"Kamu Nis ! Nekat banget ngomong gitu depan Danar!" kata Indra saat kami dalam perjalanan pulang.
"Biarin ! Aku gregetan sama dia. Dia juga punya niat jelek ke kamu, Ndra. aku liat tadi tatapan matanya aneh. "
"Dan sekarang dia punya niat jelek juga ke kamu!" bentak Indra.
Aku terkejut melihat reaksi Indra. Tiba-tiba dia menjadi pribadi yang lain. Akhirnya aku diam. Tengak-tengok dan meminta Indra berhenti.
"Mau ngapain? Nanti! Kos kamu masih jauh!" Indra menjawab dengan datar dan tetap menjalankan mobilnya. Bahkan lebih cepat.
Aku kembali terdiam. Aku mendengus kesal. Sementara Indra terdengar menarik nafas dalam. Suasana sedikit dingin. Tidak seperti biasanya.
Aku melihat ke spion fan mendadak curiga terhadap pergerakan beberapa mobil yang ada di belakang. Sepertinya mereka mengikuti kami. Karena setiap Indra ngebut mereka juga ngebut. kalau Indra pelan, mereka juga pelan.
Sampai kami ada di daerah yang cukup sepi. Hanya ada kebun dan tanah kosong.
"Ndra ... kita diikutin," kataku.
Indra langsung ikut melihat ke belakang dari spion tengah.
"Pasti Danar! lihat?! puas kamu sekarang?! Dia itu nekat. kita harusnya lebih hati hati ngadepin dia! Bukan kaya tadi! Itu bahaya banget buat kamu! " omel Indra.
Aku pun sadar kalau tindakanku tadi salah. Aku terlalu terbawa emosi dan ternyata Indra sudah mempertimbangkannya, bahwa kejadian ini akan terjadi juga.
Itulah kenapa dia marah marah kepadaku.
" Maaf, Ndra ... Maafin aku, ya."
"Hm. udah lah. Ambilin hpku di dasboar situ." amarah Indra sudah agak reda, karena nada bicaranya sudah kembali pelan.
Aku pun mengambilnya dan memberikan ke Indra.
Indra terlihat mengirim pesan ke seseorang.
Tak lama mobil kami dihadang oleh mobil mobil yang tadi mengikuti. Keluarlah beberapa orang yang masing masing membawa senjata. ada sekitar 10 orang.
"Keluar!" teriak salah satu dari mereka.
"Kamu di sini aja, Nis. kunci pintu. Tunggu di dalem! Temen temenku bakal dateng bentar lagi."
"Tapi ... kamu gimana? Jangan keluar, Ndra. Bahaya," kataku panik.
"Nggak usah khawatir. Hidup mati udah diatur Allah. Asal kamu selamat. Matipun aku rela, Nis. Aku nggak mau ngulangin kesalahan ke 2 kali nya." Indra lalu mengecup keningku.
Apa maksud kata katanya barusan? Dan dia mengecup keningku? Semoga ini bukan salam perpisahan darinya.
"Indra ... Ndra!" teriakku diikuti isak tangis.
Kulihat Danar keluar dari mobilnya juga. Benar dugaanku. Danar dibalik semua ini.
Segera aku menelfon Mamah Olive memakai hp Indra menceritakan yang terjadi.
Indra terlibat adu mulut dengan mereka, lalu salah satu dari mereka memukul Indra dari belakang. Indra masih bisa berdiri dan gantian melawan mereka.
Indra dikeroyok. Jika dibiarkan
Indra bakal kalah. Aku yakin tenaganya tidak cukup mampu mengalahkan mereka semua.
Aku melihat di sekeliling mobil Indra, ada sebuah balok kayu yang cukup besar ada di sebelah mobil Indra.
Aku keluar dari mobil lalu mengambilnya.
Dengan mengendap endap ke arah mereka dan memukulkan kayu itu ke salah 1 orang suruhan Danar, yang membuat orang itu jatuh tersungkur tidak berdaya. Pukulanku cukup telak dan tepat sasaran.
"Nisa! Balik ke mobil!" teriak Indra.
Aku tidak memperdulikannya. Tidak mungkin aku meninggalkan Indra melawan mereka sendirian. kalau Indra kenapa kenapa, aku tidak dapat memaafkan diriku sendiri.
Danar menghampiriku,
"Mm ... Nisa. kalau saja kamu tidak banyak mulut. pacarmu Indra itu tidak akan seperti itu !" dia terus berjalan ke arahku.
Aku lihat Indra sudah babak belur.
Aku diam membatu, mengumpulkan keberanianku sendiri, sambil mempersiapkan seranganku ke Danar.
Saat Danar sudah dekat, kutendang organ vitalnya. Dia mengerang kesakitan, membuat beberapa orang yang awalnya menyerang Indra, sebagian berjalan menghampiriku.
Papahku itu guru karate! Masa anaknya nggak bisa karate? nggak lucu kan?
Aku bersiap dengan kuda kuda ku. Satu orang yang hendak memukulku, ku tangkis dan kuplintir tangannya ke belakang, dia jatuh. Gerakan ku yang tiba tiba-tiba dan cepat membuat mereka agak kaget tak menyangkanya sama sekali.
Melihat temannya tersungkur, 2 orang lainnya mencoba menyerangku. Kutendang langsung ke tenggorokannya, dia tumbang juga menyusul teman teman nya yang sebelumnya sudah ku robohkan.
Buuggg!
Aku kena pukul 1 orang di belakangku. Aku lupa tidak memperhatikan sekelilingku.
Nyeri.
itu yang kurasakan di punggung dan kepalaku.
Aku mengambil balok kayu yang ada disampingku dan kupukulkan balik ke dia. ternyata dia dapat menahan pukulanku.
Aku menerobos ke bawah kakinya dan menarik tangannya sehingga dia jatuh terbalik. lalu aku injak tengkuknya.
Dia mengerang kesakitan.
Wah, lama aku tidak latihan seperti ini. Agak kaku, tapi masih lumayanlah ... pikirku.
Beberapa sudah jatuh oleh pukulan dan tendanganku.
Danar yang kulihat sudah tidak berdaya mendadak berlari ke arahku dan mengarahkan pisau lipat ke leherku.
Aku diam. Jangan sampai aku salah pertimbangan lagi.
bisa bisa aku kena gorok dan tewas mengenaskan.
"Indra! Lihat ! Kamu mau aku habisi dia seperti Olive, hah !? hahaha," katanya yang merasa di atas angin.
Saat dia lengah, kupukul perutnya dengan siku dan kuinjak kakinya kuat kuat. Danar kesakitan, saat itu juga aku hantam tenggorokannya sekuat tenagaku.
Dia jatuh lagi dan kali ini tidak bergerak.
Aku kembali kena pukul di bagian dada dan perutku oleh salah 1 anak buah Danar.
Mulut dan hidungku mengeluarkan darah segar.
Tak lama mobil polisi datang, mereka lantas lari terbirit birit. Tetapi mereka gagal kabur karena polisi menembak kaki mereka yang mencoba lari.
Mamah Papah Olive juga sampai, menangis melihat kejadian ini.
"Pak, ini bukti rekaman Danar. Dia sudah mengakui kalau dia yang membunuh Olive," kataku lalu menyerahkan benda pipih milikku. Aku mengelap darah di bibir dan hidungku.
Aku tidak lah bodoh. Aku sudah menyiapkan ponsel dengan membuka rekaman untuk merekam setiap perkataan Danar.
Baru sekarang kakiku lemas dan aku jatuh terduduk. Indra berlari ke arahku.
"Nis ... kamu nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
Kulihat pelipisnya dan bibirnya robek, pipinya biru
biru. Aku menyentuhnya dan tersenyum.
"kamu nggak apa-apa, Ndra?" tanyaku dan tiba tiba pandanganku gelap.
Aku pingsan lagi.
***
Badanku rasanya sakit semua. Saat aku mengerjap, ada infus di pergelangan tanganku.
Ah, ini Rumah Sakit.
Saat kulihat di sebelahku, Indra di sana memegang tanganku erat.
Aku mengelus kepalanya hingga membuatnya tersadar. Kulihat raut kecemasan di wajahnya.
"Alhamdulillah Nisa. Kamu udah sadar."
"Berapa lama aku di sini, Ndra? " tanyaku dengan suara yang masih berat.
"Dari semalam. Kamu pingsan, terpaksa aku bawa ke sini. Tadi juga temen temen kamu dateng ke sini. Tapi udah balik lagi. katanya besok mau ke sini lagi."
"Oh ... kamu gimana, Ndra? Mana lagi yang luka? Kepala kamu masih sakit? "tanyaku sambil menyentuh pelipisnya yang sudah ditempel plester.
Indra memegang tanganku dan tersenyum.
"Yang harusnya dikhawatirin itu kamu, Nis. Bukan aku," katanya lembut.
"Kamu semaleman di sini? "
"Iya. Aku nggak bakal ninggalin kamu sendirian di sini. kalau kamu takut gimana?"
Aku tertawa geli mendengar Indra menjawab dengan nada sedikit manja.
"Oh iya, Danar gimana? " aku baru ingat penjahat itu, yang telah membuatku seperti ini.
"Udah masuk penjara sama kawanan nya. Tante sama Om shock banget kemarin. "
"Hmm. kasian, ya, Mamahnya Olive."
Deg!! Olive!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
adek
yg series kkn apa ada ?
2023-10-29
2
꧁☬𝕸𝖔𝖔𝖓𝖑𝖎𝖌𝖍𝖙☬꧂
Apa maunya si Danar itu
2023-05-29
1
라벤더(labendeo)
Lha kan bener,, ceriboh sie nisa
2022-04-22
1