Pagi ini Indah menjemputku ke Kos. Dia masih khawatir dengan keadaanku pasca keluar dari Rumah Sakit.
"Kamu yakin mau kuliah, Nis? Nggak istirahat aja di Kos?"
"Kamu Ndah ... kayak nggak tau aku aja. Mana bisa aku istirahat di Kos. Eh iya, lusa aku pindah Kos, Ndah."
"Di mana memangnya?"
"Deket Kampus. Kos tempat Indra juga."
"Cie ... Makin mepet aja nih. hihihi," ledek Indah dengan kekehan kecil.
"Ih ... ketawamu, Ndah. Mirip Tante Kun aja," kataku meledeknya dan berjalan meninggalkan nya.
"Ngaco ah! Pagi pagi ini lho, Nis. nggak usah mulai deh manggil-manggil mereka!" jerit Indah sambil menyusulku berjalan.
***
Sampai Kampus sudah ada Ferly dan Feri. Mereka ini pasangan paling cocok di muka bumi. Ke mana-mana selalu berdua dan dilihat dari nama saja, nama mereka hampir mirip, bukan? Mungkin jodoh?
"Udah sehat, Nis?" tanya Feri.
"Alhamdulillah."
"Gimana ceritanya sih, Nis. kamu bisa berantem gitu?"
Ferly ini temanku dari Zaman SD. Kami juga bertetangga dekat jadi dia sangat paham bagaimana karakterku sejak dulu.
Aku pun menceritakan soal Olive dan semua tragedi di keluarganya. Bahkan setiap detil mimpi dan penampakan sosok itu selama ini. Mereka hanya menanggapi dengan anggukan kepala dan ikut kesal dengan Danar.
Kami pun segera masuk kelas karena sebentar lagi kuliah akan dimulai.
***
"Pulang kuliah makan, yuk. di Cafe biasa," ajak Ferly.
Semua mengiyakan saran Ferly. Kami memang sering hangout bersama sama seperti ini. Bahkan bagai agenda rutin setiap hari.
Saat keluar kelas. Indah menyenggolku.
"Nis, Abang mu tuh," tunjuk Indah dengan dagunya ke parkiran yang tak jauh dari kami berada. Di sana ada Kak Adam yang sedang duduk di atas motor dengan kaca mata hitam bertenger di hidungnya
"Aku nemuin Kak Adam dulu, ya."
Mereka mengangguk dan pergi meninggalkanku dengan Kak Adam. Aku berlari kecil ke arah pria berjaket kulit di sana. Senyum tipis merebak sepanjang kami saling tatap.
"Kakak udah lama?"
"Baru 20 menit. Udah kelar kuliah? Makan yuk. Kakak lapar," ajak Kak Adam lalu memakai helmnya.
"Traktir tapi."
"Baik, Nona."
Aku segera naik boncengan motor Kak Adam, dia menyukai motor sport. Sehingga saat membonceng Kak Adam aku harus menunduk sambil memeluknya. Kak Adam juga kalau naik motor bagai di arena balap. Memang cita-cita ingin menjadi seorang pembalap hanya saja Papah tidak mengijinkannya. Alhasil saat SMA Kak Adam sering ikut balap liar tanpa sepengetahuan Papah. Saat di jalan aku merasa seperti berpapasan dengan mobil Indra. Tapi karena Kak Adam mengendarai motor dengan cukup kencang, aku tidak bisa memastikan itu Indra atau bukan.
Kami sampai di Restoran seafood favoritku. Kami sekeluarga memang sangat menyukai seafood. Setelah menemukan tempat yang nyaman, kami duduk dan memesan makanan.
Tak butuh waktu lama, makanan pesanan kami datang juga.
"Kakak nginep, kan?" tanyaku dengan melahap nasi dengan lauk lobster saus padang kesukaanku.
"Iya, nginep. Kakak juga lagi cuti nih." katanya sambil menyuap cumi saus padang di hadapannya.
"Asik ... Terus kapan rencana nikah sama Kak Shinta?"
"Bulan depan, Nis. Kamu harus pulang. Awas kalau nggak pulang! Kakak marah!" ancamnya.
"Siap, Bos. Oh iya, lusa aku mau pindah Kos, Kak. nyari yang deket Kampus deh, biar nggak sering telat."
"Oh gitu. Ya udah. Kamu itu aneh, suruh pake mobil, nggak mau. Bawa motor juga nolak. Coba kalau bawa kendaraan sendiri, nggqk bakal repot ke mana-mana nunggu angkutan umum, kan? Dibikin susah sendiri sih."
"Aku masih trauma kali Kak. Belum berani nyetir sendiri."
Aku memang pernah mengalami kecelakaan sewaktu menyetir mobil sendirian. Saat itu tiba tiba ada sosok yang ikut numpang di belakang jok mobilku. Karena kaget, aku oleng dan kecelakaan pun tidak bisa dihindari.
Aku bahkan sampai dirawat 2 minggu di Rumah Sakit. Sejak saat itu aku tidak berani naik mobil sendirian.
Notifikasi pesan di gawai membuat perhatianku teralih, beberapa pesan kubalas sambil terus makan. Saat aku beralih ke beranda, ku melihat status yang baru saja dibuat oleh Indra. Memang hanya sebuah emotion marah dan sedih. Iseng aku mengomentarinya.
[Kenapa, Pak Polisi? Lagi galau, ya. hehe.]
[Biasa aja]
'Hm tumben Indra dingin gini. kayaknya dia beneran lagi bete.'
Ku urungkan niatku membalas nya lagi.
'Biar aja lah. Mungkin dia butuh waktu sendiri.'
Beberapa saat kemudian. Ferly mengirimiku pesan. Dia bilang mereka sedang berkumpul di Alun Alun Kota dan ada Indra juga katanya.
Entah kenapa kalau mendengar nama Indra aku seperti ada hal yang membuatku tersenyum. Aku pun mengajak Kak Adam ke sana.
Setelah Kak Adam membayar makanan tadi, kami naik motor Kak Adam lagi menuju Alun Alun.
Tak butuh waktu lama kami sampai di Alun Alun karena jaraknya memang tidak begitu jauh dari cafe tadi.
Dari kejauhan teman temanku sudah di sana. Berkumpul dengan suara tawa atau teriakan yang cukup kencang. Bahkan dari parkiran keributan yang mereka ciptakan sudah terasa.
Indah rupanya mengajak kekasihnya, Reno. Begitu pula Nindi. Sementara aku mencari-cari sosok yang memang sejak tadi menarik perhatianku. Indra. Ia terlihat lebih pendiam dari yang lain. Tapi kharismanya selalu menarik perhatianku. Terlebih dengan kemeja putih yang dibalut jaket levis yang ia kenakan.
Kak Adam memarkirkan motor tak jauh dari pohon beringin. Kondisi parkiran memang agak lenggang. Feri baru saja membawa dua buah jagung bakar dan pasti untuk Ferli.
" Hai," sapaku ke mereka.
"Lama bener, Bu? Pacaran mulu deh!" ujar Indah sambil melirik Indra.
Wajah Indra terlihat agak masam. Ia selalu menghindari kontak mata denganku. Aneh.
'Tunggu! Jangan bilang dia cemburu.'
"Ngawur! Pacaran kamu bilang? Pasti kalian nggosipin aku nih."
Tawa Indah menguar bersama udara sekitar. Ferli ikut menutup mulutnya dengan lirikan ke arah Indra. "Eh kenapa sih?" tanya Nindi yang sepertinya bingung dengan keadaan ini. Sama sepertiku.
Aku beralih mendekat ke Indra.
"Eh, Indra. Libur? "tanyaku basa basi.
"Iya. Lagi libur," jawabnya dingin.
"Dia nyariin kamu, Nis, dari tadi di Kampus. Pas kamu pergi tadi, dia dateng. Ya udah kita ajak aja ke sini."
"Iya tah? Ada apa? "tanyaku santai.
"Nggak papa kok," katanya sambil melirik ke Kak Adam.
"Oo ... Eh Kak ... Kenalin ini Indra. Indra kenalin ini Kak Adam ... Kakakku."
Kak Adam mendekat lalu mengulurkan tangannya ke Indra. Netra Indra membulat sempurna saat kalimat itu terucap dari bibirku. Ia menatap Kak Adam lalu bergantian padaku. Sementara Indah dan Ferly tertawa puas sekali. Aku yang paham kondisi ini lalu melempar mereka dengan jagung bakar yang ada di gerobak depanku.
"Ih Nisa! Panas tau!" gerutu mereka kesal.
"Salah siapa coba! Kalian ngomong macem macem, ya," hardik ku menghampiri mereka dan mencubit mereka bertubi tubi.
Sementara dua pria tadi malah langsung akrab. Mereka terlibat obrolan diiringi senyum dibibir Indra. Gawai Kak Adam berdering tk lama setelah itu. Ia mendekatkan di telinga lalu menyodorkan padaku. "Papah nelpon."
Awalnya aku menggeleng cepat, berusaha menolak dengan wajah memelas yang dibuat-buat. Tapi benda pipih itu langsung diberikan kak Adam tepat pada telapak tanganku. Alhasil aku pun menerimanya. "Halo, Pah ...." Aku mulai menjauh dari mereka. Mencari tempat yang lebih sunyi karena suara Papah tidak begitu jelas.
"Oke, Pah. Besok Nisa pulang." Tanpa basa basi lagi aku menekan tombol merah digawai Kak Adam. Lalu kembali menyerahkan benda pipih itu pada kakakku.
"Kenapa tuh muka? Berantem lagi?" tanya Kak Adam heran.
"Biasa! Males aku ... kakak tau, kan? Aku nggak suka sama perempuan itu?!" kataku dingin.
"Iya, kakak tau. Tapi setidaknya kita ikuti mau papah. Kasian, Nis, semenjak mamah meninggal, papah belum pernah deket lagi sama perempuan mana pun."
"Aku tau, kak. Tapi nggak sama perempuan sinting itu juga, kan?" jeritku, melirik teman teman yang juga tengah menatap perdebatan kami. "Lina itu nggak cocok buat papah! Dari awal aku nggak suka sama dia. Dia ... aneh! Lagian apa kata orang kalau ibu tiriku seumuran sama aku?! Gila, ya?!" Aku makin jengah jika terus membahas soal Lina. Kuputuskan untuk pergi menjauh. Aku ingin sendiri.
"Nis! Nisa!" teriak Kak Adam memanggilku.
Suaranya keras namun aku tak menghiraukannya. Bahkan saat orang-orang menatapku dan Kak Adam bergantian, aku terus saja berjalan hingga sampai di pohon beringin. Duduk di bangku panjang yang terbuat dari semen. Menikmati semilir angin sepoi-sepoi yang cukup menyegarkan wajahku di hari yang sudah beranjak petang. Senja mulai nampak di ufuk barat, semburat merah kian tersebar di seluruh semesta.
"Nisa ... Aku boleh duduk di sini?" tanya Indra yang kini sudah berdiri di sampingku.
"Heem," aku menyahut tanpa menatapnya. Bahkan netraku terus memperhatikan deretan delman yang sedang menunggu penumpang.
Delman masih sering terlihat di kota ini, walau bukan lagi sebagai angkutan umum, karena lebih sering digunakan untuk wisata keliling kota.
"Kamu tau nggak? Aku pikir Kak Adam itu pacar kamu tadi. Kalian kelihatan mesra banget," katanya sambil sedikit tertawa.
Perkataannya barusan mampu membuatku menarik dua sudut bibirku.
"Kak Adam memang laki-laki baik dan sering memanjakan aku sih. Walau kadang kami suka berantem. Orang-orang yang nggak tau pasti ngira kami pacaran."
"Eum ... maafin aku, ya, Nis. Kemaren aku sempet bentak bentak kamu," kata Indra dengan menundukkan kepala, menatap kedua kakinya yang tengah memainkan pasir di antara rerumputan di bawah kami.
"Ah. Nggak apa-apa, Ndra. Aku juga salah kemaren. Maafin aku juga, ya."
"Nggak salah kok. Wajar kamu emosi. Tapi lain kali jangan bikin kita diambang kematian lagi, ya," sergah Indra, mengacak-acak rambutku, dengan senyum yang dibuat makin lebar. "Ya udah, yuk. Balik ke sana. Kasian Kak Adam. Pasti cemas tuh." Aku mengangguk lalu mengikuti Indra dan berkumpul kembali bersama yang lain.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Friest Lyiee
kenapa mikir gitu dan buat apa dia ngomong gitu.hmmm🤔Emang dia siapa dan pacaran pun belum😆😆😆🤣
2022-06-04
1
Dewi Nurmalasari
alamat indra cemburu
2022-05-09
1
Hasnah Siti
bagus ceritanya thor...mau lanjut baca lg...
2022-04-16
1