Olive sekarang ada di sudut kamarku menatap kami sembari tersenyum. Lama kelamaan bayangannya seperti sebuah cahaya, bersinar dan memudar ke udara.
"Makasih, Nisa. Totip Indra, ya. " Hanya itu yang kudengar saat Olive menghilang.
Apa mungkin Olive sudah tenang? Syukurlah kalau begitu.
Aku yang masih bingung lalu dikagetkan Indra.
" Ih. ngelamun aja." Indra menepuk bahuku pelan.
"Ah. kamu ! ngagetin aku aja."
"Lagian bengong mulu. Liatin apaan sih?"
"Olive. Dia udah tenang kayaknya," kataku datar.
Indra lalu diam.
"Semalem juga Olive dateng ke mimpiku," katanya sambil menunduk. Nafasnya terlihat berat.
"Oh iya? Terus bilang apa, Ndra? " tanyaku antusias.
"Aku suruh jagain kamu," kata Indra lalu memencet hidungku. Dengan senyum tipis di bibirnya.
Aku cubit saja perutnya.
" Sakit ...." Dia tertawa.
"Oh iya, Nis. Papah kamu mau dikabarin nggak? aku mau telfon semalem nomer hpnya nggak aktif."
" Nggak usah lah. Biar aja. Lagian aku nggak kenapa napa," kataku cuek.
Aku dan Papah memang agak renggang akhir akhir ini . Karena Papah memutuskan akan menikah lagi. Aku merasa masih belum siap menerima kehadiran Ibu Tiri di hidupku. Apalagi wanita pilihan Papah itu terlalu muda. Aku takut dia hanya ingin memanfaatkan Papah saja. Tapi malah Papah memarahiku.
Indra seakan tau aku malas membahas Papah.
"Eh, Nis. Ternyata kita tuh dari kota yang sama lho," kata Indra mengalihkan pembicaraan.
"Masa? Serius?"
"Iya. Kapan-kapan kalau kamu pas mau mudik, kita bareng aja."
Aku hanya menganggukan kepala, meraba kepalaku. 'Masih nyeri. Semoga nggak gegar otak. berkali kali kena hantaman benda tumpul. Dari tertabrak mobil Indra, terus kena pukul juga kemaren. Semoga nggak konslet ini kepala.'
"Ngomong-ngomong, kamu jago juga berantemnya. Nggak nyangka lho, Nis."
"Papah kan guru karate, Ndra. Masa iya anaknya nggak bisa bela diri."
Pintu kamar dibuka, Mamah Olive masuk ke kamarku. membawa beberapa buah. "Tante?" sapa Indra agak terkejut.
"Nisa. kamu gimana, nak? " tanyanya khawatir sambil membelai pipiku lembut.
"Nggak apa-apa kok mah. Ini sih kecil. udah biasa," kataku santai.
"Kamu nya sih biasa aja. aku nya yang jantungan tau!" Indra menyahut dengan ekspresi sebal.
" Ih. Kok ngambek gitu ! Jelek tau," kataku meledek Indra.
" Biarin ! kamu pikir aku nggak jantungan kemaren? lihat kamu nekat gitu! "
Aku tersenyum. Senang rasanya dia khawatir terhadap keselamatanku.
"Kalian ini berantem aja sukanya. hati hati lho nanti bisa suka," cerocos Mamah Olive meledek kami.
Akhirnya kami diam.
"Mah. Om nggak ikut? "tanyaku sungkan.
"Nggak Nisa. Om lagi di Kantor polisi, ngurusin Danar."
"Yang sabar ya, Mah. Terus akhirnya gimana Danarnya?" tanyaku.
"Ya gimana lagi. Dia harus mempertanggung jawabkan kesalahannya. Om juga udah ikhlas. Danar dihukum berapa tahun juga. Silakan."
Aku mengelus punggung tangan Mamah Olive.
"Yang penting Mamah harus jaga kesehatan. Biar Olive tenang di sana," bisikku, menatap lekat-lekat bola matanya.
"Iya, Nisa. Eh, kamu tinggal sama Mamah aja, ya, di Rumah. Biar rumah mama jadi ramai, jadi nggak kesepian."
"Mm ... kapan-kapan aja, ya, mah. Lagian juga jauh dari Kampus. nanti aku sering telat."
"Hm ... sekarang aja Kos kamu jauh dari Kampus kok " Indra menambahkan.
" Rencana nya sih aku mau pindah Kos yang deket kampus. kemaren di sana cuma ngabisin kontrak aja, nggak kuat sama penunggunya. Bulan ini kebetulan abis kontraknya. Oh iya, Kosan yang masih kosong mana aja, Ndra. Kan kamu deket Kampusku?" tanyaku.
"Kos tempatku aja deh. "
"Kenapa? " tanyaku heran.
"Biar tiap pagi ada yang bikinin aku sarapan," kata Indra lalu tertawa.
"Kalau itu sih nyari istri aja, Ndra. malah nyari temen kos." timpal Mamah Olive.
Indra hanya garuk garuk kepala.
\=\=\=\=\=
Hari ini aku sudah dibolehkan pulang oleh dokter. Dengan sedikit memaksa juga sebenarnya.
Mamah Olive sudah pulang duluan karena ada urusan di Rumahnya.
Aku diantar Indra sampai Kos.
Kaki ku memang masih sakit. Jadi saat berjalan, aku lamban sekali. Indra tiba tiba membopongku naik ke Kamar Kos ku yang letaknya di lantai 2.
Untung kos ku sedang sepi. Jadi nggak bakal ada gosip aneh aneh deh.
Aku mempersilahkan Indra masuk dan duduk dulu.
"Anggep aja Rumah sendiri," kataku lalu masuk ke Kamar Mandi. Badanku terasa lengket, rasanya guyuran air akan membuatku merasa lebih baik.
Tak berapa lama aku keluar Kamar Mandi dan kulihat Kamarku lebih rapi sekarang.
"Kamu beres-beres?" tanyaku ke Indra yang sedang membuat kopi.
"Yoii ... Habisnya Kamar kok mirip kapal pecah,"katanya heran.
"Hehe ... aku jarang di Kos, Ndra."
Indra membuat kopi dan segelas susu hangat untukku.
"Di minum. Nggak usah malu malu. Anggep aja Rumah sendiri, ya."
Aku yang akan mencubit lengannya, malah tanganku lebih dulu dipegang olehnya.
Kedua pasangan mata kami bertemu. Ada rasa aneh saat hal ini terjadi. Bukan hanya sekali. Biasanya kami berdua akan sama-sama kikuk setelahnya.
Indra menyeruput kopinya sedikit demi sedikit. Begitu pula aku. Menghabiskan susu hangat yang terasa lebih manis karena ada Indra di dekatku.
***
Dering gawai terdengar nyaring. Bergerak-gerak di atas meja. Sekilas aku melirik dan tertera nama Kak Adam di sana.
"Halo, Nis? Kamu di mana?"
"Di Kos, Kak. Kenapa?"
"Aku denger kamu masuk Rumah Sakit ? Kamu nggak apa-apa? "
" Siapa yang bilang?"
" Indah."
"Aku nggak apa-apa kok, Kak. Nggak usah cerita ke Papah lho. Males aku nanti ribet."
"Ya udah. Tapi kamu nggak papa kan, Nis? "
"Nggak papa Kak. Aku udah di Kos kok. Sehat sehat aja. Kakak kayak nggak paham aku."
"Mmm. ya udah deh nanti kita sambung lagi. jaga diri, Nis."
"Siap komandan!!"
Indra tersenyum mendengarku.
"Kakak kamu, Nis? "
"Iya. Ini si Indah pake ngadu segala lagi. Bakalan ada acara penjemputan paksa kalau keluargaku tau kejadian kemaren."
"Lho, ya, nggak apa-apa, kan? Itu artinya keluarga kamu sayang sama kamu."
"Ribet nanti ujung ujung nya, Ndra. Aku ini dianggep kayak anak kecil terus sama mereka."
"Emang kamu masih kecil. Makanya makan yang banyak. Biar cepat besar," ledek indra.
"Iih kamu ah.. Serius ni aku nya."
"Hehe. Iya iya. Kamu berapa bersaudara? " tanya Indra sambil masih asik meminum kopinya.
"Aku 3 bersaudara, Kakakku cowok semua. Kak Adam tadi yang pertama, Kak Adam bentar lagi mau nikah. Kakak ku yg ke 2 Kak Yusuf. Masih kerja tapi di Jakarta," terangku.
" Oh ... pantes kamu dimanja. Kamu anak bontot. Cewek sendiri lagi," kata Indra dengan sedikit mendengus hingga hidungnya terlihat bergerak-gerak. "Kamu nyium bau bunga, Nis?" tanya Indra sambil melihat sekeliling Kamar Kos ku.
Tanpa menjawab, aku malah makin merapatkan diri ke Indra.
"Aku cek ke luar, ya." Kutahan tangan Indra dan menyuruhnya tetap tinggal. Ia menatapku agak lama dan kemudian menarik sebelah bibirnya. "Ya udah. Kita salat maghrib aja, yuk. Udah azan nih."
Selesai sholat. Indra memesan makanan melalui aplikasi daring. Malam ini aku lebih merasa tenang dengan adanya Indra di kos ku. Aku makan dengan lahap dan bisa tidur lebih nyenyak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Fitri wardhana
pesen 1 thor yg kya indra tapi buat anaku yg perawan klo aku gk usah udh ada🤣
2022-07-26
0
라벤더(labendeo)
Typo kak titip
2022-04-22
0
Hasnah Siti
iya tuh..bikin baper ajah😅
2022-04-16
1