"Niss, Kamu kenal Indra berapa lama?" tanya Kak Adam tiba tiba.
Setelah pulang jalan-jalan tadi, kami hanya menghabiskan waktu dengan bermain game di gawai masing-masing.
"Eum ... baru beberapa minggu aja. Kenal juga nggak sengaja. Jadi gini," jelasku lalu membetulkan posisi duduk,"awalnya pas aku balik kuliah malem, kan biasa tuh, 'mereka' ngikutin aku, eh nggak sengaja aku ketabrak mobil Indra. Akhirnya aku diajak ke kosan dia. Karena aku nggak mau dibawa ke Rumah sakit. Eh tapi ya Kak, ada yang unik dari dia. Masa setiap aku pegang Indra, 'mereka' mendadak hilang," jelasku panjang lebar dengan sangat antusias.
"Hah? Serius? Wah jangan jangan kalian jodoh, Nis," kelakar Kak Adam yang mulai iseng.
"Apa sih, kakak nih!" elakku, memukul lengan pria bertubuh tinggi besar di sampingku.
"Eh tapi, Nis," kak Adam ikut bergeser dan kini kami saling berhadapan,"feeling kakak nih, ya, si Indra suka sama kamu deh. Kamu perhatiin kan, tadi waktu kita dateng, muka dia asem banget. Pasti dia kira gue ini pacar elu. Hahaha."
"Idih. Sok tau."
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu Kamar Kos ku. Kami berdua beralih ke pintu yang memang tidak begitu jauh dari tempat kami duduk.
"Siapa, ya?"
"Indra paling," sahut Kak Adam lalu kembali memainkan game di gawainya.
Aku yang tak menanggapi hanya beranjak dan segera membuka pintu. Saat pintu terbuka sempurna, sontak mataku melebar melihat seorang pria yang sedang kami bicarakan tadi sudah ada di depanku, menenteng dua kantung kresek ditangannya.
"Lho Indra? Masuk." Kusambut tamuku dan menuntunnya masuk ke dalam.
"Tadi Kak Adam chat aku, nitip beliin makan," katanya sambil berjalan mengikutiku masuk ke dalam.
"Hah? Kak Adam?" tanyaku sambil mengajak Indra masuk. "Kakak ngapain suruh Indra beliin makan? Ngerepotin aja!" Dengusku sebal.
"Lah kan ujan, Nis. Kakak, kan bawanya motor, bukan mobil. males keujanan. "
"Iya, Nis. Nggak apa apa. Sekalian tadi aku juga pas mau beli makan kok," bela Indra.
Aku ke dapur mengambil piring dan minum. Kak Adam menghampiriku.
"Bener kan firasat Kakak. dia naksir kamu tuh. Keliatan banget, jauh jauh rela ke sini demi nganterin makan sang pujaan hati. ciee ..." bisik Kak Adam yang terkesan meledekku. Ku cubit perut Kak adam. Kak Adam tertawa tertahan.
____
Kami mulai makan bersama di depan TV. Diiringi suara gemuruh guntur dan hujan yang memang masih deras di luar sana.
"Kamu kerja di mana, Ndra?" tanya Kak Adam.
"Di Polres, Kak. "
"Oh. Polisi to. wah wah.. Hebat kamu Niss."
Aku memukul Kak Adam.
"Apaan sih, Kak," timpalku.
Kak Adam dan Indra hanya tertawa kecil. Seolah isyarat tadi memang kompak mereka buat. Atau karena aku terlalu bodoh untuk mengerti situasi dan keadaan ini.
"Belum punya pacar, kan, Ndra?" tanya Kak Adam lagi.
"Kepo ih Kakak," sahutku sambil melirik Kak Adam.
"Ya harus kepo lah, demi kebaikkan Adik tersayang." Yang diiringi tatapan tajam dariku.
Wajahku pasti keliatan merah menahan malu bagai kepiting rebus . Indra hanya tersenyum melihat tingkah kami.
"Kamu tinggal di mana? "tanya Kak Adam, dia ini mirip polisi yang sedang mengintrogasi penjahat saja.
"Kos deket Kampus Nisa kok. Besok juga Nisa pindah Kos di tempat Indra nge-kos juga," jelas Indra.
******!
Wah gawat nih. Bakal di ledekin habis-habisan nih aku.
Indra pake acara buka kartu lagi. ah... kesel.
Udah kebaca ini, gimana reaksi Kak Adam.
"Oh gitu. yayaya.. Yang penting hati hati aja, ya.. Inget, Nis. Kamu masih kuliah." aku langsung menutup mulut Kak Adam. "Apa sih? Ngomong apaan coba? Dasar!"
Kak Adam tertawa tak henti henti nya. Dari ujung ekor mataku, Indra juga tersipu.
"Maaf, Ndra. Kakakku yang ini cerewetnya minta ampun. Kalau ngomong suka nggak disaring, " kataku.
"Nggak apa apa, Nis." Indra menanggapi santai.
***
Selesai makan kami nonton film bersama. Kaset DVD yang kupinjam di Rentalan kemarin baru sempat kutonton.
Pukul 21.00 aku pamit tidur karena rasa kantuk yang hebat. Sementara kutinggalkan saja dua pria itu dengan tontonan yang memang sebenarnya masih sayang kulewatkan. Hanya saja mataku serasa lengket sekali. Ah, lelah.
"Iya. Sana bobok. Tenang aja ada Aa di sini jagain." Kak Adam masih saja meledek kami.
Aku lempar dia dengan boneka yang kupegang sebelum masuj ke kamar.
***
(Adam pov)
"Ndra ... kalian kenal di mana?" tanyaku sambil memakan cemilan tanpa menatap Indra. Walau aku sudah tau bagaimana dan kapan mereka pertama kali bertemu, tapi aku ingin mendengar langsung dari mulut pria ini. Pria yang kupikir menyukai adikku. Dan sebagai kakak yang baik, aku harus tau bagaimana Indra.
"Beberapa waktu lalu pas aku baru pulang tugas, aku nggak sengaja nabrak Nisa, Kak. Karena panik, aku bawa dia masuk ke mobilku. Soalnya kepalanya berdarah. Aku takut dia kenapa-napa. Rencananya mau aku bawa ke Rumah sakit terdekat tapi Nisa malah bersikeras nggak mau ke sana. Karena bingung harus ke mana lagi aku bawa dia ke kosku. Aku obatin di kos aja."
"Oh gitu. Iya, dia emang nggak suka ke Rumah Sakit. Banyak setan nya katanya. Kamu pasti tau Nisa bisa lihat mereka, kan?"
Kataku cuek.
"Iya, Kak. Emangnya Nisa indigo dari lahir, Kak? "
"Bisa dibilang gitu. Keturunan dari keluarga Papah. Yusuf juga sama kayak Nisa. cuma Papah masukin dia ke Pondok Pesantren. Jadi dia bisa mengendalikan kemampuannya itu. Kalau Nisa nggak mau di masukin Pondok Pesantren. Dulu waktu Mamah masih ada, Nisa emang deket banget sama Mamah. Maklum, anak perempuan satu-satunya, ya, gitu. Dimanjain banget."
"Nisa juga jago karate, ya, Kak? Kemaren kita dicegat orang di jalan. Aku kaget banget waktu Nisa melawan mereka."
"Iya, Papah kan guru karate, Ndra. walau Nisa disayang banget, tetep aja dididik keras sama Papah."
"Memang harusnya gitu ya, Kak. Biar bisa jaga diri."
"Eh ... kamu naksir sama Nisa, ya?" tanyaku tanpa basa-basi. Indra tersenyum malu-malu.
"Keliatan, ya, Kak ? " tanya Indra sambil menggaruk kepalanya.
"Iyalah. Aku kan juga cowok, keliatan lah kalau kamu naksir Nosa. Kalau Aku sih terserah kalian aja. Yang penting jaga Nisa baik-baik, Ndra. Dia anaknya manja, kadang ceplas ceplos, nggak suka basa basi. Nekat pula. Kamu harus ekstra sabar deh.
Ini sih aku jujur aja ya sebagai Kakak. buat pertimbangan kamu juga. Aku cuma pengen Nisa dapet jodoh yang benar benar sayang ke dia. Apa adanya. Karena dia punya trauma di masa lalu yang bikin dia susah deket sama cowok." pintaku.
"Trauma apa, Kak?"
"Hm ... nanti juga kamu tau. Biar Nisa yang cerita."
"Oke. Aku juga udah paham wataknya Nisa. Nggak tau kenapa aku nyaman sama dia. Selalu happy kalo deket dia. Nggak ketemu sehari aja, rasanya gimana gitu, ya. hehe."
"Namanya juga sayang, Ndra. Aku juga gitu ke pacarku."
"Tapi Nisa gimana, ya Kak, ke aku."
"Yah ... mana Ku tau. Kamu nanya aja sendiri."
Indra hanya tersenyum salah tingkah.
"Kapan kapan Kamu ke Rumah ya. Aku kenalin sama Papah terus Yusuf juga. "
"Insyaa Allah Kak."
"Eh kamu asli mana sih?"
"Kita 1 kota kok Kak.."
"Ah yang bener. wah tambah enak nih. kalau Kamu pulang, kabarin, ya," ucapku .
Kami sudah bertukar nomer handphone dan pin BBM saat di Alun Alun tadi. supaya lebih mudah komunikasi.
Aku juga jadi bisa bertanya soal Nisa ke Indra. kalau aku sudah pulang nanti. karena Nisa ini suka menghilang tiba tiba, apalagi jika sudah ngambek.
"Nisa udah setahun ini nggak akur sama Papah."
"Masa sih, Kak? aku sih sedikit banyak bisa ngeliat hal itu, cuma nggak berani nanya. Takut lancang. Karena itu privasi Nisa. tapi, emangnya masalahnya apa Kak? kalau boleh tau sih. Soalnya pas masuk rumah sakit kemarin, dia nolak pas aku mau nelpon Papahnya. "
"Papah mau nikah lagi tapi sama perempuan yang lebih muda. Nisa nggak suka sama perempuan itu. ada benernya juga sih kata-kata Nisa, cuma aku liat Papah udah cinta banget sama itu cewek. Aku aja heran. Aku sama Yusuf jadi nggak bisa apa apa deh. Nisa doang yang berontak. Dia aja sekarang jadi jarang pulang. makanya aku susulin ke sini, begitu denger Nisa masuk Rumah Sakit dari Ferly."
Indra hanya manggut manggut mendengar ceritaku. Tak terasa kami ngobrol sampai pukul 23.30.
Indra lalu pamit pulang ke Kosnya.
Begitu Indra balik. aku juga langsung wudhu, Sholat isya lalu tidur disamping Nisa.
(Pov Adam end)
____
Paginya aku bangun pas adzan subuh. Kulihat Kak Adam tidur di sampingku juga. Kami memang sangat dekat, saat di rumah pun, kalau aku takut tidur sendirian aku selalu tidur dengan Kak Adam.
Kak Yusuf sebenarnya tidak beda jauh dengan Kak Adam. mereka kakak kakakku yang baik dan sangat menyayangiku. Bedanya Kak Yusuf itu lebih pendiam. Doa selalu punya cara untuk menyayangi adiknya.
Aku segera membangunkan Kak Adam juga untuk sholat subuh. Kami lalu sholat subuh berjamaah. Aku kemudian membuat sarapan untuk Kak Adam.
"Semalem Indra pulang jam berapa, Kak? "tanyaku.
"Cie ... Nanyain."
"Ck. Kakak ah ... gitu deh," kataku merajuk.
"Hehe. Gitu aja ngambek. Dia pulang jam 12 malem. Sebenernya Kakak suruh nginep. Tapi dia nya nggak mau."
"Ih malem banget, Kak. Ngapain aja kalian?" tanyaku menyelidik.
"Kamu aja pernah nginep di Kosnya," sindir Kak Adam.
"Itu kan beda cerita, Kak. Dia cerita apa aja?"tanyaku penasaran.
"Semuanya."
"Semuanya itu apa aja?" tanyaku makin penasaran.
"Ya dari awal kalian ketemu, terus kalian ngapain aja. semua lah. Kakak setuju, Nis. Kalau Indra yang jadi suami kamu nanti," kata Kak Adam serius.
"Kakak mulai deh. Jangan aneh-ameh mikirnya."
"Serius. Dia bilang semalem, kalau dia emang suka sama kamu. Dia anak nya baik, tanggung jawab," kata Kak Adam.
Aku hanya diam sambil memakan sarapanku. Mencoba mencerna perkataan Kak Adam barusan. "Oh iya.. Nanti bantuin packing barang, ya. Biar kalau aku pulang kuliah langsung angkut aja ke kos baru."
"Hmm. dasar Kamu tuh. Pinter banget mengalihkan pembicaraan."
"Hehehehe."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Rinda Rahimah
Aku dulu masih gadis, punya kakak cowok berasa punya bodyguard.Dia denger aku dekat sama cowok aja langsung digertak mau dikasih bogem mentah kalo ketauan dekat sama cowok apalagi pacaran😆
2023-07-30
0
adek
sebenarnya yg kasih kabar ke kak Adam tu Indah atau Ferly ?
2022-05-13
2
Hasnah Siti
seru banget ceritanya...
2022-04-16
1