Dinginnya Sikapmu, Gus

Gus Afkar membawa Zahra pulang dengan mobil pengantin putih berhiaskan bunga di depan dan belakangnya.

Lelaki asing yang sekarang jadi suaminya itu tampak diam saja dan tak berbicara apapun, sikapnya juga begitu dingin sejak masuk mobil tadi. Berbeda sekali dengan tadi pagi, saat prosesi pernikahan dan resepsi berlangsung.

Tidak terdengar lagi lagi suaranya yang lembut apalagi sekedar panggilan habibati. Bahkan lelaki itu langsung melepas pegangan tangannya pada Zahra setelah masuk ke dalam mobil.

‘Apa aku melakukan kesalahan? Apa tadi dia mendengar semuanya?’

Zahra menghela napas panjang dan berbalik ke arahnya, hendak bertanya. Namun baru saja ia membuka mulutnya, Gus Afkar terlihat menyandarkan diri dan memejamkan matanya. 

‘Kau pasti sangat lelah, Gus. Nanti saja kalau pulang, aku akan tanya’

Zahra akhirnya mengurungkan niatnya dan berbalik menghadap ke luar jendela. Ia menghela nafas panjang dan menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil itu..

‘Maaf, Nay. Ini sungguh di luar kendaliku’ Berkali- kali ia meminta maaf pada sahabatnya itu dalam hati.

Perjalanan yang tak terlalu jauh itu terasa sangat melelahkan, bukan karena mereka habis melaksanakan serangkaian acara besar. Pikiran Zahra sedang dipenuhi banyak beban dan pertanyaan. 

Ia seperti dihimpit banyak keinginan orang-orang yang menginginkannya berjalan sesuai keinginan mereka, tanpa ia diberi pilihan.

Dan yang hanya bisa ia lakukan sekarang hanya menatap sendu keluar jendela yang bisu itu, sambil menghela nafas panjang.

Dalam keadaan seperti ini, rasanya hanya Tuhannya yang mampu mendengar teriakan galau dalam dirinya yang terlihat bahagia dan baik-baik saja itu.

Akhirnya mereka hampir sampai di depan pintu gerbang pondok tempatnya dulu menuntut ilmu saat Madrasah Aliyah. 

Gus Afkar tiba-tiba membuka matanya dan berujar kepada sopirnya, “langsung ke depan rumah saja lewat gerbang belakang, ndak usah berhenti di tempat penyambutan, kami mau istirahat.”

Sopir itu terlihat senyum-senyum sendiri dari balik kaca spion depan, berbeda dengan suaminya yang kembali memejamkan mata.

‘Apa dari tadi kamu tidak tidur, Gus?’ pikir Zahra sambil menoleh sekejap ke arah suaminya.

“Sudah sampai, Gus,” ucap sopir itu sambil menoleh ke belakang.

Gus Afkar membuka matanya kembali, “ya makasih. Nanti langsung saja dimasukkan garasi, mobilnya. Kalau ada yang tanya, bilang kami lelah, ingin istirahat.’

“Iya, Gus,” ucap lelaki itu sambil senyum-senyum sendiri.

Gus Afkar kemudian turun dari mobil menuju kediamannya, tanpa berkata apa-apa. 

Zahra yang pakewuh, segera keluar mengikutinya.

‘Apa dia sedang marah padaku?’

Lelaki itu tampak masuk begitu saja, tanpa mengajaknya apalagi sekedar basa- basi ringan.

Pintu depan rumah itu terlihat sengaja dibiarkan terbuka setelah dia masuk.

Zahra menghela napas panjang menatap kediaman barunya dengan lelaki yang sekarang tidak terlihat baik-baik saja itu.

‘Bismillah’ gumam Zahra dalam hati sambil melangkah masuk ke dalamnya dan menutup lalu mengunci pintu rumah itu.

Terlihat lelaki itu masuk ke dalam kamar yang cukup besar. 

‘Apa itu kamar kami?’ Zahra tertegun di depan kamar tersebut begitu lama.

Sampai akhirnya lelaki yang sedang membawa handuk di tangannya itu menatapnya dingin dan berkata dengan nada yang datar, “Masuklah! Apa kau akan berdiri saja disitu?”

Zahra terlihat tersenyum, namun lelaki itu justru langsung berbalik mengabaikannya.

Zahra yang pasrah dan lelah, langsung bergerak masuk dan melihat sekeliling kamar itu.

Ada ranjang besar dengan sprei dan bedcover warna cream polos kesukaannya. Diatasnya tertabur kelopak bunga mawar warna putih dan merah. 

Ada juga sofa panjang, sebuah meja kerja di sudut yang lain dan lemari panjang warna coklat tua.

Kamar itu terlihat semakin cantik dengan bunga-bunga di sudut-sudut atapnya. Tak ayal aromanya semerbak wangi.

‘Apa Gus yang sudah menyiapkannya? Tidak mungkin, itu pasti kerjaan keluarga ndalem dan anak-anak santri’

Zahra kemudian beranjak duduk di atas ranjangnya. Namun baru saja ia duduk, Gus Afkar terlihat keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terselempang di kedua bahunya.

Zahra sontak bangkit dari tempat duduknya.

Lelaki itu terlihat melirik gelagatnya sebentar kemudian berbalik untuk menggantung handuknya di belakang pintu.

Ia tampak lebih menawan dengan rambut hitamnya yang basah dan masih berantakan.

‘Astagfirullah, Apa yang kau pikirkan Zahra’

Setelah itu, dia berjalan perlahan menghampiri Zahra yang terlihat mundur. Dada Zahra slangsung tersentak dan berdegup tanpa irama karena saking gugupnya. Apalagi lelaki itu tampak menatap matanya dalam-dalam.

Namun sepertinya Ia salah sangka….

ternyata lelaki itu bukan menghampirinya tapi hanya melewatinya untuk segera berbaring diatas tempat tidur.

Zahra langsung menghembus nafas panjang sambil memegang dadanya yang terasa begitu lega. Lelaki yang sebenarnya belum pernah ia temui itu, untuk pertama kalinya membuatnya merasakan hal yang aneh, yang ia sendiri tak mengerti.

Ia menelan ludahnya dan berusaha menenangkan diri sebentar, baru kemudian membalikkan badan ke arahnya.

“Tunggu, Gus!” ujarnya agak sedikit keras

Lelaki itu terhenti mendengar panggilannya. Ia menoleh tajam ke arah Zahra. Ia mengurungkan niatnya untuk berbaring di tempat itu, dan kembali bangkit berdiri.

Dia hanya diam dan menatapnya tajam-tajam.

“Apa kita bisa bicara sebentar?” tanya Zahra.

Tak Ada Jawaban keluar dari lelaki itu. Dia hanya duduk di atas ranjang itu dan terus menatapnya dengan tajam, membuat Zahra menjadi gugup kembali.

“Katakan!”

Suara singkat itu terdengar sinis, tak seperti nada bicaranya setelah akad tadi pagi.

“Apa Gus sedang marah padaku ?” tanya Zahra hati-hati.

Bukannya menjawab, lelaki itu malah bangkit menghampiri Zahra perlahan dengan tatapannya yang bertambah tajam.

Zahra menelan ludah dan mundur, namun lelaki itu semakin mendekat kepadanya hingga Ia pun tersudut di sisi tembok.

Seketika dada Zahra kembali berdegup dengan kencang, nafasnya menjadi tertahan, apalagi sekarang lelaki itu tampak menatap dan mendekatkan wajahnya ke arah bibir Zahra.

‘Apa dia mau melakukan malam pertama kami sekarang?’

Sontak Zahra yang semakin gugup memalingkan mukanya.

Lelaki itu tampak nyengir dan membalikkan badannya.

“Tunggu, Gus.” Panggil Zahra yang belum selesai dengan perasaan gugupnya.

Lelaki itu terhenti melangkah, dan kembali berbalik ke arahnya dengan tatapannya yang masih saja tajam.

“Gus, belum menjawab pertanyaanku. Apa aku membuat Gus marah?” lanjutnya bertanya.

Lelaki itu kembali mendekat ke arahnya. 

Kali ini Zahra berusaha menghadapinya dengan berani dengan tetap berdiri di tempatnya.

“Katakan! Apakah ada alasan aku harus marah. Kenapa kau terus menanyakannya?”  bisik lelaki itu ketika berada dekat di depan Zahra, matanya menatap dingin ke dalam mata Zahra.

Zahra kembali menelan ludah sambil meremas bagian bawah gamis pengantin putih yang tengah dikenakannya.

Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya lagi.

“Apa Gus mendengar apa yang aku bicarakan bersama Nayla di kamar hotel tadi,” tanya Zahra was-was sambil menatap lelaki itu dalam-dalam, berusaha memahami apa yang sedang dipikirkan suaminya tersebut.

Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!