"Papah!" teriakku histeris.
"Nis! Nisa ...! Kamu mimpi, Nis?"
Mataku terbuka sempurna, dan melihat Indra ada di depanku. Aku langsung memeluknya.
"Mimpi apa, Nis?" tanya Indra.
"Papah, Ndra ... Sekarang jam berapa, Ndra?"
Indra melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Jam 8 malem, Nis."
"Aku harus pulang sekarang. Aku pesen travel aja deh. " aku beranjak, namun ditahan Indra.
"Ya udah, pulang sekarang! Tapi aku anter ya. Nggak baik malem malem gini kamu pergi sendiri naik travel. Nggak bakal aku biarin!" Kata Indra tegas.
Aku bengong dibuatnya.
"Kamu ganti baju sekarang. Aku balik ke kamarku, ganti baju terus ke sini lagi. Oke?"
Aku pun menurut saja. Segera aku ganti baju sesuai perkataan Indra tadi.
Tak lama Indra sudah kembali ke kos ku. Aku pun sudah siap. Dengan hanya membawa tas kecil untuk dompet, handphone dan charger saja.
"Udah siap? yuk, berangkat sekarang,"ajak Indra.
Aku mengangguk lalu mengunci kamar Kos ku.
Hujan sudah reda rupanya. Berarti aku tidur cukup lama tadi. Namun jalanan masih basah.
"Ndra ... Maaf ya, aku ngerepotin kamu terus," kataku sungkan.
"Santai aja. Aku nggak keberatan kok. Oh iya, mau makan dulu nggak?"
"Kamu udah laper?"tanyaku.
"Hu um. laper lagi, Nis. Wah gendut nih kalau sama kamu. Jadi doyan makan aku. Kita mampir makan dulu aja, ya."
Aku mengiyakan saja. Kasian juga Indra. Dia pasti lelah karena membantuku membereskan kos ku tadi, dan sekarang harus nyetir pula.
Perjalanan ke kotaku membutuhkan waktu dua jam naik mobil. Kami berhenti di Restoran terdekat.
"Kamu pesen apa, Nis?" tanyanya saat memegang buku menu.
"Es jeruk. Sama bakso."
"Jangan es jeruk, yang lain aja gimana? "
"Kenapa?"tanyaku.
"Perutmu nanti kambuh, Nis. Kebanyakan minum yang asem asem."
"Kamu tau dari mana? Kak Adam ya?"
"Iya. Pesen teh anget aja, ya. Atau mau capucino float aja?" sarannya.
"Capucino aja, Ndra."
"Capucino float 1 ya, Mba. Terus bakso iga 1, nasi ayamnya 1 terus air putih. Itu aja, Mba," kata Indra sambil menyerahkan buku menu ke waitres itu.
Setelah makanan datang, kami segera menghabiskan makanan itu. Sekitar 30 menit kemudian, kami kembali ke parkiran mobil dan segera melanjutkan perjalanan. Yah, amunisi sudah terisi penuh dan bersiap untuk perjalanan malam yang panjang ini.
Sudah 30 menit kami berjalan, makin lama aku memeluk tubuhku sendiri dengan kedua tanganku. Rupanya gerimis masih terlihat sepanjang jalan. Dan aku lupa memakai jaket karena terburu-buru. Ac di mobil Indra memang dinyalakan walau dengan suhu yang kecil. Karena jika tidak, kaca akan mengembun karena ditutup. Tapi jika kaca dibuka, gerimis dari luar akan masuk ke dalam.
Indra kemudian melepas sweater nya lalu menyuruhku memakainya.
"Pakai punyaku, biar anget."
"Kamu gima ...." Aku yang belum menyelesaikan kalimatku sudah dipotong Indra.
"Aku nggak apa apa. Bajuku cukup panjang kok, nggak usah khawatir. "
Pukul 23.00 tepat, kami sampai di halaman rumahku.
Kak Adam pasti di rumah, karena kulihat mobil dan motornya terparkir di garasi samping yang memang tidak tertutup.
Pak Bowo-tukang kebun rumahku- mengernyitkan kening dari kejauhan, lalu berlari mendekat untuk membuka pagar.
"Eh, Neng Nisa, kok pulang malam-malam begini?" tanya Pak Bowo heran.
"Iya. Kak Adam di Rumah, kan, Pak?"
"Ada kok."
Kami langsung masuk ke rumah.
"Asalamualaikum," teriakku saat masuki ruang tamu.
"Wa alaikum salam. Nisa? kok pulang sekarang? Kakak pikir besok?" Kak Adam terkejut melihatku.
"Iya, Nisa nggak sabar nunggu besok. Kak Yusuf belum sampai?" tanyaku sambil duduk di sofa ruang tengah.
"Besok pagi sampainya. Eh, sama Indra juga. Sini Ndra, masuk," panggil Kak Adam saat melihat Indra masuk juga.
"Iya kak. Nisa nekat mau pulang sekarang. Jadi aku anter. Kebetulan besok juga aku libur."
"Syukur deh. Tenang kalau pulangnya bareng kamu."
"Papah kenapa, kak?" tanyaku penasaran.
"Hm. Nggak tau, Nis. Papah aneh. Sikapnya gampang berubah. Seolah puny kepribadian ganda. Kakak khawatir."
"Dipelet kali sama tu perempuan!" Kataku asal.
"Husss ngarang!" kata Kak Adam menepis anggapanku.
"Aku dapet firasat, Kak. Lina yang bikin papah gini. Dimimpiku papah diikutin makhluk hitam gede banget. Auranya juga negatif, di sana ada Lina juga, dia ketawa ngeliat aku ketakutan. Aku coba kejar papah, nggak bisa-bisa. Aku panggil juga papah seakan nggak denger," terangku.
Kak Adam dan Indra nampak berfikir keras. Mencerna kata-kata ku barusan.
"Kita tunggu Yusuf aja, ya. Dia lebih paham. Oh iya.. Indra nginep sini aja, ya," saran kak Adam.
"Nginep? Eum. Aku balik ke rumah aja deh, kak. Nggak enak nginep di sini," tolaknya halus.
"Liat tuh jam berapa? Kasian kalau kamu mbangunin orang di rumahmu. Lagian kaya sama siapa aja. Udah ah nginep sini aja," kata kak Adam kali ini memaksa.
Akhirnya Indrapun menginap
Aku pergi ke kamarku yang bersebelahan dengan kamar tamu yabg nantinya dipakai Indra tidur. Sementara Kak Adam & Indra masih ngobrol di ruang tengah.
Aku langsung mengambil air wudhu untuk salat isya, dilanjutkan salat hajat. Memohon kepada Allah agar papah kembali sadar jika memang ini karena ulah Lina, semoga lina juga disadarkan. Kulanjutkan dengan zikir. Sampai aku tertidur masih mengenakan mukena.
***
Aku bermimpi papah lagi. Dengan leher memakai rantai yang cukup besar. Papah kesakitan dan terus memohon agar dilepaskan. Lina memegamg rantai itu yang otomatis mengendalikan papah.
Aku menjerit karena tidak tahan lagi. Pintu dibuka kasar, Kak Adam dan Indra masuk kamarku.
"Ya ampun, Nisa. Kamu kenapa lagi?" tanya Kak Adam khawatir. Kak adam membantuku membuka mukena.
Baru sebentar. Papah juga ikut berteriak dari kamarnya. Otomatis Kak Adam sedikit bingung. Namun pada akhirny keluar kamar melihat keadaan papah. Dan menitipkanku pada Indra
"Papah kenapa, Ndra?" tanyaku ke Indra sambil menangis.
Indra membopongku naik ke kasur. "Sst. Udah, biar kak Adam aja yang urus. Kamu istirahat aja. Aku ambilin teh anget, ya."
Indra langsung berjalan ke dapur tanpa aku menjawab iya sekalipun. Tak lama kembali membawa segelas teh hangat.
"Minum dulu. Jangan lupa baca basmalah."
Aku meminum teh buatan indra.
Dalam hati aku memohon agar Kak Yusuf cepat pulang. Karena aku yakin Papa terkena gangguan sihir dan dalam hal ini hanya Kak Yusuf yang mengerti bagaimana cara menanganinya.
Indra menyeka air mataku yang terus mengalir. Ia mengecup kedua mataku yang tertutup.
"Yang sabar, ya, Niss. Kamu harus kuat demi Papa kamu," katanya lembut.
Tangisku malah semakin menjadi. Aku peluk Indra, dan dia berbisik pelan di telingaku.
"Aku sayang kamu. Aku ngga tega ngeliat kamu kaya gini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Fitri wardhana
akhirnya indra blg jga🤲
2022-07-26
0
Hasnah Siti
haishhhh aku juga mau dipeluk2 nih
2022-04-16
1
Saina Nazifa
baperrrrrrrr
2022-04-03
1