Kembalinya Sang Pujaan Hati

“Apa Gus mendengar apa yang aku bicarakan bersama Nayla di kamar hotel tadi,” tanya Zahra was-was.

Lelaki itu menatapnya dalam-dalam, “Memangnya apa yang kau bicarakan sama Nayla?”

Zahra tertegun bingung mendengar pertanyaan itu.

“Kenapa diam. Apakah ada yang kau sembunyikan, Azzahra Khairun Nisa?”

Zahra menelan air liurnya kembali, keringat mulai bermunculan di tepi-tepi dahinya mendengar pertanyaan suaminya dengan memanggil nama lengkapnya begitu sinis, dan lagi Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa.

‘Mana mungkin aku bisa mengatakannya di hari pertama kita menikah, Gus’

Lelaki di depannya itu tiba-tiba terkekeh dan membuatnya terheran-heran.

‘Memangnya ada yang lucu, mengapa dia malah tertawa?’

Zahra bingung dan benar-benar tidak bisa memahami suaminya tersebut.

Lelaki itu sekarang duduk di ranjangnya dan membiarkan Zahra berdiri di depannya dalam keadaan bingung.

“Menurutmu ini pernikahan seperti apa?”

‘Bagaimana bisa kau menanyakannya, Gus’ pikir Zahra.

Kembali Zahra dibuat bingung oleh pertanyaan suaminya yang dingin.

“I–ni pernikahan…”

“Apa kau sungguh menganggap ini pernikahan Azzahra Khairunnisa?” tanya lelaki itu menyelanya. 

‘Apa? Pertanyaan macam apa itu?’ pikir Zahra kembali sambil mengernyitkan dahinya.

Kembali,  ia dibuat bingung.

“Lagi pula ini hanya perjodohan yang dipaksakan oleh orang tua kita, kamu tak perlu terhanyut dalam peranmu sebagai seorang istri, Azzahra Khoirunnisa.”

Zahra terperangah mendengar jawaban suami barunya tersebut. Ia tak pernah menyangka Gus Afkar bisa mengatakannya. 

Dan lama-lama panggilan lelaki itu kepadanya membuatnya risih. Namun ia tak berani menyelanya, suaminya itu terlihat tidak ingin mendengar apapun darinya sekarang.

“Tidurlah, Aku sama sekali tidak tertarik denganmu.”

Zahra membelalak mendengar kalimat terakhir lelaki itu.

Walaupun Zahra tidak menginginkan Perjodohan tersebut, tapi bagaimanapun kata-kata suaminya itu terdengar menyakitkan.

*****

‘Kak Adrian!’

Zahra begitu terperanjat begitu melihat sosok Adrian di depan rumahnya saat membuka pintu pagi-pagi sambil membawa sapu di tangannya. Ia tadi memang hendak menyapu teras rumah.

‘Bukannya dia di Jerman?’

“Assalamualaikum Zahra,” ucap lelaki di depannya itu sambil menatapnya dalam-dalam.

Zahra segera menundukkan pandangannya karena hatinya mulai gugup.

“Waalaikum salam, Apa kak Adrian mau bertemu dengan Gus Afkar?” tanya Zahra. 

Jakun lelaki itu terlihat naik turun mendengar pertanyaannya.

“Ya, apa Agus Afkar ada di rumah?” tanyanya  terdengar begitu sopan, sangat berbeda dengan dua tahun lalu saat dia belum berangkat ke Jerman, lelaki itu dulu selalu terdengar begitu akrab dan menyenangkan.

“Ada, silakan masuk! Saya akan panggilkan suamiku.”

Lelaki itu terlihat menatapnya kembali dalam-dalam setelah ia mengatakan kata “suamiku”.

Zahra berusaha tak menghiraukannya.

Ia berbalik ke dalam untuk memanggil Gus Afkar.

Ia masuk ke dalam kamarnya untuk menemui suaminya tersebut yang sedang membaca Alquran dengan lirih.

Wajahnya terlihat berseri dan teduh.

‘Astaghfirullah’

Dzikir Zahra dalam hati sambil langsung menunduk. Setiap ia terpesona dengan lelaki itu, ia teringat air mata Nayla yang menetes di hari pernikahannya.

Ia menunggu sampai suaminya itu menyelesaikan satu ayat.

Seperti menyadari keberadaan Zahra yang sedang berdiri menunggu di depannya, Suaminya itu lantas terlihat menutup Al Qurannya dan menatapnya begitu tajam. Tak ada satupun kata terucap di bibirnya.

“Ada tamu mencarimu, Gus” jawab Zahra dengan nada rendah.

Gus Afkar  kemudian menaruh Al Qurannya di atas meja dan bangkit.

“Buatkan kami minum!” perintahnya dengan nada dan ekspresi datar,  lalu melangkah keluar dari kamar itu.

Dari sejak pagi tadi dia bangun, baru kalimat itulah yang terdengar keluar dari mulutnya.

Juga tak ada senyum terkulum di bibirnya sama sekali, bahkan sampai saat ini.

Padahal ini adalah hari kedua mereka menjadi suami istri setelah akad kemarin.

‘Semengesalkankah perjodohan ini bagimu, Gus?’

Zahra berjalan menuju dapur dan membuatkan teh hangat untuk suami dan tamunya tersebut.

“Masya Allah ada tamu dari jauh.”

Terdengar sayup-sayup suara suaminya dari arah ruang tamu.

“Gimana studimu di sana?” tanya Gus Afkar terdengar begitu ramah dan akrab.

“Alhamdulillah Gus, baik.” jawab Adrian terdengar segan. 

Meskipun Gus Afkar hanya selang beberapa tahun dengan Adrian, tapi lelaki itu sangat dihormati dan disegani di pondok tersebut. Bukan hanya karena Gus Afkar anak pengasuh pondok, tapi juga sikapnya memang sangat berwibawa.

Mungkin itulah yang dulu sering ia dengar tentang suaminya itu sekarang.

“Lagi liburan ta?”

“Nggeh, Gus, Saya dengar Gus menikah, jadi saya datang kesini untuk memberi selamat.” jawab Adrian kemudian terlihat melirik ke arah Zahra yang sedang keluar dengan membawa nampan berisikan dua cangkir teh hangat di atasnya.

Zahra menunduk dan menghidangkan teh tersebut di atas meja, kemudian bangkit dan tanpa sengaja menatap wajah Adrian yang sedang menatapnya dalam-dalam.

Zahra langsung memalingkan muka ke arah suaminya yang ternyata sedang meliriknya tajam.

‘Astaghfirullah’ gumamnya dalam hati seraya sontak tertunduk.

“Apa kau ingin duduk bersama kami, ya Habibati.”

Zahra sontak mengangkat kepalanya kaget, mendengar suaminya itu tiba-tiba memanggilnya dengan lembut dan mesra.

“T–tidak, Gus. Zahra pamit ke dalam saja, masih ada pekerjaan,” ucapnya undur diri kepada suaminya.

Lelaki itu tampak mengangguk dengan tatapan hangat.

‘Apa ini? Kenapa senyum manisnya terasa mengerikan’ pikir Zahra sambil menelan ludahnya.

“Selamat ya Ning Zahra, atas pernikahannya,” ujar Adrian memberinya selamat, membuatnya sadar dari lamunannya. 

Ia sontak menoleh dan tersenyum pada lelaki itu sembari berucap, “Terima kasih, Kak Adrian.”

“Silakan diminum, Kak,” lanjutnya kemudian masuk sambil mendekap nampan yang tadi ia bawa.

Ia berjalan menuju dapur dan menaruh nampan itu. Lalu berbalik menuju kamarnya.

“Gimana? Udah dapat jodoh di sana? katanya wanita di sana cantik-cantik,”

Terdengar suara Gus Afkar lagi.

“Tak secantik santriwati di sini Gus.” 

Jawab tamunya itu membuat Zahra tertegun di dalam kamarnya. Ia teringat janjinya dua tahun lalu sebelum Adrian berangkat ke Jerman, bahwa ia akan memberikan jawaban pada lelaki itu. 

‘Maaf, Kak’

‘Jadi kamu menunggu salah satu murid di sini, makanya kamu melajang sampai sekarang. Aku kira kamu hanya peduli soal pendidikanmu saja, Adrian.”

“Namanya juga lelaki, Gus,” jawab Adrian membuat mereka terdengar tertawa bersama.

“Maaf Gus saya pamit dulu, Maaf juga kalau lancang, Boleh saya pamit ke istri Gus  juga?”

Terdengar suara Adrian meminta izin untuk pulang dan bertemu dengannya lagi.

“Ya, tentu boleh. Sebentar!” jawab suaminya itu ramah.

“Zahra!”

Terdengar suaminya memanggil dari luar, Zahra segera bangkit dari duduknya, dan keluar memenuhi panggilan tersebut.

“Ini Adrian, mau pulang, mau pamit,” ucap suaminya dengan lembut.

“Terima kasih kunjungannya, Kak Adrian,” ucap Zahra sambil mengangguk ke arah Adrian.

“Sama-sama, Gus, Ning. Maaf baru bisa memberi selamat sekarang!” ujar Adrian sambil tersenyum hangat.

“Tidak apa-apa, terima kasih ya Adrian, sukses terus in sya Allag.” jawab suaminya itu sembari mendoakan mantan muridnya tersebut.

“Makasih Gus.”

Lelaki itu akhirnya keluar diikuti Gus Afkar dan Zahra.

“Sepertinya kau kenal dekat dengannya?” ujar Gus Afkar sinis setelah Adrian tidak terlihat.

“Kami hanya teman, Gus,” ucap Zahra membela diri.

“Aku harap juga begitu, ingat kau menantu keluarga ndalem sekarang!” seru suaminya tersebut terdengar seperti sedang memperingatkannya.

Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!