NASIB

"Nih beneran Yuna di dalam, kan?" Tanya Ilham.

"Mungkin. Lagian aku dari tadi di kamar ngedit video kita. Jadi, aku gak tau." Jawab Roni seadanya.

Ilham berdecak. Bayu menghela nafas. Perlahan Ilham membuka pintu kamar Yuna. Tidak terkunci. Ilham menghela nafas sejenak sebelum membuka pintu kamar gadis itu lebar-lebar. Yuna tak ada di sana. Kemana perginya gadis itu?

"Kita berpencar." Ucap Bayu yang disambut anggukan Ilham. Roni yang bingung akhirnya ikut mencari keberadaan gadis itu.

Sementara itu, Vina dan Dava menjaga Syifa hingga kedua orang tuanya kembali. Beruntunglah beberapa saat kemudian orang tua Syifa kembali dari sawah. Awalnya mereka bingung ada apa dengan putrinya yang tertidur di pelukan gadis itu. Maka, Dava menjelaskan apa yang sudah terjadi dan bagaimana mereka berada di sini.

Orang tua gadis itu terkejut saat mendengar penjelasan dari pria tersebut. Mereka tak percaya dengan adanya sosok hitam yang dibicarakan oleh Dava. Sebelumnya, Syifa dirumah sendirian dan itu baik-baik saja. Namun, bagaimana bisa dia berteriak seolah meminta pertolongan?

"Sosok hitam? Apa yang kalian bicarakan? Tak ada makhluk mengerikan yang kalian bicarakan. Sebelumnya putri kami juga baik-baik saja saat kami pergi ke sawah." Ucap Ibu dari Syifa.

Seperti yang diduga oleh Vina, tak semua orang akan mengucapkan terima kasih setelah dibantu. Firasat gadis itu selalu benar. Namun, akibat dari memikirkan firasatnya, ia mulai menjadi overthingking dengan dirinya sendiri. Dia sering bertanya apakah yang ia lakukan salah, apa yang ia lakukan menyakiti orang lain, apa ia menyusahkan bagi orang lain, dan sebagainya.

"Syifa benar-benar melihatnya, Bu!" Ucap gadis berusia 15 tahun itu.

"Kamu pasti mimpi buruk, Syifa. Tak ada makhluk mengerikan seperti itu."

"Syifa gak tidur, Bu!"

"Mending kamu masuk deh." Kata sang Ibu sembari menarik lengan putrinya untuk masuk ke dalam rumah.

"Kak Vina..."

Yang dipanggil hanya bisa menatap gadis kecil itu masuk ke dalam rumah. Dihadapan mereka, kepala keluarga itu menatap Dava dan Vina secara bergantian. Entah merasa menyesal karena meninggalkan putrinya atau merasa bersalah atas kelakuan istrinya terhadap mereka berdua.

"Sosok hitam seperti apa yang kalian bicarakan?" Tanya pria yang memiliki umur sekitar 37 tahun. Dua manusia itu menoleh ke arah pria tersebut. Dava tak segan untuk mengatakan hal yang sebenarnya, sementara Vina masih berada dalam pikirannya sendiri. Seolah bimbang haruskah dia berkata yang sebenarnya?

"Syifa bilang makhluk berbulu lebat dengan gigi taring dan mata merah." Jawab Dava.

"Kami tidak melihat siapapun saat datang kemari. Tapi, putri anda sangat ketakutan." Lanjut Vina yang mengingat seberapa takutnya gadis itu.

"Yang kalian maksud adalah Genderuwo?" Tanyanya. Dua manusia di hadapannya itu mengangguk bersamaan.

"Saya tidak mengerti soal itu, tapi saya berterima kasih karena kalian telah menolong putriku. Saya juga minta maaf atas perlakuan istri saya yang tidak sopan pada kalian."

Vina menggeleng, "tak masalah, Pak. Saya mengerti kenapa istri bapak bersikap seperti itu kepada kami. Kalau begitu, kami pamit untuk kembali ke penginapan."

"Begitu ya. Maaf sudah merepotkan kalian." Ucapnya.

Vina dan Dava tersenyum. Mereka berdua pamit undur diri dari rumah Syifa. Mereka berharap gadis itu bisa aman dirumah sendirian setelah kejadian hari ini. Meskipun itu akan menimbulkan rasa takut yang berlebihan di masa depan.

Mereka berdua berjalan kembali ke penginapan. Tak ada perbincangan. Hening. Hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersahutan dengan para katak. Terdengar berisik, namun sangat nyaring. Beberapa saat setelah keheningan berada di antara mereka, Dava menoleh ke arah gadis yang berjalan di sebelahnya ini.

Gadis itu tampak memiliki sesuatu yang tak bisa dibaca oleh Dava. Bahkan pria itu bingung harus berkata apa. Vina tampak sedih sekaligus khawatir, ia juga tampak seperti sedang memikirkan sesuatu yang membuat Dava kesulitan membaca reaksi wajah gadis itu.

"Ada apa?" Tanyanya saat menyadari Dava terus-terusan menatapnya.

"Gak kok, aku penasaran apa yang kamu pikirkan. Kayak campur aduk."

"Campur aduk? Aku bukan bubur ayam."

"Aku tim yang gak diaduk." Jawab Dava yang seketika membuat gadis itu ingin naik darah. Namun, ia hanya menghela nafas untuk menenangkan dirinya.

"Soal Yuna, aku belum dapet kabar dari Bayu soal dia." Kata gadis berambut sebahu itu.

"Iya juga. Apa kita lari aja ke penginapan?" Tanya Dava.

Tanpa berbasa-basi lagi, gadis berambut pendek dengan dress itu berlari ke arah penginapan.

"Arek Iki." Ucap Dava yang melihat Vina berlari lebih dulu menuju penginapan. Ia segera menyusul langkah Vina menuju penginapan mereka.

...

Bayu, Ilham, Roni mencari Yuna di area penginapan. Bayu mencari Yuna di halaman serta area belakang penginapan. Ilham mencari di area lantai satu, sementara Roni mencari Yuna di area lantai dua. Mereka terus memanggil Yuna dan mencari keberadaan gadis itu.

Saat Vina dan Dava kembali, mereka bertemu dengan Bayu yang tengah berdiri di teras rumah dengan berkacak pinggang. Kepalanya menoleh ke sana kemari seperti mencari sesuatu.

"Vina, Dava! Kalian tadi ketemu Yuna, gak?" Tanyanya saat melihat dua orang itu mendekat ke arahnya.

"Gak. Kenapa? Dia gak di kamarnya?" Tanya Dava.

"Gak ada. Aku sama yang lain lagi nyariin dia. Tapi, sampai sekarang gak ketemu. Aku pikir dia keluar dari penginapan buat ke warung gitu. Makanya aku tanya kalian."

"Kita gak ketemu mereka pas jalan pulang ke sini." Jawab Dava.

"Beneran dia gak ada di kamar?" Tanya Vina dengan wajahnya yang serius menatap ke arah Bayu.

"Gak ada, Vin."

Jawaban Bayu membuat gadis itu berlari ke arah kamar Yuna. Bayu dan Dava mengikutinya. Saat berada di kamar gadis itu, Vina mencoba masuk lebih dalam lagi. Membuka setiap ruangan yang ada. Kamar mandi, toilet, ruang ganti. Semuanya kosong. Di atas tempat tidur Yuna, pakaian seperti piyama masih berada di sana. Yang artinya, gadis itu pergi dengan memakai handuk yang masih melilit ditubuhnya.

"Sial." Ucapnya, firasatnya menjadi lebih buruk.

"Ada apa ini?" Tanya Mbah Seno yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar Yuna.

"Mbah Seno! Maaf karena kamu sudah membuat keributan. Kami sedang mencari Yuna. Tapi, teman kami itu tidak ada di kamarnya. Mbah Seno tau tidak dia kemana? Mungkin Mbah lihat dia pergi gitu?" Tanya Dava kepada pria tua dibelakangnya itu.

Pria tua itu diam menatap dua remaja di hadapannya ini. Gadis berambut sebahu itu tampak sangat panik dan khawatir. Seakan dari wajah gadis itu, Mbah Seno bisa membaca apa yang dipikirkan olehnya. Sementara pria muda itu menatapnya dengan penasaran sekaligus tak sabar.

Diliriknya ruangan tersebut sembari berjalan masuk. Piyama milik gadis itu masih ada di atas tempat tidur, kamar mandi yang belum sepenuhnya kering, serta jejak kaki yang masih basah, sepertinya kejadiannya belum lama terjadi. Jejak kaki basah itu berjalan menuju jendela, dan hilang seketika. Saat yang tepat, jendela itu terbuka lebar. Diterpa angin yang lembut hingga hampir menabrak dinding.

"Apa kalian pergi beberapa saat yang lalu? Berapa lama kalian pergi?" Tanya Mbah Seno.

"Sekitar 20 menit." Jawab Dava karena ingatannya sangat bagus.

Mbah Seno terdiam. Jantungnya berdebar-debar seolah ada sesuatu yang tidak beres.

"Dia diculik." Kata Mbah Seno.

"Apa maksud Mbah?"

"Dia diculik untuk dijadikan istri genderuwo."

"Dih, dah pedofil, cabul, dan apa ini? Pemaksaan nikah? Jijik banget deh." Kata Dava yang tak terima dengan sikap hantu satu itu.

Pria tua itu hanya terdiam sembari menatap dua remaja di hadapannya secara bergantian.

"Apa kamu merasakan firasat itu?" Tanya pria tua itu kepada seorang gadis berambut pendek.

"Iya. Saya merasakan ada sesuatu yang aneh."

"Kamu sudah tau semenjak datang kemari, kan? Firasatmu cukup kuat sehingga sering membuatmu dalam kebimbangan. Jika kamu masih memikirkan hal buruk, kedepannya kamu akan terus dihantui rasa bersalah. Ada batasan untuk mengendalikan diri. Sama halnya dengan air. Yang akan terus melaju tanpa dikendalikan. Tanpa bendungan, air tak akan bisa mengendalikan dirinya untuk terus berjalan. Sama dengan dirimu. Kamu terus berpikir negatif sampai tak bisa mengendalikannya. Dan bendungan adalah cara yang tepat untuk mengendalikan air. Dan cara positif adalah cara yang baik untuk mengendalikan pikiran negatifmu itu."

Vina terdiam. Benar apa yang dikatakan Mbah Seno. Vina sering merasakan firasat buruk, dan jika yang ia lakukan salah. Kemungkinan besar dia akan mengingatnya sepanjang hari dan diikuti rasa bersalahnya. Ia tak harusnya begini, tak harus begitu, harusnya seperti ini. Itu yang selalu ia pikirkan.

"Kita akan menjemput Yuna sekarang, panggil teman-temanmu dan tunggu aku didepan teras." Ucap Mbah Seno sembari keluar kamar itu.

Vina dan Dava mengangguk. Mereka berlari ke arah teman-temannya. Mereka mengatakan akan menunggu di depan teras rumah penginapan seperti yang dikatakan oleh Mbah Seno. Sementara beliau mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Sebuah kotak kayu dengan ukiran bunga yang sangat cantik. Terlihat kotak yang sudah sejak zaman 70-an. Meskipun begitu, kotak itu adalah peninggalan dari orang tua Mbah Seno. Dimana kotak itu memiliki usia puluhan tahun semenjak zaman buyutnya.

"Aku harus menyelesaikan ini semua." Ucapnya.

Terpopuler

Comments

Rừng cây

Rừng cây

Ngagetin deh! 😱

2024-08-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!