Bukankah kau sudah berjanji untuk menceraikannya.
Suara Nayla itu tiba-tiba bergema kembali di telinganya, sontak Zahra bangkit dari duduknya.
Lelaki itu terlihat tidak kalah kagetnya dengan Zahra.
‘Astaghfirullah’
Zahra sudah bersiap jika akhirnya dia harus dibentak seperti sebelum-sebelumnya.
Tapi anehnya, lelaki itu malah menghela nafas panjang.
Dia kemudian tersenyum dan mendudukkan Zahra kembali di kursinya.
“Tunggulah sebentar, aku akan mengambil piring dan sendok untukmu,” ucap lelaki itu sambil membalikkan badannya hendak beranjak menuju dapur.
Zahra menatapnya dengan heran, ia kemudian meraih kembali tangan suaminya.
“Apa kau tidak marah, Gus?” tanya Zahra berhati-hati.
Lelaki itu berbalik kembali ke arah Zahra, dan melepaskan tangan istrinya, sambil menggelengkan kepalanya.
“Tunggulah disini!” ucapnya begitu lembut dengan tatapan yang sangat hangat.
“Kenapa dia tidak marah padaku?” pikir Zahra terheran-heran.
Lelaki itu kemudian beranjak menuju dapur kembali.
Zahra masih tetap menatapnya.
“Maaf Gus, seandainya saja kau bukan orang yang dicintai Nayla,” gumam Zahra di dalam hati, tak terasa air matanya menetes.
Ia menelan ludahnya dan segera mengusap air mata itu dengan telapak tangannya, tak ingin suaminya itu melihatnya.
Lelaki itu kembali dengan membawa piring dan sendok di tangannya, ia tampak menatap Zahra dalam-dalam, kemudian mendekatkan wajahnya ke arahnya.
Tangannya tiba-tiba mengusap ujung mata Zahra.
‘Apa kau tau aku baru menangia, Gus?’ pikir Zahra sambil mundur dan mengusap ulang ujung matanya.
Dia tersenyum dan membuat Zahra bingung.
“Ada belek di matamu tadi?” ucap Gus Afkar membuatnya canggung karena malu.
“Astaghfirullah!” seru Zahra sambil membuang muka ke arah lain dan memeriksa ujung-ujung matanya dengan jarinya.
Lelaki itu tampak menunduk sambil terkekeh.
“Kau mengerjaiku, Gus,” teriak Zahra sambil menepuk dada lelaki itu yang terus saja tertawa.
“Eitts, kamu sudah berani memukul suamimu ya sekarang,” Ucap lelaki itu sambil memegang tangan Zahra yang baru saja memukul dadanya.
“Ini sudah kedua kalinya kamu memukulku, hati-hati kau bisa-bisa jatuh cinta pada auamimu ini nanti,” ujar lelaki itu dengan tatapan begitu serius.
Zahra segera melepaskan tangannya dari genggaman suaminya itu dengan gugup.
Gus Afkar terlihat menikmati kegugupannya dengan tersenyum.
Lelaki itu kemudian bangkit dan sengaja menggeser kursinya di sebelah Zahra.
“Bukannya Gus biasanya duduk di sana,” ucap Zahra sambil menunjuk kursi di seberang mejanya.
“Aku ingin dekat dengan istriku. Apakah itu mengganggumu?” ucap lelaki itu sambil mendekatkan lagi wajahnya.
Zahra tampak berkedip karena gugup.
“Apa kau tahu Zahra, saat ini kau terlihat begitu menggemaskan,”
Deg
Zahra kembali menelan air liurnya bersamaan dengan jakun lelaki itu yang terlihat naik turun.
‘Gus’
Lelaki itu kemudian terlihat berbalik menatap makanan di depannya.
Ia kemudian mengambil piring Zahra dan mengisinya dengan nasi.
“Apa segini cukup?” tanya lelaki itu sambil menunjukkan piring berisi nasi tersebut pada Zahra.
Zahra yang sedari tadi masih menatap suaminya penuh sesal tersentak kaget kembali.
“Iya Gus?” tanya Zahra yang tak mengerti apa yang sedang ditanyakan suaminya itu.
Kata-kata suaminya tadi terdengar mengambang di telinganya.
Lelaki itu tersenyum sambil menunduk, kemudian menatapnya kembali dengan wajah yang begitu serius.
“Azzahra Khairunnisa, kenapa aku merasa kau mulai jatuh cinta pada suamimu ini?”
Zahra tertegun diam, mendengar perkataan suaminya tersebut yang benar-benar tak disangka-sangkanya itu.
Apalagi dia terlihat memandang matanya begitu dalam.
‘Allah, haruskah ku ingkari janjiku?’ pikir Zahra mulai goyah.
“Assalamualaikum,” tiba-tiba terdengar suara Ummi Aminah dari luar.
“Waalaikumsalam,” jawab Zahra dan Gus Afkar bersamaan.
Zahra kemudian bangkit hendak membuka pintu, tapi dicegah oleh oleh suaminya itu.
“Kamu duduk di sini aja, biar aku yang bukakan pintu, You are the queen right now,” ucap suaminya sambil tiba-tiba berbisik di telinganya, membuatnya terperangah kembali.
Apalagi lelaki itu kemudian menatapnya diam begitu dekat.
“Apakah kau kan terus membuka mulutmu seperti itu?”
Zahra langsung tersadar dan menutup mulutnya yang terbuka sedikit itu, begitu mendengar ucapan suaminya tersebut.
Lelaki itu kemudian keluar membuka pintu.
Zahra yang merasa sungkan kepada mertuanya pun, segera mengikuti Gus Afkar untuk menyambut Ummi Aminah.
‘Ya Allah Ummi, repot-repot saja!” ujar Zahra sambil menerima semangkok sup dari ibu mertuanya itu.
‘Ndak papa, ini kebetulan Ummi masak banyak. Ummi sendiri lho yang masak,” ucap Umi Aminah sambil tersenyum kepadanya.
Gus Afkar terdengar berdehem mendengar percakapan antara mertua dan menantu tersebut.
“Kalau sudah ada menantunya, anaknya pasti di anak tirikan,”
Zahra tersenyum mendengar sindiran suaminya itu.
“Betul itu,” bukannya mengelak, Ummi Aminah malah menggoda putranya tersebut dengan menegaskan bahwa ucapan Gus Afkar itu benar.
“kalau sudah ada menantu secantik Zahra, ngapain Ummi masih ngurusin anak Ummi yang suka bantah ini,” ucap Ummi Aminah sambil menyentuh pipi Afkar.
“Ummi, kebetulan ini kami lagi mau makan. Apa Ummi mau ikut makan bersama kami?” tawar Zahra pada mertuanya tersebut.
Wanita itu terlihat mengangguk.
Akhirnya ketiganya berjalan menuju ruang makan.
Gus Afkar tampak menarikkan kursi untuk Umminya, kemudian menyendokkan nasi untuknya.
“Zahra, Bagaimana keadaan Nayla?” tanya Umminya tersebut.
Zahra langsung melirik ke arah Gus Afkar yang terlihat terhenti menyendok.
Wajah lelaki itu tampak tidak senang, dia balik menatap Zahra dengan serius.
“Kok malah bengong? apa terjadi sesuatu sama Nayla, kok kalian saling bertatapan seperti itu.
Zahra langsung menoleh ke arah Umminya sambil tersenyum, “tidak ada apa-apa Ummi, Nayla Insya Allah baik-baik saja, apa ummi butuh sesuatu, biar nanti Zahra yang sampaikan ke Nayla.”
Lelaki itu tampak menatapnya tajam ketika ia menawarkan hal itu kepada ibunya.
“Ini Ummi,” sela Gus Afkar sambil memberikan sepiring nasi itu kepada Uminya.
Dia kemudian mengambil duduk di sebelah Zahra.
“Umi ke sini kok sendiri, tidak sama Aba Kyai,” tanya Zahra berusaha mengalihkan pembicaraan, daripada suaminya itu bertambah marah.
Tapi sepertinya itu tidak banyak membantu. Terdengar wanita itu menjawab sambil kembali kepada topik yang tadi dia tanyakan, “Abamu tadi ada tamu, jadi tidak bisa ikut ke sini. Ngomong-ngomong, kalau misalkan Nayla Umi aja untuk mengajar di Madrasah ini, bagaimana menurut kalian?”
“Tidak boleh!”
Zahra maupun Ummi Aminah terlihat sangat kaget melihat reaksi Gus Afkar yang tiba-tiba itu, apalagi nada suaranya begitu membesar setengah membentak.
“Sepertinya Gus Afkar itu kasihan Ummi, kan Nayla lagi banyak kegiatan di luar, takutnya itu mengganggu kegiatannya,” ucap Zahra menengahi sambil melotot ke arah suaminya.
“Oalah Kirain ada masalah antara Gus sama Nayla,” ujar Ummi Aminah terlihat lega.
“Tidak mungkin Ummi, kan Gus sama Nayla juga jarang ketemu”
Zahra menelan ludahnya sendiri setelah mengatakannya, ia tiba-tiba teringat peristiwa malam itu, saat Gus Afkar pulang bersama Nayla.
Lelaki itu kini tampak menatapnya dalam-dalam, mungkin berusaha menebak apa yang sedang dirasakan istrinya.
“Jadi gimana Gus, Zahra?” tanya Ummi Aminah lagi.
“Menurut Zahra tidak apa-apa Ummi, toh Kita juga butuh guru, saya rasa Nayla cukup kompeten dan capable.”
Lelaki itu tampak menatapnya lebih tajam, kemudian beralih menghadap umminya dengan serius seraya berkata, “Kalau Ummi butuh guru, Afkar bisa mencarikan yang lebih kompeten daripada Zahra, apalagi Zahra itu kuliahnya nggak relevan sama kebutuhan sekolah kita.”
“Bukannya di sini juga ada guru yang pendidikannya tidak relevan, Gus. Tapi buktinya mereka juga bisa mengajar di sini. Seperti pepatah Gus, pengalaman akan mengajarkan semuanya.” bantah Zahra.
“Kita Sedang berpikir logis Zahra, kebutuhan guru ini mendesak dan bukan coba-coba,” elak Gus Afkar.
“Justru karena mendesak kita manfaatkan sumber daya yang ada, Gus,” debat Zahra penuh keyakinan. Ia ingin membantu temannya itu mendapat kerjaan yang kondusif dan nyaman.
“Kita boleh terdesak, tetapi tidak boleh berpikir tergesa-gesa, Zahra,” timpal Gus Afkar.
“Sudah sudah, kok malah bertengkar. Biar Umi pikirkan sendiri, mendengarkan kalian membuat Umi bertambah pusing. Biar Umi tanya ke Aba saja,” ucap Ummi Aminah menengahi.
Lelaki itu kemudian berbisik kepada Zahra, “jangan berdebat denganku, kau tahu betul apa yang sedang aku bicarakan.”
******
“Apa kau kira aku tidak tahu, apa yang sedang kau pikirkan? aku tidak bodoh Zahra,” bentak Gus Afkar sambil menunjuk ke arahnya.
Zahra menangis sesungguhkan mendapati suaminya itu begitu murka setelah Ummi Aminah pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nana Niez
males sm zahra,, ceraikan saja lah
2024-12-05
0