PRIA KURUS

"Aku tau alasan mereka untuk bisa hidup kembali. Aku punya cara."

"Apa?"

"Kita cari Dimas." Jawab gadis itu.

"Vin! Yang bener aja? Kita gak tau dia dimana dan ini tengah malam. Dimas siapa sih?" Kata Bayu yang tidak percaya dengan ucapan Vina.

"Lalu, apa kamu ingin kita mati untuk dijadikan tumbal agar mereka bisa hidup kembali? Dimas adalah pria yang membunuh mereka berdua. Dan dia harus bertanggung jawab untuk itu!" Jawab gadis itu. Dari wajahnya, jelas dia marah.

"Dalam arti kamu membawa dia ke arah kematian? Meskipun dia pelaku, bukan begitu caranya, Vin."

"Lantas apa kamu ingin kita yang mati disini? Mereka gak akan tenang, Bay."

Bayu menatap wajah gadis berambut sebahu itu. Benar, dua roh gadis itu tidak akan tenang karena kasus pembunuhan. Mereka akan mencari tumbal untuk bisa kembali hidup. Itu mustahil! Bagaimana bisa mereka percaya bahwa, mereka bisa hidup kembali dengan menumbalkan seseorang. Bayu menoleh ke arah roh dua gadis tersebut. Roh yang bernama Dewi menatap dirinya dengan tajam. Sementara Abila menatap Vina dengan tatapan penuh harapan.

Vina masih menatap dua roh gadis didepan mereka dengan tatapan kasihan. Bayu bingung bagaimana dia bisa tau bahwa dua roh gadis itu mati terbunuh oleh seseorang yang bernama Dimas? Apa karena sentuhannya? Mengingat ucapan Vina yang berkata seolah sepasang kekasih terlahir kembali di Desa Garuda setelah kasus pelecehan dari Genderuwo.

"Vin, darimana kamu tau bahwa mereka berdua dibunuh oleh Dimas?" Tanyanya.

"Aku... Itu..."

Mendengar suara Vina yang gugup, Bayu melangkah lebih dekat hingga beberapa sentimeter. Wajah Vina terlihat kebingungan untuk menjelaskan alasannya kepada Bayu. Dia kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada Vina.

"Vin." Panggil Bayu. Tak ada jawaban.

"Dek."

"Kita seumur, Mas." Jawab Vina.

"Terus? Aku cuman mau tanya, tapi kamu malah diem. Dipanggil nama juga gak nyaut, kan?"

"Ini kita jadi nyariin pelakunya gak?" Tanya roh gadis yang tanpa kepala. Dia geram melihat dua pasangan didepan mereka yang malah berdebat, bukan membantu.

Vina tak menjawab, dia langsung pergi diikuti oleh Bayu. Dua roh gadis itu juga mengikuti mereka. Jalanan ladang padi sama gelapnya seperti saat Bayu mencari Vina. Bayu menyalakan senter dadi ponselnya. Diam-diam Bayu melirik Vina. Wajah gadis itu seperti antara kasihan, marah, geram, kesal, namun Bayu malah merasa jika Vina seperti ini seakan manis. Wajah Vina sangat serius di saat seperti ini, benar-benar membuat jantung Bayu berdebar-debar.

Udara malam ini begitu sangat dingin. Dilihatnya ponsel yang menunjukkan jam satu dini hari. Bayu tidak terkejut jika tengah malam memang sedingin ini. Biasanya dia begadang bersama Ilham dan Roni untuk menyelesaikan editing video. Sementara tugas Dava hanya untuk mengambil foto. Yang paling lelah, tentu saja Roni. Dia yang paling serius mengerjakan pekerjaannya.

Pria itu bahkan tidak merasa lelah sama sekali. Begitu pekerja keras meskipun terkadang sering menjadi pria yang pemarah. Tapi, semenjak bergabung di tim Bayu, Roni perlahan menjadi sosok yang lembut. Ucapannya bahkan lemah lembut dan halus. Perubahan itu menjadi rasa syukur bagi Bayu selaku ketua tim Traveler.

"NGAPAIN KALIAN BERDUAAN DISINI?!" Tiba-tiba terdengar suara berat dari belakang mereka.

Vina dan Bayu menoleh kebelakang. Terlihat seorang pria memakai motor yang berhenti di sebelah mereka. Pria kurus dan tinggi, memakai celana jeans pendek dan jaket berwarna hitam, rambutnya acak-acakan, pipinya tirus dengan wajah yang lonjong dan hidung pesek.

"Ngapain disini? Habis ngapain? Kalau kencan tuh di cafe apa restauran gitu loh. Kok di sawah. Mana jam segini lagi." Ucap pria kurus tersebut.

"Maaf, mas. Kita cuman mau cari seseorang yang namanya Dimas." Jawab Vina.

Pria itu langsung menoleh ke arah Vina. Matanya naik turun memperhatikan sosok perempuan yang memakai daster selutut berwarna merah muda. Pria itu menyeringai dan melangkah mendekat. Bayu yang menyadari itu, langsung menarik Vina agar lebih dekat dengannya dan menjauhi pria kurus itu.

"Oh suamimu? Waduh, suamimu ngajak kamu jalan-jalan jam segini? Jangan mau. Serem disini." Ucap pria kurus tersebut.

"Kamu tau siapa Dimas?" Tanya Bayu dengan tatapan dingin.

"Aku. Aku adalah Dimas." Jawab pria kurus itu.

"Kenapa nyariin aku? Ada urusan apa?" Tanya pria kurus itu sambil menatap ke arah Bayu.

Bayu langsung berdiri di depan Vina. Dari tatapannya, dia sangat tidak menyukai sosok pria didepan mereka. Apalagi dengan tatapan aneh dari pria itu kepada Vina. Apalagi dengan penampilan gadis itu saat ini, pasti menggoda mata pria kurus itu.

Bayu tidak melarang Vina dan Yuna memakai pakaian apapun. Karena, mereka memakai pakaian yang hanya membuat nyaman dipakai. Bayu mengajarkan kepada anggota laki-lakinya, bahwa yang harus dijaga bukan hanya sikap tetapi juga mata. Karena, mata adalah indra yang bisa membuat seseorang bersikap jahat hanya dengan sekali tatapan. Itu sebabnya, Bayu bisa menjaga pandangannya. Terutama hatinya yang hanya untuk Vina.

"Apa kamu kenal dengan Abila dan Dewi?" Tanya Vina.

Pria yang bernama Dimas itu sontak terkejut. Matanya terbuka lebar-lebar saat melihat gadis dibelakang pria itu. Dirinya tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut perempuan dihadapannya ini. Sudah lama dia membunuh dua gadis itu dan membuat jasad mereka di dekat pohon beringin. Sementara Bayu dan Vina baru datang ke desa ini, tidak mungkin mereka kenal dengan dua mayat yang ditemukan meninggal dunia dengan cara sadis.

"Gak, aku gak kenal." Jawabnya.

"Bohong." Kata Vina.

"Kalian baru, kan? Itu bukan urusan kalian. Lagian, kalian siapa mereka? Bukankah mereka sudah meninggal dunia?"

"Aku teman mereka." Jawab perempuan itu.

"Lalu? Kenapa tatapanmu seolah mencurigai aku?"

"Kamu yang membunuh mereka, kan?" Tanya Vina.

Pria kurus itu terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya. "Kamu menuduhku? Menuduh seseorang tanpa bukti itu adalah kekejaman, sayang."

Pria itu terus mendekati Vina, namun Bayu menghalanginya. Dimas berdecak sebelum menjauh dari mereka berdua. Vina cukup takut berhadapan dengan pria menakutkan seperti Dimas. Dari wajahnya, jelas itu adalah Dimas yang berasal dari masa lalu roh dua gadis tadi. Itu yang Vina ingat.

"Hei." Panggil Dimas sembari menatap Bayu.

"Apa?" Tanya Bayu dengan wajah yang dingin.

"Ajari istrimu berpikir dan berkata baik. Gak baik kalau menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas. Apalagi... Di jam segini harusnya kalian kembali ke rumah. Bukan jalan-jalan. Bagaimana jika ada begal atau semacamnya?" Kata Dimas sambil menaiki motornya.

"Dia bukan sua-" suara Vina terpotong karena suara motor Dimas.

Pria kurus itu mengendarai motornya menjauh dari mereka berdua. Bayu menyarankan untuk pulang lebih dahulu. Apalagi besok ada kegiatan lain yang harus mereka selesaikan. Vina menganggukan kepalanya. Sesampainya di rumah sewaan, Yuna memeluknya dengan erat. Seakan dia takut jika Vina hilang kembali. Anggota tim traveler lainnya menghela nafas karena lega Vina sudah ditemukan.

Bayu tidak menceritakan apa yang terjadi pada mereka berdua kepada anggotanya. Bayu menyarankan agar Yuna dan Vina kembali ke kamar. Sementara yang lainnya beristirahat di ruang tengah. Roni kembali duduk diatas karpet untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dava dan Ilham kembali tidur.

"Gak tidur?" Tanya Roni yang melihat Bayu melamun sembari menyenderkan punggungnya didinding.

"Gak bisa tidur." Jawab Bayu.

"Hm? Kenapa?"

"Masalah Vina. Tadi aku ketemu dia didekat pohon beringin. Terus pas kita pulang, aku ketemu cowok kurus. Dan tiba-tiba aja Vina bilang kalau dia adalah pembunuh dari dua cewek yang meninggal beberapa bulan lalu."

Mendengar itu, Roni terdiam sejenak. Vina bukan tipikal gadis yang suka menuduh seseorang tanpa bukti jelas. Gadis itu lebih suka mengatakan yang sebenarnya daripada berkata buruk. Dilihatnya sosok pria yang mulai memeluk bantal disebelahnya. Tatapan khawatir dan penasaran menjadi satu.

"Darimana Vina tau?"

"Aku gak tau... Tapi, firasatku buruk untuk besok." Kata Bayu.

"Gimana?" Tanya Roni. Bayu tidak menjawab dan memejamkan kedua matanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!