Tangan Gus Afkar tetap saja menggenggam tangannya dan sesekali mengusap-usapnya dari awal acara sampai sekarang.
Entah kenapa dia membiarkannya, seperti ada energi di dalam dirinya yang membuatnya terus saja menikmati momen tersebut tanpa ia menyadarinya.
‘Gus’ gumam Zahra dalam hati sambil mencuri pandang ke arah suaminya yang tengah duduk di sampingnya itu.
“Hari ini aku agak kesal dengan orang-orang yang naik ke panggung itu,” bisik Gus afkar dengan wajah serius, menghadap ke depan tanpa menoleh kepadanya.
“Memangnya kenapa Gus bukannya dari tadi yang naik ke panggung adalah para Kyai Sepuh, termasuk Aba njenengan,” tanya Zahra penasaran.
“Hatiku ini kecil,” bisik Gus Afkar membuatnya semakin bingung.
‘Apa hubungannya dengan hati’
“Maksudnya?” tanya Zahra.
“Hatiku ini kecil, kalau hubungannya dengan istrinya Gus ini,” jawab Gus Afkar terdengar mantap sambil mengusap kembali jemari tangan Zahra dan menatapnya hangat.
Zahra yang memang belum pernah digombalin oleh lelaki, masih bingung dengan maksud Gus Afkar tersebut.
Wajahnya tampak menyeringai tak mengerti.
Gus Afkar akhirnya meringis pelan sambil menunduk.
“Sungguh beruntung Gus bisa menikahimu.”
Zahra semakin terlihat bertambah bingung saja mendengar penjelasan implisit dari suaminya itu.
Dengan polosnya ia lanjut bertanya, “apa hubungannya menikahiku dengan kekesalan Gus sama orang-orang yang naik ke panggung itu?”
Lelaki itu membuang muka dan terkekeh sejenak, kemudian menatap Zahra semakin dalam, “ Gus kesal dengan orang-orang yang naik ke panggung itu, karena kamu terus memperhatikan mereka dari awal sampai sekarang, padahal Gus nyata-nyata ada di sampingmu. Lain kali aku akan mengajakmu, ketika Gus mengisi kajian atau seminar, supaya kamu sadar bahwa tidak ada yang lebih menawan dari suamimu ini.”
“Apaan sih,” ucap Zahra kemudian memalingkan muka lagi sambil tersenyum.
Tanpa sengaja Ia malah menoleh ke arah Ning Nusaibah yang duduk di belakangnya agak ke samping.
‘Astagfirullah’ dzikir Zahra di dalam hati dengan wajah berkernyit malu, mendapati wanita itu mengangkat alisnya beberapa kali sambil tersenyum ke arahnya.
‘Wanita penggosip ini pasti sudah dengar semuanya’
Zahra langsung menoleh ke depan.
“Ada apa?” terdengar sayup-sayup suara Bang Zawawi bertanya kepada istrinya itu.
“Ada yang lagi kasmaran,” jawab Ning Nusaibah kelihatan sengaja agak mengeraskan suaranya.
Sontak Zahra tertunduk malu.
“Jangan terus bersikap menggemaskan seperti itu!”
Zahra langsung mengangkat kepalanya kembali mendengar bisikan tiba-tiba dari Gus Afkar tersebut.
“Ssst hentikan, aku tidak bisa fokus mendengar ceramah Romo Kyai,” bisik Zahra memasang wajah kesal.
“Itu memang niatku, kan tadi sudah kubilang aku cemburu,” jawab suaminya itu semakin menggodanya.
“Sudah hentikan, aku pergi nih,” ancam Zahra.
“Baik baik, Aku akan mendengarkan perintah istriku ini,” jawab Gus Afkar membuat Zahra geleng-geleng kepala.
Zahra menatap lelaki itu dalam-dalam yang terlihat begitu menikmati menggodanya dari tadi.
“Kau menyuruhku untuk berhenti, tapi kau terus menatapku,” komen Gus Afkar membuatnya sontak langsung menoleh ke depan dengan mata terbelalak.
“Aku hanya memastikan kau tidak ada kursi yang kosong di sebelah sana,” ucap Zahra gugup.
‘Apa yang kau katakan, Azzahra Khoirunnisa?’
“Benarkah? Itu sangat tidak masuk akal, Aku rasa kau hanya mencari alasan,” bantah Gus Afkar dengan tegas.
“Terserah,” ucap Zahra kehabisan kata-kata.
Lelaki itu sekali lagi tampak menunduk menyembunyikan tawanya.
“Apa kau tertawa,” tanya Zahra pada suaminya dengan nada agak tersinggung.
“Tidak, Aku hanya terbawa ceramah Romo Kyai yang sedang guyon itu saja,” jawab suaminya itu tenang sambil membuka tangannya lebar-lebar menunjuk ke arah Kyai di atas panggung.
‘Jelas-jelas tertawa! Kau pasti menikmati sekali menggodaku, Gus’ pikirnya.
Meski begitu ia mengakhiri pendapatnya itu dengan tersenyum.
******
Hari sudah sangat malam, acara haul juga sudah selesai dari tadi.
Namun Zahra masih sibuk di dapur untuk mengarahkan dan membantu para santriwati beres-beres, supaya besok mereka bisa lebih cepat beristirahat dan fokus pada urusan masing-masing.
“Ning, habis dicuci ini langsung mau ditaruh di tempatnya yang tadi atau bagaimana?” tanya santri Junior yang tengah mencuci piring itu takut salah.
“Nggak pa-pa, kamu gelar aja di atas terpal yang di sana itu biar kering dulu, besok baru kita masukkan ke lemari,” perintah Zahra sambil menunjuk dipan kayu yang di atasnya ada terpal, tepat di pojokan ruangan.
‘Sepertinya masih kurang’ pikir Zahra sambil melayangkan pandangannya ke seluruh ruangan. Jika saja ada dipan atau meja lain yang kosong, yang bisa digunakan untuk menaruh perabotan dapur yang baru dicuci itu.
Akhirnya matanya tertuju pada sebuah meja yang di atasnya masih ada sedikit piring berisi kue.
Ia mengambil beberapa piring kue itu dan memberikannya kepada santriwati yang sedang lewat, “ ini minta tolong ditaruh di balai depan saja, nanti kalau habis beres-beres kalian bisa makan bareng.”
“Baik Ning,” jawab santriwati tersebut sambil menerima piring yang diberikan oleh Zahra.
Sementara Zahra mengajak santriwati lain untuk menggeser meja itu agak ke pinggir.
Ia kemudian berjalan menuju gudang dapur untuk mengambil terpal bersih.
‘Ini dia’
Zahra kemudian mengambil terpal itu dan berjalan kembali ke dapur.
Namun langkahnya terhenti karena sebuah notif panggilan berbunyi di ponselnya.
Ia lalu mengeluarkan ponsel itu dari sakunya dan mengecek siapa yang sedang menelponnya.
‘Nayla?’
“Tolong bawa terpal ini ke dapur ya, taruh di atas meja yang Ning angkat bareng teman-temenmu tadi” pinta Zahra pada seorang santriwati yang lewat di depannya sambil memberikan terpal itu padanya.
“ Iya Nay, Assalamualaikum,”
“......”
“ Oke, aku ke sana tunggu ya.”
Zahra kemudian menutup telepon itu dan bergegas menuju pos security.
‘Ada apa? Kok tumben dia mau minta aku ketemu malam-malam begini’
Wanita itu terlihat menunggunya sambil mondar-mandir ke sana kemari.
Zahra segera menghampirinya.
“Ada apa, Nay?” tanya Zahra.
“Aku kecewa sama kamu, Zahra.”
Zahra langsung membelalak bingung.
‘Memangnya aku melakukan apa’
“Kamu bilang kamu mau menceraikan Gus Afkar, tapi ternyata di depan semua orang kamu mesra-mesraan sama dia. Dasar pembohong! Aku kecewa sama kamu Zar,” ucap wanita itu dengan nada sangat ketus.
Untunglah, tempat itu sudah sepi kalau tidak pasti Zahra sangat malu.
“Ini tak seperti yang kau pikirkan, Nay, A–aku….” Elak Zahra membela diri.
“Kalau begitu pertemukan aku dengan Gus Afkar, kasih kami waktu berduaan!” ucap sahabatnya itu terdengar memerintah.
‘Hah!’
Zahra masih terperanjat dengan permintaan temannya yang tidak disangka-sangkanya itu.
Ia baru saja berbaikan dengan suaminya itu, setelah sekian lama perang dingin. Apa yang dipikirkan suaminya kalau sampai ia mempertemukan mereka tanpa seizinnya.
Apalagi Ia ingat betul peringatan dari Gus Afkar tentang Nayla sebulan yang lalu.
‘Apapun motifmu, jangan pernah bawa sahabatmu itu masuk ke rumah ini lagi! Aku tak suka’
Larangan itu bahkan masih menggema di dalam pikirannya.
“A-aku…”
“Zahra.”
‘Gus’
Zahra terperangah kaget mendapati suara suaminya di belakangnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments