DIMANA KAMU?!

Dua orang gadis masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat. Yuna membelai ujung kepala Vina agar gadis itu merasa lebih nyaman. Masih terlihat wajah pucat Vina yang ketakutan meskipun Yuna tidak mengetahui apa sebabnya. Meskipun dia bertanya, sudah pasti Vina akan mengatakan dirinya baik-baik saja. Sikap Vina yang paling tidak disukai oleh Yuna adalah menyimpan apapun sendirian. Entah perasaan atau masalah. Gadis itu selalu ingin membenahinya sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Mereka sebelumnya dekat bukan karena pekerjaan. Melainkan sikap mereka yang saling mengerti. Vina selalu mengerti keadaan Yuna dan membantunya ketika ada masalah. Begitu juga sebaliknya. Yuna selalu menceritakan hal terbaru yang ia temukan kepada Vina. Sementara Vina, dia jarang menceritakan apapun kepada Yuna. Yang paling Yuna sering dengar dari gadis itu hanyalah masalah pekerjaan.

Rumah sewaan yang ditinggal bertahun-tahun itu kembali hening. Para pria yang biasanya lebih banyak menghabiskan waktu di malam hari untuk menyelesaikan video editan, malam ini tidak ada suara apapun. Roni dan Dava sudah terlelap tidur di atas karpet ruang tamu. Menyisakan Ilham dan Bayu yang masih duduk di atas karpet ruang tamu.

"Besok kita cuman istirahat, kan?" Tanya Ilham yang berada di pojok ruangan. Bayu yang duduk di sebelah meja hanya menganggukkan kepalanya.

"Wajahmu serius amat, Pak Ketua." Kata Ilham.

"Ngantuk? Kalau gak, kita kerjain bagian ngedit." Jawab Bayu yang langsung membuat kedua mata Ilham terbuka lebar.

"Besok aja kenapa sih?" Ucap Ilham sambil berdecak kesal.

"Daripada malam ini gak ngapa-ngapain."

"Bener sih. Tapi, apa gak capek? Seharian kita di jalan loh." Ucap Ilham.

Mendengar itu, Bayu menghela nafas. Saat ini dia tidak bisa tidur karena memikirkan Vina. Dirinya berharap gadis itu bisa merasa lebih baik pada besok hari. Meskipun begitu, ia masih penasaran karena kejadian apa yang didapatkan oleh Vina sebelumnya. Ia merasa iri pada Dava, Roni dan Ilham sudah terlelap dalam tidurnya. Bayu mengacak-acak rambutnya. Ia membaringkan tubuhnya di sebelah Dava dan mulai memejamkan kedua matanya.

Sialnya Bayu kembali tidak bisa tidur. Pria dengan kulit sawo matang itu mulai duduk dan mengacak rambutnya lagi karena kesal tidak bisa tidur. Dia akui bahwa ia lelah menyetir mobil seharian ini. Tapi, Bayu juga tidak bisa melupakan wajah Vina yang pucat saat keluar dari dalam kamar mandi. Seolah ada sesuatu yang membuat gadis itu ketakutan.

Bayu mulai mengusap-usap wajahnya sebelum berdiri untuk mencuci muka. Bayu mulai merasakan segar dan dingin bersamaan di kulitnya. Begitu dia kembali ke ruang tamu, Roni sudah duduk di atas karpet sembari membuka laptopnya.

"Loh? Udah bangun?" Tanya Bayu yang mulai duduk di sebelah Roni.

"Kebangun."

"Kamu mau ngapain? Istirahat aja."

"Besok aja. Aku mau coba edit video kita dan foto tadi." Jawab Roni.

Bayu tidak bisa berkata apapun. Roni tidak ada bedanya dengan Vina. Mereka sama-sama keras kepala. Namun, Vina lebih mudah emosian dibandingkan Roni. Padahal sebelumnya Roni dibicarakan oleh pekerja lain, bahwa Roni mirip seperti preman dan susah diatur. Akan tetapi ketika bersama tim Bayu, Roni nampak seperti anak yang penurut kepada orang tuanya. Bahkan dia sangat pekerja keras. Roni kadang tidak bisa menikmati keindahan alam yang mereka kunjungi bersama karena fokus dengan laptopnya.

Jadi, Roni hanya bisa menikmati keindahan wisata ketika hanya memegangi kamera atau sedang makan saja. Meskipun Bayu sudah mengatakan untuk bersantai di saat itu, Roni menolak dengan alasan jadwal editing tim mereka. Sementara mengedit video dan foto bisa menghabiskan waktu 1 hari lebih untuk melihat apakah sudah sesuai dengan keinginan kantor mereka.

Oleh sebab itu, mereka berenam mulai bekerja sama agar Roni bisa lebih banyak beristirahat dan menikmati keindahan wisata saat berkunjung. Bukan malah menghadapi pekerjaan pada saat itu. Bayu memandangi wajah Roni bergantian dengan layar laptopnya. Roni begitu serius saat mengedit video mereka ini.

"Apa?" Tanya Roni yang sadar sedari tadi di tatapan oleh Bayu. Ia merasa dirinya tidak melakukan apapun seharian ini. Kecuali saat makan tadi, Vina lebih banyak memperhatikan Roni. Jadi, Roni merasa apa karena itu dia ditatap oleh Bayu.

Bayu menggelengkan kepalanya. Melihat reaksi Bayu, Roni mulai merasa tenang. Pria tersebut kembali fokus dengan pekerjaannya, wajahnya tampak sangat serius setiap melihat ke arah layar laptop. Bayu masih saja menatap Roni, seolah ada yang ia pertanyakan pada pria itu. Namun, dia bingung harus memulai darimana. Itu sebabnya dia terus diam dan sibuk dengan pikirannya.

"Kenapa?" Tanya Roni lagi yang menyadari tatapan mata Bayu masih pada dirinya. Lagi-lagi Bayu menggelengkan kepalanya.

"Soal Vina?" Tanya Roni yang seketika membuat pria itu mengusap-usap wajahnya.

"Iya. Apa dia mau cerita soal tadi ke kita?"

Roni tidak bisa menjawab pertanyaan Bayu. Meskipun dia tidak dengan Vina, namun kepastian bahwa gadis itu akan menyimpan apapun sendirian. Dilihatnya pria yang terlihat putus asa itu. Bayu begitu khawatir dan penasaran pada kejadian yang dialami Vina.

"Bay, kamu sewa rumah ini tanpa bertanya ke siapapun? Lewat Internet gitu?" Tanya Roni dengan suara lembut.

Bayu menggeleng, "Gak, Ron. Pemilik rumah ini bilang kalau rumah ini cuman lama gak dihuni aja. Dan ya kupikir nih rumah aman-aman aja."

"Bay, kamu tau apa yang aku dan Vina dapatkan mengenai rumah ini?" Tanya Roni.

"Vina bilang sesuatu?"

"Mereka bukan pemilik rumah ini. Pemilik rumah ini meninggal dunia beberapa tahun lagi, antara terbunuh dan bunuh diri. Setelah itu, ada dua gadis yang tinggal disini. Tapi, mereka dibunuh saat pulang bekerja oleh perampok. Dan-"

"Dan curigamu rumah ini berhantu gitu?" Tanya Bayu.

"Ya kalau lama tidak dihuni sih... Ya." Jawab Roni.

Bayu menatap wajah pria itu dengan bingung. Dia merasa tidak yakin dengan ucapan Roni. Memang benar jika mereka bisa menjaga sikap di sana, maka penghuni asli akan menerima mereka dengan baik pula.

"Dan kita tadi lewat pohon beringin, kan? Aku tadi lihat ada cewek di pinggir jalan. Itu beneran. Dan sebelumnya, Vina dan aku denger suara seseorang di sekitar pohon beringin itu."

"Ron, kamu dan Vina mungkin cuman capek karena seharian kita di jalanan." Kata Bayu yang berusaha untuk berpikir positif.

"Lalu, kenapa kamu malah kelihatan penasaran dengan apa yang terjadi pada Vina?"

Pertanyaan Roni membuat Bayu tidak berkata apapun. Benar dia merasa khawatir dengan Vina, tapi di sisi lain dia juga penasaran apa yang sudah terjadi.

"Seperti kata Vina, setiap tempat pasti memiliki misterinya sendiri. Dan kamu sering bilang ke kita harus jaga sikap dimanapun kita berada." Kata Roni.

"Ron, kita-"

BRAK!!!!

Ucapan Bayu terpotong karena suara aneh dari dalam dapur. Dengan segera mereka berdua masuk ke dalam dapur. Tak ada apapun di sana. Suara lainnya kembali muncul, suara seseorang menyeret plastik yang begitu besar dan berat muncul di belakang rumah. Dua pria itu mencoba membuka pintu belakang dan memperhatikan sekitar.

"AAAAAAA!!!!"

Terdengar suara teriakan perempuan dari dalam kamar. Suara Vina.

"VINA!!!" Bayu langsung berlari ke dalam kamar dua gadis itu. Di sana hanya ada Yuna yang terbangun dan bingung.

"Mana Vina?" Tanyanya.

"Sial." Kata Bayu yang geram.

"Kita cari dia sekarang!" Kata Bayu yang langsung pergi mencari Vina.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!