‘Kamu bilang kamu mau menceraikan Gus Afkar, tapi ternyata di depan semua orang kamu mesra-mesraan sama dia. Dasar pembohong!’
Suara Nayla tiba-tiba menggema dalam pikirannya, membuat rasa bersalahnya kembali muncul. Segera ia bangkit berdiri untuk menghindari wajah Gus Afkar yang semakin dekat dengan wajahnya.
‘Maaf Gus, aku tak bisa mengkhianati sahabatku’
Gus Afkar tampak nyengir dan tertawa terkekeh, membuat Zahra bingung. Ia mengira suaminya akan marah, tapi kenapa lelaki itu malah tertawa dan membuatnya semakin takut.
Lelaki itu tampak menghentikan tawanya dan bangkit.
Dia menatap tajam ke arah Zahra, membuatnya menelan ludahnya sendiri.
“Azzahra Khoirunnisa,” ucap Gus Afkar perlahan yang justru terdengar begitu dingin.
Zahra tak berani menyahut. Ia terus mundur mendapati lelaki itu berjalan mendekat ke arahnya dengan tatapannya yang tak kalah dinginnya dengan ucapannya barusan.
‘Ah!’
Zahra tersudut di depan tembok, namun lelaki itu terus menghampirinya, hingga tiada lagi jarak diantara mereka.
Zahra yang begitu gelisah, tanpa sadar meremas gamis bagian bawahnya.
Lelaki itu kini mulai mendekatkan wajahnya seperti yang dilakukannya tadi.
Zahra sontak memejamkan matanya rapat-rapat. Ia dapat merasakan nafas lelaki itu sekarang berhembus mengenai pipinya, bahkan desahannya dapat ia dengar dengan begitu jelasnya.
Lebih parahnya, pipi suaminya itu terasa mengusap lembut pipinya.
“Kau tak perlu takut, aku takkan tertarik dengan wanita seperti dirimu,” ucap Gus Afkar terdengar begitu sinis, padahal pipinya masih menyentuh pipi Zahra.
Sontak Zahra membelalak.
‘Bagaimana bisa kau menghinaku sekejam ini, Gus?’
Zahra langsung mendorong tubuh Gus Afkar menjauh darinya. Air matanya mengalir deras dan segera diusapnya.
Sementara itu, Gus Afkar segera bisa menegakkan tubuhnya yang terhuyung ke belakang. Matanya kembali menatap tajam ke arah Zahra. Urat-urat di wajahnya menegang.
“Apa yang kau tangiskan, Zahra? Bukankah ini maumu?” Tanya Gus Afkar terdengar ketus.
“A-apa maksud, Gus?” tanya balik Zahra bingung.
“Apa yang harus kukatakan Zahra, di depan kepura-puraanmu ini?” bentak Gus Afkar terlihat sangat murka.
Tubuh Zahra Mendadak tersentak kaget mendengarnya.
‘Apa kau sudah mengetahuinya, Gus?’
Air matanya kembali mengalir bersusulan
“A–aku benar-benar…”
“Cukup Zahra!” hardik lelaki itu menyelanya sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Zahra.
“Allah Akbar! Allahu Akbar!”
Tiba-tiba terdengar suara adzan berkumandang.
Lelaki itu terdengar sayup-sayup beristighfar sambil mengusap wajah dan kepalanya yang menunduk itu dengan kedua telapak tangannya.
Lalu perlahan ia mengangkat kepalanya kembali dan menatap Zahra dengan penuh sesal.
Jakunnya terlihat naik turun sebelum kemudian berkata lirih, “Anggaplah, aku yang tak menginginkan pernikahan ini!”
******
“Aku dengar Gus Afkar terus gombalin Ning Zahra kemarin, gimana rasanya digombalin sama kulkas 2 pintu kayak Kakakku itu?” tanya Ning Alfiyah sambil menyenggol-nyenggol bahunya.
Zahra hanya meringis lirih.
“Kok diem, pasti gombalannya terdengar garing, kan,” ucap Ning Alfiyah.
Zahra kembali hanya tersenyum.
Akhirnya, terdengar Neng Alfiyah berdecik lalu berkata, “ ya kan benar udah dibilang belajar sama aku dulu, nggak percaya itu Gus Afkar.”
Ucapan terakhir Ning Alfiyah itu menarik perhatian Zahra.
“Memangnya Gus Afkar cerita apa saja ke Ning Alfiah tentangku?” tanya Zahra penasaran.
“Sebenarnya ini rahasia, tapi karena yang tanya itu istrinya Gus Afkar, jadi kasih tahu,” ucap Ning Alfiyah dengan gaya songongnya.
“Tapi jangan bilang-bilang ke Gus ya Ning, nanti bisa-bisa bonus bulananku dipotong sama dia,” ucap adik iparnya sembari berbisik.
Zahra mengangguk setuju.
“Sebenarnya Gus Afkar bukan tipe orang yang suka cerita-cerita,” ujar Ning Alfiyah mulai bercerita.
“Aku dapat bocoran ini dari Umi,” lanjutnya dengan sedikit berbisik lebih pelan.
“Yang aku tahu Ning Zahra itu Cinta Pertamanya Gus Afkar.”
Zahra tertegun mendengarnya.
“Aku Cinta Pertamanya, mana mungkin? kami tidak pernah bertemu sebelumnya. Apa mungkin Ning Alfiyah salah info atau melebih-lebihkan supaya aku dekat dengan abangnya,” pikir Zahra bingung.
“Maksudmu Gus Afkar jatuh cinta sama aku waktu kita dinikahkan,” selidik Zahra mungkin saja persepsinya dengan Ning Alfiyah berbeda.
“Ning Alfiyah, Ning Alfiah.”
Belum selesai Ning Alfiyah menjelaskan padanya, seorang santriwati berteriak memanggilnya dari belakang.
Sontak baik Zahra maupun Ning Alfiyah berbalik.
“Ada apa?” tanya Neng Alfiyah.
“Ibu Nyai Aminah memanggil Ning Alfiyah, katanya ada yang penting,” ucap santriwati itu menyampaikan pesan yang sepertinya dari Umi Aminah tersebut.
“Baik,” jawab Ning Alfiah singkat kemudian menoleh kembali kepada Zahra.
“Maaf ya, Ning Zahra, aku kembali dulu. Ning duluan saja ke masjid. Takutnya nanti terlambat,” ucap Ning Alfiyah izin kepadanya.
Zahra tersenyum mengangguk.
Wanita itu kemudian terlihat bersama santriwati tadi kembali ke rumah mertuanya itu.
‘Ning Zahra itu Cinta Pertamanya Gus Afkar’
Zahra menelan ludahnya, kata-kata Ning Alfiyah mulai membuatnya bimbang.
“Mari Ning!” Sapa salah satu santriwati saat berpapasan dengannya, membuatnya tersadar dan kembali berjalan menuju masjid.
‘Dimana kamu, Gus?’ pikir Zahra sepanjang jalan.
Entah kenapa ia terus memikirkan lelaki itu dari pagi.
Apalagi ia belum melihatnya lagi sejak pertengkaran menjelang shubuh tadi. Sepertinya lelaki itu benar-benar marah padanya.
Zahra berjalan menaiki tangga masjid, suasana sudah riuh, sepertinya sudah banyak yang datang dan mungkin rapat akan segera dilaksanakan.
Zahra melangkah masuk ke dalam masjid dengan setengah melamun.
Kata-kata orang disekitarnya terdengar mengambang di telinganya.
Bruk
Zahra langsung terperanjat kaget, matanya membelalak.
Ia sontak membalikkan badan.
‘M–ma… maaf!” ujar Zahra bengong menatap suaminya yang sekarang tengah berada di hadapannya.
Terlihat para pengurus pondok dan beberapa santri yang ada di belakangnya senyum-senyum.
Namun lelaki itu hanya diam memandangnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Lelaki itu kemudian berjalan melewatinya diikuti yang lain.
Zahra masih terpaku di tempat memandang kepergian suaminya.
‘Apa kau segitu marahnya kau padaku’
“Ning, sudah mau dimulai,” ujar salah satu santri senior yang duduk di sebelah pintu masjid.
“Astaghfirullah,” gumam Zahra terperanjat kaget.
‘Astaghfirullah’ Teriak Zahra dalam hati. Belum selesai kekagetannya tadi, ia harus disuguhi kenyataan bahwa ia masuk lewat pintu utama masjid, dimana santri yang biasanya lewat disitu..
“Nggak duduk disana, Ning?” tanya Santri tersebut sambil membuka tangannya ke arah Gus Afkar, mungkin karena melihatnya membalikkan badan.
Zahra hanya menoleh sekilas sembari menggelengkan kepalanya. Ia kemudian berjalan keluar menuju pintu khusus santriwati dan beranjak duduk di sana.
“Monggo Ning, kedepan,” ucap santriwati itu mempersilahkannya dengan nada begitu sopan sambil membuka semua jarinya.
Zahra berjalan ke depan dengan sedikit menunduk kemudian duduk tepat di depan Gus Afkar, walaupun jaraknya cukup jauh karena lelaki itu duduk tepat di depan mimbar.
Ia berharap suaminya itu kan menatapnya meski sekilas, meski tak sengaja.
Lelaki itu terdengar memberi arahan dengan tenang.
‘Apa hanya aku saja yang gugup dan ingin melihatmu, Gus?’ pikir Zahra menatap sang suami yang tidak melihat ke arahnya sama sekali.
Lelaki itu fokus memberi arahan, setelah itu sesekali menunduk, sesekali menatap ke arah lain.
Zahra menelan ludahnya kemudian mendongak ke atas sebentar, berusaha menahan air mata.
‘Gus’
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nana Niez
ini model wanita yg aneh sekali,, entahlah
2024-12-05
0
Lilik Juhariah
karaktermu aneh Zahra , sama suami berani udah tau hukumnya , kl sama sahabat takutnya minta ampun
2024-08-24
1