Begitu aku membuka pintu kos, sudah banyak tumpukan kardus yang berisi barang-barangku. Kak Adam pamit tidak bisa mengantarku pindahan. Ia hanya membantuku membereskan semua barang hingga nanti aku mudah mengangkutnya. Sangat membantu sekali.
Terus ... aku pindah sendiri nih. gumamku.
Dalam lamunanku, terdengar langkah kaki beberapa orang dari luar. "Perlu bantuan, Bu?" tanya Feri yang ternyata sudah ada di belakangku.
Pintu Kos memang sengaja tidak kututup. Karena banyak debu akibat beres-beres tadi.
"Eh ... bantuan datang di waktu yang tepat, ya," ujarku sumringah.
"Hahahaha ... kita bantuin deh, Nis."
"Aa Indra nggak ke sini?" tanya Indah.
"Kan kerja. Gimana sih?"
Diantara kami, memang hanya aku yang menyandang status JONES alias 'jomblo ngenes'.
Makanya mereka sangat suka jika aku dekat dengan laki-laki. Apalagi Indra terlihat seperti pria baik-baik. Memang baru kali ini aku benar-benar sedekat ini dengan laki-laki. Aku pernah mempunyai trauma tersendiri dulu. Jadi selama ini aku selalu membatasi pergaulanku dengan laki laki. Paling akrab ya dengan Feri.
Tak lama orang yang kami bicarakan datang. Terlihat dia masih memakai pakaian dinas.
"Wah ... panjang umur nih, Pak Polisi," seru Feri.
"Kenapa?" tanya Indra.
"Nisa nyariin tadi nih. Kangen kali," jawab Indah asal.
"Ih Indah. ngarang ! Bohong, Ndra," timpalku .
"Beneran juga nggak apa-apa. " kata indra santai .
"Cieee ...," mereka serempak kompak menyoraki kami.
"Kamu baru pulang, Ndra? " tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan. Memang benar kata Kak Adam, aku pintar mengalihkan pembicaraan.
"Iya. Langsung ke sini. Kak Adam tadi chat, katanya harus balik hari ini. Jadi aku ke sini cepat-cepat buat bantuin kamu pindahan."
"Ya udah kamu pindah pakai mobilnya Indra aja, Nis. Kan kalian juga bareng sekarang Kos nya. Kita bantu naikin barang barang kamu ke mobil Indra deh," kata Feri.
Tanpa basa basi lagi, Kami pun segera memindahkan barang barang ku ke mobil Indra. Alhasil mobil Indra penuh dengan barangku yang kebanyakan diisi boneka. Aku memang sangat menyukai boneka, mungkin karena itulah aku masih suka dianggap seperti anak kecil.
Memang salah ya ? orang seumuranku masih suka dengan boneka ?
Aku naik mobil dengan Indra sementara yang lain naik mobil Feri. Mereka juga membantuku menurunkan barang barang ku lagi ke Kos baru.
Sampai di Kos. Aku memang sudah minta tolong Indra untuk memberikan uang kos yang sudah kutitipkan ke Indra kemarin. Dan Indra yang memegang kunci kamar Kos ku.
"Akhirrnyaa kelaaarrr. Gila kamu, Nis. Banyakan bonekanya," gerutu Feri.
"Ye suka-suka aku lah."
"Ya udah deh, Nis. Kita balik? ya. Nggak apa-apa, kan, kamu beresin sendiri. Aku ada perlu nih," kata Ferly.
"Ya udah nggak apa-apa. Makasih ya, gaes," kataku lalu memeluk mereka. Kecuali Feri sama Indra ya. hehe. Mereka pun pamit pulang.
Aku berdiri di ruang tengah. Menatap ruang yang masih kosong ini dengan tumpukan kardus yang diletakan asal. Menarik nafas dalam karena butuh tenaga ekstra untuk membereskannya seorang diri.
"Nis, Aku ganti baju dulu, ya. Nanti aku bantuin beresin."
"Eh, Ndra. Nggak usah juga nggak apa-apa kok Ndra. Biar aku sendiri aja."
"Nggak apa-apa. Lagian aku nggak ada kerjaan kok. Sebentar, ya," katanya sambil memamerkan gigi putihnya.
Aku pun mengangguk. Apa boleh buat. Selang beberapa saat pintu kamarku di ketuk kembali dan munculah Indra memakai kaus oblong yang kebesaran juga celana pendek. Dia terlihat lebih fresh sekarang.
"Sorry lama. Aku mandi dulu tadi. Gerah."
"Aku bikinin kopi, ya. Yuk masuk," ajakku.
"Ndra ... kalau capek, nggak usah bantuin. Aku bisa beresin sendiri kok," kataku dari arah dapur.
"Nggak kok Nis, nggak capek. Biasa aja," katanya sambil membawa boneka ku ke kamar dan menatanya dengan rapi. Saatnya beberes rumah. Semangat!
Aku mulai memukul paku dengan palu untuk bingkai fotoku. Pembagian yang cukup adil untuk kami berdua. Sementara Indra mulai memasang tv serta kabel antena yang memang aku tidak tau bagaimana caranya.
Dug!!
"Ugh ...."" aku mendesis dan segera menatap jari telunjukku akibat terkena pukulan dari palu tadi.
"Kenapa, Nis? Ya ampun. Pelan-pelan dong. Berdarah, Nis." Dia langsung menggandengku ke wastafel dapur dan mencuci jariku yang berdarah.
Nyeri sekali rasanya .
Ia kembali menuntunku lagi dan menyuruh duduk di kursi. Dia jongkok di depanku dan mengambil kotak P3K untuk mengobati luka ini.
"Kalau dibiarin takut infeksi, Nis."
Aku hanya terus menatap Indra. Tanpa mengucapkan apa pun. Perhatiannya yang kecil seperti ini justru membuatku tertarik padanya. Ia selalu memperhatikan hal remeh dan membuatnya menjadi spesial di mataku.
Indra yang menyadari aku memandanginya sedari tadi lalu balik menatapku juga.
"Kenapa?" tanyanya heran.
Aku hanya menggeleng dan tersenyum.
Selesai dia mengobati tanganku.
Dia mengusap pipiku.
"Makanya hati-hati. Biar aku aja yang terusin, ya. Kamu duduk aja."
Jantungku berdebar tak karuan. Keringat dingin keluar. Aku sedikit grogi mendapat perlakuan ini.
"Eum, Ndra ... Aku beli makan dulu ya, " kataku mencoba mengalihkan kegelisahan ku barusan.
"Kita pesen aja, Nis. Jadi kamu nggak repot. Di luar juga lagi hujan, kan?"
Indra mengambil handphonenya dan menelfon makanan antar seperti biasa.
"Udah aku pesenin, Nis. Sebentar lagi ya, sabar. Udah laper, ya?" tanyanya halus. "Oh iya, Nis ... ini fotonya ditaruh sini semua?" tanya Indra.
Aku yang masih setia dalam lamunan. Seperti tak mendengar pertanyaan Indra. Padahal telingaku jelas mendengarnya. Hanya saja pikiranku menerawang kemana-mana.
Indra mendekatiku.
"Nisa? kamu kenapa kok diem? " tanyanya yang sudah ada di dekatku.
"Eh, Eum ... Gimana, Ndra? Kamu bilang apa tadi?"tanyaku lagi yang memang tidak fokus.
"Aku tanya, itu fotonya dipasang di sini semua? "Indra mengulangi kalimatnya barusan.
"Oh, iya Ndra. Di sini semua aja," kataku masih kikuk.
"Kamu kenapa, Nis?"
"Aku? Nggak kenapa kenapa kok Ndra." Aku benar-benar gugup sekarang .
Kriiingggg!!!
Dering telepon membuat aku sedikit lega. Alhamdulillah..
"Assalamualaikum, Kak."
"Nis? kamu besok bisa balik, kan? "
"Kenapa? Kok mendadak banget?"
"Papah, Nis ...."
"Papah kenapa, Kak? " tanyaku serius.
"Papah nggak apa-apa. Besok aja, ya ceritanya. Kamu pulang dulu. Yusuf juga lagi perjalanan pulang kok."
"Oh gitu. Iya Kak. Besok aku pulang."
Obrolan diakhiri.
Aku bingung. Ada apa ini sebenarnya. Papah kenapa, ya? Kak Adam sama sekali tidak memberitahu alasannya. Namun dari perkataannya tadi ada yang aneh.
"Nis? " Indra tiba-tiba sudah menggenggam tanganku erat.
'Haduh. kenapa sih dia selalu melakukan gerakan yang membuatku panas dingin seperti ini?' batin ku.
"Iya? "
"Kak Adam nyuruh pulang? Ada apa?"
"Nggak tau, Ndra. Kak Adam nggak bilang cuma katanya ini ada hubungannya sama Papah."
"Ya udah. Besok pulang sama aku aja, ya. Kebetulan besok aku libur."
"Nggak apa-apa, Ndra?"
"Santai aja, Nis."
Lalu tak lama makanan pesanan kami datang. Indra yang menemuinya di depan sekaligus membayarnya sekalian.
Aku masih terdiam membeku. Entah kenapa aku khawatir sekali dengan keadaan papah. Ini tidak seperti biasanya.
Aku merasa keadaan Papah benar benar serius. Sampai Kak Adam menyuruh aku pulang.
"Nis, kita makan dulu, ya."
Aku hanya mengangguk sambil membuka makananku. Namun pikiranku masih terus ke Papah.
Selesai makan kami melanjutkan beres-beres lagi.
Indra melanjutkan memasang kabel TV dan DVD ku. Sementara aku ke kamar membereskan bajuku. Kos ini memang memiliki kamar yang ada di ruangan lain. Ada 3 buah ruangan. Kamar, dapur dan ruang santai. Mirip apartemen.
Dalam keadaan resah seperti ini aku merasa ada yang duduk di belakangku. Tidak mungkin Indra, karena dia masih di depan. Suara berisik yang diciptakan Indra masih kudengar jelas.
Aku menoleh ke belakangku. Sontak aku menjerit. Indra langsung masuk kamarku dan mendapatiku duduk di sudut kamar sambil merapatkan kedua kaki untuk menutupi wajah.
"Nisa? Niss ... Kenapa? Ada setan? di mana? masih ada nggak? Nisa! aku di sini, Nis. Ada aku." Indra berusaha menenangkanku yang masih terus bersembunyi diantara kedua lutut.
"Mending kamu istirahat aja ya Nis." Ia mengangkat tubuhku menuju ranjang.
Aku masih saja diam. Sambil melihat sekelilingku. Ternyata sudah hilang.
"Ya udah aku selesein yang di depan dulu, ya. Kamu bobok aja. Kayaknya kamu kecapekan, "katanya sambil beranjak.
Ku tahan tangan Indra. Aku menggeleng masih dengan eksresi wajah yang ketakutan.
Baru beberapa jam di sini, sudah disambut oleh 'mereka'.
Indra yang mengerti maksudku, lalu mengurungkan niatnya.
"Ya udah, ku temenin sebentar di sini. Sampai kamu tidur," ucapnya lembut.
Aku pun mengangguk menyetujuinya.
Indra membelai rambutku. Nyaman. Berada di dekatnya benar-benar membuatky nyaman. Tak lama mataku terasa berat dan aku pun tertidur.
***
Aku melihat papah.. Papah keliatan pucat dan aneh. Ada makhluk hitam besar di belakang Papah sekarang. Kulihat dari kejauhan , wanita itu-calon istri Papah- juga di sana tertawa keras dan melihatku sinis.
Aku berusaha memanggil Papah, tapi Papah tidak mendengarku. Ku kejar Papah yang lama-kelamaan malah menjauh.
Aku berlari lebih kencang. Tapi Papah hilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Sandi Kurnuawan
mungkin papahny dipelet ya
2022-04-17
1
Nita Anjani
mantap thor ceritanya
2022-03-11
0
Nurhalimah Al Dwii Pratama
pake pelet pasti jahat tuch aplgi masih muda semoga papah nya sadar ya nisa crita k kaka"nya
2021-08-19
1