Zahra sontak terkesiap mendapati suaminya tiba-tiba menarik tangannya dari belakang saat ia tengah berjalan pulang ke rumah.
Lelaki itu membawanya ke gerbang belakang tanpa berbicara sepatah katapun dan membuka pintu mobil untuknya, seakan memintanya untuk masuk dan ikut bersamanya.
Zahra menelan ludahnya, kemudian masuk dan menatap wajah suaminya yang berpaling dan tak sedikitpun melihatnya.
‘Apa kau marah lagi, Gus?’
Lelaki itu kemudian menjulurkan kepalanya masuk ke dalam mobil.
Deg
Zahra kembali menelan ludahnya, nafasnya terhenti mendapati lelaki itu kini memasangkan sabuk pengaman untuknya.
Bahkan mereka tanpa sengaja sempat bertatapan sejenak dengan wajah yang begitu berdekatan setelah lelaki itu memasang seat beltnya.
‘Gus’
Jakun lelaki itu terlihat naik turun.
‘Astaghfirullah’
Zahra segera memalingkan muka, dan akhirnya lelaki itu menarik kepalanya keluar.
Dia terlihat berjalan dan masuk ke kursi sopir di sebelah Zahra duduk.
“kita mau kemana, gus?” tanya Zahra memberanikan diri.
Tapi gus Afkar tak menggubrisnya, ia malah membelokkan mobil itu keluar dari gerbang belakang. Urat-urat di wajahnya tampak menegang.
‘Gus, apa aku melakukan kesalahan lagi?’
Zahra tak berani bertanya. Ia meremas sisi kursi tempatnya duduk karena laju mobil itu tiba-tiba dipercepat bahkan terbilang ngebut setelah keluar dari gerbang belakang dan masuk jalan besar.
‘Subhanalladzi Sakhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin wa inna ila robbina lamunqolibun, Astaghfirullah…’ gumam Zahra, berdoa dalam hati dengan mimik begitu was-was.
Sementara, lelaki itu tampak begitu fokus menyetir.
‘Jalan tol?’
Zahra yang mulai bingung kemana lelaki itu akan membawanya, mengumpulkan keberanian untuk bertanya.
“G-gus…”
Namun ia mengurungkan niatnya tersebut, karena lelaki itu tiba-tiba menoleh dan menatapnya dengan begitu tajam.
Mobil itu kemudian masuk ke dalam jalan tol dan ngebut kembali.
‘Allah’
Zahra kembali meremas sisi kursinya tersebut.
Ciiit…
Tak berapa lama kemudian mobil itu menepi dengan tiba-tiba ke bahu jalan yang sepi dan gelap.
“Keluarlah!” ucap suaminya itu terdengar dingin tanpa menoleh padanya sedikitpun, dan malah langsung keluar.
Zahra menarik nafas panjang dan keluar.
Lelaki itu tampak berbalik ke arahnya dan menatapnya tajam, dan tanpa basa-basi langsung menghardiknya dengan begitu keras, “Kau benar-benar tak mau mendengarkan perkataan suamimu ini ya, untuk apa kau berbicara lagi dengan mantan kekasihmu itu, dan itu pun di depan umum.”
Tentu saja, Zahra yang merasa tidak melakukan kesalahan, tersentak kaget dan langsung berlinang air mata.
Sejak ia dijodohkan dengan lelaki itu. Ia jadi begitu sering mendengarkan hardikan dan bentakan dari orang-orang terdekatnya, termasuk suaminya sendiri.
Padahal sebelumnya, jangankan dibentak, dimarahi saja ia tak pernah.
“Dia bukan mantan kekasihku, Gus. Aku tidak pernah punya hubungan apapun dengannya.” jawab Zahra dengan nada keras sambil menangis sesenggukan, sepertinya ia sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi. Tuduhan suaminya barusan, terdengar sangat menyakiti harga dirinya yang selama ini hanya fokus belajar, belajar dan belajar.
“Dan soal aku berbicara dengannya tadi, Bukan… bukan aku yang bicara dengannya, asal Gus tau dia yang mengajakku bicara.”
“Kau pasti begitu senang diajak bicara olehnya setelah sekian lama, iya kan Azzahra khoirunnisa” ucap lelaki itu begitu ketus dengan nyengir di hadapannya.
“Itu benar-benar tak seperti yang Gus kira, Aku bahkan mengabaikannya saat dia memanggilku tadi,” jelas Zahra.
Tapi lelaki itu sepertinya tidak percaya, dia malah langsung menyahut dengan menghardiknya, “lalu bagaimana bisa kau bicara dengannya kalau dari awal kau menolaknya?”
“Dia mau pamitan untuk kembali ke Jerman, Gus. Apa aku harus mengabaikannya. Dan setelah itu pun kami tak bicara apapun.” jawab Zahra sedikit lebih keras karena begitu kesal.
Gus Afkar tampak tertegun mendengar penjelasan Zahra yang mungkin tak disangkanya itu.
“Selama hidup saya belum pernah dicurigai sekotor ini, Gus. Gus boleh tak suka dengan saya, Gus boleh tak menginginkan pernikahan ini. Tapi jangan pernah mencurigai ketaatan saya kepada Gus sebagai seorang istri,” lanjut Zahra sambil terus mengusap air mata yang keluar dari matanya.
Gus Afkar terlihat percaya dan begitu menyesal mendengarnya.
Dia tampak mengangkat tangannya hendak menyentuh Zahra sambil hampir membuka lisannya untuk berbicara.
Namun istrinya itu terlanjur terluka, Ia langsung berbalik membelakangi suaminya dan berjalan menuju mobil untuk duduk di kursi belakang.
Gus Afkar terlihat mengikutinya masuk tanpa berani berbicara apalagi melarangnya untuk duduk di kursi depan.
Lelaki itu kemudian memacu kendaraannya dengan pelan, tak seperti saat mereka berangkat tadi.
Ia terlihat sesekali menatap istrinya yang mengusap air matanya dari balik kaca spion depan, sesekali juga mereka tanpa sengaja saling bertatapan, namun Zahra langsung memalingkan muka.
‘Kenapa rasa yang kau tanamkan padaku dari awal adalah kemarahan, Gus?’ pikir Dzurriya, ia seperti menikahi lelaki yang benar-benar berbeda dari yang pernah dikatakan orang lain tentang lelaki itu.
Beberapa lama kemudian mereka telah sampai di rumah.
Zahra segera turun dan masuk ke dalam kediaman suaminya itu.
Ia segera mengambil selimut dan bantal yang ada di ranjangnya, kemudian memindahkannya di sofa panjang yang ada di kamar tersebut.
Ia mulai berbaring kala suaminya yang baru saja masuk tampak terkejut melihatnya.
Lelaki itu terlihat mendekatinya dan mau membuka suara, namun ia yang menyadari gelagat itu, langsung berbalik tidur menghadap sandaran sofa.
Air matanya kembali mengalir dalam senyap, dalam keadaan matanya dipejamkan.
“Gus, tega kamu, Gus.”
*****
“Ada makanan apa saja hari ini?” ucap Gus Afkar terdengar ramah tak seperti biasanya.
Namun Zahra masih belum bisa melupakan peristiwa dan kata-kata ketus suaminya tadi malam yang menuduhnya aneh-aneh.
Ia menaruh ikan mujair goreng itu tepat di depan Gus Afkar, juga lauk tempe dan sambal tomat, tanpa mengucapkan satu patah kata pun.
Setelah itu, seperti biasa ia menyendokkan nasi untuk suaminya, dan menghidangkannya di depannya. Baru setelah itu, ia ikut makan di depannya.
“Nanti aku pulangnya mungkin malam, kau tak usah menungguku makan dan pulang. Aku ada ngisi seminar di ITS,” ucap Gus Afkar memberitahunya.
“Nggih!” jawabnya dingin sambil menyuap makanan dan tetap menunduk.
Tak Berapa lama, ia telah selesai sarapan. Ia kemudian bangkit dan merapikan meja.
Gus Afkar tampak ikut bangkit dan membantunya merapikan peralatan. Bahkan lelaki itu mengambil inisiatif untuk mencuci piring-piring yang kotor.
Zahra yang masih marah, membiarkan Gus mencuci piring-piring itu. Karena ia sedang tak ingin berkomunikasi dengannya.
Zahra lebih memilih masuk ke dalam kamar dan melipat pakaian yang kemarin dicucinya dan sudah kering.
Gus Afkar tampak masuk ke dalam kamar, lelaki itu mengambil tas ranselnya kemudian menghampiri Zahra.
“ Gus, berangkat dulu ya.” ucap lelaki itu berpamitan kepadanya.
Zahra menaruh pakaian yang sedang dilipatnya di sofa itu kemudian bangkit untuk menyalami suaminya sekedarnya.
“Assalamualaikum,” ucap Zahra dengan wajah tetap sinis.
“Waalaikumsalam, ya Habibati,” jawab suaminya lembut.
Namun sepertinya ucapan sayang sang suami tidak bisa meluluhkan hatinya yang terlanjur sakit hati.
Ia kembali duduk dan melanjutkan melipat pakaian, membiarkan sang suami keluar sendiri tanpa mengantarnya seperti biasanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nana Niez
gitu donk zahra jgn diem aja di injek injek di hina,, cewek hrs kuat kuat
2024-12-05
0
Luna de queso🌙🧀
Waw, nggak nyangka!
2024-07-06
1