“Al wudhu’u utawi wudlu, iku ahadun salah suwijining…..”
Zahra tengah menyimak santriwatinya yang sedang memaknai kitab kuning.
Ia terlihat sangat serius dan fokus mendengarkan santriwatinya tersebut.
Sampai kemudian, ia melihat dua santriwati di belakang santriwatinya yang sedang membaca itu sedang berbisik sambil tersenyum-senyum.
“Mbak fokus! disimak temannya,” ucap Zahra mengingatkan kedua santriwatinya tersebut.
“Iya Ning, maaf!” ucap keduanya.
Tapi tak beberapa lama kemudian, kedua santriwati itu terlihat berbisik-bisik dan tersenyum seperti tadi.
‘Astagfirullah!’
Zahra menghela nafas kemudian memanggil kedua santriwatinya tersebut.
“Sini Mbak! duduk di sebelah Ning Zahra,” panggil Zahra pada dua santriwati yang tak bisa diam itu.
Kedua santriwati itu menunduk dan patuh, mereka menghampiri Zahra.
“Coba jelaskan ke Ning Zahra, kenapa kok berbisik-bisik terus sambil senyum-senyum sendiri begitu?” tanya Zahra berusaha bersabar, dan mencari tahu alasan di balik ketidak fokusan kedua santriwatinya itu.
“Kamu.”
“Kamu.”
Ucap kedua santri itu saling eyel-eyelan dan menyenggol bahu temannya tersebut.
“Lah kok malah eyel-eyelan? coba kamu dulu yang jawab!” pinta Ning Zahra sambil menunjuk santri yang berada di di posisi sebelah kanan itu.
“Maaf Ning, tapi Ning jangan marah ya,” pinta santriwati tersebut terlihat takut dihukum.
Zahra mengangguk menyetujuinya.
“Sekarang katakan! kenapa kamu tidak bisa fokus,” tanya Zahra dengan nada datar.
“Itu Maaf ya Ning, sekali lagi, eh…”
“Udah ngomong aja!” perintah teman di sebelahnya terlihat tidak sabar.
“Kamu mah enak, nggak disuruh jawab duluan,” ucap santriwati yang ditunjuk tersebut.
“Udah sudah, malah bertengkar lagi, ayo dijawab dulu!” pinta Zahra melerai.
“Itu di belakang Ning Zahra, kan ada Gus Afkar.”
Zahra sontak menoleh ke belakang setelah mendengar potongan penjelasan dari santriwatinya tersebut.
Benar saja, jauh di belakangnya, ada Gus Afkar yang tengah berdiri ngobrol bersama Kyai Amir.
Lelaki itu kemudian tampak memalingkan muka ke arah Abanya, setelah melihat Zahra menoleh padanya.
Zahra kemudian berbalik kembali menatap kedua santriwatinya tersebut.
“Memangnya kenapa?” tanya Zahra.
“Lah iya, memangnya kenapa?” timpal teman-temannya.
“Bukan begitu, tadi Gus Afkar itu lihat Ning Zahra sampai segitunya,” jelas santriwati itu lagi.
“Segitunya gimana maksudnya?” tanya Zahra.
“Lah Iya, sok tahu kamu,” timpal temennya kembali.
“Ssst! Kasih waktu temanmu bicara!” ucap Zahra yang sebenarnya sangat penasaran dengan jawaban santriwatinya itu.
“Ya maksudnya itu Ning, Gus Afkar itu melihat Ning Zahra segitunya. Gimana ya? Pokoknya ndak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” jawab santriwatinya itu terlihat berusaha meyakinkan sekitarnya.
“Jangan percaya Ning! Dia mah pacaran terus, makanya pikirannya aneh-aneh, ngeres,” ucap santriwati yang lain.
“Enggak Yo, kata siapa? Aku sudah bertaubat, aku nggak mau pacaran-pacaran lagi,” ucap santriwati itu membela diri.
“Kenapa?” tanya Ning Zahra.
“Diputusin terus, Ning,” celetuk temannya yang lain, membuat santriwati yang ada di sekitar situ tertawa terkekeh.
“Alhamdulillah, itu tandanya Allah masih melindungimu. Sudah jangan pacaran lagi!” jawab Ning Zahra.
“Fokus belajar! cari prestasi setinggi-tingginya. Nanti kalau kamu sudah sukses, lelaki seperti apapun, yang seganteng Jungkook, sekaya Bill Gates, kamu tinggal pilih,” ucap Zahra berusaha menasehati santriwatinya tanpa menghakimi mereka.
“Kayak Ning Zahra ya, dapat lelaki macam Gus Afkar, sudah ganteng, sukses, anak Kyai Amir, punya pondok besar, lulus S2 Al Azhar pula.”
Zahra agak terperanjat kaget, bahkan dirinya sendiri saja tidak tahu kalau Gus Afkar itu sudah lulus S2 dan alumni Al Azhar.
Ia menoleh lagi ke belakang, berharap Gus Afkar masih ada di belakangnya.
Tapi ternyata lelaki itu maupun Kyai Amir sudah tidak ada di sana.
‘Pantas Nayla begitu menyukaimu, Gus.”
*******
“Assalamualaikum,” Sapa Gus Afkar yang baru saja masuk ke dalam rumah.
“Waalaikumsalam,” ucap Zahra menghampiri suaminya itu sambil menyalami tangannya.
Ia kemudian mengambil sajadah yang terselempang di pundak lelaki itu.
“Apa Gus mau makan dulu?” tanya Zahra.
Lelaki itu tampak mengangguk dan tersenyum padanya.
“Apakah sudah ada, atau kau ingin aku membantumu?” tanya Gus Afkar.
“Alhamdulillah, sudah ada Gus, tinggal naruh di meja makan saja. Gus bisa menunggu di kursi, saya taruh dulu sajadahnya,” ucap Zahra dengan anda begitu lembut.
Ia kemudian beranjak masuk ke dalam kamar untuk melipat dan menaruh sajadah tersebut.
Ia kemudian membalikkan badan keluar dari kamar itu dan kembali ke dapur.
‘Gus Afkar’
Zahra tertegun menatap suaminya tersebut yang sedang mengambil sepiring lauk di sebelah kompor, kemudian berbalik dan membawanya.
“Biar saya saja, Gus,” ucap Zahra.
“Dari pagi kamu sudah bekerja di dapur, belum membersihkan rumah ini, sekarang biar Gus Afkar yang ambilin. Kamu duduk di depan, tunggu Gus!” ucap lelaki itu terdengar begitu hangat.
Zahra menurut dan keluar dari dapur menuju ruang makan.
Sekali lagi ia menunggu di sana.
Ia menatap suaminya.
‘Kalau kau bukan lelaki yang dicintai sahabatku, aku pasti benar-benar beruntung seperti yang dikatakan santriwatimu tadi sore, Gus,” ucap Zahra menghela nafas panjang.
Tanpa sadar, ia terus memandangi lelaki itu. Padahal Gus Afkar sudah berjalan menghampirinya, tepatnya menghampiri ruang makan itu.
“Zahra! Zahra!”
Zahra tersentak sadar mendengar panggilan suaminya itu, ia segera membuang muka ke arah lain.
Lelaki itu terlihat tersenyum.
“Aku pasti terlihat sangat tampan olehmu, kan? Sampai kau tidak bisa berpaling dari menatapku begitu lama,” ucap lelaki itu dengan nada narsisnya.
“Kata siapa? aku menatap Gus Afkar….. Maksudku aku menatap dapur hanya untuk memastikan bahwa Gus melakukan pekerjaan itu dengan baik, dan tidak salah ambil,” elak Zahra.
“Benarkah?” tanya Gus Afkar terlihat menikmati sekali menggodanya.
Zahra mengangguk yakin.
“Baiklah seperti kata istrinya Gus saja,” seru lelaki itu dengan mantap.
‘Istri?’
Akhir-akhir ini Zahra selalu berdebar-debar ketika suaminya itu memanggilnya istri.
Ia kembali menatap dalam suaminya yang sedang menunduk sambil menata makanan di atas meja.
“Sepertinya aku salah,” ucap lelaki itu tiba-tiba.
“Hah!” Jawab Zahra yang baru tersadar dari keterpakuannya dengan bingung.
“Sepertinya aku memang sangat tampan, sampai istriku ini terus menatapku dalam-dalam,” jawab lelaki itu sambil menyanggah wajahnya dengan telapak tangannya.
Zahra tertegun, matanya membelalak sempurna memandang lelaki yang sedang menatapnya begitu dekat itu.
Ia bahkan menelan ludahnya karena gugup, nafasnya pun seakan terhenti, dan jantungnya berdegup begitu kencang.
“Apa kau sekarang sedang mengakuinya, Azzahra Khairunnisa.”
Zahra langsung mengedipkan mata mendengar suara tersebut.
Lelaki itu tersenyum memandang kegugupannya.
“Apa kau tahu Zahra, kau terlihat begitu menggemaskan,” ucap lelaki itu kemudian mendekatkan wajahnya semakin dekat dengan Zahra.
Sekarang, bahkan Zahra dapat mendengarkan degup jantung lelaki itu yang tak kalah cepatnya dengan dirinya.
Lelaki itu kembali menatap bibirnya dan matanya secara bergantian, membuat Zahra semakin gugup.
Gus Afkar bertambah dekat, dan dekat lagi, tapi Zahra seakan tidak menyadarinya. Pikirannya melayang seakan terhipnotis oleh mantra cinta sang suami.
Apalagi sekarang, dia mulai mengangkat tangannya membelai kerudung Zahra, kemudian memejamkan matanya.
‘Gus Afkar, apa yang mau kau lakukan?’
Pikirannya begitu penasaran, tapi hatinya tak mampu menolak gelagat suaminya tersebut yang semakin mendekat ke arahnya.
Tanpa sadar, ia pun ikut memejamkan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments