"Jadi? Ada urusan apa anda datang kemari?" Tanya gadis itu yang seketika menyambut senyum Dimas.
Pria tersebut hanya tersenyum yang membuat Vina bingung. Apa yang dipikirkan oleh pria ini? Pikirnya. Ada perasaan aneh yang Vina rasakan. Seolah, pria didepannya ini datang kepadanya sudah pasti tentang dua bersaudara itu, Dewi dan Abila. Mengingat masa lalu mereka, membuat Vina memiliki perasaan campur aduk.
Ia kecewa kepada Dewi yang tidak bisa menjaga dirinya dari pria seperti ini. Vina juga kasihan kepada Abila yang berusaha melindungi saudarinya dari pria seperti Dimas. Namun, seperti kata pepatah bahwa cinta itu buta. Tapi, Dewi tak seharusnya memberikan kehormatannya sebelum menikah kepada pria seperti Dimas. Pria yang hanya memuaskan nafsunya hingga menghamili kekasihnya, perempuan yang belum dinikahi.
Wajah Dimas berseri-seri dengan senyum yang masih merekah. Vina tidak bisa meminta bantuan kepada Bayu untuk urusan ini. Vina mengetahui bahwa yang ingin dikatakan oleh Dimas pasti adalah penting.
"Aku penasaran... Bagaimana kamu mengetahui namaku? Apa kau sepupu dari Abila dan Dewi? Dan kenapa kamu menuduhku untuk kematian mereka?" Tanya pria kurus itu.
Vina tidak menjawab, ia memikirkan jawaban yang tepat. Jika ia mengatakan yang sebenarnya, ada kemungkinan Vina bisa menjadi korban Dimas yang selanjutnya. Sementara Dimas menunggu jawaban dari gadis berambut sebahu yang duduk didepannya ini. Sesekali ia menoleh ke arah pintu rumah. Berharap bahwa Bayu tidak mengintip atau mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ya. Aku sepupu mereka." Jawab Vina. Sudah pasti itu adalah kebohongan.
"Begitu? Kok aku baru tau? Dewi gak pernah bilang kalau dia punya sepupu secantik ini." Ucap Dimas. Vina yang mendengarnya saja sudah membuatnya muak.
"Mungkin Dewi memang gak mau cerita sama kamu."
"Apa maksudmu? Aku pacarnya, sudah pasti dia harus cerita soal kamu dong." Kata Dimas.
"Benar. Ada kemungkinan dia juga gak percaya sama kamu. Takut jika... Mulutmu seperti ember."
"Hah?" Wajah Dimas berubah menjadi gelap. Ia tak percaya bahwa gadis yang polos di hadapannya ini bisa mengatakan hal menyakitkan. Ember? Apa maksudnya?
"Ya. Ember. Pertanyaanku, apa kamu benar-benar membunuh mereka?" Tanya Vina dengan suara yang tegas.
Pertanyaan gadis itu membuat Dimas tertawa getir. Vina tidak terkejut melihat reaksi pria di hadapannya ini. Yang ia pikirkan saat ini, bagaimana membuat pria di hadapannya ini mengakui kesalahannya dan pergi ke penjara. Pria sampah ini benar-benar membuat dirinya muak.
Bagaimana bisa ada manusia sesampah ini? Bagaimana bisa dia tidak mau mengakui kesalahannya? Vina tidak terkejut karena negara ini memang seperti ini. Beberapa hari yang lalu, Vina mendapatkan berita tentang seorang remaja dihukum mati akibat melukai dua pria yang berusaha melakukan perampokan.
"Tentu saja tidak, aku tidak mungkin melakukan itu! Ngapain juga? Serem." Ucap Dimas.
"Begitu? Lalu... Bagaimana Abila dan Dewi mati? Kata orang, mereka meninggal dunia karena perampokan. Seingatku tak ada barang yang hilang. Dompet dan barang-barang mereka masih dirumah. Seolah mereka keluar rumah tanpa membawa apapun."
"Kamu pikir hanya harta bisa dirampas? Bagaimana dengan kehormatan? Itu juga bisa dirampas." Kata Dimas. Tepat. Vina sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulut Dimas.
Dimas tidak hanya merampas kehormatan Dewi. Tapi, juga merampas kehidupan Dewi dan Abila dengan cara menghabisi mereka di tengah sawah. Dimas mengambil semuanya. Sehingga roh dua gadis itu masih gentayangan di rumah sewa ini. Setelah kejadian semalam, Vina bingung bagaimana caranya agar bisa membawa Dimas menuju pohon beringin agar dua roh tersebut memberikan hukuman yang setimpal.
Namun, ucapan Bayu membuat Vina kembali sadar. Vina tak mungkin membawa seseorang yang memang bersalah ke arah kematian. Dirinya juga tidak tega melihat dua roh gadis itu merasa sedih. Terutama Abila, gadis itu hanya berusaha melindungi saudarinya. Di saat yang sama, Abila juga ikut mati bersama saudarinya.
"Benar." Kata Vina.
"Kamu harusnya minta maaf kepadaku soal tuduhan itu. Apa suamimu tidak mengajarimu soal itu? Hah." Kata Dimas dengan seringai yang membuat Vina semakin tidak menyukainya.
"Apa maumu datang ke sini?" Tanya Vina yang berusaha tenang.
"Hanya mengajarimu cara minta maaf." Jawab Dimas dengan lagak sombongnya.
"Begitu? Maka aku akan mengajarimu cara mengakui kesalahan."
Dimas berdiri dari tempat duduknya. Dia menatap Vina dengan senyuman tidak suka sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah tersebut. Vina berpikir pria itu tidak akan mau mengakui kesalahannya, karena dia hanya ingin dianggap benar.
Seperti manusia yang pernah ia temui. Istilah "cewek selalu benar" itu tak sepenuhnya perempuan benar. Istilah "cowok selalu salah", tapi tidak semua salah. Manusia adalah tempat salah dan benar. Tapi tak sepenuhnya dari mereka bisa dianggap benar. Ketika mereka melakukan kesalahan, mereka tidak segera minta maaf. Melainkan berdebat, sehingga orang-orang di sekitarnya akan merasa lelah dan mengalah untuk minta maaf.
Pria kurus tersebut mulai mengendarai motor miliknya. Sosok pria itu semakin jauh diikuti oleh suara dari motor matic yang berusia belasan tahun. Gadis tersebut masih berada di tempat duduknya. Menghela nafas tentang yang terjadi hari ini. Memang benar ia salah menuduh seseorang yang mungkin saja bukan dia. Namun melalui ingatan yang dia dapatkan, benar bahwa pelakunya adalah Dimas. Pria dengan badan kurus dan memiliki bau seperti alkohol.
"Vina..." Panggil Bayu yang tiba-tiba berada diambang pintu rumah.
"Iya?" Jawabnya sembari menoleh ke arah pria tersebut.
"Kamu... Gak apa-apa, kan?" Tanyanya dengan suara lembut.
Vina mengangguk, "aku baik-baik aja kok."
Bayu tidak begitu yakin dengan jawaban Vina. Dia merasa Vina sedang memikirkan sesuatu yang menganggu pikirannya. Gadis itu mulai berjalan masuk ke dalam rumah menyusul Yuna yang berada di dalam dapur. Bayu hanya melihat gadis itu menghilang dari pandangannya.
Jujur saja dia merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada Vina saat berbicara dengan Dimas. Dari raut wajah Dimas, dia mengetahui pria itu pasti bukan sosok yang baik. Tapi Bayu juga tidak bisa berpikir negatif tentang orang lain.
Bayu menggelengkan kepalanya sebelum masuk ke dalam rumah untuk membantu Roni dan yang lainnya. Dimana mereka masih mengurus editing video tim yang sudah hampir selesai. Besok pagi, mereka sudah harus pergi dari tempat ini untuk melanjutkan ke lokasi selanjutnya.
...
"Yuna." Panggil Vina saat memasuki kamar tidur.
Sesosok perempuan dengan rambut panjang berwarna hitam, sedang merapikan tas ransel miliknya. Vina memasuki kamar. Tas ransel miliknya sudah tertata rapi di pojok kamar. Tak ada apapun di kamar ini selain perabotan rumah. Yuna yang menyadari sahabatnya memandangi dirinya, ia menoleh.
"Eh? Vin, punya kamu udah semua?" Tanyanya.
Vina mengangguk, "udah kok."
"Gak ada yang ketinggalan?"
"Gak. Udah semua." Jawab Vina.
Yuna mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Sementara Vina, dia membuka lemari memastikan barang-barang mereka sudah dimasukkan ke dalam ransel. Ada yang membuat Vina sejak ia datang kemari. Yaitu kotak berwarna hitam yang tampak usang dan penuh dengan debu.
Sayangnya, kotak itu tidak bisa dibuka karena digembok. Entah kuncinya ditaruh dimana. Karena Vina sendiri tidak bisa menemukan kunci kotak hitam itu dimana-mana.
"Aku pergi bentar ya. Mau beli es, kamu nitip gak? Apa ikut?" Tanya Yuna. Vina menggelengkan kepalanya. Melihat jawaban dari Vina, Yuna akhirnya pergi sendirian.
Hanya Vina yang berada di kamar tersebut. Ia mulai mencari kunci di dalam kamar ini. Namun tetap tidak menemukannya. Ia pun mengambil kotak hitam itu untuk dibersihkan. Namun, sesuatu hal yang tidak dia duga adalah kunci di bawah kotak hitam ini.
"Sial. Pantes aja gak ketemu, aku juga gak nyentuh kotak ini sih." Kata Vina yang menyadari kebodohannya.
Gadis itu mulai membuka kotak itu. Hanya ada ponsel dan foto-foto yang membuat Vina tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah foto Dewi tanpa memakai sehelai pakaian dengan wajah memerah. Ini adalah foto dimana Dewi melakukan hubungan intim dengan kekasihnya.
Vina juga membuka ponsel milik Dewi. Sayangnya, ponsel itu kehabisan energi. Jadi Vina mulai mengisinya menggunakan charger miliknya. Sembari mengisi daya, Vina berhasil membuka ponsel milik Dewi. Gadis tersebut mulai membuka aplikasi pesan dan membaca semua yang dikatakan oleh Dimas dan Dewi.
Pesan yang membuat Vina mulai marah adalah dimana Dimas mengancam Dewi jika tidak menuruti kemauannya, maka Dimas akan menyebarkan foto serta video tak senonoh mereka ke media sosial. Tak hanya itu, yang membuat Vina merasa pedih adalah Dimas ternyata memacari Dewi karena ia ingin dekat dengan Abila.
Dewi mengatakan bahwa Abila sangat membenci Dimas. Tapi, Dimas justru mengatakan tak masalah karena dia sangat menyukai Abila. "Itu adalah pesona cewek berhati dingin" ucap Dimas dalam pesan itu. Vina tidak bisa berkata apapun lagi. Jika dia menjadi Dewi, maka diwaktu yang sama dia akan memutuskan hubungan dengan pria seperti Dimas.
"Vina..." Panggil Bayu yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
"Apa itu? Punya siapa?" Tanyanya sembari berjalan menghampiri Vina.
Gadis itu menunjukkan foto dan pesan-pesan mengenai hubungan Dewi bersama Dimas. Sesuai dugaan, Bayu juga terkejut seperti Vina. Pria tinggi itu menatap gadis berambut sebahu dihadapannya ini.
"Aku nemuin ini di lemari. Pas di dalam kotak." Kata Vina.
Bayu tidak berkata apa-apa. Ini adalah tindakan jahat. Yang seharusnya ini dilaporkan ke polisi. Namun, waktu mereka tidak akan cukup untuk mengurusnya. Besok pagi mereka sudah meninggalkan tempat ini untuk kembali melanjutkan perjalanan.
"Butuh waktu yang lama untuk mengurus ini semua, Vin. Apalagi kasus mereka sudah lama terjadi. Pasti sudah ditutup." Kata Bayu.
"Lalu? Gimana nasib Abila dan Dewi? Ini gak adil, Bay."
"Tapi kepolisian di negara kita tidak bisa secepat negara lainnya, Vin. Apalagi ini kasus lama. Mereka pasti memilih untuk menutupnya daripada membukanya lagi. Apalagi dengan bukti semacam ini. Mereka akan berpikir Dewi yang salah, bukan Dimas." Jawab Bayu yang berusaha untuk meyakinkan Vina tentang kasus kematian Dewi dan Abila.
"Bay, tapi ini gak adil. Kematian Dewi dan Abila ha-"
"Dunia emang gak pernah adil, Vin."
Vina kehilangan kata-kata. Benar, ada kemungkinan kasus ini tidak akan bisa dibuka lagi. Vina teringat tentang kasus pembunuhan 8 tahun yang lalu. Namun, anehnya yang ditangkap justru bukan pelaku melainkan wajahnya mirip dengan pelaku pembunuhan tersebut. Kematian Abila dan Dewi juga tragis. Sama halnya dengan korban kasus pembunuhan 8 tahun yang lalu.
"Vin." Panggil Bayu. Vina tidak menjawab. Dia mengambil ponsel milik Dewi dan foto-foto yang ada di atas meja rias. Gadis itu pergi dengan membawa sebuah kotak hitam berisi ponsel serta foto-foto Dewi. Bayu menghela nafas, Vina memang keras kepala yang membuatnya kadang geram.
Terkadang keras kepalanya Vina benar-benar tidak bisa dicegah. Ucapan Vina juga benar. Bahwa kematian Dewi dan Abila tidak adil. Vina pasti tidak akan berhenti untuk mengungkapkan kematian dua gadis tersebut. Ia tidak akan berhenti sebelum membawa Dimas ke kantor polisi atau kematian.
"Vina!" Panggilnya lagi sembari menyusul Vina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments