Langit malam semakin gelap dengan sedikit cahaya dari rembulan yang remang-remang tertutup oleh awan hitam. Tiada suara katak atau serangga lainnya pada malam ini. Suasana hening penuh dengan kecengkaman. Seorang pria tua membawa beberapa barang seperti dupa dan yang lainnya. Dibantu oleh 5 orang pemuda yang berjalan dibelakangnya.
Mereka menuju sebuah hutan belantara yang banyak sekali dengan pohon-pohon Gayam tertanam di sana. Ada sekitar 25 pohon Gayam yang bergerombol di satu tempat. Yang artinya, disinilah sarang genderuwo. Namun, Bayu dan teman-temannya tidak melihat apapun di sana. Dibawah cahaya senter mereka, yang bisa mereka lihat hanyalah pohon serta bunga liar tumbuh disekitar sana.
"Mbah." Panggil seorang pemuda yang memakai sarung tersebut.
"Bakar satenya." Perintahnya yang segera dituruti oleh 5 pemuda tersebut.
Banyak kalangan mempercayai salah satu cara memanggil genderuwo adalah dengan membakar sate gagak. Diyakini, burung gagak adalah makanan kesukaan sekaligus binatang peliharaan genderuwo, dalam hal ini seperti manusia yang memelihara ayam.
Untuk melakukan ritual ini, subyek yang ingin bertemu dengan genderuwo diyakini harus mengikuti tata cara khusus untuk membuat sate gagak. Tata cara tersebut umumnya digambarkan sebagai berikut: setelah berhasil menangkap burung gagak, burung gagak tersebut disembelih dengan pisau yang sangat tajam. Alasannya, ketajaman mata pisau akan memengaruhi lancar tidaknya darah yang mengalir keluar dari bekas luka yang ditimbulkan; berikutnya adalah mencabuti bulu-bulu hitam gagak yang kasar sehingga benar-benar bersih. Selanjutnya, daging yang sudah bersih ditelikung seperti halnya kalau membuat ayam panggang. Baru kemudian, bisa dibakar di atas nyala api.
Hal terpenting dari ritual ini dipercaya adalah pengucapan rapalan mantra khusus agar genderuwo selain mencium bau makanannya juga dapat mendengar panggilan. Mantra pemanggil genderuwo diyakini hanya dimiliki segelintir orang saja dan tidak sembarangan diberitahukan. Sifat kerahasiaan ini telah banyak digunakan untuk penipuan demi mendapat keuntungan. Tempat yang diyakini paling tepat untuk melakukan ritual pemanggilan ini adalah tempat yang terbuka, agar bau burung gagak yang dibakar menyebar ke segala arah dibawa oleh angin dan bisa mengundang genderuwo mendatangi tempat tersebut. [Wikipedia.com]
Selagi Bayu dan Vina membakar sate gagak tersebut. Mbah Seno mulai merapalkan mantra dibantu oleh Roni dan Ilham. Sementara Dava menyiapkan sate gagak yang sudah matang. Aroma sate gagak mulai tercium, mulai membuat udara di sana semakin dingin. Dava yang mulai menggigil, berjalan mendekat ke arah Vina dan Bayu untuk menghangatkan diri.
Mbah Seno masih terfokus membaca mantra diikuti Roni dan Ilham. Kedua remaja tersebut awalnya merasa ada yang aneh seakan mereka sedang dikelilingi oleh sosok lain. Mereka dilarang membuka mata hingga Mbah Seno memerintahkannya. Suasana semakin membuat para pemuda itu merinding. Bayu menarik Vina untuk mendekat pada dirinya. Dava juga mendekatkan diri para Vina dan Bayu sehingga gadis itu berada di tengah-tengah mereka.
"Jangan ada yang melihat." Ucap Mbah Seno.
Vina, Bayu dan Dava yang Masu membakar sate gagak itu menurut. Mereka menundukkan pandangan sehingga tak bisa melihat siapa yang berada di hadapannya saat ini. Sosok tersebut mengerang disambut tangisan seorang perempuan yang bersama dengan dirinya. Perempuan itu memakai pakaian semacam gaun pernikahan yang lusuh. Kainnya terbuat dari kain kafan yang sudah kotor terkena tanah.
"SATEEE...." Ucap sosok hitam itu. Ia membopong perempuan itu di tubuhnya dan mulai berjalan menuju tiga pemuda yang masih menundukkan pandangan mereka.
Saat sosok hitam berbulu lebat itu mendekat, Mbah Seno berteriak. "JIKA KAMU INGIN MENIKMATI SATE INI. MAKA MENJAUH DARI DESA INI DAN LEPASKAN GADIS ITU!"
"TIDAK!!! DIA AKAN MENJADI ISTRIKU!!" Kata sosok itu yang memeluk gadis itu sangat erat.
"Kalian berbeda. Dia manusia dan kamu adalah Jin." Ucap Mbah Seno.
Pria tua itu menatap sosok makhluk mengerikan tersebut. Disaat para pemuda itu membaca mantra, Mbah Seno dengan berani mengangkat pandangannya untuk bisa menatap langsung pelaku yang sudah membuat resah desa ini. Ia sudah muak melihat para remaja dan gadis muda dikotori oleh genderuwo ini.
"TIDAK AKAN AKU MENGEMBALIKAN DIA. DIA ADALAH WANITAKU! PUJAANKU! MAYA!!!"
"Dia bukan Maya." Tiba-tiba saja seorang gadis yang sedari tadi menundukkan pandangannya berbicara. Bayu dengan segera membungkam mulut gadis itu. Namun, sosok itu malah menjatuhkan Yuna dan menatap ke arah gadis berambut pendek tersebut.
"Yang dia katakan benar." Kata Mbah Seno. Makhluk mengerikan itu kembali menoleh ke arah pria tua itu. Lalu, kembali ke arah gadis berambut pendek tersebut.
"Dia adalah Maya..." kata sosok genderuwo tersebut.
"Aku... Yuna." Ucap gadis dengan gaun pengantin itu. Ia terjatuh cukup keras hingga lengannya terluka.
Genderuwo itu langsung menoleh ke arah gadis berambut panjang tersebut. Melihat dia terluka, sosok hitam itu segera menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Seolah ia tak ingin kehilangan gadis itu. Namun, seperti yang dikatakan oleh Mbah Seno. Gadis itu bukanlah Maya.
Mbah Seno mendekati genderuwo yang memeluk Yuna. Ia menarik tubuh gadis itu dari hadapan sang genderuwo. Sosok hitam itu tak terima. Ia berusaha mendekat untuk mengambil kembali gadis itu. Akan tetapi, pria tua itu jauh lebih gesit darinya. Dia bahkan bisa menghindari serangan dari genderuwo.
"Jika kamu melepaskan Yuna, maka saya akan berikan kamu sate gagak itu. Dan pergilah dari desa ini." Kata Mbah Seno.
"TIDAK AKAN! DIA WANITAKU!!!"
"DIA BUKAN MILIKMU!! KALIAN BERBEDA ALAM. KAMU ADALAH JIN! DAN DIA ADALAH MANUSIA!" Kali ini Mbah Seno mengucapkannya dengan nada tinggi.
Sosok tersebut menatapnya dengan tatapan tajam. Ia tahu bahwa dia dan gadis itu berbeda. Tapi, hatinya merasa yakin bahwa gadis itu adalah kekasihnya. Mereka akan menikah. Tapi, kenapa sampai saat ini dia hanya ingin menikah, mendapatkan banyak sekali rintangan?
"Makanlah." Kata gadis berambut pendek itu. Hatinya merasa perih saat berani menatap ke arah sosok mengerikan tersebut. Bayu menyodorkan piring berisi sate gagak.
Saat sosok itu mendekat, tubuhnya malah mengecil. Membuat ukurannya menjadi seukuran anak-anak berusia 6 tahun. Gadis berambut pendek itu memberikan sate gagak dan menepuk bahu genderuwo. Perasaan perih yang ia rasakan dari sosok ini sangat kuat. Namun, hal tak terduga terjadi saat ia menepuk bahu genderuwo itu. Seakan ia bisa melihat segalanya dari sosok hitam itu.
...
"Maya!!" Panggil seorang pria berkulit sawo matang sembari berlari ke arah kekasihnya.
Maya, perempuan cantik yang merupakan kembang desa ini. Berusia sekitar 16 tahun. Dan pria itu berusia 17 tahun. Meskipun ia tak tampan, namun hatinya sangatlah baik. Nama pria itu adalah Danang. Ia sangat mencintai Maya. Bukan karena fisik, melainkan hatinya. Begitu juga dengan Maya yang menerima Danang apa adanya.
Danang bukankah pria tampan di desa ini. Danang adalah pria yang sangat baik. Sangat menjaga wanita dan menghormatinya. Hubungan mereka sangatlah baik. Bahkan banyak yang mengatakan hubungan mereka sangat romantis sehingga membuat siapa saja iri dengan dua kekasih ini.
"Danang!" Maya pun berlari dan memeluk kekasihnya.
Mereka tersenyum dan tertawa bersama. Menikmati indahnya pedesaan dengan udara yang segar. Hari ini, mereka berniat untuk jalan-jalan bersama. Pedesaan dengan matahari tenggelam adalah hal yang sangat indah. Danang dan Maya menikmati pemandangan matahari tenggelam di pantai yang dekat dengan pedesaan. Mereka duduk di pinggir pantai sembari membicarakan masa depan.
Membicarakan bagaimana mereka akan segera lulus sekolah dan bekerja, lalu menikah dan hidup bersama dengan orang yang mereka cintai. Mereka berniat untuk membuka usaha bersama di kota dan tinggal di sana. Begitulah yang dibicarakan anak muda saat mereka masih berpacaran.
Matahari sudah tenggelam dan digantikan oleh sinar rembulan dan bintang-bintang yang bersinar di langit. Danang mengantar pulang Maya dengan sepedanya. Danang bukanlah dari keluarga berada. Akan tetapi, Maya yang berasal dari keluarga berada dengan paras cantik dan manis mau menerima Danang dengan apa adanya.
Namun, malam itu adalah malam terakhir mereka bertemu. Kenapa demikian? Ada tragedi yang menimpa mereka berdua pada malam itu. Danang meninggal dunia akibat terbunuh di dekat salah satu pos ronda yang dekat dengan banyak sekali pohon Gayam di sana. Malam itu, mereka dicegat oleh beberapa orang begal. Mereka mengambil harta benda dan melakukan pemerkosaan pada Maya didepan Danang.
Pria itu berusaha menyelamatkan kekasihnya. Akan tetapi, Danang malah dipukuli dan ditusuk oleh pisau dibagian perut, dada serta kepalanya. Sehingga ia benar-benar tewas mengenaskan. Malam itu juga, Maya juga mati terbunuh dengan keadaan telanjang bulat tanpa sehelai pakaian dan bagian tubuh yang terpisah. Gadis itu ditemukan di dalam kantong plastik yang dibuang ke sungai desa. Setelah kematian Danang, tiga hari kemudian giliran mayat Maya ditemukan oleh salah satu warga.
Roh Danang tak tenang di alamnya karena mencari kekasihnya yang ternyata sudah di makamkan. Ia berniat membalaskan dendamnya dengan menjadi genderuwo dan memperkosa serta menghamili anak gadis yang ada di desa ini. Hanya untuk membalaskan dendamnya.
...
"Vin! Vina!" Bayu dan Dava berkali-kali menggoyang-goyangkan bahu gadis itu hingga ia tersadar.
Nafas gadis itu terengah-engah seolah terjadi sesuatu. Vina bisa melihat segalanya dari sosok tersebut. Bagaimana para penjahat itu membunuhnya dan memperkosa kekasihnya. Semua terlihat jelas. Seolah Vina yang melihatnya. Dilihatnya sosok genderuwo itu, ia menikmati sate gagaknya dengan perasaan pedih di matanya.
"Danang." Panggil Vina yang membuat sosok itu menoleh.
Sosok yang mengerikan. Bahkan Vina ingin sekali menghindari tatapan itu. Tapi, perasaan tak tega sekaligus kecewa tercampur aduk pada diri gadis itu.
"Maya sudah meninggal dunia. Dia tenang di alamnya." Ucap gadis itu.
"Bagaimana kau tau?" Tanyanya.
"Aku bisa melihat yang terjadi padamu. Dan... aku... jujur saja aku kecewa. Aku kecewa karena kamu membalas dendam dengan merenggut masa depan anak-anak perempuan di sini. Tapi, aku juga sedih dengan apa yang terjadi di masa lalumu."
"Lalu? Apa kau berniat mengusirku?!" Tanya sosok mengerikan tersebut.
"Iya. Aku ingin kamu melupakan semua yang terjadi dan kembalilah ke alammu."
Sosok hitam itu kembali merubah dirinya menjadi lebih besar dari sebelumnya. Ia melemparkan piring berisi sate gagak dan berjalan menuju ke arah gadis itu. Tentu saja Vina merasa takut, bahkan Bayu berusaha untuk menarik gadis itu mendekatinya. Namun, gadis itu tak gentar. Ia malah menatap sosok hitam itu seolah menantangnya.
"Dengar, tak ada gunanya kamu melampiaskan dendammu kepada orang yang tidak bersalah. Lupakan dan relakan apa yang sudah terjadi di masa lalu. Kembalilah ke depan karena itu masa depanmu."
"Tapi, aku sudah mati!" Kata roh tersebut.
"Lantas? Apa kamu hanya roh, kamu tidak bisa memiliki masa depan? Apa kamu tidak memiliki masa depan untuk kembali ke alammu yang sebenarnya? Kenapa kamu masih terus berada di masa lalu? Kenapa kamu tidak merelakannya?" Tanya gadis itu.
Genderuwo itu terdiam. Ia menoleh ke arah Yuna yang dibantu berdiri oleh Dava. Ilham dan Roni masih merapalkan mantra. Sementara Mbah Seno berdiri didepannya. Ia menatap genderuwo itu dengan aura kebapakan yang beliau miliki. Sangat jelas dan menenangkan. Sekaligus mengerikan.
"Kembalilah, Nak. Kembalilah ke asalmu. Kumohon biarkan anak perempuan di sini memiliki masa depan mereka." Ucapnya.
Genderuwo itu perlahan-lahan berubah menjadi sosok pria yang tampan. Sosok yang sebenarnya sebelum ia meninggal dunia. Ia tak lagi bisa menyentuh manusia seperti saat dia menjadi genderuwo. Perlahan tubuhnya menghilang bersamaan dengan kunang-kunang yang mengitari dirinya. Sosok itu lenyap di kegelapan.
...
Keesokan paginya, Yuna mulai merasa mendingan setelah kejadian semalam. Ia tak lagi memakai pakaian ketat, melainkan pakaian yang tertutup dan panjang. Bahkan ia meniru gaya berpakaian Vina. Menurutnya, gadis itu sangat manis. Sehingga ia ingin meniru cara berpakaiannya. Kalau soal pemikiran dan hati Vina, ia tak bisa menirunya karena hanya gadis itu yang memilikinya.
"Sarapan sarapan! Bentar lagi berangkat ke pantai lagi. Ini hari terakhir kita. Jadi, nanti tolong rapikan barang dan besok pagi kita berangkat ke lokasi selanjutnya." Kata Bayu yang memimpin sarapan pagi hari.
"Baiklah." Ucap teman-temannya.
Bayu tersenyum. Diliriknya gadis berambut pendek tersebut. Jantungnya berdebar saat melihat gadis itu makan. Kedua pipi gadis itu naik turun seolah mengikuti cara makannya. Ingin sekali ia mencubit pipi itu. Apalagi semenjak kejadian semalam, itu pertama kalinya ia menyentuh Vina dan menariknya ke dalam pelukannya. Ah itu harusnya tidak terulang lagi sebelum menikah.
"Hari ini kita bakal ada acara perpisahan bareng warga desa." Kata Vina.
"Oh iya?" Tanya Ilham dengan mata berbinar dan penuh semangat. Gadis itu mengangguk.
"Malam ini akan diadakan perpisahan kita di depan penginapan. Sekaligus buat merayakan kelahiran cucu beliau yang lahir tadi pagi."
"Alhamdulillah. Ngomong-ngomong, tadi pagi aku denger kabar Ibunya Syifa juga lahiran." Kata Dava.
"Siapa itu?" Tanya Roni.
"Ada deh. Ntar malem dia bakal ke sini bareng keluarganya."
Mereka tertawa bersama. Malam harinya, Vina dan Bayu melihat dua bayi yang baru saja datang ke dunia ini. Adik Syifa adalah perempuan, Astia. Sementara cucu Mbah Seno adalah laki-laki, Aryan. Saat Vina menggendong Astia, dan Bayu menggendong Aryan. Dua bayi itu saat didekatkan, malah saling bergandengan tangan.
"Bay, sadar gak sih?" Tanya gadis berambut pendek itu.
"Sadar kalau kita cocok buat menikah? Itu sih udah."
"Bukan itu. Tapi, bayi ini. Bukannya Aryan mirip seseorang?" Tanyanya yang teringat dengan sosok hitam, dimana sosok itulah yang menjadi pelaku keresahan desa ini.
"Iya juga."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments