Peringatan Keras Gusku

‘ingat kau menantu keluarga ndalem sekarang!’

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan suami Zahra kemarin dan sampai detik ini, mereka belum berkomunikasi kembali. 

Kalimat bernada peringatan itu juga terus bergema dalam pikiran Zahra. 

Itu kenapa saat Nayla terus menerornya dengan memohon lewat telepon dan pesan singkat supaya diundang ke rumahnya kemarin malam, ia merasa bimbang tapi juga takut menolak sahabatnya itu..

Ini hari ketiga pernikahannya dengan Gus Afkar, dan rumah tangganya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, karena Gus Afkar terus saja bersikap dingin bahkan mengabaikan keberadaannya di rumah itu.

Ia menatap punggung suaminya yang tengah duduk membaca di ruang makan.

“harus kukatakan sekarang, ini waktu yang tepat. Gus, tak akan bisa menolaknya’

Dari pagi, ia maju mundur mencari waktu yang tepat..

“Gus, maaf ada yang mau kusampaikan.”

Gus Afkar hanya terdengar berdehem sambil terus membaca buku yang dari tadi dia baca di atas meja makan itu.

‘Ok, Zahra sampaikan saja, tidak apa-apa’ pikir Zahra menguatkan diri.

“Siang ini, Zahra mengundang temen Zahra, Nayla untuk silaturahmi kesini.”

Lelaki itu terlihat langsung menutup dan menaruh bukunya kemudian mengangkat kepalanya sembari menatapnya dalam-dalam.

Dia seperti hendak mengatakan sesuatu…

“Assalamualaikum…” 

Suara salam Nayla dari luar rumah itu menghalanginya. Benarlah dugaan Zahra.

“Waalaikum salam,” sahut Zahra sambil berteriak.

“Maaf, Gus. Saya bukakan dulu,” ucap Zahra meninggalkan tempat itu.

Ia kemudian berjalan untuk membuka pintu rumahnya tersebut.

“Ayo Nay, masuk!”

“Makasih ya, Zar,” jawab Zahra sambil mengikutinya masuk.

Zahra mempersilakannya duduk, tapi wanita itu berbisik kepadanya, “ini ada titipan dari Ummi, apa aku bisa menyampaikannya ke Gus Afkar sendiri?”

Zahra hendak memanggilkan suaminya itu ke ruang tamu, namun wanita itu malah berbisik kembali, “kamu diam berarti boleh, Aku masuk ya?” 

Zahra terkesiap kaget mendengar ucapannya, sepertinya wanita itu melihat sosok suaminya yang tengah baca di ruang makan yang memang tempatnya jelas-jelas terlihat dari ruang tamu. 

“Assalamualaikum, Gus. Ini ada titipan dari Umi untuk Gus Afkar,” ucap Nayla yang terlihat menghampiri Gus Afkar, yang sedang duduk di meja makan sambil membaca buku.

Lelaki itu langsung menutup dan menaruh bukunya.

Ia tampak menatap Nayla sebentar kemudian melirik ke arah Zahra yang berdiri disamping Nayla.

“Waalaikum salam, Terima kasih. Zahra terimalah oleh-olehnya. Jangan buat tamu kita menunggu! Permisi, saya masih ada urusan,” jawab Gus Afkar kemudian masuk kedalam kamar.

“Maaf ya!” ucap Zahra yang tengah menangkap kekecewaan dalam wajah sahabatnya itu, sambil menerima oleh-oleh darinya.

Wanita itu terlihat mengangguk murung. 

“Kamu tunggulah di depan, aku selesaikan sebentar memasak makan siang,” ujar Zahra. 

Namun wanita itu justru menarik tangannya dengan wajah penuh harap seraya berkata, “Apa aku boleh membantu?”

Zahra menangkap keantusiasan dari sahabatnya itu. 

‘Sebegitunya perjuanganmu, Nay’ pikirnya tertegun.

Ia tak tega menolaknya.

“Baik, ayo kau ikut aku menyiapkan makan siang untuk Gus?” ajak Zahra membuat mimik sahabatnya itu kembali sumringah.

Keduanya akhirnya pergi ke dapur dan menyiapkan makan siang.

Karena sudah terbiasa membantu di dapur saat mondok dulu, tak butuh waktu lama bagi keduanya menyiapkan makan siang sederhana.

Siang itu untuk pertama kalinya, Zahra merasakan keceriaan di rumah itu berkat Nayla. Akhirnya ia punya teman ngobrol dengan begitu lepas.

‘Makasih, Nay. Setidaknya ini yang bisa kulakukan, dan aku bahagia sekarang melihat kau bahagia’ gumam Zahra dalam hati sambil menyerahkan semangkuk sayur asem untuk diletakkan di meja makan.

“Sebentar aku panggilkan Gus dulu,” ucap Zahra kemudian pergi ke kamarnya.

Nayla terlihat menaruh mangkok tersebut di meja dan duduk menunggunya di sana.

Sementara itu, Zahra melihat Gus Afkar tengah asik membaca buku.

“Maaf Gus, makanan sudah siap.”

Lelaki itu hanya diam menutup bukunya, dan berjalan keluar menuju meja makan. 

Sudah tiga hari mereka jadi pasangan baru yang sangat jarang berbicara.

Lelaki itu tampak mengambil tempat duduk tanpa memandang Nayla sedikitpun.

Zahra mengambilkan sepiring nasi untuknya, berikut sambal, ikan asin, empal dan sayur asem.

“Tadi Nayla membantuku membuat sayur asem ini untuk Gus, cobalah! Dulu pas mondok, sayur buatannya terkenal enak,” ujar Zahra sambil menghidangkan sepiring makanan itu pada suaminya.

Gus Afkar tampak melirik kepadanya dengan dingin.

“Oh ya Zar, aku dengar Kak Adrian sedang pulang liburan musim dingin ke Indonesia. Apa dia sudah menemuimu. Ia terus menelponku menanyakan kabarmu, kayaknya dia masih naksir sama kamu, Deh.”

Zahra langsung melotot ke arah Nayla yang sontak menutup mulutnya dengan telapak tangannya.

Sementara, Gus Afkar terlihat seketika menghentikan suapannya saat mendengarnya. Dia kemudian menatap Nayla dan tersenyum seraya berkata, “Titip pesan ke Adrian ya Nayla, ZAHRA SUDAH JADI ISTRI GUS AFKAR.”

Zahra langsung menelan ludah mendengarnya.

******

“Jadi kemarin itu bukan kebetulan, kau bertemu dengannya?” Hardik Gus Afkar sinis sambil berdiri berpangku tangan dengan tatapannya yang dingin, setelah kepergian Nayla barusan. 

Setelah sekian lama suaminya itu mengabaikan dan tidak menegurnya, sekarang ia harus dihadapkan dengan suasana tegang seperti ini.

Lelaki itu tampak sedang menghakiminya sekarang, bahkan ia tak memberi kesempatan Zahra untuk duduk menjelaskan.

“Aku bahkan tidak tau kalau dia kembali, Gus,” jawab Zahra membela diri sambil berkaca-kaca, sebisa mungkin ia kendalikan suaranya.

“Jadi kau senang sekarang dia kembali dan mencarimu?” tanya lelaki itu dengan nada sarkastik, urat-urat di wajahnya tampak tertarik keluar.

“Ini tak seperti yang Gus kira, kami hanya teman dan Aku sama sekali…..”

“Aku tak peduli, kau ada hubungan apa dengan dia di masa lalu. Tapi sekarang kau adalah istriku dan menantu keluarga ndalem, jangan coba-coba merusak nama baik pesantren ini, atau aku tidak akan melepaskanmu, Mengerti!” ancam Gus Afkar sambil menatapnya tajam, sementara kedua telapak tangannya mencengkeram kedua lengan Zahra.

Zahra tak bisa lagi menahan air matanya yang mulai menetes lirih. Ia juga melihat mata Gus Afkar yang nanar.

Sepertinya lelaki itu sangat murka padanya.

Ia menghempas tubuh Dzurriya sampai terhuyung, kemudian membalikkan badannya hendak keluar.

Zahra terduduk lemas di lantai.

Tapi kemudian lelaki itu terlihat berbalik kembali dan menghampirinya. 

‘Apa kau menyesal menuduhku tadi, Gus?’ gumam Zahra dalam hati sambil mengusap air matanya dan mendongak ke atas, namun ternyata ia salah….

Lelaki itu kini duduk jongkok di depannya. Ia kembali menatap tajam ke arah Zahra yang kembali tertegun di depannya.

“Satu lagi, jangan sekali-kali kamu undang Nayla, sahabatmu itu ke rumah ini! Aku tidak suka, apapun motifmu itu,” tegas Gus Afkar dengan nada menekan.

Lelaki itu lalu membalikkan badannya pergi meninggalkan rumah itu dengan langkahnya yang cepat penuh emosi.

Zahra terduduk lemas, air mata yang barusan ia usap, mengalir kembali.

Terpopuler

Comments

Lilik Juhariah

Lilik Juhariah

nurut suami zahra

2024-08-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!