“Gus Afkar,” panggil Zahra dengan sengaja saat lelaki itu habis turun dari tangga masjid.
“Kalau gitu kami duluan, Gus”
“Kami juga, gus”
Terdengar sayup-sayup para pengurus pondok dan santri yang mengikutinya itu pamit karena melihatnya menunggu suaminya di depan masjid.
Gus Afkar tampak tersenyum mempersilahkan para pengasuh dan santrinya itu berjalan duluan.
Lelaki itu sekarang tampak menghampirinya dengan ekspresi datar.
“G–g….”
Belum lagi kata yang ia akan ucapkan lengkap, Gus Afkar sudah menimpali, “Aku ada yang harus disampaikan ke Aba, kamu pulang duluan saja.”
Zahra menatap suaminya kecewa, tapi ia tak mampu mencegahnya.
Lelaki itu kemudian melewatinya dan berjalan ke arah lain.
Zahra berbalik dan hanya bisa menatapnya dari jauh. Tanpa sadar, air matanya menetes dan membuatnya langsung tersadar.
Diusapnya air mata itu kemudian melangkah pulang.
‘Seandainya kau tahu Gus, sakitnya hatiku sekarang’ gumam Zahra dalam hati sambil menatap jalanan di depannya yang berangsur-angsur sepi.
Ia berjalan pulang dengan malas, setengah menyeret kakinya.
‘Ya Allah, apa yang harus ku lakukan? rasanya begitu sakit, sakit Ya Allah’
Zahra tak mampu lagi menahan tangisannya. Ia terduduk jongkok di depan pintu rumahnya sambil membenamkan wajahnya di atas lipatan tangannya yang berada di atas lutut.
Ia menangis sesenggukan begitu lama, dadanya begitu sesak oleh beban perasaan yang sebenarnya tidak ia pahami, apa itu?
Yang ia tahu, hatinya terasa begitu sakit.
‘Allah, Allah, Allah!’
Ia terus merintih memanggil Tuhannya dalam kebisingan tangisannya sendiri.
Tiba-tiba ia merasakan ada jas yang ditelangkupkan ke punggungnya.
Zahra menoleh.
Tampak Gus Afkar sedang jongkok di sampingnya, sambil menatapnya hangat.
“Sudah, bangunlah!” ucap lelaki itu sambil memegang kedua bahunya untuk membantunya bangkit berdiri.
Zahra terus menoleh ke arahnya dan tak ingin berpaling ke arah lain.
‘Apa kau sudah memaafkanku, Gus?’
Lelaki itu kemudian tampak membuka pintu dan menggandengnya masuk.
Zahra masih menatap sosok itu penuh sesal.
Lelaki itu masih tak menolehnya, dia terus menarik tangan Zahra masuk ke dalam kamar, kemudian mendudukkannya di atas ranjang.
“Tidurlah!” ucap lelaki itu sambil melepas pegangan tangannya.
Zahra yang melihat lelaki itu hendak berbalik, segera meraih tangan lelaki itu kembali.
Lelaki itu tampak heran dan kemudian menoleh ke arah Zahra.
“Apa kau sudah makan, Gus?” tanya Zahra pelan.
“Sudah, tadi Gus sudah makan di rumahnya Ummi Aminah. Jadi sekarang tidurlah jangan khawatirkan ,” ucap Gus Afkar sambil melepas pegangan tangan Zahra.
Lelaki itu hendak beranjak, ketika Zahra tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan meraih tangannya kembali.
Lelaki itu menoleh kembali kepadanya.
“Apa Gus bisa menemaniku makan,” tanya Zahra penuh harap dengan nada yang begitu berhati-hati.
“Astagfirullah! dari tadi kamu belum makan?” tanya Gus Afkar terlihat cemas.
Zahra menggelengkan kepalanya.
Lelaki itu kemudian menarik tangan Zahra menuju ruang makan.
Dia tampak tertegun ketika membuka tudung saji di atas meja tersebut.
Mungkin karena dia melihat meja itu masih penuh dengan makanan.
Dia menyiratkan pandangannya ke arah nasi yang masih penuh di atas wakul juga lauk yang terlihat penuh belum terjamah sama sekali, juga piring makan yang masih dalam keadaan tertutup rapi dengan sendok di sebelahnya.
“Apa dari pagi kamu belum makan?” tanya lelaki itu sambil menoleh iba ke arah Zahra.
Sekali lagi Zahra hanya menggelengkan kepalanya.
“Nasi ini sudah kering,” ucap lelaki itu sambil menghela nafas panjang.
“Duduklah di sini! Tunggulah sebentar! akan kubuatkan nasi goreng untukmu,” ucap Gus Afkar sambil menarik kursi untuk Zahra.
“Tidak usah Gus, saya bisa memakan ini,” tolak Zahra karena merasa sungkan dengan Gus Afkar.
Lelaki itu tertegun menatapnya sejenak.
“Katakan padaku, apa yang harus kukatakan pada Allah kelak ketika aku bertemu dengannya, ketika aku ditanya kenapa kau biarkan istrimu yang belum makan dari pagi makan nasi kering, sedangkan kau makan dengan enaknya tanpa memikirkannya. Jelaskan padaku Zahra, Apa yang harus kita katakan pada Tuhanmu dan Tuhanku itu?”
Zahra terdiam.
Gus Afkar akhirnya berjalan ke dapur sambil membawa wakul nasi itu.
Zahra menggeser kursinya dan menatap lelaki itu dari balik ruang makan.
Terdengar suara pisau yang sedang dipegang Gus Afkar untuk mengiris-iris bawang itu menabrak telenan.
Lelaki itu terlihat cekatan.
Cethek
Sekarang kompor terdengar dinyalakan olehnya.
“Zahra, di mana minyaknya?” tanya lelaki itu celingukan.
“Di sebelah bumbu dapur, Gus,” ucap Zahra setengah berteriak.
Lelaki itu terlihat menuju tempat yang disebutkan Zahra.
Namun tak terdengar ataupun terlihat ia kembali untuk menuang minyak itu di atasnya.
“Apa sudah ketemu, Gus?” tanya Zahra.
“Belum, Sebenarnya kamu taruh di mana?” tanya balik suaminya tersebut.
Akhirnya, Zahra beranjak menuju dapur. Ia berusaha membantu suaminya itu untuk menemukan minyak.
Namun anehnya minyak itu tidak ada di tempatnya biasa.
“Kok nggak ada, ke mana ya?” gumam Zahra lirih, bertanya pada dirinya sendiri sembari mengingat-ingat mana ia menaruh minyak itu terakhir kali.
“Astagfirullah!” gumam Zahra sedikit berteriak.
Lelaki itu langsung menoleh ke arah Zahra dengan penasaran
“Ada apa?” tanyanya.
“Zahra lupa, minyaknya kan dipakai di dapur umum kemarin, dan sudah habis,” ucap Zahra sambil meringis malu.
Lelaki itu bukannya marah tapi malah tersenyum melihatnya.
Setelah itu, dia tampak berpikir. Dia kemudian beranjak menuju kulkas dan membuka kulkas tersebut.
Dia mengeluarkan margarin dari kulkas tersebut.
“Duduklah! ini sudah ada solusinya,” ucap lelaki itu sambil mengangkat margarin yang dipegangnya.
Zahra menurut, ia kembali ke meja makan.
Ditatapnya kembali lelaki yang sedang menggoreng nasi tersebut.
“Terima kasih, Gus,” ucapnya dalam hati.
Tak Berapa lama nasi goreng tersebut telah jadi, dan dihidangkan di depan mejanya oleh Gus Afkar.
Zahra menatap sepiring nasi goreng itu dengan heran.
Ada telur ceplok berbentuk hati di atas nasi goreng yang dicetak bundar tersebut.
Zahra mengangkat kepalanya memandang suaminya itu.
Suaminya tampak salah tingkah dan berujar, “Jangan salah paham! aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku menggorengnya dengan sepenuh hati, kamu tidak usah terlalu berpikir yang aneh-aneh.”
Zahra tersenyum penuh haru mendengar penjelasan suaminya tersebut.
Dia segera menarik piring itu lebih dekat kepadanya dan menyantapnya dengan lahap.
Bintik-bintik air mata yang mulai mengumpul itu kemudian menetes.
Ia terus menyantap nasi goreng itu sambil menangis sesenggukan.
Lelaki itu terlihat kaget mendapati reaksi Zahra.
Dia bergegas mengambil tisu dan memberikannya kepada Zahra.
“Kenapa? apa tidak enak?” tanya lelaki itu tampak takut dan heran.
Zahra yang mulutnya penuh dengan makanan tidak bisa menjawab, dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, kemudian memakan makanan itu lagi.
Lelaki itu kemudian menarik piring tersebut sambil berkata, “jangan dimakan lagi kalau itu tidak enak, tidak usah dipaksakan untuk makan hanya karena sungkan denganku.”
“Tidak, ini enak,” jawab Zahra sambil menarik piring itu kembali, Padahal dia masih sesenggukan.
“Jangan coba merebut milikku, Gus!” ucapnya sambil melirik tajam ke arah suaminya itu.
“Lalu kenapa kau menangis?” tanya lelaki itu heran.
“I—itu…,” Zahra terbata dan berfikir apa yang harus dikatakannya.
Ia sendiri tak paham kenapa Ia makan sambil menangis tersedu-sedu.
“Itu karena aku kelaparan dan belum makan dari pagi,” jawabnya sinis, kemudian menyantap nasi itu kembali.
Gus Afkar terlihat tersenyum menatap tingkahnya.
‘Tahukah kau Gus, nasi goreng ini sudah cukup untuk mengobati lukaku tadi. Sekarang aku bahagia’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nana Niez
ah entahlah,, gemes sm. karakter zahra ini
2024-12-05
0
Lilik Juhariah
hiks iks ks
2024-08-24
0