Kami meneruskan makan dan segera bergegas berangkat lagi. Di mobil Indra kulihat ada boneka yang cukup besar dijok belakang. Sudah sejak aku naik mobil sebenarnya, boneka itu menarik perhatianku.
Aku menoleh, lalu Indra mengambilnya.
"Buat kamu," katanya.
"Hah! serius nih? wah, makasih ya," kataku sambil memeluk boneka itu. Hadiah pertama dari Indra, yang akan selalu menemani keseharianku nanti. Lagi-lagi bukan tentang benda apa yang ia berikan, tapi karena dia yang memberikan. Apa pun itu pasti akan terasa istimewa.
***
Tak terasa kami sudah memasuki kota. Sebentar lagi sampai ke Kos. Sepanjang perjalanan kami mengobrol ngalor ngidul seperti biasa.Saat sampai depan kos. Kulihat ada Indah yang sudah duduk di halaman depan kosku. Aku segera turun dari mobil. Melihat aku datang, ia melebarkan senyum.
"Hei! Kirain nggak jadi balik sekarang, Nis." kami lalu berpelukan sebagai cara menyambut setelah lama tidak bertemu.
"Balik lah. Indra juga kerja nanti. Yuk masuk. Udah lama, ya? " tanyaku.
"Nggak juga kok, baru aja. Pagi, Pak polisi," sapa Indah ke Indra yang berjalan ke arah kami membawa boneka ku.
"Pagi juga Indah. Tumben pagi pagi udah kesini?"tanya Indra, basa basi.
"Iya. Kangen sama Nisa. Eh, aku ganggu nggak nih?"tanya Indah sambil melirik aku dan Indra bergantian.
"Apaan sih. Yuk-- ah" ku gandeng Indah masuk ke dalam Kos.
Aku tau kalau Indah datang karena ingin curhat. Terlihat matanya sedikit sembab walau sudah ditutupi dengan bedak tapi aku masih bisa membedakannya.Aku sangat mengenal Indah, dia itu yang paling sering curhat kepadaku. Jadi aku sudah hafal gerak geriknya kalau dia sedang ada masalah. Indra berjalan di belakang kami. Terus mengekor karena tujuan kami sama.
"Ndah, kamu masuk dulu aja ya. Aku mau ngomong bentar sama Indra."
Indah mengiyakan lalu masuk ke kamarku, dengan seringai menyebalkan khas dirinya. Walau ia tengah bersedih, tapi tetap pintar menyembunyikan dari orang lain. Aku yakin kalau tadi Indra tidak ada, dia pasti akan berhambur memelukku dan menangis.
Indra tersenyum saat aku menoleh padanya.
"Ndra, Makasih ya buat dua hari ini. Kamu istirahat dulu aja, sebelum berangkat kerja nanti. Indah kayaknya lagi ada masalah,"kataku sambil menatap kamarku.
"Iya, aku tau kok. nggak apa apa Nis. Aku masuk ya, kamu juga istirahat. Ada apa apa kabarin aku," katanya sambil membelai pipiku. Lalu memberikan boneka itu.Aku dan Indra lalu masuk ke kamar kos kami masing masing. Saat aku masuk,Indah kulihat sedang menonton Tv. Aku menghempasksan tubuhku di sebelahnya.
"Ceritanya udah resmi ni?" sindirnya dengan pertanyaan yang harusnya dia bisa menjawab sendiri.
"Hmm. Gitu deh. Indra minta ijin langsung sama keluargaku, Ndah. Nggak nyangka aja dia bisa nekat begitu,"kataku sambil mengelus elus boneka dipangkuanku.
"Asik dong. Berarti dia serius banget sama kamu, Nis."
"Kamu kenapa, Ndah? Kalau ada masalah cerita aja." Langsung ku cecar dia dengan kalimatku barusan.
"Kamu nih kayak dukun aja. Pas tebakan nya." Indah bersandar di bahuku.
Tangisnya pecah seketika. Seperti nya masalah kali ini agak berat. Langsung ku peluk saja dia.
"Nisss... Aku ini kurang apa sih Nis.. Reno.., Niss.."
"Selingkuh?"
"Kok kamu tau?"
"Udah keliatan kali Ndah dari awal kalian jadian kan aku nggak setuju. Kamu inget kan? aku nggak suka sama dia. Auranya dia tuh gelap. Deket dia pasti panas. Dia juga licik." cibirku.
"Tapi Nis..., aku udah ngelakuin apa aja buat dia.."
"Maksudnya?"
"Hubunganku sama dia udah jauh Niss.."
"Astagfirulloh haladzim Ndah... Kok bisa?"
"Nggak tau lah Nis. Semua berjalan gitu aja. Tapi kemaren pas aku ke kos nya. Aku pergokin dia lagi gituan juga sama cewek lain. Sakit banget hatiku Nis. Dia jahat banget ke aku Nis!"katanya.
Aku memeluknya makin erat . Berusaha menguatkan nya terus. Yang Indah butuhkan sekarang adalah tempat untuk curhat. Aku juga tidak boleh terlalu menyalahkannya.
"Mau aku bikinin coklat anget nggak Ndah?"
Indah mengangguk sambil menyeka air matanya.
Aku membuatkannya minuman agar indah lebih tenang.
Tok tok tok..
pintu kos ku diketuk.
"Ndah...., tolong bukain donk"
Indah lalu membuka pintu, ternyata Indra.
"Nis, Babang Indra nih.."
Aku berlari kecil ke pintu depan.
"Mau berangkat?" kulihat Indra sudah memakai pakaian dinasnya.
"Iya, aku kerja dulu ya. Nanti aku pulang agak maleman deh Nis kayaknya"
"Oh gitu. Iya nggak apa apa. Hati hati ya Ndra.."
"Kamu juga. Hati hati ya.."lalu Indra mengecup keningku dan pergi ke luar.
"Cieeee cieeee.... Romantis banget."ledek indah.
"Au ah.."
"Ih Nisa malu.. Hehhehe" Indah tertawa lepas.
Kami pun menikmati secangkir coklat hangat sambil menonton film, sembari menunggu waktu , karena kami kuliah siang hari ini.
***
Indah berangkat kuliah bersamaku. Kulihat dia juga sudah mendingan. Tidak terlihat sedih lagi.
Di kampus Ferly dan Feri sudah datang dan sedang asik ngobrol .
"Eh..., Ada kabar bagus nih. Nisa sama Pak polisi udah jadian lhooo..."kata Indah heboh sekali.
"Waaaahhh.... Selamet Nis."Ferly memelukku.
Feri pun tak lupa menyalamiku.
"Makasih ya.. Eh, Nindi mana?"
"Oh iya, bolos kayanya nih. Tadi bikin status BBM, katanya lagi OTW Jogja. Tapi aku BBM masih ceklist"
"Ya udah deh. Yuk masuk kelas."
***
Saat kami akan ke Kantin. Indah berhenti berjalan dan menatap ke kantin dengan tatapan dingin.
Lalu berjalan lagi lebih cepat.
Ternyata ada Reno dengan menggandeng perempuan lain dari fakultas sebelah.
Indah benar benar tersulut emosi lalu mendekat ke Reno. Kulihat mereka terlibat cek cok yang membuat semua orang dikantin memperhatikan mereka.
Samar samar bayangan hitam muncul dibelakang Reno.
"Astagfiruloh haladzim..." pekikku
"Kenapa Niss?"Ferly heran melihatku.
"Feriii... , kamu samperin Indah.. Bawa ke sini. Cepet!!"
" Beres bu.."
Feri langsung menggandeng Indah. Walau Indah berontak tetapi tenaga Feri jelas lebih besar. Ferly juga membantu menenangkan Indah.
Aku berjalan ke hadapan Reno.
"Kalau mau pake ilmu hitam! Inget sama dosa!!!"kataku lantang ke arahnya.
Reno kaget. Dia pasti tidak menyangka aku mengetahui perbuatannya.
Lalu kami pergi dari kantin. Nggak jadi makan. Udah males rasanya.
Kami memutuskan pergi ke kos Indah saja.
Indah menangis terus.
Sudah kami hibur bagaimanapun, hasilnya sama.
Cewek kalau udah nangis emang susah berhentinya. Ibarat mata air tuh, mengalir terus.
Kalau disuruh berhenti malah tangisannya makin menjadi. alhasil, mending biarin aja. Kalau udah capek kan berhenti sendiri. Hehe.
Ferly memeluk Indah. Mencoba membuat Indah agar lebih tenang. Ferly memang sosok yang keibuan, sabar dan paling dewasa diantara kami. Hanya saja dia terkadang manja sekali.
Aku duduk disebelah Feri yang masih menatap Indah iba.
"Nis.., kamu bilang Reno main ilmu hitam?" bisik Feri.
"Hu um.. Makanya tadi aku suruh kamu seret Indah. Kalau diterusin malah Indah yang celaka Fer."kataku berbisik juga.
"Stres ya dia. Nggak nyangka ya.., kita harus waspada Nis. Terutama kamu. Takutnya dia nggak terima soal tadi."
Bener juga ya kata Feri. Kadang aku memang tidak berfikir panjang kalau mau berbuat sesuatu.
Krinnggg!!
Indra calling.
"Asalamualaikum"
"Wa alaikum salam.. Nis.. Kamu lagi dimana"
"Aku di kos Indah nih sama yang lain."
"Oh gitu.. Ya udah, hati hati ya.. Aku kangen."
"Hmm.. Iya.. aku juga Ndra. Kamu pulang jam berapa?"
"Jam 7 an Nis. Gimana?"
"Nanti aku jemput sekalian ya di Kos Indah. Aku mau disini dulu aja nemenin Indah"
"Iya sayang.., nanti ku jemput. Ya udah aku lanjut lagi ya. Assalamualaikum..,"
"Wa alaikum salam."
Aku memutuskan di kos Indah sampai nanti Indra menjemputku.
Ferly pun sama. Hanya Feri yang balik ke kosnya. Karena dia juga ada perlu.
***
"Eh.., kita piknik yuk kemana gitu. Minggu depan kan udah libur.."ajak Ferly.
"Gimana Ndah?" tanyaku ke Indah.
"Ayok aja. Kemana donk." Indah sudah agak mendingan, terlihat dari responnya dengan obrolan kami barusan. Udah nggak nangis nangis juga.
"Camping aja di Bumper.." ide Ferly nggak banget deh, beneran.
"Ih ogah.. horor. Males aku." tolakku.
"Kalau gitu Pantai aja yuk. Terus kita sewa vila."saran Ferly.
"Nggak perlu sewa. Nginep di vila om ku aja. Gratis..."Indah memberi ide.
"Horeee..., Oke deh.., Kita berangkat sabtu ya. Eh Nis.., Pak polisi ajak juga sekalian."pinta Ferly.
"Eum.. Nggak apa apa?"tanyaku memandang Indah
"Ih kamu Nis.. Ya nggak apa apalah.. aku juga mau ajak temen yang lain gimana? biar seru"kata Indah.
Kami pun sepakat akan berangkat sabtu.
Jadi yang akan ikut nanti Aku, Indra, Ferly, Feri, Indah, Nindi, Danang, Rizki, Galih dan Vita.
***
Pukul 19.00 tepat Indra sudah ada didepan kos Indah. Aku pun pamit ke mereka. Ferly memutuskan akan menginap, jadi aku sedikit lega Indah tidak sendirian di kos.
"Kita makan dulu ya, sebelum pulang."ajak Indra.
"Boleh.."
Kami makan di warung tenda lamongan dipinggir jalan.
"Indah gimana Nis?"
"Yah gitu lah.., masih sedih kadang. Gimana nggak sedih coba Ndra. Masa Indah liat Reno dikosnya lagi gituan sama cewek lain."kataku ceplas ceplos.
Indra terkekeh.
"Gituan gimana sih?"Indra pura pura tidak paham.
"Kamu nih ah.. Becanda aja! "aku memukul lengannya.
Aku melihat ada orang yang barusan masuk ke tenda ini juga, dan aku merasa mengenalnya.
Ah Reno, bersama wanita yang tadi.
Aku menatapnya tajam. Kulihat Reno pun demikian. Bayangan hitam yang dibelakangnya muncul lagi.
Aku ingat kemarin Kak Arif sempat mengajariku beberapa doa jika berhadapan dengan jin kafir seperti itu.
Dalam hati aku merapalkan doa yang diajarkan Kak Arif. Aku tampak tidak takut sedikitpun dengan makhluk itu. Rasa marah lebih kuat dari rasa takutku.
"Niss.." Indra memanggilku.
Aku memberinya kode untuk diam sebentar.
Dia ikut menatap Reno.
Tak lama Reno pergi bersama wanita itu. Risih karena kami melihatnya seperti tadi.
Aku baru bisa bernafas lega.
"Alhamdulillah.."
"Siapa tadi Nis? kamu sebel banget kayaknya."
"Itu Reno...,hmm.. tadi ada bayangan hitam dibelakangnya. Untung Kak Arif kemaren sempet ngajarin aku beberapa doa."
"Kamu ati ati Nis. Jangan terlalu ikut campur terlalu jauh. Aku takut kamu yang dicelakain dia."
"Iya Ndra.."
Kami segera menyantap makanan yang sudah ada di meja kami.
"Oh iya Ndra. Sabtu besok kamu ada acara nggak? sampe minggu?"tanyaku.
"Nggak ada Nis. Kenapa? mau ngajak kencan?" tanya Indra melirikku penuh arti.
"Temen temen ngajak main ke vila nya Indah, deket banget sama pantai. Kamu bisa ikut nggak"tanyaku penuh harap.
"Eum..., Inshaa Allah bisa. Asal nggak nyampe senin aja ya.."
"Paling minggu malem kita balik Ndra."
"Ya udah, aku ikut." Selesai makan kami pulang ke kos, Indra juga sepertinya sudah lelah.
***
Aku segera masuk kamarku begitu Indra pamit juga ke kamarnya.Aneh. Hawa kamarku lain. Terasa panas sekali. Ada yang tidak beres. Aku membaca beberapa doa sambil berjalan masuk kamar.
Dan benar saja, aku melihat ada sosok hitam berdiri di dekat Tv.
"Astagfirullohhaladzim,"
Sosok itu semakin mendekat lalu seketika sekelilingku berubah gelap.
Aku mulai bisa melihat sedikit demi sedikit. Aku ada disebuah hutan. Apa ini mimpi? Rasanya tadi aku belum tidur.Aku melihat makhluk hitam itu ada di belakangku dengan menunjukkan kuku kuku nya yang panjang dan tajam. aku berlari masuk ke hutan mencoba menghindarinya.
Makhluk itu makin mendekat walau aku lari sekuat tenaga. Dia berjalan tapi terlihat cepat sekali.
Ya ampun aku dimana.
Lalu 'sreeet' lenganku terasa sakit karena cakarannya..
Ternyata makhluk itu sudah ada di depanku. Aku lari lagi. entah kenapa aku lupa semua doa yang kubaca tadi. Aku benar benar panik. Takut sekali. Tidak kutemukan 1 pun orang di sini. Seakan hanya ada aku dan makhluk itu di sini.Aku masih berlari terus sampai kaki ku lelah. Tenagaku hampir habis.
Tiba tiba makhluk itu sudah ada di dekatku.
"Astagfiruloh haladzim ...."aku seakan tersadar lalu dalam hati aku membaca ayat kursi dan surat pendek lain nya. Dia berhenti mendekat lalu agak menjauh dariku.
Aku mendengar suara orang mengaji tapi terasa jauh sekali. Sedangkan makhluk itu sudah hilang. Aku mencari sumber suara itu.. makin lama makin dekat.Ada sebuah cahaya di ujung sana. Aku berlari dengan sisa tenagaku untuk bisa sampai di sana.
"Hah!" Aku seperti habis keluar dari dalam air. Nafasku seperti akan habis.
"Nisaaa. Nis ... kamu nggak apa apa?" terdengar suara Papah, Kak Adam, Indra dan teman teman ku di sekelilingku. Saat ku buka mata mereka memang nyata.
"Alhamdulillah." kulihat juga ada Kak Arif di sini.
"Kamu udah sadar?" tanya Papah sambil memelukku.
"Aku kenapa sih? kok pada kumpul di sini?" tanyaku bingung
"Indra nemuin kamu pingsan di kamar, terus bawa kamu ke Rumah Sakit. Kak Adam dikabarin langsung ke sini sama Papah," jelas Kak Adam.
"Astagfirulloh. Aku pikir aku nggak bisa balik lagi. Aku takut banget Kak. Aku di mana sih tadi? aku dikejar kejar makhluk itu. Dia mau nyelakain aku," terangku masih agak panik.
"Udah nggak apa apa kok, Nisa." kata Kak Arif.
"Reno." kataku pelan.
"suatu saat nanti pasti orang yang melakukan ini bakal minta maaf sama kamu, Nis," kata Kak Arif lagi.
"Kakak bingung mesti gimana kemarin, kakak telfon Yusuf, terus Yusuf ngabarin Arif. untung Arif bisa dateng," terang Kak Adam.
"Makasih ya Kak Arif."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Yaya Puja
setuju
2024-09-08
0
Desthia
lagian zaman sekarang banyak tuh yg lulusan pondok pesantren pacaran....jd jgn julid ya kalo g suka cerita ny skip aja gampang g perlu capek ngetik komentar
2023-03-29
2
Fitri wardhana
kyaknya si arif naksir nisa deh🤔
2022-07-26
0