke arah barat, maka Bayu mengangguk dan pergi ke arah Utara.
"Tapi, di sana gelap loh. Gimana kalau ada orang jahat? Begal misal?" Tanya Ilham yang tidak menyetujui pilihan Bayu.
"Barat dan Utara jalannya sama, Ham! Kita pencar sekarang." Jawabnya sembari berlari menjauh dari Ilham.
Pria dengan kaos berwarna kuning itu sebenarnya cukup takut jika terjadi sesuatu pada Bayu. Akan tetapi, dirinya mengerti perasaan Bayu yang khawatir pada setiap anggota tim traveler. Bukan hanya pada Vina, tetapi pada yang lain juga. Bahkan Bayu lebih sering khawatir pada kesehatan Roni dan Ilham, mereka berdua sering begadang untuk melakukan editing video.
Yuna biasanya lebih hati-hati, jadi bayi percaya pada dia. Sementara Dava, pria itu lebih ceroboh dari yang lainnya, jadi tidak hanya Bayu saja yang menahan amarahnya, melainkan anggota lain juga. Sebagai seorang ketua, Bayu berkata sudah seharusnya memastikan tim traveler bisa kembali dengan aman.
Bayu mulai menyalakan senter melalui ponselnya, cahayanya tidak begitu luas untuk bisa melihat sesuatu yang ada di depan sana. Tak ada cahaya apapun di jalanan ladang padi, suasana gelap, dingin dan menakutkan. Bulu kuduknya berdiri karena tidak bisa menahan dinginnya. Bayu hanya mengenakan sarung dan kaos lengan pendek. Ia juga tidak memakai sendal saking paniknya.
"VINA!!!!" Panggilnya yang tentu saja tidak akan mendapatkan jawaban.
Dia berlari cukup jauh dari pedesaan. Suasana tengah malam yang dingin dan menakutkan tidak membuat Bayu menyerah begitu saja. Niatnya kuat untuk mencari gadis yang dia cintai selama hampir 10 tahun. Meskipun gadis itu tidak menyadari perasaannya atau memang bukan dia yang diinginkan olehnya, Bayu masih menyimpan perasaannya hingga saat ini.
Air matanya perlahan-lahan keluar tanpa dia sadari. Rasa panik, takut dan khawatir bercampur jadi satu di lubuk hatinya. Bayu takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Vina. Berkali-kali pria itu memanggil nama Vina. Tetapi tak ada balasan apapun. Apakah Vina ada disekitar sana? Atau tidak? Itu yang dipikirkan oleh Bayu.
Cukup lama dia menyimpan perasaannya untuk gadis itu. Namun, hingga saat ini belum ada kemajuan. Meskipun mereka sangat dekat, bahkan dengan ucapan manis Bayu, Vina tetap menganggap itu candaan. Gadis itu menganggap Bayu seperti sahabat sekaligus keluarga sendiri. Ada perasaan ragu pada diri gadis itu ketika seorang pria mendekatinya. Antara penasaran atau sekedar berteman sedikit berlebihan.
Bayu bisa mengerti perasaan gadis itu, namun dia bukanlah mereka. Dirinya punya nekat yang matang dan siap untuk Vina. Sialnya, gadis itu justru menyadari hal itu dan berpikir pasti hanya candaan seperti pria lainnya.
Suasana malam yang tadinya terdengar suara katak dan jangkrik, kini hening saat Bayu hampir tiba di dekat pohon beringin. Pohon itu masih memiliki daun yang hijau segar meskipun usianya sudah ratusan tahun. Daun-daun pohon tersebut mulai ditiup oleh angin yang membuat udara semakin dingin.
"Vina? Vina!" Panggilnya ketika melihat seorang gadis yang dikenalinya berada di dekat pohon beringin tersebut.
Di depan Vina, tampak dua gadis yang menyeramkan. Satu perempuan memegangi kepalanya di tangan kiri, dia berdiri sembari memegang pisau di tangan kanannya. Sementara yang satu lagi tangan dan kakinya terpisah dari tubuhnya. Lidah yang terbelah dua hampir putus keluar dari mulutnya. Dengan segera Bayu berlari ke arah mereka.
Dua gadis itu menoleh ke arah Bayu yang berlari menuju mereka. Dua perempuan itu langsung berjalan menghadap Bayu yang hampir menyentuh Vina. Gadis yang kakinya terpotong tersebut, tiba-tiba kaki dan tangannya kembali menyatu. Mereka berdua langsung menodongkan pisau ke Bayu. Pria itu berhenti, tatapannya masih menuju Vina dengan kekhawatiran. Namun, dua perempuan itu tidak membiarkan Bayu menghampiri Vina.
"Apa mau kalian?" Tanyanya dengan suara tegas.
"Pergilah dari sini!" Ucap perempuan tanpa kepala.
"Apa yang kalian mau dari dia?"
"Itu bukan urusanmu!"
"Tentu ini urusanku! Apa mau kalian sehingga menculik wanitaku?!" Kata Bayu yang mulai geram.
"Tumbal..." Ucap perempuan yang tangan dan kakinya mulai menyatu meskipun meninggalkan bekas.
"Tumbal? Apa maksud kalian? Kenapa kalian ingin jadikan dia tumbal?" Tanya Bayu yang tidak paham pada dua perempuan ini.
"Tumbal untuk menghidupkan kami kembali." Jawab perempuan tanpa kepala.
"Apa? Kalian sudah mati, dan itu mustahil jika kalian bisa membunuh seseorang untuk hidup kembali. Yang ada kalian akan merasa menyesal karena membawa seseorang tidak bersalah pada masalah kalian."
"Kami tidak peduli!" Ucap gadis tanpa kepala. Mendengar itu, Bayu semakin geram.
"Kami tidak akan melepaskan dia!" Lanjutnya.
Dua perempuan itu sama-sama keras kepala. Meskipun itu berhasil, yang ada mereka akan merasa menyesal. Bayu tidak mengerti darimana mereka mendapatkan cara itu. Jin mana lagi yang mereka ikuti? Itulah yang dipikir oleh Bayu. Gadis tanpa kepala itu mulai melangkah maju dengan niat menusuk perut Bayu. Begitu juga dengan perempuan satunya. Pria tersebut berusaha menghindari dua perempuan itu.
Ia bisa merasakan goresan kecil di lengan kanannya. Terasa perih, dua gadis itu juga tidak menyerah untuk menyerangnya. Bayu menatap Vina yang masih berdiri di tempatnya. Bayu berkali-kali mencoba memanggil Vina. Gadis itu juga tidak segera menjawabnya. Sementara dua perempuan di belakangnya berusaha untuk menangkap dirinya.
"Vina!!!"
Seorang perempuan yang memiliki bekas di kaki dan tangannya berhasil menangkap Bayu. Dia memegangi lengannya Bayu dengan kuat dari belakang. Dengan begitu, perempuan tanpa kepala itu bisa menusuk Bayu.
"Alangkah baiknya jika kau ikut mati dengan wanitamu." Bisik perempuan yang memegangi kedua lengan Bayu.
"Lepaskan!!! Vina!!! Vin!!!"
Perempuan itu menutup mulut Bayu, perempuan tanpa kepala mulai bersiap menusuk dada Bayu. Dia menempelkan pisau itu di dada Bayu, perlahan-lahan dia menjauhkan pisau dan bersiap menusuknya.
"Bayu! Apa yang kalian lakukan?" Terdengar suara perempuan di belakang mereka.
Vina, akhirnya tersadar dari penyiksaan dua perempuan tersebut. Tidak ada yang terluka dari gadis itu selain goresan saat dia berada di kamar mandi sebelumnya. Perlahan wanita tanpa kepala itu mendekat ke arah Vina. Gadis itu bergidik ngeri melihat pisau di tangan wanita tanpa kepala.
"Namamu... Dewi, kan?" Tanya Vina dengan tenang, ia berusaha menyingkirkan rasa takutnya.
Gadis tanpa kepala itu berdiri tepat di hadapan Vina. Ia menatap gadis berambut sebahu itu dengan bingung. Bagaimana dia bisa mengerti? Itu yang ingin dia katakan.
"Dan kamu Abila." Kata Vina sembari menatap seorang perempuan yang mulai melepaskan Bayu.
"Bagaimana kau tau?" Tanya gadis tanpa kepala.
"Aku cuman nebak kok. Eh ternyata bener. Ehe." Jawabnya dengan sedikit candaan.
"Ngomong-ngomong bisa aku sentuh kalian. Hanya sebentar." Lanjutnya.
Dua perempuan itu mengangguk dan mulai mendekati Vina. Mereka berdua tidak mengerti dengan apa yang akan dia lakukan. Tapi, mereka membiarkan Vina melakukannya. Saat Vina menyentuh bahu mereka berdua, dia bisa merasakan bahwa cerita mereka bukan tentang pembunuhan dan begal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments