“Jadi kau sangat ingin Nayla berada di sekitar pesantren ini, Azzahra Khairunnisa,” bisik Gus Afkar mendadak begitu sinis, matanya juga menatap nanar ke arah Zahra.
“A–aku tidak bermaksud…” ucap Zahra terbata ketakutan.
Tangan lelaki itu tengah mencengkram bahunya.
‘Kau menyakitiku, Gus’ gumam Zahra dalam hati.
“Tidak bermaksud apa? jelaskan! kenapa kau terus bersikukuh membantahku tadi?” bentak Gus Afkar marah.
“Aku hanya ingin — aku hanya ingin membantu Nayla,” ucap Zahra sambil sesenggukan, berderai air mata.
“Kenapa kamu tidak sekalian saja membantu semua orang biar mereka bahagia, Azzahra Khairunnisa,” seru lelaki itu semakin mencengkeram bahunya.
“Apa kau kira aku tidak tahu, apa yang sedang kau pikirkan? aku tidak bodoh Zahra,” bentak Gus Afkar sambil menunjuk ke arahnya.
“Aku harus bagaimana padamu, Zahra? kenapa kau terus menginjak-injak perasaanku?” lanjut lelaki itu begitu emosi sampai matanya terlihat berkaca-kaca.
Zahra menatap mata itu, dia tidak pernah menyangka bahwa lelaki itu bakal seemosi saat ini.
“Ini tak seperti yang Gus Afkar bayangkan, aku tidak punya maksud apa-apa, aku hanya ingin membantu Nayla,” ucap Zahra membela diri.
Lelaki itu terlihat tertegun, tangannya melemas dan melepaskan cengkramannya pada Zahra.
“Membantu Nayla dengan memberikan semua milikmu padanya, Apakah itu yang kau maksud dengan membantu?” ucap Gus Afkar sambil terduduk di atas ranjang.
“Apa maksud Gus Afkar?” tanya Zahra yang takut bahwa lelaki itu telah mengetahui semuanya, tentang apa yang ia janjikan ke sahabatnya itu.
Lelaki itu tampak menunduk sambil melenguh.
“Sepertinya aku sangat tidak beruntung, bahkan istriku sendiri mengorbankanku untuk orang lain.”
Deg
Mata Zahra membulat sempurna, dadanya tersentak kaget mendengar ucapan suaminya tersebut.
“A–apa Gus Afkar mengetahui semuanya?” tanya Zahra begitu was-was.
“Apa yang kuketahui Zahra?” ucap lelaki itu sambil mengangkat kepalanya.
Zahra terdiam tak bisa menjawab.
‘Apa yang bisa ku katakan Gus, aku tak mungkin mengatakannya padamu’ pikir Zahra
Lelaki itu kemudian bangkit dan berjalan mengitari Zahra sambil berkata, “apa yang kau rahasiakan, Azzahra Khairunnisa? apa yang tidak aku ketahui? Kenapa kau diam?”
“M–maafkan aku Gus,” ucap Zahra yang masih menangis sesenggukan.
Lelaki itu kemudian tertawa sambil menatapnya.
“Aku yang harusnya minta maaf, aku tidak bisa menjadi imam yang baik bagimu,” ucap lelaki itu sambil menatapnya dalam-dalam kemudian berbalik keluar.
‘Seandainya kau tahu Gus, betapa sakitnya perasaanku saat mendorongmu ke arah sahabatku itu, itu sakit Gus, itu sakit,’ gumam Zahra dalam hati. Air matanya tak kuasa dibendung
Tiba-tiba lelaki itu kembali kepadanya.
Zahra pun kembali mengangkat kepalanya dengan heran sekaligus takut.
Apalagi mata Gus Afkar terlihat nanar sedangkan jakunnya naik turun.
“Azzahra Khairunnisa,” ucap wanita itu dengan nada begitu mantap.
“Ketika Aku mengucapkan akad, aku sudah berikrar bahwa aku akan bersama dengan wanita ini seumur hidupku, Insya Allah. Jadi bersiaplah bersamaku seumur hidupmu,” ucap lelaki itu terdengar sedang memperingatkannya.
“Allah yang menyatukan kita, kepada Allah juga aku akan meminta ikatan ini di dunia maupun di akhirat nanti, jadi jangan pernah berpikir menyerahkanku pada siapapun. Kita akan bersama baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, Insya Allah, Insya Allah, Insya Allah, Azzahra Khairunnisa.”
Zahra menatap suaminya yang terlihat begitu yakin itu, bahkan kata Insya Allah yang dia ucapkan terdengar semakin keras dan keras.
Namun entah iya harus bahagia atau bersedih mendengar ucapan itu.
Lelaki itu kemudian membalikkan badannya kembali dan pergi.
Zahra yang terkesiap mendengar ucapan suaminya tersebut, terduduk lemas dan bengong.
Untuk beberapa saat ia tertegun.
Ikrar yang baru saja diucapkan suaminya itu, Entah harus ia namai apa.
******
Zahra mengernyitkan dahinya
Ia menggeliat di atas ranjangnya tersebut, badannya terasa pegal-pegal di beberapa tempat.
Tak banyak yang ia lakukan kemarin, tapi ia merasa ia telah melakukan banyak hal sampai tubuhnya nyeri dan pegal.
Klenting klontang
“Suara apa itu?” pikir Zahra dalam hati.
Dia melihat keluar jendela yang ternyata sudah mulai terang.
Ia terbangun dengan malas karena memang dia sedang haid.
Dipandangnya sekitar kamarnya tersebut.
‘Bukannya kemarin aku tertidur di lantai setelah bertengkar dengan Gus Afkar? Kenapa sekarang aku ada di atas ranjang?’ pikir Zahra bingung
Ia membuka bed cover itu, kemudian menurunkan kakinya dari ranjang.
Kembali terdengar suara klenting dan klontang itu dari arah dapur.
Zahra Yang penasaran akhirnya beranjak ke dapur.
‘Apa ada kucing masuk, ya’ pikir Zahra yang tak biasanya mendengar kebisingan itu di pagi hari kecuali dirinya ada di dapur.
Zahra segera menilik ke dapur, takut-takut ada makanan yang lupa ia simpan kemarin malam.
‘Gus Afkar’ gumam Zahra dalam hati, yang melihat suaminya itu sedang menyiapkan sarapan di dapur.
Lelaki itu sepertinya mendengar langkah Zahra tadi.
Dia menoleh ke arah Zahra sambil tersenyum hangat.
‘Kenapa Gus?’ pikir Zahra yang heran dengan sikap suaminya yang tiba-tiba berubah.
Lelaki itu kemudian meletakkan pisau yang sedang dipegangnya di atas meja dapur.
Dia kemudian menghampiri Zahra.
Zahra menatap Lelaki itu begitu dalam, berharap bisa memahami apa yang sedang dipikirkan suaminya tersebut.
“Assalamualaikum ya Habibati.”
Deg
Zahra begitu kaget mendengar panggilan itu kembali terucap dari mulut suaminya, apalagi dalam keadaan mereka habis bertengkar kemarin malam
“Waalaikumsalam,” jawab Zahra sedikit terperangah.
Namun ia kembali terperanjat lebih kaget, ketika Gus Afkar tiba-tiba membelai kerudung di kepalanya.
Zahra segera mundur.
Gus Afkar seketika terlihat kecewa, tapi kemudian ia menghela nafas dan tersenyum kepadanya.
“Mandilah, setelah itu ayo makan bersamaku,” ucap lelaki itu dengan lembut.
Zahra menelan ludahnya dan berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya, “apa Gus Afkar sudah tidak marah padaku? apa Gus sudah ikhlas dengan sikapku kemarin?”
Lelaki itu kembali memandang Zahra begitu dalam, “satu hal yang harus kamu tahu Zahra, aku Insya Allah mempunyai banyak waktu untuk menunggumu, tak peduli jika aku harus menghabiskan seumur hidupku untuk menunggumu, aku ikhlas, selama aku bisa bersamamu.”
Ucapan Gus Afkar itu menyentuh hati Zahra, tanpa sadar air matanya turun.
Gus afkar langsung mengusap air mata Zahra tersebut.
“Maaf! Gus Sudah membentakmu tadi malam, tapi kamu harus tahu, satu kalimat yang sangat menyakitimu itu, menyakiti hati Gusmu ini berkali-kali. Satu air mata yang menetes dari matamu, membuat Gus marah pada diri Gus sendiri,” lanjut Gus Afkar terdengar penuh sesal padanya.
‘Maaf Gus Afkar’ gumam Zahra dalam hati tak mampu berkata.
Jakun lelaki itu terlihat naik turun kembali.
Dia menatap Zahra dengan hangat.
“Gus, ini bau apa?” ucap Zahra yang tiba-tiba mengendus bau tidak nyaman.
Lelaki itu terlihat berpikir.
“Kok sepertinya bau gosong ya, Gus?”
Gus Afkar terperanjat kaget, dia langsung berbalik dan berlari ke arah kompor di dapur.
“Astaghfirullahaladzim,” ucap lelaki itu sambil mematikan kompor.
Zahra yang tadi mengikutinya karena penasaran, tertawa terbahak-bahak melihat hasil karya suaminya itu. Telor ceplok hitam.
“Apa itu sangat lucu, Ha? Apa itu sangat lucu?” ucap suaminya itu sambil mengusap adonan tepung untuk merabuhi udang tadi ke hidung Zahra.
Sontak Zahra berteriak kaget.
Iya lalu membalas suaminya dengan merabuhi wajah suaminya tersebut dengan adonan tepung tadi.
Terjadilah perang merabuhi wajah antara Zahra dan suaminya.
Sampai kemudian Zahra yang hendak menuang semua adonan itu ke rambut suaminya, ditahan tangannya oleh lelaki tersebut.
Lelaki itu tiba-tiba menaruh kedua tangan Zahra melingkar di belakang punggungnya.
Alhasil, dadanya menempel ke dada suaminya tersebut.
Deg
Zahra menatap balik suaminya yang terlihat menatap matanya begitu dalam.
Desahan nafas mereka yang ngos-ngosan karena habis perang tepung itu beradu.
Jakun lelaki itu kembali naik turun.
“Jika saja aku tidak menghormatimu, maka aku sekarang sudah pasti akan menggendongmu ke ranjang.”
Deg
“Kau terlihat sangat menggemaskan, Azzahra Khairunnisa,” ucap lelaki itu terdengar begitu mendalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 89 Episodes
Comments
Lilik Juhariah
bener bener Gus afkar menahan nafsunya , tapi istrinya yg keterlaluan
2024-08-24
1