Gadis berambut panjang itu kembali ke kamarnya. Lalu mengunci pintu dan merebahkannya badan di atas tempat tidur.
"Males ah. Enak gini kalau tidur." Ucapnya dengan enggan.
Yuna memejamkan matanya karena kantuk mulai menghampiri dirinya. Rasa lelah seharian berada di dalam mobil, membuat badannya terasa sangat pegal. Terdengar suara jangkrik di luar rumah penginapan yang berada pada area sawah. Jangkrik-jangkrik bernyanyi riang bersamaan dengan para katak.
Diikuti pula suara burung gagak yang bertengger di atas atap rumah. Sementara burung hantu bertengger di atas pohon apel penginapan. Saling sahut menyahut seolah bercerita tentang yang dilalui mereka para hari ini.
Yuna tertidur lelap di kamarnya tanpa sehelai selimut menutupi dirinya. Hingga gadis itu terbangun di tengah malam saat mendengar suara aneh. Seolah suara seseorang membuka pintu.
"Siapa sih?" Tanyanya sembari berjalan dengan setengah mengantuk ke arah pintu.
Pintu kamar Yuna terkunci semenjak ia kembali dari kamar Vina.
"Masih ke kunci kok. Aku tadi kayak denger suara orang buka pintu deh. Apa salah denger ya?" Ucapnya.
Gadis itu membuka pintu kamar dan melihat lorong-lorong gelap yang hanya diterangi dengan cahaya lilin. Tak ada siapapun di sana. Bahkan kamar-kamar lain juga tertutup. Yuna mengerutkan dahinya sembari menoleh ke kanan dan kiri.
Tak ada siapapun. Gadis berambut panjang itu kembali masuk ke dalam kamar serta mengunci pintunya. Perasaan aneh mulai mengikuti dirinya. Ia kembali ke tempat tidur. Namun, kini kedua telinganya mulai mendengar suara-suara aneh.
Raaaarrr.....
"Suara apa itu?" Tanya Yuna. Ia pun menoleh ke belakang. Tak ada siapapun.
Ia menoleh ke arah pintu, juga tak ada siapapun. Pintu masih tertutup. Yuna pun berjalan menuju jendela, membuka sedikit tirainya dan melihat keadaan sekitar. Seseorang tinggi besar tampak berdiri menghadap ke kamar gadis itu.
Perasaan takut mulai menghampiri dirinya. Bulu kuduk Yuna berdiri saat sosok tersebut menatap ke arahnya. Sosok tersebut menyeringai di tengah kegelapan malam yang hanya diterangi sinar rembulan.
Yuna segera menutup tirai kamarnya dan mulai bersembunyi di bawah selimut. Pikiran gadis itu masih berputar wajah menyeramkan dari sosok tersebut. Ia benar-benar merasa takut. Suasana hening dengan jarum jam yang berdetak setiap detiknya, membuat jantung Yuna berdebar sangat kencang. Ia tak bisa kembali tidur dengan nyenyak setelah apa yang dia lihat.
"Tolong.... siapapun." Ucapnya.
....
Keesokan paginya, Vina menemukan Yuna keluar dari kamarnya dengan kelopak mata yang menghitam. Mereka berniat untuk sarapan terlebih dahulu sembari menunggu yang lain keluar dari kamar mereka.
"Yuna, selamat pagi!" Sapa Vina dengan senyum hangatnya.
"Pagi, Vin." Jawab Yuna dengan suara lemas.
"Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Vina dengan khawatir jika Yuna sakit.
"Gak apa-apa kok. Vin, semalem aku lihat sesuatu." Kata Yuna sembari menatap ke arah Vina yang sedikit lebih pendek darinya.
"Ada apa?"
Sebelum menjawab, Yuna menoleh ke sana kemari berharap tak ada yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Gadis itu pun menghela nafas sebelum akhirnya berbicara kepada Vina.
"Semalem aku denger suara aneh. Terus aku lihat di jendela ada sosok hitam gede tinggi gitu. Serem."
"Sosok hitam? Kayak gimana?"
"Berbulu lebat kayak monster. Itu makhluk apa sih?" Tanya Yuna yang semakin ketakutan saat menceritakan kejadian semalam.
Vina berpikir apa yang dimaksud oleh sahabatnya ini. Seingat Vina, semalam ia tidur larut malam hingga jam 2 dini hari. Ia tak mendengar suara apapun dan saat melihat ke arah jendela hanya untuk melihat sinar rembulan, tak ada apapun di yang ia temui dibawah jendela.
"Kamu sudah bertemu dia?" Tiba-tiba saja istri dari Mbah Seno muncul di belakang mereka berdua.
"Eh Mbah, selamat pagi." Sapa Vina dan Yuna bersamaan.
"Selamat pagi. Yang kamu temui semalam itu adalah genderuwo. Mbah Seno sudah memberitahu kamu kalau harus menjaga cara berpakaianmu, kan?"
Yuna mengangguk.
"Kamu melihat dia karena dia sedang bernafsu untuk menyetubuhi kamu. Sebaiknya, malam ini kamu tidur dengan pakaian panjang dan longgar." Ucap wanita tua itu dengan suara lembut.
"Iya, Mbah."
Genderuwo adalah mitos Jawa tentang sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar dan kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya ditutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh. Genderuwo dikenal paling banyak dalam masyarakat di Pulau Jawa. Asal usul genderuwo dipercaya berasal dari arwah orang yang meninggal secara tidak sempurna, bisa akibat penguburan yang tidak sempurna ataupun kecelakaan sehingga arwah orang tersebut merasa penasaran dan belum mau menerima kematiannya.
Genderuwo sendiri dianggap sebagai makhluk mesum yang suka melakukan hubungan intim dengan para perempuan manusia. Sehingga beberapa wanita yang pernah melakukan hubungan intim dengan Genderuwo, mereka akan memiliki anak dengan makhluk mengerikan tersebut.
Mbah Seno, selaku pemilik penginapan serta pemimpi dari desa tersebut. Mengatakan bahwa pelaku pemerkosaan dan kehamilan diluar pernikahan adalah ulah dari genderuwo ini. Akan tetapi, para warganya tidak mempercayai hal tersebut. Banyak gadis remaja yang berpakaian tak senonoh dan menunjukkan lekuk tubuhnya. Hingga pada malam hari, genderuwo akan mendatangi mereka dan mulai melakukan hubungan intim tanpa disadari oleh para gadis itu.
Genderuwo dipercaya tinggal di sebuah pohon Gayam. Tumbuhan ini berbentuk pohon, dengan tinggi mencapai 20 m, diameter kanopi sekitar 15-16 m. Kayunya bermanfaat untuk membuat perlengkapan rumah seperti tempat tidur. Daun gayam berwarna hijau tua, letak anak daunnya berselang-seling. Ada pula yang berkata bahwa, sejak dahulu kala, pohon sawo kerap dikait-kaitkan dengan keberadaan makhluk halus genderuwo, Pohon ini menjadi tempat tinggal makhluk gaib kasta tinggi. Penunggu pohon ini terkadang berwujud seperti punokawan dalam pewayangan.
Mbah Seno berusaha menebang pohon sawo, pohon Gayam dan pohon lain yang dipercaya sebagai sarang genderuwo. Namun, tetap saja cara itu tak berhasil.
Mbah Seno selalu melakukan ritual pada malam Jumat untuk menyingkirkan genderuwo itu dari desanya. Akan tetapi, justru yang ia lakukan gagal dan malah membuat korban pemerkosaan dari genderuwo semakin meningkat. Warga juga tak bisa diajak kerja sama. Sehingga Mbah Seno mulai menyerah untuk menyingkirkan genderuwo itu.
...
"Wuhuuuu!!! Akhirnya kita ke pantai!!! Weh keren gila!" Kata Dava sembari mengambil potret pantai.
Roni, Yuna dan Ilham berjalan di belakangnya dengan membawa barang untuk bersantai. Sementara Vina dan Bayu berada di belakang sendiri.
"Gimana tidurmu semalem?" Tanya Bayu dengan gugup. Ia tak berani menatap Vina karena takut jantungnya bisa lepas. Bercanda.
"Nyaman kok." Jawab Vina dengan senyum manisnya.
Mereka mulai mendirikan tenda dan menyiapkan makan siang. Yuna dan Vina ditugaskan untuk memasak. Sementara anak laki-laki ditugaskan untuk mendirikan tenda. Setelah semua selesai, mereka mulai berenang menuju lautan. Hanya Bayu dan Vina yang hanya duduk di tenda.
Hari ini Vina sedang datang bulan, sementara Bayu memang mencari kesempatan untuk bisa bersama gadis yang ia sukai. Diliriknya gadis berambut sebahu tersebut. Hanya memakai celana pendek selutut dengan kemeja berlengan pendek. Gadis itu tampak sangat menikmati pemandangan alam pantai ini. Ia tak berhenti mengambil potret melalui ponsel miliknya.
Bayu melihat yang diambil oleh Vina hanya gambar berupa langit pantai berwarna biru muda dengan awan putih menghiasinya.
"Kamu suka langit?" Tanya Bayu yang terfokus pada kamera Vina.
"Iya. Aku suka langit." Jawab gadis itu.
"Banyak juga yang kamu ambil."
"Aku suka langit dengan segala cuacanya." Jawab gadis berambut sebahu itu sembari tersenyum.
Bayu mengangguk. "Apa yang paling favorit menurut kamu?"
"Langit biru."
Bayu kembali mengangguk. Pria berkulit sawo matang itu mengangkat kepalanya dan melihat langit biru yang dipenuhi dengan awan putih. Terlihat sangat indah. Meskipun mata akan sakit melihatnya saat siang hari karena cahaya dari matahari. Diliriknya gadis berambut pendek tersebut. Ia tampak menikmati indahnya langit dan lautan yang berpaduan warna biru.
"Perasaanku padamu seluas lautan biru. Beriku sedikit peluang untuk mengenalimu." Terdengar Dava menghampiri mereka berdua dengan nyanyiannya.
Pria tersebut duduk di sebelah Vina dan mengambil air botol yang diberikan gadis tersebut. Dengan segera ia meminum air mineral pada botol itu.
"Seneng banget nih kayaknya." Ledek Vina.
"Iya dong. Lihat lautan berasa melihat masa depan."
"Apa maksudmu?" Tanya Bayu yang tak paham dengan ucapan Dava.
"Indah." Jawab Dava. Seketika dua orang disebelahnya mengangguk mengerti. Melihat masa depan yang indah. Itu maksud dari ucapannya.
Pria tersebut masuk ke dalam tenda untuk beristirahat. Tidak ada 15 detik, ia sudah tertidur pulas dengan suara dengkuran. Bayu dan Vina yang mendengarnya hanya bisa terkekeh pelan.
"Dia capek banget pasti." Ucap Bayu.
"Iya pastinya. Yang di sana malah sibuk nyari kerang." Kata Vina sembari menunjuk ke arah Yuna, Ilham dan Roni.
Bayu menoleh ke arah yang dimaksud Vina. Mereka tampak mengumpulkan beberapa kerang dan memasukkannya ke dalam ember kecil. Roni yang biasanya sangat emosian dan bersikap paling dewasa. Kini ia mirip seperti anak kecil saat bersama Ilham dan Yuna.
"Roni anteng banget kalau sama mereka." Kata Bayu.
"Benar. Biasanya dia kayak preman." Ucap Vina yang menyetujui ucapan Bayu.
"Dia bisa diatur itu udah bagus sih. Aku capek ngadepin dia kalau udah emosi begitu. Tapi, giliran sama Ilham, dia kayak nurut banget."
"Ilham spek emak-emak sih. Dia kalau marah kan kayak emak-emak yang lagi ngomelin anaknya." Kata Vina sembari tertawa pelan.
"Bener juga. Ngeri tau lihat dia marah begitu. Kayak wah aku aja merinding."
"Berasa lihat hantu." Kata Vina yang disetujui anggukan dari Bayu.
"Bay, ngomong-ngomong tadi Yuna bilang ke aku. Katanya semalem dia lihat genderuwo." Ucap Vina.
Mendengar itu, Bayu terdiam sejenak sembari menatap gadis berambut pendek itu. Sebelumnya dari kasus yang ada di desa ini disebabkan oleh genderuwo. Bayu sudah mengetahui ini sebelumnya dari Mbah Seno sendiri. Semalam, Bayu bertemu Mbah Seno berada di ruang tamu. Saat itu, Bayu hendak untuk kembali ke kamarnya.
Saat itulah, Mbah Seno memberikan saran kepada Bayu sebagai ketua tim Traveler. Pria tua itu meminta tolong kepada Bayu untuk memberitahukan teman-temannya supaya mereka bisa menjaga sikap. Terutama Yuna yang diminta untuk menjaga cara berpakaiannya.
"Gitu ya. Vin, kamu bisa tolong aku?" Tanya Bayu dengan tatapan yang serius saat melihat ke arah Vina.
"Boleh."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 23 Episodes
Comments