Dan obrolan perlahan menjadi lebih ringan. Mengenai pertanyaan di mana aku tinggal dan ternyata sebuah hal lain mengejutkan kami. Kalau ternyata Papa Indra dan Papaku adalah teman saat di sekolah dulu. "Ya ampun. Rupanya kamu anak hermawan." Papa Indra tertawa.
Namun tawaku terhenti saat melihat ke sudut ruangan. Ada sebuah sudut gelap di sebelah jam sudut yang besar. Sosok itu diam, hanya diam memperhatikan. Seorang kakek-kakek dengan barisan jenggot tipis berwarna putih. Tubuhku bergetar, tanganku menjulur ke Indra. "Kenapa, Nis?"
Aku hanya diam dan terus menatap sosok itu. Seolah-olah aku tidak bisa berpaling dari kakek di sana. Ia seperti menghipnotis dan membuat tubuhku kaku.
"Kenapa, Ndra?" Tanya mamah Indra nampak bingung.
"Nisa? Masih ada?"
Hilang. Dan saat itu juga aku mampu menggerakan semua bagian tubuhku dan berusaha mengambil udara sebanyak mungkin untuk mengisi paru-paru yang terasa kosong sesaat lalu.
"Kamu menuruni bakat keluarga Papa kamu, nduk?" tanya Papa Indra yang aku yakin paham dengan kondisiku.
"Hehe. Iya, Om."
"Dulu papa kamu dipanggil pengusir setan di sekolah. Kami bagai ghost buster sekolah. Jangan takut, ya. Kalau yang tadi baik."
Mama Indra menatap jam di pergelangan tangannya. Lalu teringat sebuah acara penting yang harus dihadiri bersama suaminya.
Indra menarik tanganku lalu membawaku ke lantai atas.
Dia membuka kamar dan kuduga ini kamarnya. Ada sebuah balkon di samping, dan kami duduk di sana. Menikmati pemandangan dari atas sungguh menenangkan.
"Nis, maaf kalau aku lancang. Pasti kamu kaget sama perkataan ku tadi. Tapi aku serius." Indra duduk menghadapku. Netra kami saling bertemu. Aku memang melihat keseriusan dari matanya. "Aku sayang kamu. Kamu mau, kan, menikah sama aku? Jadi istri sekaligus ibu dari anak-anak kita?"
Aku tertegun dan sempat diam beberapa saat.
"Kalau kamu belum mau menikah dalam waktu dekat, nggak apa-apa. Kita bisa bicarakan lagi. Asal kita tunangan dulu. Gimana?" Ia mengeluarkan kotak perhiasan dan muncul sebuah cincin berlian yang elegan.
"Iya. Aku mau."
"Hah?! Alhamdulillah." Indra menutup wajahnya dengan mata yang berbinar.
"Tapi ...."
"Eh kok pakai tapi?"
"Tapi aku harus selesai kuliah dulu. Baru kita menikah. Deal?"
"Deal."
Indra langsung memelukku sambil berputar-putar.
Dia senang sekali. Aku pun sama. Bahagia. Saat kupikir, trauma masa lalu itu membuatku sulit mencari jodoh, dan membuatku sedikit menjaga jarak dengan laki-laki. Rupanya Indra mampu mematahkan hal itu. Aku jatuh cinta padanya. Dan yakin pada Indra.
Selepas sholat subuh. Indra sudah ada di Rumahku. Kami sudah janjian akan balik pagi pagi memang. Permasalahan di sini, sudah selesai. Jadi aku bisa kembali beraktifitas seperti sedia kala dengan tenang. Papa tidak perlu aku khawatirkan lagi.
"Nis, Indra udah di depan itu," kata Kak Yusuf yang sudah masuk kamarku.
"Oh iya, Kak. Sebentar lagi Nisa keluar. Kapan Kakak balik ke Jakarta?" tanyaku.
"Nanti sore, Nis. Kamu hati-hat, ya, nanti. Jangan lupa sholat. Kata Arif, kamu nggak perlu takut ngadepin 'mereka'. Kita manusia, derajatnya yang paling tinggi dan mulia. Kamu harus lawan rasa takut kamu." Nasehat Kak Yusuf. Sama seperti nasehat Indra tempo hari.
Aku kemudian mendekat ke Kak Yusuf dan memeluknya.
"Iya, Kak. Insha Allah, cuma suka kaget aja kalau pas muncul tiba tiba. Nisa kaget akhirnya panik duluan."
"Hehehe. Ya harus latihan, Dek. Kalau ada apa-apa, kabarin Kakak, ya. Inget! Pacarannya yang bener, jangan aneh- aneh! "Kak Yusuf kali ini memencet hidungku yang mancung.
"Iya Kak. Siap."
"Ya udah sana, kasian tuh Indra nungguin."
Aku pun keluar kamar dengan Kak Yusuf. Aku lihat diruang tengah sudah ada Papah dan Kak Adam, juga Indra yang sudah rapi dengan kemeja putih, celana jeans dan sepatu yang senada dengan kemejanya. Dia terlihat lebih segar dan ... eum, menarik.
"Kalian sarapan dulu saja," suruh Papah.
"Entar aja deh, Pah. Nisa males. Nanti kalau udah sampai, Nisa beli sarapan kok."
"Ingetin itu, Ndra. Nisa suka nggak teratur makannya," celetuk Kak Adam, menanggapi.
"Iya, Kak. Nanti Indra pastikan Nisa bakal sarapan kok."
"Ya udah Nisa berangkat sekarang, ya. Takut nggak keburu kuliahnya."
"Iya, hati hati. Jangan ngebut ngebut, Nak Indra,"pinta Papah.
Mereka mengantar kami sampai depan teras. Lalu aku dan Indra segera naik mobil, dan meninggalkan halaman rumah. Kembali pada rutinitas kami.
"Kita sarapan dulu, ya. Kamu pengen sarapan apa, sayang?" tanyanya lembut.
Aku masih belum terbiasa mendengar panggilan itu keluar dari mulut Indra. Yah, kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya, Bahkan sejak pertama kali kami bertemu. Aku tidak tertarik padanya, tapi justru kini aku sangat menyayanginya.
"Eum, apa yah. Sate ayam aja deh, pakai lontong. Biasanya deket perbatasan kota banyak, Ndra," kataku mencari alternatif yang mudah. Karena dalam situasi pagi buta seperti ini, belum banyak kedai makanan yang buka.
"Oke sayang."
Tak butuh waktu lama, kami segera menemukan sate lontong yang ku maksud. Karena hampir di sepanjang jalan, penjual sate lontong sudah mulai membuka lapaknya. Dan biasanya akan ludes sebelum siang. Indra pesan dua porsi sate lontong dan teh manis hangat. Kedai ini ada di pinggir jalan, dengan tenda di atasnya dan duduk hanya beralaskan tikar. Sungguh manis. Bukan karena makanan atau tempatnya, tapi karena kehadirannya.
Suasana sekitarku masih sepi, hanya ada sebuah keluarga dengan 2 anak yang masih balita. Namun berbeda dengan tenda penjual nasi rames di samping. Sejak tadi terlihat ramai sekali. Tapi bukan itu yang menjadi masalah bagiku. Tapi, makhluk di depannya. Ada sesosok makhluk berwarna merah dengan taring panjang dan air liurnya yang terus menetes, di kepalanya ada semacam tanduk. Makhluk ini terus menatap ke makanan di gerobak itu. Aku langsung menutup mulutku menahan mual yang mulai kurasakan.
"Kenapa, Nis?"
"Itu ... itu." Aku hanya menunjuk ke arah gerobak itu, sambil menutupi wajah dengan sebelah tangan. Males sekali rasanya. Membuat nafsu makan ku hilang sekejap.Sate yang kami pesan baru saja selesai. Penjual sate itu merasa heran melihatku. Saat menatap ke tenda di sampingnya.
"Biarin aja mba. Udah biasa. Memang tempatnya di situ," kata penjual sate itu santai.
Aku sontak kaget. "Ibu bisa lihat juga?" tanyaku.
"Iya mba. Saya tiap hari liat begitu tuh, sekarang sih udah biasa. Awalnya juga kayak Mba," bisiknya seolah ini adalah pembicaraan rahasia. Indra hanya menyimak obrolan ini sambil menikmati satenya.
Karena aku sudah tidak kuat aku memegang Indra dan makhluk itu hilang.
"Kamu nggak apa apa sayang? minum teh dulu ya. Jangan diinget lagi." lalu menyodorkan teh hangat kepadaku.
"Iya,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Fitri wardhana
so sweet
2022-07-26
1
Hasnah Siti
yuk kalian...kita baperan berjemaah nih
2022-04-16
1
dream story
:)
2022-01-26
0