Pukul 06.30 mataku baru benar-benar terbuka. Alhasil aku kesiangan karena semalam pergi keluar dengan Indra, dan baru kembali ke Kos saat hampir subuh. Segera bergegas mandi dan tanpa sarapan aku berangkat ke Kampus. Sudah hampir 15 menit aku menunggu taksi atau angkutan umum lain. Namun hasilnya nihil.
Ponselku bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
[Udah bangun, non?]
[Ahh ... aku kesiangan nih.]
[Memangnya kamu lagi di mana.]
[Nunggu taksi depan Kos.]
Lama Indra tidak membalas lagi. Aku masih sibuk tengak tengok. Karena aku harus cepat-cepat sampai kampus.
Tak lama ada mobil berhenti di depanku. Mobil yang sudah ku kenal dan sangat kuhafal.
Mobil Indra.
"Ayo masuk. Aku anter, daripada telat."
Indra sudah memakai seragamnya. berarti dia juga akan berangkat bekerja pagi ini. Aku tersenyum dan segera masuk ke mobilnya. Dia bagai dewa penyelamat bagiku. Ah, untung saja.
"Alhamdulillah. Cepet, Ndra. 10 menit lagi kelas ku mulai," kataku agak panik.
"Buset kamu, Nis. Mepet banget bangunnya."
"Iya, alarm hape cuma aku matiin
terus tidur lagi. Hehe. "
Indra hanya geleng-geleng kepala dan kembali memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jantungku berdetak lebih cepat.
Kami diam beberapa saat dengan pikiran masing-masing.
"Ndra ... Pernah nggak sih, ada polisi kena tilang?" tanyaku dengan polosnya.
Hal itu mampu membuat tawa Indra meledak.
" Ya ada, aku nih paling nanti kalau ketemu polantas," katanya sambil menahan tawa yang masih ingin dia luapkan.
" Maaf, ya, kamu pakai repot nganterin aku segala. Kamu juga mau kerja, kan?"
"Nggak apa-apa, Nis. Tadi emang aku mau lewat depan kos kamu. Kasian kalau kamu telat. Aku yakin kamu bangun kesiangan gara-gara semalem kita pergi."
Insting dia emang tepat.
"Eh terus kamu telat nggak nih?"
"Santai aja. Eh kamu belum sarapan juga, ya?"
"Belom, Ndra. Nanti aja gampang. habis kuliah aja deh. Di kantin."
"Udah mandi belum? "tanyanya sambil melirik kepadaku.
Langsung ku cubit lengannya.
"Udah dong. Enak aja."
Indra tertawa melihat reaksiku.
Kami ini baru kenal beberapa hari, tapi seakan sudah kenal lama. Aku dan Indra sudah tidak sungkan untuk sekedar berceloteh dan bercanda dengan guyonan masing-masing.
Indra ternyata pribadi yang menyenangkan. Sangat jauh dari penilaian negatif yang biasa tersematkan olehku dan teman-teman mengenai sepak terjang polisi.
Sampailah kami di Kampus.
"Makasih, ya, Ndra. Bye."
aku langsung keluar mobil Indra dan berlari ke kelas. Bahkan tidak menengok Indra lagi.
Beberapa jam mengikuti mata kuliah, akhirnya selesai juga.
Selesai kuliah aku langsung ke Kantin. Kebetulan aku sendirian karena teman - temanku sedang ada urusan masing-masing. Aku memesan semangkuk bakso dan es jeruk manis. Makanan favoritku.
Suasana Kantin agak sepi. 'Tumben nih. biasanya jam segini penuh.'
Melihat bakso yang mengepul di depanku, fokusku kembali pada makanan di depanku ini.
Namun, saat akan makan di meja seberang yamg tak begitu jauh denganku, ada sosok yang sedang menjilati sisa makanan dari mahasiswa yang baru saja pergi.
Terlihat liurnya menetes, dan baunya sungguh tidak enak. Sungguh menjijikan. Aku mual, dan langsung pergi ke wastafel dekat kantin, muntah.
Makhluk itu masih ada di sana dan sekarang dia pindah ke mejaku. Sepertinya hendak memakan makananku.
Ya ampun.
Aku pun menjadi tidak selera makan lagi. Aku beranjak dan membayar makananku, pergi dari kantin.
Bu Kantin heran karena aku meninggalkan makananku begitu saja. Padahal makananku belum kumakan sedikitpun.
Mana bisa ku makan setelah di santap makhluk itu, akan terasa hambar pastinya.
Saat hendak kembali ke kelasku, lama - kelamaan pandanganku terlihat samar- samar, kakiku lemas sekali. Badanku pun gemetaran. Mungkin efek belum makan dan muntah tadi.
"Niss ... Nisaa ...."
Sayup-sayup aku mendengar seperti suara Indra ada di dekatku. 'Ah pasti aku halusinasi.'
Gelap.
____
Aku mencium bau minyak kayu putih yang ada di ujung hidung. Mataku mengerjap dan mencoba beradaptasi dengan cahaya terang di sekitar. Sementara Indra duduk di sampingku.
Rupanya aku sudah ada di kos Indra. Suara yang kupikir halusinasiku ternyata memang milik Indra.
"Alhamdulillah udah bangun kamu, Nis. Bikin khawatir aja deh," katanya lega.
"Kok aku di sini?"
"Kamu tadi pingsan di Kampus. Tadi aku sengaja dateng ke kampus kamu, eh malah liat kamu udah lagi jalan sempoyongan. Pasti gara-gara belum sarapan, ya? " tanyanya sambil mengacak-acak rambutku.
" Ah ... Iya. Tadi aku udah mau makan, udah pesen bakso segala. Tapi tiba-tiba nggak selera makan."
"Kenapa?"
"Masa lagi makan, ada yang lagi jilat- jilat piring di depan mejaku, Ndra. Udah gitu keluar liurnya bau nya busuk pula. Ya udah, aku muntah muntah deh sebelum makan. Aku tinggalin aja makananku. Aku lemes banget. eh kamu ke kampusku ngapain."
"Mau ngajakin kamu makan siang sebenernya. Tadi mamahnya Olive nyuruh kita ke sana."
"Oh gitu. Ya ampun. Terus gimana? batal dong," kataku yang merasa tidak enak.
" Iya, pending aja. Lain kali, kan, bisa." Indra berdiri ke dapur dan kembali membawa nampan yang berisi makanan dan susu hangat.
"Udah, minum dulu susunya. Terus makan. Nanti kamu sakit. "
Aku segera minum susu dan makan sedikit sedikit. Karena masih ingat kejadian tadi aku masih belum nafsu makan. Masih mual rasanya.
"Kenapa sih? makan kok nggak niat gitu? Sini aku suapin, biar cepet makannya," kata Indra lalu merebut sendok di tanganku.
Indra menyuapiku dengan telaten. sambil bercerita pengalamannya di kepolisian yang membuatku tertawa. Aku pun menjadi lupa kejadian di Kantin tadi.
Olive kulihat masih ada di sudut ruangan Kos Indra, menatap kami dan tersenyum.
"Eh, Ndra. kita ke Rumah Olive yuk," ajakku.
"Sekarang?" tanyanya.
"Iyalah."
_____
Kami sampai di depan Rumah Olive, segera masuk ke Teras. Di sana ada Danar dan Papahnya Olive. Begitu melihat kedatangan kami pria paruh baya itu terlihat antusias.
" Eh ... Indra. Sini. wah , lama nih nggak main sini," sapa Papahnya Olive.
"Iya Om, maklum banyak kerjaan. Tante nggak keliatan? " tanya Indra sambil melihat ke dalam Rumah.
"Ada. di dalem, sebentar ya om panggilin. Loh ini, pacar baru kamu, ya? Bener kata Tante, cantik. Nah gitu, Ndra, move on. Ikhlasin Olive," kata Papah Olive.
Indra terlihat sungkan sambil garuk-garuk kepala.
"Cuma temen kok, Om."
Papahnya Olive masuk ke dalam memanggil Mamahnya Olive.
Aku sedari tadi hanya memperhatikan Danar terus.
Dia menatap Indra dengan sinis. Seperti tidak suka, tapi Indra tidak menyadarinya.
"Ndra ... kemarin temenku ada yang kecelakaan mobil. Anehnya kok, kaya dibikin-bikin gitu. Masa remnya blong. Kaya sengaja diputus orang," kataku sinis sambil melirik ke Danar.
Indra langsung kaget dan melotot ke arahku. Seolah memberi kode agar aku diam tak melanjutkan kalimatku lagi.
"Walau pelakunya belum ketangkep, aku yakin, dosanya dia bawa sampe mati, dan Allah nggak akan tinggal diam!" kataku lagi sambil menatap Danar tajam.
Danar sepertinya merasa kalau semua yang kukatakan itu sengaja ditujukan kepadanya. Dia melihat sinis ke arahku.
" Kalau nggak mau celaka, nggak usah ikut campur urusan orang!" Spontan dia mengatakan itu.
Otomatis Aku dan Indra langsung menatapnya penuh curiga.
Tak lama Papah dan Mamahnya Olive datang. Danar pun langsung pergi.
"Wah, Nisa gimana? Katanya Indra tadi Nisa sakit, ya? " tanya Mamahnya Olive sambil duduk di sampingku.
"Iya, biasa Mah, darah rendah, jadi gampang capek."
Kami mengobrol sampai sore.
Lalu pamit pulang.
_____
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
hii.. gimana caranya tau kalo warung itu ada macem2nya
2023-05-29
0
Mollue D.O
penulisan nya rapi banget > _ <
2023-05-16
0
Fitri wardhana
cuma aku y penghuni baru novel ini👀😁
2022-07-25
0