Diabaikan

‘jam 10’

Sudah larut malam, bahkan masakan di meja juga sudah dingin. Tapi Gus Afkar belum juga pulang tanpa kabar apapun. 

‘Dia pasti sangat marah?’ pikir Zahra sambil berkali-kali membuka ponselnya, sambil duduk di ruang tamu dengan gelisah. 

Sesekali, ia berjalan mondar-mandir ke sana kemari.  

“Kemana kamu, Gus?,” gumamnya lirih, bahkan ia tak melihatnya di masjid tadi saat sholat berjama’ah.

Zahra kembali berjalan, menilik keluar jendela. Namun tak ada siapapun di luar sana. 

Ia menghela napas panjang. 

‘Apa aku simpan dulu makanannya, nanti baru aku hangatkan kalau Gus pulang’ pikirnya sembari menutup kembali tirai jendela yang barusan disibaknya itu.

Ia kemudian membalikkan badannya dan berjalan menuju meja makan. Ia menatap meja makan yang penuh dengan makanan dan sepasang piring yang masih bersih tersebut.

‘Dari hangat sampai dingin, Gus’

Ia mulai membawa satu persatu masakan yang ada di sana ke dapur dan menutupnya dengan tudung saji mini.

Setelah itu, ia kembali ke ruang makan tadi untuk mengelap mejanya. 

Tap

Terdengar suara langkah kaki yang cukup berat masuk ke dalam ruangan itu. Aroma kasturi langsung menyeruak ke ruangan tersebut. 

“Jadi kau sudah membersihkan semuanya.”

Zahra seketika berhenti mengelap mendengar ucapan itu, ia segera berbalik dan menghampiri suaminya dengan hati-hati.

“I–tu aku tadi menunggu Gus pulang?” jawab Zahra gelagapan melihat suaminya mendekat ke arahnya dengan tatapannya yang dingin.

“Kenapa? Apakah kau ingin menunjukkan padaku kalau kau istri yang baik?”

Pertanyaan itu terdengar menyakitkan dan semakin membuatnya bertambah gugup saja.

“i–tu Gus kan belum makan malam?”

“Terus?”

Lelaki itu terus mendekat dan membuatnya mundur perlahan.

Zahra menelan ludah dan….

Punggung bawahnya menabrak meja makan sehingga ia tak bisa mundur lagi.

Namun lelaki itu tak mau berhenti dan terus mendekat ke arahnya.

“Karena Gus belum datang juga, Aku menyimpannya,” ucap Zahra menahan jantungnya yang berdetak kencang.

“T–tapi aku berniat menghangatkannya kalau gus datang,” lanjut Zahra sambil hendak berbalik  ke dapur. 

Namun  Gus Afkar yang sudah sangat dekat dengannya, menaruh kedua tangannya di sisi meja, di luar badan Zahra, membuat istrinya itu tak bisa berkutik.

Ia menatap Zahra dengan tajam dan….

Szzzt

Zahra melihat lampu atap yang berkedip-kedip dan mati dalam sekejap.

Suasana menjadi gelap

Hanya terdengar suara detak jantung mereka yang beradu serta desahan napas yang tidak teratur.

“Aku Peringatkan sekali lagi, kau jangan terlalu terhanyut dalam peranmu sebagai istri, atau aku tidak akan pernah melepaskanmu sebagai istriku,” ancam lelaki itu dengan sangat sinis sambil berbisik lirih dalam kegelapan.

Zahra menelan air liurnya.

Tiba-tiba lampu kembali menyala….

Zahra memandang wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan begitu tajam itu. 

‘Gus, sebenci itukah kau kepadaku?’ gumam Zahra sambil balik menatap mata lelaki di depannya itu dengan gugup.

Lelaki itu kemudian menarik tangannya dari atas meja dan berbalik masuk ke dalam kamar. 

Dia tampak mengambil handuk untuk mandi seperti biasa.

Dzurriya memegangi dadanya yang berdetak aneh sambil menelan ludahnya. 

‘Kenapa kau jadi gugup begini, Zahra?’

“Kenapa malah bengong di sana? Apa kau tidak ingin istirahat dan tidur?”

Dzurriya tersentak kaget mendengar komentar suaminya yang sedang menenteng handuk itu.

“Apa Gus tidak mau makan dulu, A…ku….”

“Sudah makan,” sela lelaki itu sinis kemudian masuk ke dalam kamar mandi.

‘Padahal aku belum makan dan menunggumu, Gus.” keluh Zahra dalam hati.

******

Sebulan sudah berlalu…

Namun Gus Afkar tetap bersikap dingin dan acuh padanya. Padahal ia sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik dengan mempersiapkan segala keperluan suaminya itu. Namun suaminya terus saja mengabaikannya. Dia hanya terlihat baik ketika mereka bersama keluarga besarnya.

Bahkan ia tak pernah diberi kesempatan untuk minta maaf atau mengetahui kesalahannya.

Atau memang lelaki itu dari awal tidak menginginkannya.

Zahra menatap jauh ke arah suaminya yang sedang mengarahkan acara temu alumni yang akan diadakan dua bulan lagi.

Lelaki itu tampak begitu keren dan sangat tampan diantara pemuda-pemuda yang beberapa tahun lebih tua dan lebih muda darinya itu.

“Apa kau sudah mulai jatuh cinta pada suamimu itu?” goda Ning Nusaibah yang sedang berkunjung dan membantunya menjamu tamu alumni itu.

“Ning kesini mau membantuku atau mau menggosip,” jawab Zahra tenang seraya memeriksa beberapa makanan yang akan dihidangkan di sana.

“Ning Zahra, ini makanan dan kopi yang tadi Ning pesan.” ucap salah satu santriwati sambil memberikan nampan berisi makan malam itu pada Zahra.

“Apa itu untuk si dia?” bisik Ning Nusaibah menggodanya kembali.

“Kalau tidak, masa’ untuk Bang Zawawi,” ucap Zahra menggoda balik kakak iparnya itu sambil tersenyum.

“Awas! cuma nganter lho ya, jangan diajak pulang, masih sore.”

Zahra hanya tersenyum mendengar ucapan Ningnya tersebut dan berjalan menghampiri suaminya.

Ia menarik napas panjang, apalagi di samping suaminya duduk itu, ada Adrian.

“Gus, makanlah dulu! dari tadi siang Gus belum makan.”

Lelaki itu hanya diam saja dan menatapnya sebentar tanpa berusaha menerima nampan itu. Ia tetap mengajak diskusi yang lain. 

Zahra akhirnya menaruh nampan itu dengan agak kecewa sambil tertegun menatap suaminya yang mengabaikannya itu.

 Tanpa sengaja, ia berpandangan dengan Adrian sekilas, kakak kelasnya itu tampak iba padanya.

Zahra segera mengalihkan pandangannya dan pergi dari sana. 

‘Lupakan aku, Kak! Kau berhak bahagia’

Zahra terus berjalan kembali menuju Ning nusaibah. Namun tak beberapa jauh Adrian memanggilnya, “Zahra!”

Zahra terhenti dan terpaksa berbalik.

“Ya, Kak Adrian. Apa ada yang bisa kubantu?” tanyanya formal.

“Apa terjadi sesuatu? Apa kau bertengkar dengan Gus Afkar.” tanya Adrian terlihat cemas.

“Maaf, Kak. Tapi kurasa Kakak tidak berhak turut campur urusan kami. Kalau sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, saya permisi,” jawabnya sekenanya dan bersiap berbalik.

Namun lelaki itu kembali memanggilnya, “Tunggu!”

Terpaksa Zahra kembali menoleh dari pada nanti semua orang malah memperhatikan mereka.

“Aku akan kembali ke Jerman, minggu ini. Jadi kau tak perlu khawatir suamimu marah lagi.”

Zahra tampak menatap lelaki itu dalam-dalam.

‘Apa kau bisa membaca situasi kami, Kak’ 

“Itu saja yang ingin aku sampaikan, selamat tinggal,” ucapnya kemudian membalikkan badan. 

‘Maaf’ gumam Zahra dalam hati sambil memandangnya pergi.

“Apa kau akan membiarkannya pergi?” tanya Nayla yang tiba-tiba menghampirinya.

“Untuk apa?” tanyanya pura-pura tak mengerti.

“Apa kau bodoh? Dia datang jauh-jauh dari Jerman hanya untukmu,” ucap Nayla terlihat berusaha meyakinkannya, mungkin karena gadis itu adalah tempat curhatnya dan memahami betul masa lalunya.

“Dia berhak mendapatkan gadis yang lebih baik, Nay,” jawab Zahra sambil meninggalkan tempat itu.

Terpopuler

Comments

lucecita_UwU

lucecita_UwU

Terima kasih untuk cerita yang luar biasa, aku menunggu lanjutannya dengan sabar 🤗

2024-07-06

1

lihat semua
Episodes
1 1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2 Dinginnya Sikapmu, Gus
3 Kembalinya Sang Pujaan Hati
4 Peringatan Keras Gusku
5 Diabaikan
6 Salah Paham
7 Kok Bisa, Gus
8 Terluka?
9 Salah Bicara
10 Tidak seperti dugaan, Ummi
11 So Sweet, Gus
12 Penagih Janji
13 Perasaan Aneh
14 Aku Cinta Pertamanya?
15 Allah, Sakit!
16 Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17 Haruskah kuingkari janjiku?
18 Tersentuh...
19 Dek!
20 Cemburu
21 Mantra Pemikat Seorang Gus
22 Caring Vs Loving
23 Takdir Surgaku
24 Aku Mencintaimu
25 Terperanjat
26 Aku bukan Pengkhianat
27 Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28 Dididik situasi
29 Bagaimana bisa?
30 Ketika hati mulai bertanya
31 Aku tidak cemburu
32 Mengapa aku terus memikirkannya
33 Melunak
34 Bagaimana dia bisa tau?
35 Jangan Menungguku!
36 Diprank ipar
37 Bimbang
38 Ketika hati mulai serakah
39 Cincin?
40 Beri aku waktu!
41 Nasehat Ummi
42 Maaf, Kak!
43 Kembalilah pada keluargamu!
44 Kala hati sudah kalah
45 Cukup!
46 Apa aku masih punya kesempatan?
47 Aku tidak baik-baik saja
48 Menunggu pertolongan Ilahi
49 Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50 Ayo bersama lagi!
51 Belum cukup
52 Gugup
53 Harga seorang suami
54 Allah!
55 Aku hanya tidak siap
56 Kuat!
57 Kau adalah doaku
58 Wanita Istimewa
59 Perhatian Tersembunyi
60 Istri Seutuhnya
61 Jangan tanya pendapatku!
62 Serba bingung
63 Izin seorang kakak
64 Merajuk
65 Terenyuh
66 Panggilan tak terduga
67 Gombal terus!
68 Kami menyayangimu, Nay!
69 Terlanjur buruk
70 Tambah merasa bersalah
71 Dihantui rasa bersalah
72 Berita tak terduga
73 Apa ada yang kau sembunyikan?
74 Pulang
75 Kita pikirkan bersama
76 Sungguh! Aku tak tau
77 Beban Seorang Bu Nyai
78 Tak Senang
79 Tak seperti dugaan, Ummi!
80 Kabar bahagia...
81 Reaksi Sang Suami
82 Apa lagi ini?
83 Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84 Jangan tinggalkan aku!
85 Jangan Menyentuh Istriku
86 Wanita Asing
87 Terkuak
88 Anugerah itu hadir
89 Kepoin Yang Baru
Episodes

Updated 89 Episodes

1
1. Abi Naik Pitam Menjodohkanku
2
Dinginnya Sikapmu, Gus
3
Kembalinya Sang Pujaan Hati
4
Peringatan Keras Gusku
5
Diabaikan
6
Salah Paham
7
Kok Bisa, Gus
8
Terluka?
9
Salah Bicara
10
Tidak seperti dugaan, Ummi
11
So Sweet, Gus
12
Penagih Janji
13
Perasaan Aneh
14
Aku Cinta Pertamanya?
15
Allah, Sakit!
16
Andai Sahabatku tak Mencintaimu
17
Haruskah kuingkari janjiku?
18
Tersentuh...
19
Dek!
20
Cemburu
21
Mantra Pemikat Seorang Gus
22
Caring Vs Loving
23
Takdir Surgaku
24
Aku Mencintaimu
25
Terperanjat
26
Aku bukan Pengkhianat
27
Dinginnya kembali sikapmu, Gus
28
Dididik situasi
29
Bagaimana bisa?
30
Ketika hati mulai bertanya
31
Aku tidak cemburu
32
Mengapa aku terus memikirkannya
33
Melunak
34
Bagaimana dia bisa tau?
35
Jangan Menungguku!
36
Diprank ipar
37
Bimbang
38
Ketika hati mulai serakah
39
Cincin?
40
Beri aku waktu!
41
Nasehat Ummi
42
Maaf, Kak!
43
Kembalilah pada keluargamu!
44
Kala hati sudah kalah
45
Cukup!
46
Apa aku masih punya kesempatan?
47
Aku tidak baik-baik saja
48
Menunggu pertolongan Ilahi
49
Apa kau bisa menebak isi hatiku?
50
Ayo bersama lagi!
51
Belum cukup
52
Gugup
53
Harga seorang suami
54
Allah!
55
Aku hanya tidak siap
56
Kuat!
57
Kau adalah doaku
58
Wanita Istimewa
59
Perhatian Tersembunyi
60
Istri Seutuhnya
61
Jangan tanya pendapatku!
62
Serba bingung
63
Izin seorang kakak
64
Merajuk
65
Terenyuh
66
Panggilan tak terduga
67
Gombal terus!
68
Kami menyayangimu, Nay!
69
Terlanjur buruk
70
Tambah merasa bersalah
71
Dihantui rasa bersalah
72
Berita tak terduga
73
Apa ada yang kau sembunyikan?
74
Pulang
75
Kita pikirkan bersama
76
Sungguh! Aku tak tau
77
Beban Seorang Bu Nyai
78
Tak Senang
79
Tak seperti dugaan, Ummi!
80
Kabar bahagia...
81
Reaksi Sang Suami
82
Apa lagi ini?
83
Sungguh, aku tak punya hubungan dengannya!
84
Jangan tinggalkan aku!
85
Jangan Menyentuh Istriku
86
Wanita Asing
87
Terkuak
88
Anugerah itu hadir
89
Kepoin Yang Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!