"Siap?" Tanya Bayu yang bersedia untuk menyetir mobil.
"SIAP!!" Jawab seluruh tim traveler. Mobil berjalan menjauh dari desa Garuda menuju lokasi selanjutnya.
Mobil para anggota traveler melaju di jalanan. Dava, Yuna dan Vina bernyanyi ria untuk mengusir kebosanan. Roni sibuk tidur dibarisan belakang, seolah tak merasa terganggu dengan nyanyian teman-temannya. Bayu dan Ilham sibuk memperhatikan jalan. Sesekali mereka juga ikutan bernyanyi untuk tetap terjaga. Seringkali Bayu memperhatikan gadis berambut pendek yang duduk dibelakangnya dari kaca mobil.
"Fokus, Pak Sopir. Ndak Ndak kalau calon istrimu diambil orang." Kata Ilham yang menyadari Bayu sering melirik ke arah seorang perempuan berambut pendek di belakangnya.
"Apa sih? Gak ada salahnya kali lirik cewek."
"Lirik calon istri doang apa sama cewek lain?" Tanya si Ilham.
"Ham." Melihat reaksi Bayu dengan wajah memerah. Membuat Ilham terkekeh. Ia kembali memperhatikan map digital melalui ponselnya. Sementara Bayu berusaha fokus dengan jalan raya.
Pria dengan kulit sawo matang tersebut tersenyum saat melihat ke arah gadis itu. Ia kembali memperhatikan jalan dan mengendarai mobilnya menuju lokasi yang sudah mereka tentukan. Tiga temannya tengah menyanyikan sebuah lagu berjudul Enchanted ciptaan Taylor Swift. Sesekali mereka mengganti lagu dengan Koiro dan Mosawo yang berasal dari Jepang.
"Pada galau nih." Ledek Ilham.
"Gabut." Jawab Dava dari barisan belakang.
Ilham terkekeh mendengar jawaban dari pria yang berada di barisan paling belakang. Mobil mereka melewati sebuah perkebunan jagung dan padi yang masih menghijau. Beberapa warga desa terlihat tengah menanam padi di ladang yang kosong.
"Pada tanam padi. Mau ikut!" Kata Dava yang melihat ke arah jendela.
"Iya udah sana. Tapi, kita tinggal." Kata Bayu yang masih fokus menyetir mobil.
Mendengar itu, Dava langsung terdiam di tempat duduknya. Ia memanyunkan bibirnya sehingga membuat Yuna mencubit bibir Dava yang mengerucut.
"Sakit!"
"Kayak bocah." Ledek Yuna.
"Dibanding bocah, dia mirip boti." Sahut Roni yang terbangun dari tidurnya.
"Cowok keren gini dibilang boti, mata dipakai, bang!" Kata Dava yang tak setuju dengan dua temannya itu.
"Setengah boti. Jadi takut kalau kamu gay." Vina yang tadinya diam jadi ikutan meledek.
"Jangan gitu, Vin. Kita bestie sejak masuk perusahaan."
"It's that so?"
"Ngaku-ngaku bestie, kamu gak pernah tidur sama Vina, kan? Jangan ngaku-ngaku bestienya Vina deh." Kata Yuna.
"Kan aku cowok! Kalau aku tidur sama dia yang ada..."
Ucapan Dava tak sempat dilanjutkan karena ia merasa tatapan tajam dari Bayu mengarah padanya. Ia kembali duduk diam dan menggelengkan kepalanya. Berharap Bayu tak lagi menatapnya dengan tajam. Bayu kembali memperhatikan jalanan desa yang hampir dekat dengan gapura.
Mereka melewati sebuah pohon berukuran besar. Pohon beringin yang usianya sudah ratusan tahun lamanya. Pohon beringin itu dipercaya dapat memberikan keberuntungan. Banyak orang di desa itu menghormati pohon beringin yang sudah ratusan tahun lamanya itu. Ada kisah yang sempat viral beberapa tahun lalu dengan pohon tersebut.
Dikisahkan ada dua perempuan yang pulang pada larut malam. Mereka baru saja pulang dari bekerja. Saat melewati pohon tersebut. Dua perempuan itu merasa ada sesuatu yang aneh. Sesampainya di rumah, satu orang gadis bertanya pada temannya apakah mendengar suara aneh saat melewati pohon itu? Temannya menjawab iya.
Yang temannya dengar adalah orang ramai. Ia mendengar suara beberapa orang pria seperti berpesta atau mengobrol di dekat pohon tersebut. Akan tetapi, saat itu tak ada siapapun selain dua orang gadis yang lewat. Sementara satu orang gadis yang bertanya, ia mendengar suara seseorang membisikkan sesuatu di telinganya.
"Nduk." Yang artinya Nak untuk perempuan dalam bahasa Jawa. Itu yang ia dengar dan membuatnya merinding hingga sampai di rumah. Ia pun mulai bercerita kepada temannya tersebut. Setelah kejadian saat itu, mereka berdua tidak berani untuk keluar pada malam hari. Jika mereka harus pulang larut malam setelah bekerja, mereka akan mencari jalan pintas lainnya. Dua hari setelah kejadian saat itu, dikabarkan dua perempuan itu meninggal dunia akibat terbunuh oleh begal.
Mayat mereka dibuang dekat dengan pohon beringin tersebut. Mayat dua gadis itu terbungkus dalam sebuah kantong plastik berwarna hitam. Tubuh gadis itu dicincang menjadi beberapa bagian sehingga bisa masuk ke dalam kantong plastik tersebut. Mayat dua gadis itu juga tidak dikubur. Hanya ditaruh dekat dengan akar pohon beringin.
"Baca apa, Vin?" Tanya Roni yang baru saja terbangun dari tidurnya. Perjalanan mereka menuju rumah sewaan masih cukup lama. Sekitar 15 menit mereka akan segera sampai ke tempat tujuan.
Yang ditanya menunjukkan layar ponselnya. Sebuah kejadian janggal pada tahun 2011. Dimana dua orang gadis meninggal dunia dan mayatnya dibuang dekat dengan pohon beringin yang baru saja mereka lewati. Pria tersebut membacanya dengan wajah yang serius.
"Ini berita lama." Katanya.
"Benar. Di sini tertulis roh dua gadis itu masih bergentayangan di sekitar pohon beringin tersebut."
"Arwah penasaran ya. Semoga tidak terjadi pada kita." Kata Roni yang mendapatkan anggukan dari Vina.
"Disini juga ada cerita lain." Ucap gadis berambut sebahu tersebut.
Roni memandangi gadis itu dengan penasaran. Gadis itu menunjukkan layar ponselnya kembali. Sebuah rumah besar yang dulunya dihuni oleh satu keluarga. Mereka meninggal dunia satu persatu dengan cara dibunuh. Awalnya adalah anak perempuan, kemudian kakak laki-lakinya. Setelah itu kedua orang tuanya yang meninggal secara bersamaan.
Mereka terbunuh yang tak diketahui sebabnya apa. Yang pasti, orang tua mereka meninggal dunia dengan cara yang sadis. Bola mata keluar, organ tubuhnya hilang, serta kaki dan tangannya terpotong. Sementara anak perempuannya semula dikabarkan menghilang. Tapi, ternyata dia terbunuh dan dilemparkan ke dalam sumur. Sementara anak laki-lakinya dikabarkan bunuh diri akibat kisah percintaannya yang tragis.
Rumah itu kosong untuk beberapa bulan. Kemudian, rumah itu kembali dihuni untuk beberapa keluarga saja. Tidak ada dua hari, mereka pindah. Entah apa sebabnya. Ada yang berlangsung cukup lama. Sekitar tiga bulan. Namun, mereka terbunuh oleh sesuatu yang tidak diketahui. Mereka terbunuh sama persis seperti penghuni semula yang meninggal dunia dengan cara perut terbelah dan organ dalamnya keluar.
Hal itu berulang kali kerap terjadi dirumah tersebut. Hingga akhir-akhir ini rumah itu kembali kosong. Namun tetap dibersihkan dengan harapan ada orang yang mau menyewa atau membeli rumah itu dengan harga murah.
"Niat amat nyari berita soal desa ini." Kata Roni yang dibuat kagum sekaligus heran oleh Vina.
"Penasaran doang." Jawab gadis berambut pendek tersebut.
"Kita sampai! Ayo kita keluar dan bawa barang kalian ya. Aku akan temui pemilik rumah ini." Ucap Bayu sembari menghentikan mobilnya.
Di saat Bayu keluar bersama anak lainnya, Roni dan Vina dibuat terkejut. Rumah itu. Rumah yang akan mereka huni untuk tiga hari kedepan. Rumah yang akan mereka singgahi, adalah rumah yang ada di dalam berita pada layar ponsel Vina.
"Vin, kita yakin di sini nih?" Tanya Roni yang tak percaya.
"Gak mungkin, paling sebelahnya itu." Jawab gadis berambut sebahu tersebut.
Roni mengangguk dan mereka berdua ikut keluar dari dalam mobil. Saat mereka hendak mengambil barang bawaan, Bayu kembali dengan kunci di tangannya. Ia tersenyum ke arah teman-temannya yang sibuk menurunkan koper dan tas mereka.
"Sini aku bantu." Ucap Bayu sembari mengambil tas ransel milik Vina.
"Makasih."
Gadis itu masuk ke dalam rumah sembari membawa tasnya. Bayu tersenyum. Ia kembali mengambil tas ransel miliknya dan mengikuti teman-temannya. Mereka menuju rumah yang cukup tua. Sekitar berusia 20 tahun dengan cat dinding berwarna putih gading. Tampak sangat kuno tetapi indah.
Begitu Bayu dan Ilham menuju rumah yang mereka sewa. Roni dan Vina yang berada di belakang menelan ludah. Benar saja, rumah yang akan mereka tinggali adalah rumah bekas orang terbunuh dan bunuh diri.
"Kita beneran di sini." Kata Roni.
"Semoga tidak terjadi apa-apa." Kata Vina yang disambut oleh anggukan dari Roni.
"Ayo masuk!" Kata Yuna kepada kedua temannya yang masih berdiri diambang pintu.
"Iya." Kata Vina yang segera berlari masuk ke dalam rumah diikuti oleh Roni.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments