JERITAN SEORANG GADIS

"Vina! Bayu!" Panggil Ilham.

Begitu Ilham dan Dava tiba, mereka mengatur nafas sebelum membuka mulut. Ilham ingin menjelaskan mengenai apa yang terjadi. Namun, malah disahut dengan Dava dengan wajah yang sangat panik. Vina dan Bayu yang melihatnya segera menghampiri mereka berdua. Menunggu penjelasan dua laki-laki di hadapan mereka.

"Ada jeritan dari rumah sebelah! Jeritan cewek!" Kata Dava.

"Aku ketemu makhluk gede besar yang nembus masuk rumah itu!" Kata Ilham.

"Apa?" Vina dan Bayu segera berlari bersama dua laki-laki itu menuju rumah yang dikatakan oleh Ilham.

....

"Segarnya~" ucap seorang gadis berambut hitam panjang yang baru saja selesai mandi.

Air hangat rumah penginapan membuat dirinya merasa segar. Handuk melingkar di tubuhnya dari atas dada hingga paha. Rambut hitam panjangnya ia ikat ke atas agar tak basah saat sedang berendam. Begitu ia keluar dari kamar mandi, gadis itu berjalan menuju lemari yang berada di pojok kamar untuk mencari pakaian miliknya.

DAK!!!!

Terdengar suara jendela terbuka diterpa oleh angin. Yuna terperanjat saat jendela kamarnya menatap dinding dengan sangat keras. Angin bertiup cukup kencang. Gadis itu segera berjalan untuk menutup jendela. Namun, sekilas ia melihat bayangan seseorang dengan tubuh yang besar masuk ke dalam rumah penginapan.

"Siapa itu?" Tanya Yuna yang masih memegangi handuknya.

Bayangan tersebut menghilang dalam sekejap. Yuna menggelengkan kepalanya, ia berpikir bisa saja itu adalah seorang tamu Mbah Seno selain mereka. Yuna menutup jendela kamarnya karena udara dingin mulai menembus kulit putihnya.

"Dingin banget malam ini." Ucapnya sembari menutup jendela kamar. Dengan segera ia memakai piyamanya untuk mengurangi rasa dingin.

Kreeek.....

Kini kembali terdengar suara jendela yang terbuka perlahan. Yuna yang baru saja memakai dalamannya langsung menoleh ke arah jendela. Jendela tersebut terbuka sedikit yang membuat udara dingin kembali masuk ke dalam kamarnya. Dengan segera Yuna memakai piyamanya lalu menutup jendela.

Bulu kuduk Yuna berdiri saat ia menutup jendela. Gadis itu seperti merasa ada seseorang yang berada di belakangnya. Akan tetapi, saat ia membalikkan badannya. Tak ada siapapun di sana. Kosong. Hanya ruangan dengan cahaya bohlam berwarna putih.

...

Bayu, Vina, Dava dan Ilham berlari menuju rumah sebelah. Samar-samar terdengar suara jeritan dari dalam rumah. Saat Bayu mengetuk pintu rumah tersebut, suara jeritan tersebut menghilang. Beberapa saat kemudian, muncul seorang gadis berusia 15 tahun dengan wajah pucat.

"Kamu gak apa-apa?" Tanya Vina kepada gadis kecil itu.

Gadis itu berlari ke arah Vina dan memeluknya dengan erat. Ia menangis dalam pelukan Vina hingga membuat ke empat orang tersebut kebingungan. Ilham dan Dava mencoba masuk ke dalam rumah. Tak ada siapapun di sana. Kosong.

"Orang tuamu kemana?" Tanya gadis berambut sebahu itu.

"Orang tuaku masih di sawah, kak." Jawabnya yang masih meneteskan air matanya. Jari ibu Vina mengusap perlahan air mata gadis itu dan menenangkannya.

"Jam segini?" Tanya Bayu. Gadis itu mengangguk.

Beberapa saat kemudian, Ilham dan Dava kembali ke teras rumah. Mereka tak menemukan tanda apapun di dalam sana. Bahkan bayangan yang dilihat oleh mereka berdua, hilang begitu saja. Ada rasa penyesalan karena tidak menolong gadis itu lebih dulu dan malah berlari ke penginapan untuk meminta pertolongan. Sebenarnya, mereka juga takut. Tapi, jika korbannya adalah anak dibawah umur. Mereka akan lebih merasa bersalah.

"Takut, kak..." ucap gadis kecil itu sambil memeluk Vina dengan erat.

"Tenang ya, kami disini kok. Kita bakal disini sampai orang tua kamu kembali. Oke?" Kata Vina dengan nada lembut.

Gadis itu mengangguk. Ia masih memeluk Vina. Lengannya melingkar di pinggang Vina dengan sangat erat. Seolah tak ingin lepas darinya.

"Nama kamu siapa?" Tanya Ilham.

"Nama aku Syifa, kak."

"Kamu tadi kenapa teriak-teriak? Ada sesuatu?" Kini giliran Dava yang bertanya.

"Tadi aku lihat orang masuk ke rumah, kak. Badannya gede banget, kak. Terus badannya penuh bulu dan punya taring. Matanya merah dan serem banget, kak."

Mereka berempat terdiam saat mendengar jawaban dari Syifa. Sosok yang dimaksud oleh Syifa, adalah sosok yang selama ini Mbah Seno berusaha usir. Namun, sosok itu masih berada di sekitar sini. Bahkan anak berusia 15 tahun terkena pelecehan dari makhluk gaib itu. Betapa menjijikkannya makhluk itu.

Bahkan di kabarkan anak berusia 12 tahun juga terkena dampak pelecehan dari makhluk menjijikan tersebut. Mbah Seno berusaha untuk mengusir makhluk gaib itu, namun tak ada hasil sama sekali hingga saat ini.

"Bay." Panggil gadis berambut pendek tersebut.

"Iya, Vin?" Tanya Bayu yang langsung menoleh ke arah Vina. Tampak gadis tersebut memasang wajah khawatir. Seolah ia merasa ada firasat buruk yang akan terjadi pada mereka atau mungkin salah satunya.

"Yuna. Kita harus ke penginapan sekarang." Jawabnya.

"Eh kenapa?" Tanya Dava.

"Aku ngerasa punya firasat buruk. Kita harus kembali ke penginapan sekarang!"

"Bentar, Vin. Kamu gak jelasin ke kami ada apa." Kata Ilham yang membuat gadis itu merasa frustasi.

"Kita harus balik ke penginapan! Aku ngerasa ada sesuatu yang aneh disana. Apalagi soal Yuna. Aku takut terjadi apa-apa sama dia."

"Tapi, kita gak bisa ninggalin Syifa sendirian di sini." Kata Ilham yang membuat gadis itu malah semakin jengkel.

"Aku dan Vina akan jaga Syifa. Bayu dan Ilham bisa kembali ke penginapan untuk mengecek keadaan Yuna." Ucap Dava yang berdiri di depan pintu rumah Syifa.

"Baiklah. Jaga Vina dan Syifa. Awas aja kerjamu gak bener." Kata Bayu yang segera berlari kembali ke penginapan diikuti oleh Ilham.

"Berasa jagain istri dan anak orang." Ucap Dava sembari menggaruk-garuk kepalanya.

Diliriknya dua perempuan yang masih berpelukan itu. Tangisan Syifa mulai berkurang. Bahkan gadis kecil itu merasa kantuk di pelukan Vina. Sementara Vina membelai kepala Syifa dengan lembut. Ia pun duduk di kursi teras rumah Syifa. Gadis kecil itu duduk di dekat Vina dengan mata sayunya.

"Jangan sedih lagi ya." Kata Dava yang disahut anggukan kecil dari Syifa.

...

Dua orang pria berlari ke arah penginapan. Mereka masuk ke dalam melalui pintu depan yang sedikit terbuka. Mereka segera berlari menaiki tangga menuju deretan kamar milik Yuna. Langkah kaki mereka membuat seorang pria keluar dari kamarnya dengan terkejut sekaligus kesal.

"Woi woi woi, mau kemana?" Tanya Roni sembari melepas earphone miliknya.

"Yuna mana?" Tanya Ilham. Ia masih mengatur nafasnya untuk berusaha lebih tenang.

"Di kamarnya lah. Nih kenapa sih?"

Dua pria itu menghiraukan pertanyaan Roni dan berlari ke kamar Yuna. Ilham perlahan mengetuk pintu kamar gadis itu, tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Kini giliran Bayu mengetuknya sedikit lebih keras. Masih tak ada jawaban sama sekali.

Roni yang dibelakang mereka mulai kebingungan. Kedua temannya tampak sangat khawatir. Mereka berulang kali mengetuk kamar Yuna, namun gadis itu tak kunjung keluar.

"Nih ada apa sih?" Tanya Roni.

"Nanti kita jelasin. Nih beneran Yuna di dalam, kan?" Tanya Ilham.

"Mungkin. Lagian aku dari tadi di kamar ngedit video kita. Jadi, aku gak tau." Jawab Roni seadanya.

Ilham berdecak. Bayu menghela nafas. Perlahan Ilham membuka pintu kamar Yuna. Tidak terkunci. Ilham menghela nafas sejenak sebelum membuka pintu kamar gadis itu lebar-lebar. Yuna tak ada di sana. Kemana perginya gadis itu?

"Kita berpencar." Ucap Bayu yang disambut anggukan Ilham. Roni yang bingung akhirnya ikut mencari keberadaan gadis itu.

Terpopuler

Comments

Bé tít

Bé tít

Bagus banget deh, bikin nagih!

2024-07-29

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!