Tok ... tok ... tok ... tok ...
Indra menggedor- gedor pintu kamar mandi, dengan teriakan panik.
"Nis, Nisa ... kamu kenapa, Nis?"
Ia menerobos masuk kamar mandi dan mendapatiku terduduk sambil menutup wajah. Untung aku sudah sempat ganti baju tadi.
"Kamu kenapa, Nis? Ada apa?" tanyanya.
"Itu Ndra—itu ...." kataku seraya menunjuk sudut kamar mandi disana.
"Ada apa? disana nggak ada apa-apa, Nis. Liat coba!" suruhnya sambil menunjuk ke sudut itu.
Saat aku kembali melihat kearah itu, makhluk itu lenyap. Kusapu pandanganku ke seluruh ruangan. Nihil.
"Kamu liat apa, Nis?"
"Eh—eum ... kecoa, Ndra!" kataku bohong.
Aku tidak mau Indra berfikir kalau aku ini aneh, seperti yang lain.
"Ya ampun ... aku pikir ada apaan, Nis," katanya lega.
Aku berusaha berdiri, tetapi ternyata kakiku keseleo.
"Awwwww ...." erangku.
Untung Indra segera memegangku saat aku hendak jatuh.
"Ya ampun. Kenapa lagi? kaki kamu keseleo ya?" tanyanya sambil menatap kaki yang memang nyeri.
"Kayanya deh. Duh--sakit banget." aku meringis sambil memegangnya
"Ya udah. Sini aku gendong."
Tanpa basa basi, ia menggendongku ala bridal style difilm - film, lalu meletakkan ku disofanya.
"Maaf ya, Ndra, aku jadi ngerepotin kamu gini. Nanti tolong pesenin taksi aja ya, buat balik ke kosku," pintaku setengah memohon.
Dia terdiam sejenak.
"Hmm ... bahaya, Nis, pulang malem - malem gini. Sekarang lagi banyak perampokan ditaksi. Mendingan kamu nginep sini aja malam ini," sarannya sambil melihat pergelangan kakiku. Lalu mengurutnya perlahan dengan balsem yang dia punya.
"Nginep? Tapi, Ndra ... Aku nggak enak ...." gumamku lirih.
"Ini Kos campur, Nis ... Nggak masalah kok, kalau bawa temen nginep. Aku juga nggak akan macem-macem. Kamu tidur diranjangku. Biar aku disofa. Lagian kalau aku harus nganter kamu ke kos kamu sekarang, aku nggak bisa. Aku capek banget," terangnya.
Aku menatap jam yang melingkar di pergelangan tanganku, sudah cukup larut rupanya, Lagi pula jarak dari sini ke kos ku memang lumayan jauh.
"Ya udah deh ... lagian juga aku ada kuliah pagi besok."
Semilir angin memasuki kos Indra. Padahal semua jendela sudah tertutup, kuamati lekat – lekat keadaan di sekitar.
Sementara Indra, yang sedang mengobati luka dikepalaku dengan berbekal kotak P3K miliknya, tidak menyadari akan hal ini. Di sudut ruangan ada sosok wanita muda yang berwajah pucat, tersenyum kepadaku. Sontak aku terkejut.
"Astagfirulloh haladziiiiimm! " pekikku sedikit berteriak dan memalingkan wajahku ke arah lain.
Indra menatapku heran. Lalu melihat ke sudut ruangan yang tadi kutatap.
"Ada apa, Nis ?" tanya Indra bingung
"Itu, Ndra ...."
Sosok itu mengangkat jari telunjuknya di depan mulut sambil tersenyum. Seolah-olah menyuruhku diam.
Dia makin mendekat ke arahku. Dan yang pasti aku semakin ketakutan. Doa yang kubaca dalam hati tidak bisa membuatnya pergi.
Saat Indra memegang tanganku. Sosok itu hilang.
Aneh pikirku.
"Kenapa lagi, Nis? Kamu halusinasi? Jangan - jangan kepala kamu gegar otak nih. Kita periksa aja ya ...."
"Nggak. Nggak mau! Aku nggak apa - apa kok!" kataku ngotot.
Aku bersandar disofa untuk mengatur nafasku yang tidak beraturan.
Ku tengok meja disamping kananku, ada foto seorang wanita berdua dengan Indra.
Tunggu ... Tunggu dulu ...
Wanita ini?
"Ndra ...." panggilku sambil mengambil pigura foto itu.
"Iya, Nis?" Indra berbalik saat akan mengambil minum.
Dia menatapku dengan dahi berkerut.
"Ini siapa?" tanyaku.
"Oh—itu ... pacarku, Nis" katanya pelan, dengan nada bicara yang sedikit sesak.
"Dia ... udah meninggal ya?" tanyaku lalu beralih menatap foto itu lagi.
Indra terlihat mengernyitkan keningnya.
"Dari mana kamu tau?" tanyanya heran.
Aku kembali menatap sudut ruangan tempat pacar Indra tadi muncul.
Dan dia kembali muncul disana.
Astaga ... ! Pikiranku menerawang jauh, berfikir hal terburuk, jikalau wanita ini tidak suka aku dekat – dekat dengan Indra.
"Nis ...." Indra membuyarkan lamunanku.
"Eh ... Ya, Ndra?" sahutku sedikit terkejut.
"Kamu kok bisa tau Olive? kamu kenal Olive?" tanya nya lagi sambil jongkok di depanku.
"Eum, nggak kenal. Tapi ... Dia ... Dia ada disini ...." kataku ragu sambil tetap melihat ke sosok Olive di sana.
Aku pikir Olive memang sengaja memperlihatkan wujudnya kepadaku. Ada sesuatu yang sepertinya mau dia sampaikan.
"Di sini? kamu ngaco, Nis ...." kata Indra sambil tertawa geli mendengar ucapanku. Sudah kuduga dia akan menganggapku aneh.
"Dia meninggal kenapa, Ndra?" tanyaku.
"Kecelakaan mobil ...." tuturnya dengan nada pelan. Raut wajahnya berubah. Sedih. Terluka.
"Kamu yang sabar ya, Ndra. Yang ikhlas. Jangan sampai ketidakikhlasan kamu yang bikin Olive nggak tenang di sana," nasehatku.
"Aku udah ikhlas kok, Nis ... Kejadiannya udah 2 tahun yang lalu."
"Hm gitu ya?" gumamku sambil berfikir keras.
Kejadiannya sudah lama. Tapi kenapa sosoknya masih disini. Mungkin ini perbuatan jin kafir atau mungkin qarinnya yang ingin menyampaikan sesuatu. Yang kutau ruh Olive sudah kembali ke Allah, jadi tidak mungkin masih ada disini setelah 2 tahun dia meninggal.
"Eh-- kamu laper nggak, Nis? Aku mau pesen makanan antar nih," katanya mengalihkan pembicaraan kami.
"Eum ... boleh," Ucapku mengiyakan karena cacing diperutku sudah berdemo minta diisi.
Indra menelfon lewat ponselnya sambil berjalan ke dapur.
"Kamu mau aku bikinin teh, Nis?" tanyanya dari arah dapur.
"Nggak usah, Ndra."
"Kamu mau aku bikinin minum apa? Biar badan kamu hangat. Di luar lagi hujan gede tuh," tunjuknya ke arah jendela tak jauh dari kami.
Saat kutengok jendela, aku melihat sosok lain yang muncul lagi.
Astaga !
Kenapa banyak banget sih ?
"Aaahhh !!" teriakku sambil menutup wajah dan berpaling menghadap ke kanan. Berharap makhluk itu tidak mendekatiku.
"Kenapa?" tanya Indra dari arah dapur.
Aku menengok lagi ke jendela. Ternyata makhluk itu sudah duduk di sampingku.
"Allahu Akbaaarrr !!" aku terpekik kaget.
Indra yang kini ada dihadapanku bingung, kuraih tangan Indra agar aku bisa berdiri. Lagi- lagi makhluk itu hilang. Sosok itu mundur, kembali ke luar jendela. Seolah takut untuk mendekat.
Aneh.
Kenapa mereka seakan tidak berani mendekatiku, seperti biasanya.
Setelah keadaan tenang, aku melepas tanganku dari Indra.
"Maaf ya ... spontan," kataku sungkan.
"Iya, Nis."
Aku mencoba berdiri dibantu Indra. Anehnya makhluk itu hilang sepenuhnya. Aku benar - benar heran. Mengapa bisa seperti itu. 'Mereka' biasanya tidak seperti ini. Jika mereka muncul dan mendekat, tidak ada yang bisa membuat mereka menghilang, doa yang kubaca saja terkadang tidak mempan. Kata salah 1 temanku yang indigo juga, mungkin karena aku masih sangat takut dengan 'mereka' . Aku tidak punya keyakinan penuh atas doa ku. Bagaimana pun juga, kita manusia derajatnya yang paling tinggi. Jadi sudah seharusnya tidak takut dengan 'mereka', apalagi kita hidup berdampingan dengan 'mereka'. Tapi anehnya saat aku menyentuh Indra mereka dengan mudahnya pergi.
"Kamu beneran bisa liat setan, Nis?" tanya Indra memecah lamunanku.
"Eh ... Eum," kataku pelan.
"Olive juga gitu kok, Nis." katanya sambil duduk disebelahku.
"Olive ?"
"Iya, dia juga sama kaya kamu, sering teriak- teriak nggak jelas. Katanya dia suka liat makhluk gaib." tuturnya.
Aku menatap Olive yang masih berdiri disana. Olive mengangguk tanda mengiyakan.
"Beberapa hari sebelum Olive meninggal, dia sempet ngomong aneh," kata Indra serius.
"Aneh? Dia ngomong apa, Ndra?"
"Dia bilang, dia bakal pergi jauh. Aku harus jaga diri baik –baik."
Kali ini aku yang mengernyitkan kening. Mencoba mencerna perkataan Indra.
"Terus?"
"Habis itu dia jadi lain, banyak diem, kayak ada yang dipikirin. Dan seminggu setelahnya ... Olive kecelakaan," kata Indra sedih.
Aku menyentuh punggungnya, mencoba menenangkan Indra. Sambil kulihat Olive di sudut ruangan itu.
Hilang ... Lagi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Ksiti Hanna
keren🥰
2022-04-15
1
Husin Sukiman
NBC p
uu k, join my j?. like MJ. l
ol
2022-02-09
1
Sibollo
sumpah gue jdi merinding setiap baca novel bru lever 1/ 2 ku baca ee merinding lagi😶
2021-12-18
1