2 Gadis

Seorang gadis berusia 23 tahun duduk di depan terasnya dengan beberapa buku ditangannya. Terdengar suara motor yang membuat ia langsung mengangkat kepala dari buku bacaannya. Terlihat seorang perempuan dengan rambut panjang turun dari motor tersebut. Seorang pria yang mengantar perempuan itu tersenyum dan melambaikan tangan sebelum pergi dari depan rumah tersebut.

Gadis yang masih memegang buku itu, menatap saudarinya yang baru saja pulang dengan tatapan antara tak suka dan tidak peduli. Dia tidak suka dengan pria yang merupakan kekasih saudarinya, ia juga tidak peduli jika saudarinya memiliki hubungan romansa bersama pria lain. Pertanyaan dia adalah, kenapa pria itu?

"Darimana?" Tanya Abila sembari meletakkan bukunya ke lantai.

"Kencan dooong. Emang kamu? Dirumah mulu." Ledek Dewi sembari menatap Abila dengan sinis.

Abila tidak menjawab. Dia hanya melihat Dewi yang masuk ke dalam rumah. Sejak Dewi memiliki hubungan asrama dengan Dimas, hal itu membuat Abila menjadi kecewa pada Dewi. Dimas dikenal sebagai pria yang tak baik, dia dikenal dengan pria yang suka mempermainkan wanita dan mencuri kekayaan dari rumah seseorang. Bagi Dewi, Dimas adalah pria yang penuh perhatian. Benar kata ayah mereka, orang seburuk apapun itu, Tuhan masih memberikan mereka jodoh. Meskipun mereka telah melakukan kejahatan.

Apa cinta itu buta? Itu yang dipertanyakan oleh Abila. Ia berniat untuk membiarkan Dewi memiliki hubungan dengan Dimas. Berkali-kali ia mengatakan untuk menjauhi pria itu, tapi Dewi tetap keras kepala. Dewi selalu mengatakan bahwa Dimas adalah pria yang baik. Tentu hal itu tidak membuat. Abila percaya.

"Dewi." Panggil Abila sembari membuka pintu kamar Dewi.

"Apa sih?" Tanya Dewi yang seketika membuat reaksi tidak suka kehadiran Abila.

"Kenapa harus dia?" Tanya Abila dengan suara lembut.

"Kenapa?"

"Dia bukan pria yang baik."

"Lalu? Itu bukan urusanmu. Aku berkali-kali bilang kalau dia itu pria yang baik, kan? Daripada ngurusin urusan orang, urusin urusan kamu sendiri!" Kata Dewi yang mulai kesal.

Benar. Ini bukan urusan Abila. Lantas kenapa dia begitu khawatir pada saudarinya yang keras kepala? Itu yang dipikirkan oleh Abila.

"Aku sibuk tau, kalau cuman ngomongin buruknya Dimas, mending jangan ketemu aku." Begitulah ucapan Dewi yang membuat Abila sakit hati.

Mereka adalah kakak adik yang sangat dekat. Dewi adalah adik Abila yang memiliki usia 21 tahun. Semenjak berkenalan dengan Dimas, Dewi mulai berubah. Dulu gadis itu sering mengunjungi pengajian bersama Abila dan ayah mereka. Sekarang, sekedar sholat saja Dewi tidak mau melakukannya. Jika diingat oleh Abila, Dewi akan berkata, "neraka itu urusanku. Sok suci banget deh. Sholat atau gak terserah aku dong."

Sebulan setelah Dewi memiliki hubungan dengan Dimas, ayah mereka berdua meninggal dunia. Sementara sang Ibu sudah meninggal dunia sejak Dewi baru saja lahir. Sebelum sang ayah meninggal, beliau mengatakan kepada Abila untuk menjaga Dewi dengan baik. Dan benar. Abila melakukan permintaan sang ayah dengan sangat baik.

Dia begitu menyayangi adiknya, meskipun Dewi sangat membenci Abila. Abila berpikir apa yang dia lakukan sehingga adiknya sangat membencinya? Apa kesalahan Abila kepada Dewi? Tiga bulan hubungan Dewi dengan Dimas sudah berjalan. Dewi mulai berani pulang tengah malam. Tak hanya itu, Dewi berani merokok dan meminum alkohol. Abila sudah melarang Dewi melakukan hal tersebut. Tapi, tetap saja adiknya keras kepala.

Empat bulan hubungan antara Dewi dan Dimas yang tadinya baik-baik saja, menjadi cukup berantakan. Dimas dan Dewi sering bertengkar. Abila sering menemukan Dewi menangis di dalam kamarnya setiap malam. Perlahan-lahan, Abila dengan gugup mengetuk pintu kamar Dewi.

"Dewi? Aku boleh masuk?" Tanya dengan lembut. Tak ada jawaban.

Abila pun mulai membuka pintu kamar Dewi. Gadis itu terlihat menghapus air matanya dan tidak berani menatap Abila. Di sebelah dia duduk, ada sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua gadis biru. Abila yang melihatnya langsung mengambil alat tersebut. Dewi berusaha mengambil kembali alat tes kehamilan tersebut sebelum Abila mengambilnya.

Akan tetapi, sayang sekali. Abila sudah mengambil alat tes kehamilan milik Dewi. Gadis itu berulang kali meminta Abila untuk mengembalikan alat tersebut kepadanya, sayangnya Abila menghiraukan dia.

"Kamu hamil?" Tanya Abila dengan tatapan kecewa. Dewi tidak menjawab. Gadis itu justru menundukkan pandangannya, takut menatap mata Abila.

"Jawab!"

"Iya... Aku... Hamil." Jawab Dewi dengan suara takut.

Mendengar itu, Abila menghela nafas. Ia benar-benar tidak mengetahui apa yang harus dia lakukan. Abila merasa dirinya gagal menjaga adiknya. Wasiat sang ayah untuk menjaga adiknya, Abila benar-benar sudah gagal.

"Dimas yang lakukan ini? Sejak kapan?!" Tanya Abila lagi.

"Bulan lalu..." Jawab Dewi.

"Aku udah bilang, kan? Jangan deket-deket sama Dimas! Dia udah tau kamu hamil?"

"Udah... Tapi, dia bilang gak percaya."

Abila mulai merasa kesal. Dia marah karena adiknya melakukan hal menjijikkan seperti ini. Gadis itu berjalan keluar dari kamar Dewi. Melihat itu, Dewi langsung mengikuti langkah kakaknya yang ternyata menuju rumah Dimas. Rumah pria itu tidak jaduh dari tempat tinggal mereka.

"Dimas!" Panggil Abila dari luar rumah pria tersebut.

"Apa sih? Marah-marah mulu." Jawab Dimas dari dalam rumah.

Saat melihat Abila dan Dewi yang menatapnya dengan tatapan kecewa dan marah, Dimas mengangkat sebelah alisnya. Dia bingung apa yang terjadi pada dua bersaudari ini.

"Kamu hamilin Dewi, kan?"

"Gak loh. Ngapain aku kayak gitu?" Jawab Dimas yang tidak percaya dengan ucapan Abila.

"Lihat ini! Lihat!" Kata Abila sembari menunjuk alat tes kehamilan milik Dewi.

Dimas yang melihatnya, langsung membuka matanya lebar-lebar. Dimas dan Abila terus-terusan berdebat, sementara Dewi hanya bisa meneteskan air matanya. Pria itu tampak sangat muak. Dia menarik lengan dua gadis itu agar masuk ke dalam rumahnya. Dua gadis itu menolak, namun sebab bantuan teman Dimas, mereka akhirnya masuk ke dalam rumah.

Abila terus mengatakan bahwa Dimas harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Apa yang dia lakukan bersama Dewi itu benar. Namun, dia tidak percaya dengan apa yang terjadi.

"Kamu berusaha main-main sama aku, kan? Dengan bohong kalau ini adalah anak aku? Iya, kan?" Tanya Dimas sembari menatap wajah Dewi dengan geram.

"Tapi, ini emang anak kamu. Aku gak pernah lakukan apapun ke orang lain kecuali kamu." Jawab Dewi.

"Kan? Kamu harus tanggung jawab, Dimas. Kamu bukan pria jika seperti ini."

Dimas semakin dibuat geram oleh dua gadis itu. Malam ini, adalah malam yang mengerikan. Pada besok paginya, dua mayat ditemukan di dekat pohon beringin. Benar. Mayat Dewi dan Abila. Dua gadis itu bukan hanya dibunuh, melainkan dilecehkan juga. Pelakunya adalah Dimas.

Pria itu meminta kepada teman-temannya untuk memegangi dua gadis itu. Awalnya mereka memperkosa dua gadis itu hingga meninggal dunia. Barulah setelah itu, mereka memotong setiap bagian tubuh. Roh dua gadis itu merasa murka dan ingin membalas dendam pada Dimas. Mereka berkata kepada stau Jin menghuni pohon beringin tersebut.

Mereka bisa kembali hidup apabila berhasil membawa satu tumbal yang lezat. Meteka dulunya tinggal di rumah yang saat ini disewa oleh tim traveler. Begitu melihat Vina, mereka langsung berkata bahwa dia salah mangsa yang cocok.

...

Vina langsung melepas kedua tangannya dari dua gadis di hadapannya ini. Dari wajahnya, gadis berambut sebahu itu merasa terkejut, kecewa, sekaligus marah. Kenapa dirinya yang harus dipilih? Itu yang dia ingin katakan pada dua gadis di hadapannya ini.

"Vina..." Bayu langsung mendekati gadis tersebut. Wajahnya saat ini penuh kekhawatiran.

"Aku tau alasan mereka untuk bisa hidup kembali. Aku punya cara."

"Apa?"

"Kita cari Dimas." Jawab gadis itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!