“Apa kau akan terus memandangiku seperti itu,” ucap Gus Afkar membuatnya tersadar.
Zahra segera membuang muka ke arah lain.
“Suamimu ini sangat haus, Apakah kau akan membiarkannya kehausan, Dek.”
Zahra menelan ludahnya.
Ia segera mengambil botol yang ada di sampingnya, dan memberikannya pada suaminya tanpa menoleh sedikitpun.
Ia terlalu malu menatap suaminya tersebut.
“Apakah kau bisa membuka tutupnya untukku, Aku tidak bisa membukanya.
Zahra segera menarik kembali botol tersebut, dan membuka tutupnya sembari tetap menatap ke arah kaca jendela mobil, kemudian memberikannya kembali pada suaminya itu tanpa menoleh sedikitpun.
‘Ah!’ teriak lelaki itu membuat Zahra sontak menoleh.
“Ada apa G….?”
Bibir Zahra langsung mendarat ke pipi Gus Afkar yang tengah mencondongkan wajah padanya.
Ia sontak terperangah, matanya terlihat terkejut dan membelalak.
Saking tertegunnya tanpa sadar bibirnya masih menempel di pipi Gus Afkar untuk beberapa saat.
“Apakah kau akan menciumku sepanjang jalan, Dek?” tanya suaminya itu.
Zahra langsung merengut dan menarik diri dari suaminya
Iya langsung memejamkan matanya, sambil menyandarkan kepalanya di kaca.
‘Memalukan sekali!’
“Kenapa kamu diam dan malah terpejam sekarang?” tanya suaminya terdengar menggoda.
“Nggak tahu, aku ngantuk,” teriak Zahra.
‘Dasar tukang pencari kesempatan’
“Lalu minumku gimana, dek?” tanya lelaki itu kembali.
“Terserah nggak tahu,” ucap Zahra sekenanya karena saking malunya.
“Karena kau mencuri ciuman ku, maka aku akan mengembalikannya suatu saat nanti,” bisik lelaki itu.”
Zahra membelalak kaget mendengar ancaman suaminya itu.
Iya langsung menatap tajam ke arah suaminya dan balik mengancamnya dengan nada ketus, “Coba saja, aku akan memukulmu.”
Lelaki itu terdengar tertawa.
“Memangnya bagaimana caraku mengembalikannya menurutmu?” tanya lelaki itu terdengar menikmati sekali menggodanya.
“Nggak tahu, nggak tahu,” ucap Zahra keras dan cepat sambil berbalik menghadap kaca jendela mobil, lalu memejamkan matanya kembali.
Lelaki itu terdengar semakin tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapan Zahra tersebut.
******
Zahra mengernyitkan dahinya mendengar suara begitu bising.
Ia berusaha mengangkat tangannya karena ingin menggeliat bangun.
Tapi anehnya tangan kanannya seperti ada yang menggenggam, sehingga sulit ditarik.
Zahra membuka matanya perlahan, dan mendapati bahwa tangannya tersebut tengah digenggam oleh suaminya.
‘Gus Afkar’
Lelaki itu terlihat begitu pulas.
Zahra memperhatikan sekelilingnya di balik kaca mobil, sepertinya Ia sudah berada di rest area.
Ia kembali menatap suaminya.
‘Kau pasti sangat lelah, Gus’
Zahra mulai mengelus-elus kedua tangan suaminya yang tengah menggenggam tangan kanannya tersebut, sembari menatap tangan itu begitu mendalam.
Ia menghela nafas panjang kemudian memiringkan badannya, menghadap suaminya tersebut.
‘Gus Afkar, kau terlihat begitu tampan meski kau sedang tidur’ pikir Zahra yang tanpa sadar terpesona oleh sosok lelaki di depannya itu.
Ia menatap lelaki itu beberapa lama.
‘Ingat janjimu, Zahra’
“Astaghfirullah,” gumamnya lirih sambil hendak memalingkan muka ke arah lain, sampai kemudian Ia melihat seekor semut sedang berjalan di pipi suaminya tersebut.
Lelaki itu terlihat tidak nyaman, dan mulai mengerut-ngerutkan wajahnya.
Zahra segera mengangkat tangan kirinya hendak menjumput semut tersebut.
Lelaki itu tiba-tiba terbangun saat tangan Zahra sedang menyentuh pipinya.
‘Gus’
Lelaki itu tampak melirik ke arah tangan Zahra yang menyentuh pipinya tersebut.
Zahra yang begitu kaget, segera menarik tangan kirinya.
Gus Afkar malah diam tersenyum.
“Itu tadi ada semut di pipimu, Gus,” ucap Zahra membela diri.
“Oh…., sayang sekali,” ucap lelaki itu dengan wajah terlihat kecewa.
“Maksud Gus Afkar?” tanya Zahra bingung.
“Harusnya semut itu membawa teman-temannya, supaya kamu bisa menyentuh pipiku lebih lama,” ujar Gus Afkar lagi.
“Apaan sih?” ucap Zahra sambil memalingkan muka ke arah lain.
Tapi kemudian lelaki itu menarik tangannya sampai Zahra akhirnya kembali menghadap ke arahnya.
“Kalau begitu, biarkan aku yang menyentuh pipimu,” bisik Gus Afkar sambil terlihat menatap matanya begitu dalam.
Zahra termangu diam, dadanya berdebar tidak karuan. Apalagi nafas lelaki itu semakin mendekat bersamaan dengan wajah lelaki itu yang hendak menghampiri pipinya.
‘Katanya kau mau menceraikan suamimu’
Ucapan Nayla kembali bergema dalam pikirannya tiba-tiba.
Zahra segera membalikkan badannya.
‘Maaf, Gus!’
“Kenapa? Lihatlah pipimu yang memerah karena malu itu.”
Bukannya marah, Gus Afkar malah terdengar sedang menggodanya.
Zahra segera memegang kedua pipinya sambil menatap bayangannya di kaca jendela mobil tersebut.
“Enggak, kata siapa?” ucap Zahra kemudian keluar dari mobil.
Lelaki itu terdengar mendesah sambil tertawa, kemudian keluar dari mobil mengikutinya.
“Ayo kita cari makan dulu!” ajak Gus Afkar sambil tiba-tiba menarik tangannya.
‘Gus, andainya aku bisa slalu menggandengmu’ gumam Zahra dalam hati.
“Mas Afkar!”
Tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil suaminya itu.
Zahra dan Afkar membalikkan badan ke arah suara tersebut.
‘Mas?’ pikir Zahra risih dengan panggilan wanita itu pada suaminya.
“Rania!” gumam lelaki itu dengan mata berbinar-binar.
Zahra langsung terlihat tak senang, apalagi lelaki itu sekarang fokus untuk menyambut perempuan tadi, yang kini tengah berjalan ke arah mereka.
Dia bahkan melepas pegangan tangannya pada Zahra.
‘Gus Afkar segitu saja perasaanmu padaku?’
Zahra terlihat kaget dan kesal memandang tangannya yang terlepas dari pegangan suaminya itu.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada wanita tersebut.
Wanita itu terlihat begitu anggun dengan coat warna putih dan kerudung warna pink menyala, apalagi wajahnya terlihat begitu cantik dengan badan tinggi semampai.
‘Semua lelaki sama saja’
“Apa kabar, Mas Afkar?” tanya wanita itu terdengar lembut.
“Alhamdulillah baik,” jawab suaminya itu dengan tersenyum lebar.
Zahra terlihat menirukan ucapan suaminya itu dengan lirih dan sinis.
“Kamu gimana Rania,” tanya balik suaminya tersebut.
‘Lihat perempuan cantik langsung lupa sama kalau sudah beristri’ gumam Zahra dalam hati.
“Alhamdulillah aku juga baik,” ucap wanita itu terlihat begitu bahagia bertemu dengan Gus Afkar.
“Gimana studimu?’
“Alhamdulillah lancar-lancar saja, harusnya kau bertanya gimana, apa aku sudah menikah?” ucap wanita itu terlihat begitu agresif.
Gus Afkar tampak tersenyum sambil menunduk.
Kemudian mengangkat kepalanya kembali seraya berkata, “sudah nikah, belum?”
‘Emangnya kenapa kalau belum menikah?’ butuh Zahra dalam hati karena semakin kesal.
“Gimana mau nikah, orang yang aku tunggu ada di depanku sekarang,” ucap wanita itu begitu mendalam dengan tatapan penuh arti.
Zahra langsung membelalak kaget mendengar ucapan wanita itu tadi.
Ia menatap tajam ke arah suaminya.
“Jangan sembarangan,” timpal Gus Afkar sambil tersenyum, kemudian menoleh ke arah Zahra.
Lelaki itu tampak terperanjat melihat ekspresi kesal Zahra, jakunnya terlihat naik turun.
Lelaki itu kemudian terlihat menoleh ke arah wanita bernama Rania tersebut dengan meringis takut.
Tiba-tiba Zahra menggandeng tangannya.
Gus Afkar terlihat lebih kaget lagi, Ia menatap ke arah Zahra yang masih terlihat tersenyum dengan kesal.
“Apakah kau tak ingin mengenalkan istrimu ini padanya, Sayang!” ujar Zahra dengan nada begitu manja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Nana Niez
kl sahabat nya aja ngeri,, entah wes ra ra,, sakkarepmu
2024-12-05
0