"Gitu ya. Vin, kamu bisa tolong aku?" Tanya Bayu dengan tatapan yang serius saat melihat ke arah Vina.
"Boleh."
Bayu menoleh ke arah sekitar sebelum akhirnya membawa gadis itu sedikit menjauh dari teman-temannya. Dirasa tak ada yang akan mendengar pembicaraan mereka, Bayu menatap gadis tersebut sebelum berbicara. Ia tampak serius sehingga membuat gadis itu sangat penasaran. Bayu menghela nafas sejenak sebelum membuka mulutnya.
"Soal yang kamu bilang tadi. Sebenarnya di sini ada sosok hitam yang menjadi alasan kasus pemerkosaan. Kamu tau soal genderuwo, kan?" Tanya Bayu.
"Pfft kamu bercanda, Bay? Gak mungkin sosok makhluk halus bisa nyentuh manusia." Ledek Vina dengan tawa kecilnya. Bayu dibuat frustasi oleh gadis itu.
Bayu mendapatkan informasi mengenai sosok hitam itu langsung dari Mbah Seno. Bayu sepenuhnya percaya karena Mbah Seno adalah ketua desa itu. Namun, rasa bersalah menghampiri Bayu setelah memberitahu Vina. Ia lupa gadis itu tak akan sepenuhnya percaya pada dirinya meskipun sudah berteman cukup lama. Apalagi Vina tidak akan percaya jika belum mengetahuinya sendiri.
"Vin. Aku serius." Kata Bayu dengan wajah seriusnya.
Vina terdiam saat melihat wajah serius pria dihadapannya ini. Gadis itu menghela nafas. Menimang-nimang apakah benar yang terjadi di sini karena sosok genderuwo tersebut? Sosok tersebut memang dikenal karena cabul dan suka melakukan pemerkosaan. Tapi, bagaimana bisa dia betah tinggal disini dan menghamili semua anak gadis di desa ini?
Gadis itu tampak berpikir keras. Tadi pagi Yuna mengatakan semalam melihat sosok hitam menyeringai mengerikan. Apa itu sosok dari Genderuwo? Pikir Vina.
"Darimana kamu tau soal genderuwo itu?"
"Mbah Seno yang bilang. Kamu percaya, kan? Mbah Seno sampai minta tolong kita buat bantu ngusir tuh setan dari sini. Pasti ada yang diinginkan dari genderuwo itu." Kata Bayu, tatapan matanya masih ke arah gadis berambut pendek itu.
"Mbah Seno udah coba ke dukun?"
"Dukun di sini meninggal dunia beberapa hari yang lalu. Dan itu dukun terakhir."
"Bagaimana dengan ustadz?" Tanya Vina.
"Mereka juga meninggal beberapa hari yang lalu saat mencoba mengusir genderuwo. Mbah Seno bilang sampai melakukan ritual, tapi genderuwo itu tak mau mendengarkan." Jawab Bayu. Sesekali ia menoleh ke arah teman-temannya yang masih bermain di tepi pantai.
"Anti kritik ya."
"Kita gak bahas soal pemerintah yang anti kritik, Vin." Ingin rasanya Bayu menjitak jidat gadis itu.
"Pemerintah selalu menerima kritikan rakyat kok. Lagian kita ngomongin setan, kenapa jadi ngomong ke sana?"
"Jadi, ada solusi? Aku merasa genderuwo itu ngincar Yuna sama kamu." Kata Bayu.
"Kita tanya Mbah Seno dulu saja. Tanpa beliau, kita gak bisa gegabah gitu aja." Jawab gadis itu.
Apa yang dikatakan Vina ada benarnya. Meskipun Bayu terlihat sangat khawatir mengenai keadaan dua temannya, terutama Vina yang sudah sangat ia cintai sejak lama. Ia tak ingin dua gadis itu mengalami hal buruk saat bekerja.
Bekerja menjadi seorang traveler bukanlah hal mudah. Meskipun hanya melakukan perjalanan selayaknya liburan, mereka diminta untuk melakukan dokumentasi mengenai tempat-tempat tertentu yang sudah dikunjungi. Salah satunya dengan membuat video dan di kirim melalui sosial media perusahaan televisi tempat mereka bekerja.
...
"Huwaaa haus!" Kata Yuna yang berjalan menuju tenda bersama dua laki-laki di belakangnya, Ilham dan Roni yang membawa seember isi kerang.
"Eh? Mana Vina dan Bayu?" Tanyanya saat hanya melihat Dava yang tertidur pulas di dalam tenda terbuka.
Ilham dan Roni yang menyadari hal tersebut, menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan mereka berdua masih berada di sekitar sini. Dan benar saja. Tampak Vina dan Bayu sedang mengobrol tak jauh dari mereka berada. Meski mereka tak bisa mendengar apa yang dibicarakan dua orang tersebut.
"Wah apa ini bakal ada cinlok?" Kata Yuna yang mulai merasa bahagia akhirnya sahabatnya akan memiliki pasangan.
"Cinlok apaan?" Tanya Ilham yang tak mengerti bahasa Yuna.
"Cinta lokasi." Jawab gadis itu.
"Mereka kayak ngomongin hal serius deh. Dahi Vina sampai mengerut gitu." Kata Roni yang memperhatikan lekuk wajah gadis berambut sebahu tersebut.
Yuna dan Ilham mulai menatap ke dua orang tersebut. Benar saja. Mereka tampak sangat serius. Seolah perbincangan mereka tak ingin diketahui oleh siapapun. Gadis berambut panjang itu memandangi setiap wajah Bayu dan Vina. Bayu tampak serius dan Vina berpikir sangat keras.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Ilham yang penasaran.
"Kita ke sana?" Tanya Roni. Ilham menggeleng.
"Kalau kita ke sana, yang ada mereka gak akan ngasih tau ke kita. Mendingan kita tunggu mereka saja disini." Jawab Ilham yang mendapat anggukan dari Roni.
Tak biasanya pria berkulit coklat itu mau menurut. Biasanya Roni sangat keras kepala dan mirip preman. Di tim manapun ia tak diterima karena dianggap pengacau. Akhirnya Ilham dan Bayu yang menawarkan Roni untuk masuk ke dalam tim mereka. Roni pun setuju. Karena, kebaikan Ilham dan Bayu mampu membuat Roni menjadi menurut dengan mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, saat Ilham dan Roni menyiapkan makan siang. Bayu dan Vina kembali dengan seutas senyum di wajah mereka. Bayu menghampiri Ilham dan Roni untuk membantu mereka memasak. Sementara Vina kembali duduk di dalam tenda bersama Yuna. Sementara satu pria lagi masih tertidur pulas di dalam tenda.
Cuaca hari ini tampak dingin. Namun, suasana di pantai membuat mereka hangat kembali. Apalagi dengan makan siang mereka yang membuat perut setiap anggota tim kelaparan. Tak lupa Dava yang baru saja terbangun dipaksa membuatkan video dokumentasi saat mereka sedang makan.
"Pas di pantai tadi, kamu udah rekam semua?" Tanya Vina kepada Dava yang duduk di sebelahnya.
"Tenang aja, Vin. Kelar semua kok. Tinggal bagian Roni sama Ilham buat editing."
"Aku juga udah foto beberapa gambar." Kata Yuna yang ikut-ikutan.
"Bagus deh. Aku juga nemu beberapa foto yang bagus." Kata Vina yang disambut senyuman kedua temannya itu.
....
Malam harinya, Bayu mengajak Vina untuk sekedar duduk di teras rumah penginapan. Jam masih menunjukkan pukul 7 malam. Roni sibuk di kamar Ilham untuk menyelesaikan video editan. Sementara Dava dan Ilham pergi sebentar untuk membeli camilan serta minuman. Yuna tengah mandi saat ini.
Suasana setelah sholat Isya benar-benar sangat menenangkan. Apalagi warga disini sangat rajin melakukan ibadah sholat. Meskipun itu tak mampu membuat genderuwo pergi dari lingkungan mereka.
Gadis berambut pendek itu memakai dress selutut berwarna abu-abu. Dress itu biasanya ia gunakan untuk tidur. Ia membawa secangkir kopi panas ke hadapan Bayu. Pria tersebut memakai kaos putih dengan sarung biru tua di pinggangnya.
Nampak mereka seperti pasangan muda yang baru saja menikah beberapa bulan. Sangat romantis.
"Makasih, Vin."
"Nggih, Mas." Jawab Vina sembari duduk di hadapan Bayu.
Pria tersebut yang mendengar jawaban Vina, wajahnya perlahan-lahan memerah. Ia tersipu malu jika Vina memanggilnya dengan panggilan tersebut. Panggilan "Mas" biasa digunakan untuk pasangan yang sudah menikah. Apalagi dengan penampilan mereka saat ini, Bayu merasa ia menjadi suami Vina dengan empat orang anaknya yakni, Roni, Yuna, Ilham dan Dava.
Bayu menggelengkan kepalanya perlahan sebelum meminum kopinya. Ia ingin tenang setelah jantungnya dibuat berdebar dengan penampilan seorang gadis manis dan polos dihadapannya ini. Suara katak yang berada di sawah-sawah mulai terdengar. Meskipun tak begitu keras, suara mereka tampak saling bersahut-sahutan.
"Ilham sama Dava belum balik ya?" Tanya Vina dengan wajah khawatir. Seolah ia mengkhawatirkan dua anak bungsunya.
"Mereka cuman beli cemilan deket sini kok." Jawab Bayu yang terdengar seperti bapak-bapak tengah menenangkan istrinya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. Ia mendongak dan mendapati sinar rembulan yang bersinar sangat terang. Tak ada bintang-bintang berkelap-kelip malam ini. Hanya ada bulan sempurna yang menerangi halaman rumah penginapan tersebut. Suara katak kembali terdengar, namun kini dibarengi dengan datanya suara belalang.
Seperti malam sebelumnya, burung hantu juga bertengger di pohon apel penginapan. Sementara burung gagak berterbangan ke sana kemari. Suasana yang sangat tenang di malam hari. Namun, mereka berdua juga merasa merinding dengan keadaan malam ini. Tegang. Itu yang mereka rasakan.
"Vin, mengenai genderuwo-" belum selesai Bayu berbicara. Mereka berdua mendengar suara dua orang pria yang berlari ke arah mereka dengan tergesa-gesa.
"Vina! Bayu!" Panggil Ilham.
Begitu Ilham dan Dava tiba, mereka mengatur nafas sebelum membuka mulutnya. Ilham ingin menjelaskan. Namun, malah disahut dengan Dava yang seolah sangat panik.
"Ada jeritan dari rumah sebelah! Jeritan cewek!" Kata Dava.
"Aku ketemu makhluk gede besar yang nembus masuk rumah itu!" Kata Ilham.
"Apa?" Vina dan Bayu segera berlari bersama dua laki-laki itu menuju rumah yang dikatakan oleh Ilham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments
miilieaa
genderuwo 😭
2024-11-21
1