Tok ...
Tok ...
Tok ...
Pintu kamar Indra diketuk, Indra segera beranjak. Tak lama, kembali lagi membawa 2 bungkus ayam bakar lengkap dengan nasi dan lalapannya.
"Makan dulu deh, Nis." katanya lalu membuka kotak makan itu.
Karena perut juga sudah keroncongan. Aku memakannya dengan lahap. Indra tersenyum geli melihatku.
"Kamu laper atau doyan?" tanyanya sambil mengulum bibir menahan tawa.
"Laper+doyan. Hehe."
"Dasar! Oh iya. Kamu kuliah ngambil apa?" tanyanya santai.
"Ekonomi."
"Oh, udah semester berapa emangnya?"
"Semester 6, Ndra. Kalau Olive ngambil hukum ya?" tanyaku yang masih tetap fokus dengan makanan di depanku.
Indra terlihat menghentikan makan nya.
"Olive yang bilang?"
Aku mengangguk santai masih fokus melahap makanan di depanku.
"Kamu beneran bisa liat dia, Nis?" tanyanya yang mulai yakin kepadaku.
"Kan tadi aku udah bilang, dia ada disana itu," kataku seraya menunjuk sudut ruangan tempat Olive berdiri.
Indra menatap ke sudut itu.
"Jangan sedih ... Olive nggak suka liat kamu sedih terus karena mikirin dia," kataku mncoba menenangkan.
"Jadi dia di sini terus selama ini, Nis?"
tanya Indra penasaran.
Aku menatap Olive sejenak, "Eum-- enggak katanya. Dia baru aja muncul."
"Kenapa ya, Nis? kenapa baru sekarang dia muncul? Apa ada sesuatu yang bikin dia nggak tenang?"
Aku menghentikan makanku.
Bener juga ya ... Kenapa Olive baru muncul sekarang? Berarti ada hal yang membuatnya tidak tenang. Aku kembali menatap Olive. Olive tersenyum getir. Tanpa sepatah katapun. Tak lama Olive menangis, tangisannya sungguh memilukan membuat bulu kudukku berdiri. Bahkan seluruh badanku merinding hebat.
"Olive nggak bilang apa apa, Ndra."
Indra menghela nafas berat.
"Ya udah, makan dulu, Nis. Habisin ... Terus kamu istirahat."
***
Selesai makan, Indra menyuruhku tidur di ranjangnya.
Karena aku juga sudah sangat lelah. Mata ku pun dengan mudahnya terpejam.
Aku melihat mobil yang sedang diutak atik seseorang. Lalu tak lama setelah itu, aku melihat Olive akan pergi menaiki mobil itu. Dan saat di jalan, Olive dikejar -kejar seseorang, yang membuat Olive memacu mobilnya lebih cepat. Tapi saat akan mengerem. Rem nya blong. Olive menabrak pohon dan mobilnya terbalik tak lama terbakar.
Aku berteriak histeris.
Masih terbayang bagaimana Olive mengerang kesakitan karena terbakar di dalam mobilnya sendiri. Kulitnya melepuh, gosong hingga seluruh dagingnya terbakar hingga dia mati seketika.
"Nis—Nisa ... Nisss ... Kamu nggak apa apa? kamu mimpi buruk yah?" Indra sudah ada di hadapanku dengan wajah cemas.
Aku menangis sambil menatapnya. Indra lalu memelukku.
"Kamu mimpi apa, Nis?" tanyanya halus.
"Olive, Ndra,"
"Olive?"
"Olive nggak kecelakaan, Ndra ... Ada yang sengaja bikin dia celaka," kataku yang masih berada dipelukkan Indra.
"Apa? Siapa Nis orangnya?"
"Aku nggak begitu jelas ... Mungkin Olive pengen kasih tau ini, Ndra ke aku,"
"Arrrgghh ... Sialan!! Brengsek!! Siapa sih orangnya!!" umpat Indra.
"Sabar, Ndra ... Mungkin pelan pelan kita bakal tau," kataku mencoba menenangkan Indra yang dipenuhi amarah.
"Hmm--iya Nis. Makasih ya, Nis. Kalau nggak ada kamu, aku nggak bakal tau semua ini. Soal Olive ...."ucapnya
"Mungkin udah takdir, Ndra, kita ketemu. Semoga kita bisa tau siapa orangnya ya." sahutku.
"Ya udah, kamu tidur lagi Nis. Ini masih jam 2 malem."
Indra lalu menyelimutiku. Aku pun mencoba kembali tidur.
"Aaaahhhh!" aku menjerit lagi sambil menutup wajahku.
"Kenapa Nis?" Indra melihatku cemas.
"Itu ... ada ... ada ... Ihhhh ...."kataku lalu memeluk Indra.
"Udah nggak apa – apa, Nis. Ada aku disini. Jangan takut ya," katanya lembut.
Sosok wanita berwajah pucat, dengan darah di sekujur tubuhnya, berbaring di sampingku. Namun, kembali hilang.
"Ndraaa ...."
"Ya Nis,"
"Kamu tidur di sini juga ya ... Aku takut, Ndra. Kalau mereka tiba -tiba nongol lagi," pintaku sedikit memohon.
"Eumm-- ya udah deh. Aku temenin."
Akhirnya aku & Indra tidur diranjang yang sana. Aku memegang punggung Indra yang tidur membelakangiku, tubuh Indra menegak, seolah sungkan dengan sikapku.
"Eum—maaf ya, Ndra. Aku lebih tenang kalau bener – bener mastiin kamu masih ada di sini."
"Iya, Nis nggak papa. Ya udah tidur yuk!"
***
Pagi ini Aku bangun dengan perasaan senang. Bagaimana tidak, biasanya dalam semalam hampir 10x Aku terbangun karena gangguan mereka .
Dan malam tadi aku hanya terbangun 1x itu pun karena mimpi dari Olivia.
Ah,, ini tidur yang sempurna selama beberapa tahun belakangan ini.
Kulihat Indra masih nyenyak tidur disofa.
Ternyata dia pindah ke sofa. mungkin saat aku sudah terlelap.
Aku segera beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan berwudhu lalu menunaikan kewajibanku.
Setelahnya , aku menuju dapur, hendak membuat kopi.
Kebiasaanku tiap pagi, selalu menikmati secangkir kopi hangat.
Saat ku buka kulkas indra,ada beberapa bahan makanan.
Kupikir aku bisa sekalian membuat sarapan.
Aku memutuskan membuat nasi goreng yang kucampur bakso dan sosis .
"Niss.. kamu lagi ngapain? " suara Indra mengagetkanku.
Indra ternyata baru saja bangun mungkin karena suara berisik yang ku ciptakan di dapur.
" Haii-- pagi ... Aku ikin sarapan nih. Sorry ya, ngacak-acak dapur kamu."
" Sarapan? kaki kamu udah nggak papa? " tanyanya sambil memperhatikan kakiku.
"Eum-- mendingan ni, Ndra.
walau masih nyeri. Eh--yuk sarapan dulu. " ajakku yang telah selesai memasak.
" Hmm-- kayanya enak nih. tapi aku mandi dulu ya.. " katanya sambil tersenyum.
" Okee.. "
Indra kemudian mandi. sementara aku menyiapkan sarapan di meja makan.
Tak lama Indra keluar hanya memakai handuk saja.
Aku sedikit kikuk dengan keadaan ini. Aku mencoba berpaling, saat Indra menuju lemari bajunya.
Dia mengambil baju lalu kembali ke kamar mandi.
" Udah seger nih.. " ucapnya tak lama setelah itu.
" Aku makan duluan nih, Ndra --laper. hehe "
" Gak papa kali Niss. aku juga mandinya lama tadi. oh iya--kamu pake bajunya Olive aja, masih ada kok dilemari. " katanya .
" Eum-- boleh ? " tanyaku ragu.
" Ya boleh lah. lagian siapa yang mau pake Nis? ambil aja dilemari, pilih sendiri ya.. "
Aku segera mengambil baju dilemari Indra.
Dia melanjutkan sarapan karena dia juga harus berangkat kerja pagi ini.
Aku mengambil baju dan celana jeans yang kupikir muat dibadanku.
Dan segera masuk kamar mandi untuk berganti baju.
Saat aku selesai, Indra juga selesai sarapan.
" Cepet banget Ndra... ngebut ? " kataku meledek.
" Udah biasa gerak cepet Nis. " katanya tersenyum.
" Kamu juga berangkat kerja pagi? " tanyaku karena kulihat dia sudah memakai seragam dinasnya.
" Iya, nanti kita bareng aja ,aku anter ke kampus kamu sekalian. "
" gak papa Ndra? "
" Emang kenapa? nggak boleh ya? takut pacar kamu cemburu? " tanyanya menyelidik.
" Ishh-- Aku nggak punya pacar lagi! mana ada yang mau sama cewek aneh kaya aku. " aku agak ketus.
" Eh jangan ngomong gitu.. nanti juga pasti ketemu jodoh Nis.." katanya menyemangatiku.
" Amiin... "
\=\=\=\=\=\=\=\=
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 276 Episodes
Comments
Diajeng Endell Wi
duch terobati kngn ku sama nisa juga indra.... 😃😃
2022-11-11
0
Fitri wardhana
ada apa dgn indra????
2022-07-25
0
Ismawati Masyudi
mulaiii like...like. like....
2022-01-22
1